My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 29


__ADS_3

Pertandingan itu berakhir seri. Meski hanya sekedar latih tanding, tapi hanya Yamato dan Kurio yang berkeringat lebih banyak daripada yang lain. Nafas yang terengah-engah terdengar sangat jelas. Kedua mata Yamato dan Kurio tak berhenti saling menatap. Seolah keduanya berdebat melalui mata. Hiruk pikuk teriakan penonton hampir tak terdengar oleh keduanya. Baik Yamato maupun Kurio seolah ingin meneriakkan, “Aizawa hanya milikku !!”


Setengah berlari, Aizawa segera mengambil handuk kecil yang sudah ia siapkan dari rumah. Semenjak resmi jadian dengan Kurio, ia bahkan mempersiapkan segala yang berhubungan dengan Kurio termasuk membawa handuk kecil untuk menyeka keringat Kurio setelah bermain basket. Satu meter lagi ia bisa menyeka keringat Kurio. Namun, langkahnya terhenti ketika Kanata sudah berada disana untuk memberi botol minum pada Kurio. Meski terlihat menolak, Kurio tak bersikap tegas terhadap Kanata.


Aizawa menunduk menatap handuk kecil yang sudah sengaja ia siapkan untuk Kurio. Handuk berwarna biru langit dengan sedikit border bertuliskan namanya di pojok handuk. Tangannya sedikit gemetar menggenggam handuk itu. Diberikan atau tidak ya handuknya? Bahkan dalam jarak satu meter itu, Kurio tak melihat Aizawa berdiri disana. Apakah memang tak pernah ada Aizawa dalam pandangan Kurio?


Hal yang berlawanan terjadi pada Yamato. Matanya selalu menangkap kemanapun Aizawa pergi. Yamato yang melihat Aizawa berdiri dengan wajah seolah hanya berharap pada Kurio, ia pun harus kembali menguatkan hatinya. Jalan yang harus ia tempuh tak semulus paha artis korea. Yamato pun menghampiri Aizawa yang terdiam di sisi lapangan. Sedikitpun Aizawa tak menyadari bahwa Yamato berjalan ke arahnya. Matanya hanya menatap lurus ke arah Kurio.


“handuk itu…” ucap Yamato berusaha membuyarkan lamunan Aizawa sedikit demi sedikit. “apa handuk itu….boleh untuk menyeka keringatku?”


Aizawa sedikit tersentak. Untung saja ia tak terlalu jauh melamun. Ragu-ragu Aizawa hendak menyerahkannya. Selain karena rasa canggung setelah kejadian Megumi meninggal, keduanya bahkan hampir belum saling bicara satu sama lain. Mungkin tidak ada salahnya memperbaiki apa yang sudah terjadi.


Yamato hanya tersenyum melihat tingkah Aizawa. Malu-malu seperti anak kecil. Meski hanya sebuah langkah kecil yang dipaksakan, setidaknya Yamato mulai mengetuk sedikit pintu hati Aizawa. Bahkan Yamato tak keberatan sedikitpun jika harus menjadi sandaran ketika Aizawa menangisi Kurio. Benarkah begitu? “Sepertinya Kurio sedang sibuk. Bagaimana jika kita beli minum sambil menunggu Kurio selesai? Kita belum bercerita satu sama lain, hlo.”


Aizawa kembali menatap Kurio yang kini bahkan dikelilingi banyak cewek. Tentu saja. Selama Yamato pergi, skala populer Kurio meningkat drastis. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu lalu kemudian menyetujui ajakan Yamato. Keduanya pergi meninggalkan lapangan basket tanpa menoleh lagi ke arah Kurio.


********

__ADS_1


“apa saja yang kau lakukan di Inggris? Sepertinya kau betah disana.” ucap Aizawa sambil menyantap burger pesanannya.


Café sekitar kampus memang tak kalah dengan café-café di kota besar lainnya. Baik segi desain, menu maupun pelayanan tidak bisa diremehkan begitu saja. Banyak sekali mahasiswa Universitas Tokyo yang mampir ke café tersebut. Hal itu membuat sebagian besar mata mereka menatap ke arah Yamato dan Aizawa duduk. Tatapan sinis menuju arah Aizawa. Namun, sepertinya sifat ‘tidak peka’ yang dimilikinya sangat berguna untuk saat-saat semacam ini.


Satu hal yang ada dalam pikiran Aizawa saat ini adalah makan, makan dan makan. Kekesalan hari ini harus dibayar dengan makan sepuasnya. Bagaimana mungkin Kurio tidak melihatnya berdiri jelas seperti itu? Apa di matanya hanya ada Kanata? Sejak tadi ia tak berhenti-hentinya bergumam dalam hati. Ingin rasanya mencekik Kurio saat bertemu dengannya nanti. Bahkan saat ini ia menatap burger yang ia makan sebagai kepala Kurio.


