
Aizawa memilih untuk berdiam diri merenungi semua usahanya di antara kerumunan kota. Bahkan suara derap langkah ribuan orang, suara mobil dan bis yang melaju, serta suara kereta api yang melintas tak bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang. Di jalanan dimana ia bersimpangan dengan Kurio ‘yang asli’ beberapa saat yang lalu, dengan harapan konyol ia akan bertemu sekali lagi dengannya di jalanan ini. Rasanya seperti halusinasi ia melihat ada tetesan air jatuh di atas kertas yang ia genggam. Tidak mungkin hujan turun di awal musim panas, bukan? Ia bahkan mulai berhalusinasi suara hujan lebat dan cuaca yang dingin. Kenapa terasa seperti sungguhan?
Aizawa menengadahkan kepalanya. Barulah kini ia sadar jika saat ini sedang turun hujan. Apakah hujan ini turun untuk menyambut datangnya musim panas? Mana ada hal seperti itu. Ini termasuk fenomena global warming. Kaki Aizawa tak ingin bergerak satu inchi pun dari tempatnya duduk. Perlahan namun pasti, ia merasakan setiap aliran air yang mengaliri seluruh tubuhnya. Seolah hujan sedang membersihkan luka di hatinya, menjauhkan dari kemungkinan adanya bakteri dan infeksi yang masuk melalui luka itu. Hingga kemudian sampai pada tugas untuk membalut lukanya.
__ADS_1
Telapak tangan yang sudah terisi genangan air, perlahan tak lagi menetes. Apa hujan sudah reda? Sepatu kets berwarna hitam kombinasi navy tepat di depan Aizawa. Sepertinya ia sangat mengenali sepatu itu. Hujan sudah tak lagi membasahi tubuh Aizawa, tapi kenapa ia masih mendengar suara air hujan yang mengalir deras? Ia mengangkat kepalanya. Sosok Yamato sedang berdiri di hadapannya dengan payung yang melindungi tubuhnya sendiri dan tubuh Aizawa. Apa ini mimpi? Bahkan Aizawa berfikir bahwa ia mulai berhalusinasi.
"Kenapa ada disini? Aku mencarimu daritadi." Ucap Yamato dengan lirih. Itu hanya satu kalimat. Satu kalimat sederhana yang bisa dikatakan siapapun. Namun, seolah membuat luluh luka yang membeku terkena siraman air hujan. Seolah bisa mencairkan air mata yang sejak tadi tertahan. "Kenapa bolos kuliah? Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Aku...berharap bisa bertemu Kurio lagi disini. Itu sebabnya aku menunggunya. Aku....aku tak tahu lagi harus bagaimana. Harus kemana lagi aku mencari Kurio? Sudah lupakah ia padaku? Apa yang harus kulakukan jika tak menemukannya?" Tangannya gemetar kedinginan. Tak sanggup menatap mata Yamato, ia memilih untuk menunduk.
Yamato tak lagi bisa membedakan yang mana air mata dan yang mana air tetesan hujan di wajah Aizawa. Tak adakah yang bisa ia lakukan untuk membuat Aizawa tersenyum?
__ADS_1
"Kita akan mencoba mencarinya lagi besok. Pasti ada beberapa petunjuk. Yang lebih penting, kau tidak ingin bertemu Kurio dalam kondisi yang buruk seperti ini, kan?" Ingin rasanya Yamato menyeka air mata Aizawa. Namun, mungkin belum saatnya. "Ayo pulang."
Aizawa mengangguk. Saat ini mungkin istirahat dan menenangkan pikiran adalah pilihan terbaik. Yamato membiarkannya beristirahat di rumah kontrakannya.
__ADS_1