My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 38


__ADS_3

“Kenapa Kau ada disini? Ini belum liburan musim dingin.” Tanya Aizawa sambil berjalan menuju tempat duduk yang berada di tengah taman. Matanya menatap tajam ketika Yamato merebahkan bahunya pada punggung kursi kayu panjang.


Yamato menghela nafas panjang. “Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kau tidak bisa dihubungi. Aku takut Kau berbuat hal bodoh.”


“Hei…aku tak akan berbuat hal bodoh ataupun hal nekat seperti yang kau maksud.” Ucap Aizawa sambil tersenyum samar memandang air mancur yang berada di tengah bundaran taman. Suasana sore itu terasa hangat namun angin yang bertiup membawa hawa dingin.


“Kau bahkan melakukan hal konyol dan nekat demi Kurio.” Kali ini Yamato mengunci tatapan Aizawa. Menatapnya dalam seolah ingin menyelami isi hatinya. “Kau rela datang dari jauh ke Tokyo dan hidup sendiri disana, mencari Kurio tanpa tahu apapun, tanpa informasi apapun, Kau pikir ada hal yang lebih konyol dari semua itu?”

__ADS_1


Tatapan Yamato membuatnya serasa hanyut dalam sebuah kehangatan. Seolah tenggelam dalam pusaran air yang menghanyutkan tapi juga menenangkan. “Jika aku tahu akan seperti ini, Aku takkan pernah terpikir untuk pergi ke Tokyo.”


Memang benar bahwa Aizawa menyesali tindakan konyol yang sudah ia lakukan untuk menemukan Kurio. Bahkan sampai berakhir seperti inipun sama sekali tdak ia perhitungkan. Ia baru menyadari betapa bodohnya ia melakukan hal nekat demi Kurio. Sejak awal pertemuan mereka sudah diawali dengan luka. Menerbangkan hingga ke titik tertinggi kemudian dijatuhkan dengan sangat keras. Kejadian saat itu benar-benar sebuah cambuk bagi Aizawa. Sudah jelas dimana posisinya berada.


“Seandainya Kau tak pernah pergi ke Tokyo, mungkin Kita tak pernah saling mengenal. Mungkin juga tak akan pernah ada rasa semacam ini.”


Aizawa mengalihkan pandangannya sejenak. Ia harus segera bernafas atau nanti akan muncul berita seorang gadis mati kering karena kekurangan oksigen. Jantungnya seolah ingin melompat keluar. Ia merasa umurnya berkurang sangat cepat. Sejak kapan ia melihat Yamato begitu mempesona? Perlahan Aizawa mengatur kembali nafasnya. Menghirup kembali oksigen yang sempat hilang.

__ADS_1


Yamato menatap Aizawa yang masih tertunduk kemudian berdiri di hadapannya. Aizawa mulai kehilangan kemampuan dalam mengatur nafas. Ia mulai ragu jika benar-benar ada oksigen di sekitar mereka. Degub jantungnya semakin berdetak kencang. Kali ini keduanya saling menatap. Lagi-lagi Aizawa tak bisa mengalihkan pandangan dari pesona Yamato. Ia bahkan terlalu takut menatap matanya.


“Aku mencintaimu, Aizawa.”


Dalam sekejap semua terasa jauh. Hanya terdengar debaran jantung yang semakin kencang dan tak beraturan. Ingin rasanya Yamato menghilang dari hadapan Aizawa. Bisa-bisanya ia melanggar sendiri perjanjian dengan Kurio. Nasi sudah menjadi bubur. Kata-kata sakral itu sudah terucap dari mulutnya. Melihat Aizawa masih dalam mode patung, Yamato segera menambahkan ucapannya.


“Aku tahu kamu sedang menjalin hubungan dengan Kurio. Aku selalu menahan diri selama ini. Tapi ketika melihat bagaimana Kurio menyakiti dan meninggalkanmu saat itu, akal sehatku serasa hilang. Aku tidak ingin Kurio menyakitimu lagi.”

__ADS_1


Lengan Aizawa bergetar mendengar pernyataan Yamato. Ada perasaan aneh yang membuatnya bertanya-tanya. Ia mencintai Kurio, tapi kenapa pernyataan Yamato membuat hatinya berdebar tanpa henti?


__ADS_2