My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 34


__ADS_3

Aizawa meletakkan mangkok berisi nasi dan beberapa lauk untuk makan siang Ibunya. Ia menghela nafas berat karena Ibunya sedikit sulit untuk disuapi. Kondisinya memang membaik, tapi nafsu makannya belum juga kembali. Aizawa hanya bisa memandangi Ibunya yang sedikit lebih kurus.


“Kau ini kenapa harus mengambil cuti kuliah? Apa kamu tidak ingin segera lulus dan kerja? Bukankah sayang dengan beasiswa yang sudah diberikan padamu?” ucap Ibunya sambil berbaring tidak berniat melanjutkan makanannya.


“Hanya sampai Ibu benar-benar sembuh.” Ucapnya berusaha menenangkan. Semalam ia kembali berfikir tentang rencana untuk berhenti kuliah dan kembali ke Hiroshima atau pindah ke universitas lain yang jauh dari Kurio. Aizawa kembali mengingat bagaimana ia berjuang setengah mati untuk bisa kuliah di Tokyo. Ia belajar sampai larut malam, di awal pagi buta ia kembali bangun untuk belajar. Waktu bermain ia alihkan untuk pergi ke perpustakaan kota. Betapa ia sungguh-sungguh ingin menembus Universitas Tokyo.


“Bagaimana antara Kamu dan Kurio? Lancar-lancar saja kan?” tanya Ibu sambil sedikit membuka mulutnya untuk disuapi Aizawa.


Aizawa menangkap sinyal-sinyal dari Ibunya dan bergegas menyuapi Ibunya dengan nasi dan lauk. “Kami baik-baik saja. Ibu tak perlu khawatir.”


“kalau baik-baik saja, kenapa Kurio tidak kesini? Sesibuk apapun, seharusnya ia menjenguk calon Ibu mertuanya ini.”

__ADS_1


Aizawa hanya diam menatap mangkok nasi milik Ibunya sambil berusaha terlihat sibuk dan tidak mendengarkan perkataan Ibunya. Dalam hati kecilnya membenarkan semua perkataan Ibunya. Sesibuk apapun, bukankah seharusnya menyempatkan waktu untuk berkunjung? Ia kembali meragukan perasaan Kurio dan posisinya di mata Kurio.


********


“Apa kau sudah gila?!! Apa-apaan semua ini?!” teriak Ayah Kurio saat menerima selembar kertas pernyataan pembatalan pernikahan.


“Aku tidak bercanda Ayah. Aku tidak ingin menikah dengan Kanata. Aku ingin membatalkan pernikahan itu. Keputusan ini sudah bulat.” Ucap Kurio dengan mantap dan yakin dengan keputusan yang ia ambil.


Ayahnya duduk sejenak di meja kerjanya. Tidak menyangka jika pagi ini akan kedatangan tamu yang membuat kepalanya hampir pecah. Semua keluarga Kurio sangat paham konsekuensi yang harus diterima jika membatalkan pernikahan dengan Kanata. Saham sebesar 80% akan dicabut dan perusahaan hanya tinggal menghitung hari menuju kehancuran. Tapi kebahagiaan anaknya seharusnya tak bisa ditukar dengan apapun, bahkan dengan uang sekalipun.


“Kau bisa menutup perusahaan di Jepang dan menggabungkan dengan Perusahaan kakak. Aku tak keberatan sama sekali. Bahkan jika aku harus menerima hukuman apapun. akan kulakukan semua asalkan pernikahan itu dibatalkan. Aku sama sekali tidak mencintai Kanata.” Ucap Kurio kali ini sambil berlutut memohon pada Ayahnya.

__ADS_1


Kurodo bahkan sampai tak bisa berkata apa-apa. Adiknya telah membuat keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan yang mungkin saja tak bisa ia ambil. Meski kesal, Kurodo harus mengakui jika adiknya sudah tumbuh lebih dewasa darinya.


“Tapi perusahaan itu berdiri sampai sekarang ada campur tangan dari usaha dan kerja kerasmu. Mana mungkin Ayah tega membiarkan bangkrut begitu saja.” Ucap Ayahnya sambil meraih Kurio yang masih berlutut di hadapannya.


“Ayah…..”


Senyum lebar diperlihatkan Ayahnya. “Kita pikirkan cara lain jika saham keluarga Lee dicabut dari perusahaanmu. Tidak akan kubiarkan kedua putraku menderita.”


Kurio akhirnya bisa bernafas lega. Seolah beban yang selama ini ada di punggungnya berhasil dimusnahkan. Kurodo tersenyum melihat adiknya kini terlihat lebih ceria. Sempat terlintas dalam pikirannya. “Kenapa hal ini tidak dipikirkan sejak awal?”


Dengan sedikit harapan ini, Kurio bisa menemui Aizawa dan mengatakan rencananya. Semoga saja ia masih sempat. Karena jalan bagi keduanya untuk bersatu sudah terbuka lebar.

__ADS_1


__ADS_2