My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 32


__ADS_3

Aizawa berkali-kali memikirkan hal ini. Keputusan untuk mengambil cuti kuliah selama waktu yang belum ia tentukan adalah hal yang menurutnya gegabah. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Kini ia telah meletakkan tas kopernya turun dari kereta yang membawanya dari Tokyo ke Miyoshi, Hiroshima. Tempat kelahirannya. Tempat dimana kedua orangtuanya tinnggal. Matanya menyapu seluruh stasiun yang mungkin sudah lama sekali tidak ia kunjungi. Banyak penumpang yang turun di stasiun ini. Aizawa menghirup dalam-dalam udara pertama yang ia hirup di kota ini.


Aizawa mulai berjalan menuju pintu keluar stasiun. Ia kembali teringat ucapan Yamato saat mengantar kepergian Aizawa di stasiun. Raut wajahnya bukan lagi raut wajah seorang teman yang sedih mengantar kepulangan temannya ke kampung halaman. Raut wajah yang cemas dan khawatir terpancar keluar secara liar tak beraturan. Entah sudah berapa kali Aizawa merasa sesak nafas setiap kali berada di dekat Yamato. Entah sejak kapan rasa tidak nyaman itu mulai muncul. Entah perasaan aneh apa yang mulai ia rasakan.


Dengan terhuyung-huyung Aizawa berjalan sambil menggiring koper besarnya menuju pintu keluar stasiun. Dari sana terlihat Ayahnya sedang berdiri di samping sebuah mobil murah dengan segudang coretan dan lecet di segala sisi. Tiba-tiba ia teringat saat berkunjung ke Hiroshima dengan Kurio. Saat itu mereka datang dengan mobil yang super mewah dan mengkilat. Ngomong-ngomong soal mobil mewah dan mengkilat, mobil yang dipakai Kanata juga sangat mewah dan elegan. Mereka sangat serasi. Betapa jelas terlihat perbedaan status sosial Aizawa dengan Kurio dan Kanata.


“Akhirnya datang juga, anak perempuan Ayah.” Ucap Ayah Aizawa sambil merenggangkan kedua tangannya menyambut anak satu-satunya pulang.

__ADS_1


“Aku merindukanmu, Ayah.” Ucap Aizawa sambil menyambut tangan lebar Ayahnya dengan antusias namun tidak lebay.


“Bohong. Kau bahkan tidak pernah menghubungi Ayah sekalipun.”


Aizawa terkekeh melihat Ayahnya cemberut seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. “Setidaknya aku tidak pernah lupa jalan pulang.”


Kening Aizawa berkerut samar. Ia menelan ludah sekali lagi sambil menarik nafas panjang. Tidak mungkin ia menceritakan bahwa ia sudah dicampakkan Kurio. Biar bagaimanapun, ini adalah masalahnya. Tidak seharusnya orangtuanya khawatir tentang ini. “Dia sedang sibuk mengurus perusahaannya. Kurio titip salam untuk Ayah dan Ibu.” Ia terpaksa berbohong karena tak punya pilihan lain. Adakah pilihan yang lebih baik dari menyembunyikan kenyataan?

__ADS_1


Keduanya kemudian melanjutkan perbincangan di dalam mobil. Meski bukan mobil mewah yang seringkali ada di sekitarnya, tapi mobil itu tetaplah hasil keringat Ayahnya sendiri. Aizawa sedikit menunduk menatap cincin yang ia kenakan. Cincin itu bukan lagi cincin mainan yang selama ini ia pakai. Kenangan itu telah diperbarui oleh Kurio. Betapa ia saat ini menyesali keputusannya pergi ke Tokyo demi mengejar cinta pertamanya. Kemudian ia mendapati kekalahannya bersaing dengan tunangan resmi Kurio. Kejadian kemarin menjadi bukti kuat yang menjelaskan dimana posisinya.


“Kuliahmu lancar bukan? Apa sekarang sudah libur musim gugur?” tanya Ayahnya memecah keheningan yang terjadi di dalam mobil. Merasa jika putri satu-satunya seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.


Aizawa terdiam menangkap sedikit maksud pertanyaan Ayahnya. “Aku cuti kuliah.” Ucapnya pelan. “Aku ingin tinggal disini sementara waktu.”


Ayahnya tersenyum simpul dengan jawaban Aizawa. “Kau bisa tinggal disini kapanpun kau mau. Karena disinilah rumahmu.”

__ADS_1


__ADS_2