My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 39


__ADS_3

Tangannya masih saja terasa hangat. Jantungnya berdegub kencang setiap kali teringat kejadian itu. Padahal sudah tiga hari yang lalu Yamato menyatakan perasaan pada Aizawa. Wajahnya berubah merah padam setiap ingat wajah Yamato. Ini tidak wajar. Bukankah ia menyukai Kurio? Tapi kenapa rasanya terasa nyaman jika memikirkan Yamato?


Ia bangkit dari tempat tidur dan menggapai kalender di mejanya. Yamato mengundang Aizawa untuk datang pada pertandingan basket melawan tim dari Universitas lain. Ia menghela nafas ringan. “Minggu depan ya?”


Pikiran Aizawa menerawang kembali pada saat berada di taman. Beberapa saat setelah Yamato menyatakan perasaannya. Bahkan ia masih bisa merasakan kehangatan tangan Yamato di tengah cuaca dingin yang mulai menyelimuti mereka.


“Ai, diluar ada Kurio datang.” Ucap Ayahnya tiba-tiba mengetuk pintu kamar dan kemudian membukanya.


Mata Aizawa membulat sempurna. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Kurio datang ke Hiroshima? Benarkah itu? Ia segera berlari memastikan apa yang baru saja ia dengar dari Ayahnya. Matanya terpaku saat melihat sosok yang beberapa hari lalu ia rindukan. Kini ada di depan matanya. Berdiri di hadapannya. Kurio mengenakan jaket coat berwarna hitam pekat dengan sepatu sneakers berwarna navy. Aizawa melemparkan seutas senyum dan dibalas senyuman oleh Kurio.


******


“Ku dengar kamu mengambil cuti kuliah. Kenapa? Maaf aku baru sempat mengunjungimu.” Ucap Kurio ketika sampai pada bangku taman tempat Yamato dan Aizawa bertemu beberapa hari lalu.

__ADS_1


“Ibuku mendadak sakit. Aku ingin merawatnya sebentar. Jadi aku mengambil cuti sampai Ibuku benar-benar pulih.”


“Kau tidak bermaksud untuk pindah dari Tokyo dan kembali ke Hiroshima, kan? Kau tidak akan meninggalkanku kan?” ucap Kurio sedikit bergetar suaranya.


Aizawa menatap Kurio dengan tatapan nanar. Seolah tak tahu lagi kata-kata apa yang ingin ia sampaikan pada Kurio. Aizawa pun menunduk. Tangannya mengepal berusaha mengatur emosi yang sedang melonjak. “Aku tak pernah meninggalkanmu.” Ucapnya dengan mata terpejam dan masih belum menatap Kurio kembali. “Tapi kau yang selalu meninggalkanku. Terus berada jauh di tempat yang tak bisa ku gapai..”


Rasa bersalah membayangi Kurio. Ia teringat kembali kejadian di kampus saat meninggalkan Aizawa dan lebih memilih Kanata. Bukannya tidak sadar, selama ini Kurio sangat menyadari jika ia berkali-kali menyakiti Aizawa. Semenjak masih bersama Megumi sampai Kanata, Kurio hampir selalu menyakiti Aizawa. Melihat telapak tangan Aizawa yang bergetar membuat Kurio ingin menggenggam tangan Aizawa. Namun, diurungkannya niat tersebut.


Sorot mata Aizawa berubah cerah. Ia seolah tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Kurio berusaha menentang perjodohannya? Mungkinkah itu bisa? “Lalu apa yang dikatakan Kanata?”


Kurio menatap lurus ke depan. Pandangannya mengarah pada pohon sakura yang mulai berguguran di tengah taman. Udara saat itu terasa dingin. “Dia belum tahu. Tapi cepat atau lambat dia pasti mendengarnya.”


Hening. Tak terdengar lagi pembicaraan apapun diantara mereka. Keduanya terasa canggung. Hanyut dalam pikiran masing-masing. Jika seandainya perjodohan itu dibatalkan, apakah Aizawa berhak bersama Kurio? Apakah Kurio membatalkan perjodohan itu demi Aizawa? Jika seandainya perjodohan itu bisa dibatalkan, mungkinkah Aizawa masih mau menerima Kurio kembali? Setelah semua yang telah terjadi diantara mereka?

__ADS_1


Kurio segera bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Aizawa. Tangannya berusaha meraih jemari mulus Aizawa. Kedua mata mereka saling bertemu. Ada debaran gugup terlintas di dada Kurio. Akan tetapi hal yang sebaliknya dirasakan oleh Aizawa. Ia tidak lagi merasakan debaran jantung seperti saat beberapa hari lalu, ketika Yamato menggenggam tangannya. Pertanda apa ini?


“Jika perjodohan itu berhasil kugagalkan, meski aku tahu tidak sepantasnya aku meminta ini, meskipun aku tidak tahu berapa banyak yang telah kuambil darimu, dan sebesar apa yang seharusnya kukembalikan, aku ingin Kamulah yang mendampingi langkahku di masa depan.”


Aizawa mengerjapkan matanya. Bagaikan dejavu. Ia pernah mengalami kejadian serupa dan juga bersama Kurio. Ya…benar. Saat itu sedang ada festival musim panas. Itulah saat dimana Kurio dan Aizawa memperbarui kenangan diantara mereka. Memulai kembali hubungan resmi mereka. Saat itu ia sangat berdebar-debar setiap kali berada di dekat Kurio. Tapi sekarang, kemana perginya debaran itu? Bahkan saat kedua jemari tangan saling bertautan, debaran itu bahkan terasa samar.


Aizawa hanya menatap Kurio dengan pandangan sayu. Tenggorokannya seolah melepuh. Mulutnya serasa terkunci. Ia tak bisa berkata apapun. tidak bisa menjawab pernyataan Kurio. Tidak untuk saat ini. Hatinya masih bimbang. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ia memilih menunduk dan diam. Kurio hanya menghela nafas berat melihat respon Aizawa.


“Minggu depan ada pertandingan nasional melawan tim basket Universitas Hosei. Aku berharap kamu bisa datang dan melihat kami bertanding. Aku lebih berharap lagi kamu kembali ke Tokyo.” Ucap Kurio sambil melepas genggaman di jemari Aizawa. Mungkin Aizawa butuh waktu untuk berfikir, begitu pikirnya.


Tanpa kata. Tanpa suara. Aizawa hanya mengangguk untuk mengiyakan.


*******

__ADS_1


__ADS_2