My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 18


__ADS_3

Aizawa dan Kurio hanya saling menatap tanpa bisa menjawab. Mereka akhirnya tiba di rumah Aizawa. Tentu saja Ibu kaget setengah mati melihat anaknya pulang setelah beberapa bulan tidak ada kabar. Terlebih lagi, ia pulang bersama pria???!!!!!!! Mungkin perlu waktu bagi Ibu untuk mencerna semuanya. Ibu menyuruh Kurio mandi terlebih dahulu karena sepertinya sangat lelah perjalanan. Sedangkan Ibu segera menyusul Aizawa di kamarnya.


"Siapa laki-laki itu? Kau tidak berbuat yang tidak-tidak kan?" Tanya Ibu dengan nada mendesak begitu sampai di kamar Aizawa.


Kamar yang terasa sedikit pengap meski setiap dua minggu sekali selalu dibersihkan Ibu. Susunan kamarnya pun masih sama seperti saat terakhir ia menempati kamar itu sebelum pindah ke Tokyo. Rasanya ingin sekali ia langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Tapi ribuan pertanyaan akan terus menghantui jika ia tak segera menjawabnya.


"Dia Kurio, Ibu. Apa Ibu masih ingat?"


Dengan alis berkerut sebelah, Ibu mencoba mencerna nama yang terdengar tidak asing baginya. Bola mata Ibu masih berputar kiri dan kanan seolah berusaha mengingat nama itu. Aizawa kini telah merebahkan tubuhnya di tempat tidur tanpa peduli Ibunya sedang pusing mengingat.


"Ibu ingat anak laki-laki yang pernah main ke desa ini selama satu bulan dan menginap disini? Saat itu aku masih Sekolah Dasar. Ibu selalu marah-marah saat anak laki-laki itu mengambil lauk makananku."

__ADS_1


Akhirnya Ibu berhasil mengingatnya. "Dia Kurio anak orang kaya itu?!! Bagaimana bisa kau bertemu dengannya lagi? Dia benar anak orang kaya itu, kan?"


Aizawa menghela nafas berat. "Kenapa yang Ibu ingat hanya tentang kekayaannya saja?" Aizawa mengambil ponselnya dan seperti mengetik sebuah pesan. "Boleh dia menginap disini kan, Bu?"


"Tentu saja. Seharusnya kau bilang dulu sebelumnya, kalau dia mau kesini. Ibu kan bisa memasak masakan enak dan mahal. Kau tau kan, Ibu harus membeli bahan makanan lezat dulu untuk makan malam. Sebaiknya kau siapkan kamar untuknya." Ucap Ibu panjang dan lebar tanpa melihat Aizawa yang terlihat bete.


Sebenarnya Ibu menyambut kepulangan siapa sih? Sebenarnya anaknya itu siapa? Tanpa pikir panjang, Aizawa bangkit dari tempat tidurnya dan segera menyiapkan kamar untuk Kurio, setelah Ibu pergi. Sebuah kamar tamu dengan ukuran sedang berada tepat disamping kamar Aizawa. Entah Kurio merasa nyaman atau tidak berada dalam kamar yang pasti jauh berbeda dengan kamarnya di Tokyo.


"Ibu sedang belanja untuk makan malam. Ayah masih belum pulang kerja. Oh ya, ini kamarmu. Di sebelah itu kamarku. Kalau perlu sesuatu tinggal bilang saja." Ucap Aizawa setelah merapikan sedikit tempat tidur untuk Kurio.


Kurio tak langsung menjawab perkataan Aizawa. Ia hanya menatap setiap gerak-gerik Aizawa. Kedua matanya mengikuti setiap gerakan Aizawa. Kurio pun kemudian tersenyum sendiri. "Rasanya sudah seperti hidup berdua saja denganmu." Ucap Kurio sambil memeluk Aizawa tiba-tiba dari belakang.

__ADS_1


Aizawa terkejut dan tak punya kesempatan untuk menghindar. Jantungnya seolah melompat-lompat saat menyadari wajah Kurio berada sangat dekat dengannya. Seolah ia bisa mendengar debar jantungnya sendiri. Terlalu menyakitkan. Aizawa bahkan merasa sesak dengan debaran jantungnya sendiri. Apa mencintai rasanya sakit?


"Sudah lama aku ingin sekali melakukan ini. Delapan tahun kita terpisah, perasaanku tak berubah sedikitpun. Meski aku tahu, aku sudah salah karena berusaha membuatmu membenciku. Kini aku sadar, aku tak bisa berada jauh darimu."


Seakan sulit bernafas, seolah mulutnya terkunci rapat, serasa tubuhnya kaku, semacam udara dingin yang menyelimuti seluruh kulitnya. Aizawa hanya berdiri terpaku dalam keheningan. Tak ada keraguan dalam hati Kurio. Setelah semua yang sudah terjadi, ia tak ingin kehilangan Aizawa. Pelukannya terasa jauh lebih erat. Bukan bermaksud mengkhianati apa yang sudah terjadi selama ini dengan Megumi, hanya saja masalah hati tak pernah bisa dipungkiri.


"Ibu pulaaangggg !!!"


Aizawa dan Kurio yang sama-sama terkejut langsung melepas pelukan mereka. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti anak kecil yang menyembunyikan rasa malu mereka. Keduanya berpura-pura sibuk untuk menutupi salah tingkah mereka.


Aizawa langsung buru-buru keluar dari kamar Kurio dan segera menyusul ibunya. Kurio hanya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Seolah menutupi rasa malu atas sikap bodohnya. Wajahnya terlihat merah padam. "Siaaallll."

__ADS_1


__ADS_2