My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 25


__ADS_3

"Aku langsung tahu jika kau datang ke kantorku." Ucap Kurio sambil menyerahkan buku kuliah yang dititipkan Aizawa pada Kanata kemarin.


Aizawa mengambil buku itu dan terdiam lagi. Ragu-ragu ia melanjutkan untuk memulai pembicaraan. Satu sisi ia ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi, namun di sisi lain ia takut terluka. Kurio menatap gerak-gerik Aizawa yang sedari tadi terlihat gelisah. Pasti Aizawa bertanya-tanya tentang siapa Kanata dan juga ia penasaran apa saja yang sudah dikatakan Kanata pada Aizawa. Kurio langsung memeluk Aizawa dengan erat. Seolah sudah sangat lama mereka tak saling bertemu.


Kali ini mereka bertemu di lapangan basket indoor tempat tim nasional biasa berlatih. Latihan mereka hari ini dimulai pukul 6 sore. Sedangkan perkuliahan mereka selesai pukul 12 siang. Pelukan Kurio terasa sangat erat. Aizawa hanya bisa memejamkan mata dan mempercayai apa yang seharusnya ia percaya.


"Kau pasti bertanya-tanya siapa Kanata, ada hubungan apa denganku, maafkan aku belum bisa membicarakan hal ini. Sebenarnya, perusahaan yang saat ini sedang kupimpin pernah mengalami kebangkrutan parah dan harus membayar banyak sekali hutang. Pada saat itu, kedua orangtuaku berniat untuk menutup perusahaan dan membawaku ke Korea, ke perusahaan kakakku, Kurodo. " Ucap Kurio sambil menyibakkan rambut Aizawa yang hampir menutupi kedua matanya. "Tapi, keluarga Kanata datang untuk membeli beberapa saham dan memberikan pinjaman uang untuk membayar hutang-hutang dan biaya operasional perusahaan. Hingga akhirnya perusahaan itu masih bisa berdiri tegak sampai saat ini."imbuhnya.


Sesak mulai menyelimuti perasaan Aizawa saat ini. Bahkan ia tak pernah tahu jika Kurio pernah mengalami masa-masa sulit semacam itu, dan ia tidak ada disana. Lalu, masih pantaskah ia menyalahkan Kurio atas semua hal yang terjadi? Masih pantaskah ia mendampingi Kurio?


"Tahun lalu, keluarga Kanata mengajukan perjodohan dengan keluargaku. Setelah semua yang terjadi, aku dan keluarga tidak mungkin menolak permintaan itu. Meskipun seluruh hutangku kepada keluarga Kanata telah lunas."


"Kau menerima pertunangan itu disaat kamu juga mengikat sebuah hubungan dengan Megumi?" Tanya Aizawa merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


Kurio menghela nafas panjang. "Aku tak punya pilihan."


"Lalu sekarang dia datang kemari untuk melanjutkan hubungan kalian ke jenjang pernikahan?" Tanya Aizawa yang mulai terbawa emosi. Benar-benar sesuatu yang hampir tak bisa ia percaya. Apa kehidupan orang kaya harus serumit itu? Dimana letak perasaan mereka satu sama lain? Bukankah pernikahan itu dilakukan karena keduanya memiliki perasaan yang sama? Ataukah hanya Aizawa yang masih berfikiran kolot tentang pernikahan?


"Jika seandainya aku bisa memilih, aku pasti akan memilihmu. Kumohon tunggulah sedikit lagi. Aku sedang mencari cara untuk keluar dari lingkaran ini. Aku sungguh tidak ingin kehilanganmu lagi." Ucap Kurio sambil memeluk Aizawa lagi. "Aku pasti akan kembali padamu. Apapun yang terjadi."


Tangan Aizawa kali ini meraih punggung Kurio. Mereka saling berpelukan erat. Berusaha saling menguatkan hati masing-masing. Pasti ada jalan bagi mereka untuk kembali. Karena bagi mereka, tak ada yang boleh memisahkan cinta mereka. Namun, adegan romantis ini harus terpotong oleh suara yang lembut namun terdengar tajam.


Keduanya terkejut dan kemudian saling melepas pelukan seolah seperti tertangkap basah selingkuh. Seakan keduanya melakukan kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Kurio segera bersiap di depan Aizawa. Melindungi jika nantinya terjadi sesuatu. Kurio sudah tahu seluk beluk sifat Kanata yang seperti rubah berbulu kelinci.


"Jadi memang benar itu kau, kan? Tidak mungkin mata-mata terbaikku salah memberikan informasi." Ucap Kanata sambil berjalan mendekati keduanya. Aura kemarahan terlihat sangat jelas namun terselubung oleh wajah cantiknya. "Kau benar-benar jahat padaku, Kurio. Dua hari yang lalu kau dengan yakin menyetujui pernikahan kita, tapi apa yang kau lakukan di belakangku? Aku sungguh tak menyangka kau akan memperlakukan aku sekejam ini."


Entah ini sungguhan atau hanya akting belaka. Seandainya ada sutradara yang melihat aktingnya saat ini, pasti Kanata lolos tanpa harus mengikuti casting. Sempurna wajah, fisik dan aktingnya.

__ADS_1


"Kau sudah lupa? Kau pernah hampir kelaparan di tengah jalan, kau bahkan hampir gila karena dikejar hutang sana-sini. Kau tidak ingat siapa yang membantumu bangkit dari keterpurukan itu? Kau tidak ingat siapa yang membantumu melunasi seluruh hutang yang menjeratmu?"


Setiap satu kata yang diucapkan, Kanata melangkahkan satu langkah ke arah Kurio dan Aizawa. Ekspresinya masih memperlihatkan wajah memelas. Kanata terus saja mengoceh tanpa peduli perasaan Aizawa. "Kau lupa siapa yang membawamu sampai ke tingkat tim nasional basket Jepang? Itu semua berkat siapa?"


Tak mampu. Aizawa tak mungkin mengalahkan semua hal yang telah dilakukan keluarga Kanata pada Kurio. Ia memejamkan matanya karena tak ingin mendengar apapun lagi. Sudah cukup !!!


"Keluargaku yang melakukan itu semua !! Apa kau lupa Kurio ??"


"Hentikan !!!!" Teriak Aizawa akhirnya tak sanggup mendengar itu semua. Kurio akhirnya berbalik ke arah Aizawa yang daritadi berdiri di belakangnya sambil berusaha menutupi telinganya. Tangannya meraih kedua tangan Aizawa.


"Kumohon percayalah apa yang tadi kukatakan. Aku sungguh tak punya pilihan. Kumohon bersabarlah sampai aku menemukan cara untuk lepas darinya. Kumohon."


Kurio berbalik meninggalkan Aizawa setelah mengatakan kata-kata itu. Aizawa hanya bisa diam menatap punggung yang tadinya sempat ia peluk erat. Seolah harinya perlahan menjadi kelabu saat langkah demi langkah yang diambil Kurio untuk meninggalkan Aizawa. Air matanya menetes. Apa dia sudah dicampakkan? Apa seperti ini patah hati yang sebenarnya? Aizawa melihat secercah senyum licik keluar dari wanita rubah itu. Kemudian keduanya meninggalkan lapangan indoor tersebut. Meninggalkan Aizawa sendirian. Tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


__ADS_2