“makannya pelan-pelan saja. Aku tidak akan minta jatah burgermu.” Gurau Yamato di tengah kekesalan Aizawa.


“hari ini aku sedang kesal. Bisa tidak kamu berhenti mengganggu?”


“apa gara-gara Kurio?” tebak Yamato langsung pada sasaran. Meski sesungguhnya Yamato sudah tahu jawabannya.


“Kurio bilang, bahwa ia sedang mencari cara untuk bisa lepas dari Kanata. Kurio juga menyuruhku untuk bersabar. Tapi, saat melihat kejadian tadi, aku kembali berfikir, mungkinkah aku ada dalam sudut pandangnya? Aku yakin tadi ia tak tahu jika aku berdiri disana. rasanya Kurio terlalu jauh untuk ku gapai.”


Yamato mengambil minumannya. Kali ini bukan karena ia haus, melainkan harus menenangkan dirinya sendiri. Bisa dibayangkan betapa remuk hatinya saat ini ketika orang yang disayang menceritakan kegelisahannya dengan orang lain. Bukankah ini saat yang tepat untuk mulai menikung? Tidak, tidak, pikiran itu segera ditepis oleh Yamato. Biar bagaimanapun, semua keputusan ada pada Aizawa meski sekeras apapun Yamato dan Kurio merebutkannya.


“aku tahu. Kurio menyetujui pertunangan itu karena balas budi terhadap perusahaan Kanata yang sudah banyak membantu perusahaan Kurio. Aku tahu, jika Kurio terlalu baik dan bahkan sampai tak bisa menolak permintaan orang lain. Aku juga tahu, jika selama ini Kurio hanya memikirkanku. Tapi….tetap saja….”

__ADS_1


“kau ingin hanya ada kamu seorang, kan?” ucap Yamato melanjutkan.


Aizawa mengangguk perlahan. “apa itu permintaan yang egois?”


Yamato hanya diam. Melihat wajah sedih Aizawa saat ini membuatnya berfikir ulang tentang upaya untuk merebut Aizawa dari Kurio. Jika berada jauh dari Kurio membuat Aizawa tak bisa tersenyum seperti ini, apa mungkin Yamato tega menghapus kebahagiaan dari hidup Aizawa? Pertama mengenalnya, yang terlihat hanya tawa dan senyuman. Sikap tak kenal menyerah, ketulusan, harapan, perjuangan, bahkan semua hari-hari berat itu terlalui dengan keceriaan bersamanya. Jika kini kesedihan menghampirinya, kebahagiaan seperti apa yang bisa diberikan untuk mengembalikan senyumnya?


Beberapa detik yang lalu, Aizawa masih seperti dirinya yang biasa. Namun kini air mata seolah bercampur dengan burger yang ia santap. Hati Yamato seolah tersayat mendengar isak tangis yang dirasakan Aizawa. Tiba-tiba ponsel Aizawa bergetar. Ia buru-buru menghapus air mata dan meneguk minumannya. Ia sempat melirik ponselnya dan ekspresinya tiba-tiba berubah. Mungkinkah itu Kurio?


“maaf aku harus angkat telepon dari Ayahku.” Ucapnya sambil menyambar ponsel yang daritadi tergeletak di meja.


Yamato mengangguk mengijinkan Aizawa pergi sebentar untuk menjawab telepon dari Ayahnya. Bahkan kini burger yang ada dihadapannya pun tak semanis tadi. Melihat Aizawa yang menangis seperti itu hanya demi seorang Kurio, ingin rasanya menghajar burger di hadapannya namun ia sudah hilang selera makan. Setelah menjawab telepon kurang lebih selama 10 menit, Aizawa kembali duduk. Kali ini wajahnya sangat gelisah.


“apa yang terjadi? kenapa wajahmu jadi gelisah?” tanya Yamato semakin khawatir pada Aizawa.


“sepertinya aku harus pulang sekarang. Ibuku mendadak sakit.” Ucap Aizawa dengan pandangan penuh gelisah dan bingung.


“pulang? Maksudmu ke Hiroshima? Sekarang? Mau kutemani?”

__ADS_1


Aizawa terdiam. Ia teringat kembali perkataan Ayahnya di telepon. Ibunya selalu mengigau saat demam dan menyebut nama Kurio beberapa kali. Mungkinkah hal seperti ini terjadi? Aizawa bergegas pergi untuk menemui Kurio. “ibuku ingin bertemu Kurio. Aku harus mengatakan ini padanya. Mungkin saja ia ingin ikut bersamaku.” Ucap Aizawa dengan wajah penuh keyakinan. Disaat seperti itu, ekspresi tersenyum adalah respon yang tepat walaupun hati rasanya teriris.


“akan kuantar menemui Kurio.” Tawar Yamato dan Aizawa menyetujuinya.


__ADS_2