
Aizawa memandangi ponselnya yang sedang dibalut oleh handuk. Ia bermaksud membersihkan bak mandi, tapi ponsel yang disimpan di saku celananya justru ikutan mandi. Membayangkan harus membeli ponsel baru sudah membuatnya sedikit merinding. Merasa belum meneguk air sejak ponselnya berenang membuatnya kini kehausan. Karena Ibunya sedang dalam masa penyembuhan, ia harus melakukan semua pekerjaan rumah sendirian. Termasuk menyiapkan makan malam. Ia menghela nafas ketika melihat bahan makanan di kulkas sudah mulai habis.
Ia segera mengambil jaket mantel berwarna abu muda. Udara menjelang musim dingin sudah mulai merasuk sampai ke tulang. Bagi beberapa orang, musim dingin sangat menyenangkan karena adanya salju yang turun. Tapi tidak untuk Aizawa. Ia sangat tidak tahan dengan udara dingin dan atmosfir suram yang mampu membuat emosinya sangat tidak stabil.
Sudah hampir sepuluh hari ia meninggalkan Tokyo. Meninggalkan segala kesibukan dan kepadatan ibukota Jepang. Melupakan kesibukannya sebagai mahasiswa. Melupakan kewajibannya sebagai salah satu mahasiswa dari Universitas terbaik di Jepang. Ya…Aizawa merindukan Tokyo. Aizawa merindukan kesibukannya sebagai mahasiswa. Aizawa merindukan padatnya orang berjalan kaki di tengah kota. Aizawa merindukan seseorang disana. Alisnya berkerut saat bayangan orang yang muncul dalam ingatannya adalah Yamato. Ia berjalan di trotoar sambil linglung. Berusaha mengingat-ingat seperti apa wajah Kurio. Karena sejak tadi yang muncul hanya wajah Yamato. Ia pun sampai di sebuah pemberhentian bus Sanji.
Matanya terpaku ketika melihat seseorang turun dari bus yang baru saja berhenti. Dengan sebuah ransel berukuran sedang, Yamato menoleh ke arah Aizawa berdiri. Terpaku, bertanya-tanya mungkinkah apa yang ia bayangkan menjadi kenyataan. Karena baru saja Aizawa merindukan Yamato.
__ADS_1
“Kupikir akan mengalami kesulitan saat mencari rumahmu. Ternyata semudah ini, ya? Aku terselamatkan.” Ucap Yamato sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan karena tertidur dalam bus.
Aizawa hanya diam sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Takut jika apa yang dilihatnya hanyalah ilusi dari pikirannya sendiri. “Kau…benar Yamato?”
“Ya…aku disini.” Ucap Yamato sedikit kebingungan juga.
“Hahh???”
__ADS_1
Yamato mengikuti kemanapun Aizawa melangkahkan kakinya. Ia seperti anak ayam yang mengekor pada induknya. Dengan selembar catatan panjang di tangannya, Aizawa berjalan menelusuri swalayan yang terletak di kota Miyoshi. Setelah yakin bahwa pria di hadapannya benar-benar Yamato dan bukan ilusi buatan, ia menawarkan sebuah kesepakatan dengan Yamato. Kini, harga yang harus dibayar oleh Yamato adalah menemani Aizawa berbelanja. Senyum bahagianya seolah tak bisa disembunyikan lagi.
Trolly belanja mereka sudah hampir terlihat penuh, tapi Aizawa masih saja berputar-putar swalayan tanpa tahu pasti apa yang sedang ia cari. “Kau masih mencari apa lagi? Daritadi hanya berputar-putar.” Protes Yamato mulai mengeluh kelelahan.
Sebenarnya semua barang sudah terbeli, tapi Aizawa hanya sedang mencari cara untuk membuat Yamato tinggal lebih lama. Ini bukan weekend. Pasti Yamato akan pulang malam ini. “ehm…sepertinya tidak ada yang terlewat. “
Setelah membayar semua belanjaan, mereka berdua jalan dengan berdampingan. Tak banyak yang mereka bicarakan selama perjalanan pulang. Keduanya seperti hanyut dalam pikiran masing-masing. Tak tahu harus berkata apa. Seperti sepasang kekasih yang masih baru menjalin hubungan. Malu-malu kucing. Langkah Aizawa berhenti ketika melewati sebuah taman. Pandangannya menerawang. Itu adalah taman tempat Kurio memperbarui kenangan diantara mereka. Aizawa kembali teringat saat Kurio memberinya kejutan dan memasangkan cincin baru di jari manisnya.
__ADS_1
“Mau istirahat sebentar?” ucap Yamato memecah keheningan dan membuyarkan lamunan Aizawa. “Daritadi kau hanya diam. Apa kau capek?”
Aizawa menggeleng pelan dan berjalan menuju taman. Sejak kemarin ia tak bisa mengingat wajah Kurio. Namun, ketika sampai di taman ini, ia bisa dengan jelas mengingat wajah Kurio. Tapi ia merasakan keanehan. Ada sesuatu yang berbeda.