My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 19


__ADS_3

Makan malam kali ini terasa lebih spesial. Makanan yang dihidangkan sungguh luar biasa. Mungkin seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat Ibunya memasak seenak dan semewah ini. Ayah juga sudah pulang dari kantornya. Daritadi wajah Ayah hanya cemberut walaupun masakan kali ini sungguh luar biasa. Hawa panas masih menyelimuti sekitar ruang makan.


"Pokoknya Ayah tidak setuju kalau Kurio menginap disini !! Apalagi kamarnya sebelahan dengan Aizawa. Apa-apaan itu? Kalau mereka melakukan hal tidak wajar bagaimana??!!" Ucap Ayah setengah membanting piring di meja makan. Ketiganya ikut terkejut dengan gertakan Ayah.


"Ayah ini ngomong apa sih? Mana mungkin kami begitu !!" Bela Aizawa sambil terus melanjutkan makan.


Nyali Kurio menciut. Ini antara hidup dan matinya. Mau tidur dimana jika akhirnya dia diusir dari rumah Aizawa. Kurio tetap menunduk tak ingin menyantap makanan di depannya sedikitpun. Keringat mengalir deras di pelipis dahinya. Ia berusaha menyembunyikan ketakutannya.


"Ayah jangan begitu. Kurio sudah jauh-jauh dari Tokyo untuk mengunjungi kita. Tidak ada salahnya jika tinggal satu rumah begini. Lagipula kamar mereka terpisah. Kalau malam kunci pintumu, Ai." Ucap Ibu sambil menghidangkan lauk untuk Ayah.


"Saya janji tidak akan merepotkan ataupun membuat masalah disini." Ucap Kurio berusaha meyakinkan Ayah dan Ibu Aizawa.


"Ayah dengar, kan? Tidak akan terjadi apa-apa."


Ayah hanya diam dan tetap menyantap makan malamnya. Meski belum sepenuhnya mendapat lampu hijau, Kurio masih harap-harap cemas. Aizawa tetap tidak mempedulikan dan terus saja melanjutkan makan malamnya. Hal semacam ini pernah terjadi dulu saat Aizawa berniat melanjutkan kuliah di Tokyo. Tentu saja Ayah adalah orang pertama yang menentang hal itu. Namun, Aizawa sudah sangat hafal dengan gerak-gerik Ayahnya ketika sebenarnya menyetujui sesuatu.

__ADS_1


***********


Malam itu Aizawa dan Kurio sudah masuk ke kamar masing-masing. Keduanya tak ingin ada masalah setelah kejadian di meja makan. Aizawa sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia melihat email yang ia kirim ke Yamato. Tak ada satupun yang dibalas. Aizawa tak ingin banyak berharap. Bisa dimaafkan Yamato saja sudah sangat bagus. Tenggorokan Aizawa serasa perih. Ia pun keluar kamar untuk mengambil minuman. Malam itu Ayah dan Ibu sudah tidur. Aizawa berjalan ke dapur, namun kedua matanya menangkap sesuatu yang mengejutkan. Kurio duduk di beranda rumahnya. Pandangan matanya terlihat sendu. Ini pertama kalinya Aizawa melihat Kurio dengan pandangan seperti itu. Ia pun segera menyusul Kurio dan melupakan tujuan awalnya.


"Kau belum tidur?" Sapa Aizawa begitu sampai di belakang Kurio.


Kurio hanya menoleh perlahan dan menampakan senyumnya seperti biasa. Seolah pandangan sendu itu lenyap seketika. "Aku tak bisa tidur."


"Kau tak terbiasa tidur di tempat kecil dan sempit seperti ini?" Tanya Aizawa sambil menempatkan diri di sebelah Kurio.


"Yamato....?"


"Iya. Aku sedikit khawatir keadaannya disana. Entahlah. Aku cukup mengenal bagaimana Yamato. Saat terakhir kali ia menghubungiku, aku merasa ada kejanggalan dengan caranya menyampaikan keadaannya." Jelas Kurio sambil menerawang ke langit. Malam itu bulan bersinar sangat terang.


Beberapa saat yang lalu Aizawa juga memikirkan tentang Yamato. Melihat fakta bahwa Yamato hanya menghubungi Kurio dan tidak menghubunginya sama sekali membuat dadanya terasa nyeri.

__ADS_1


"Besok....kita akan pergi kemana? Tidak mungkin hanya di rumah saja, kan? Kau ingin berkeliling kemana?" Tanya Aizawa berusaha mengalihkan perhatian Kurio.


Kurio diam sejenak. Sepertinya ia sedang berfikir ingin pergi kemana besok. Aizawa terlihat antusias dengan jawaban apa yang ingin dikatakan Kurio. "Taman...tempat dulu kita sering bermain bersama....apakah masih ada?" Ucap Kurio akhirnya setelah beberapa detik berfikir.


Aizawa tampak mengingat sedikit. "Taman dekat sekolahku dulu?"


Kurio mengangguk mantap.


Aizawa hanya tersenyum. "Baiklah. Kita kesana besok." Teriak Aizawa penuh semangat sambil mengangkat tangannya. "Tapi, kita kesana mau ngapain ya?"


Kurio tertawa melihat kekonyolan Aizawa. Bagaimana mungkin ia bersemangat terlebih dulu baru teringat tujuannya. Tangan Kurio menyentuh tangan Aizawa. Ia menatap Aizawa dengan tajam. Meski jantungnya serasa ingin copot, Kurio tetap berusaha menatap mata Aizawa.


"Aku ingin memperbarui kenangan kita."


Kenangan yang sudah berlalu selama hampir 9 tahun dan berhenti begitu saja, bolehkah dilanjutkan kembali? Bolehkah Aizawa berharap lebih pada kata-kata itu? Bolehkah harapan itu diletakkan diantara mereka? Cinta pertama yang selama ini hanya diam ditempat, kini mulai bergerak maju.

__ADS_1


__ADS_2