
Lapangan basket indoor tempat mereka bertanding dipenuhi suara decit dari sepatu basket. Pertandingan yang sengit antara Universitas Tokyo melawan Universitas Hosei memasuki babak kedua dengan score berbeda jauh. Universitas Tokyo unggul dengan score 26-8. Suatu score dengan selisih yang cukup sulit untuk dikejar. Yamato dan Kurio tak berhenti saling mencetak score. Seolah pertandingan ini adalah milik mereka berdua.
Aizawa berlari menaiki tangga tribun penonton. Ia sudah tak peduli lagi dengan bangku penonton. Tak ada sedikitpun keinginan untuk duduk cantik menikmati pertandingan. Tangannya menggenggam erat besi pembatas yang berdiri tegak di bangku penonton. Nafasnya masih terengah-engah. Keringat serasa bercucuran di segala sisi tubuhnya. Situasi yang terlihat di matanya hanyalah persaingan antara Yamato dan Kurodo yang terlihat berlomba mengumpulkan score. Tak peduli seperti apa jalannya pertandingan. Aizawa hanya melihat sebuah pertandingan basket yang tidak sehat.
__ADS_1
Matanya tak berhenti mengikuti kemana Yamato dan Kurio berlari. Keduanya bergiliran saling memasukkan bola ke dalam ring. Seakan tak memberi kesempatan bagi lawan untuk menyerang balik. Bertanya-tanya siapa yang lebih banyak mengumpulkan angka. Jantungnya berdegub sangat kencang. Kepada siapa ia memilih? Bahkan matanya tak bisa menentukan kemana arah hatinya.
“Kupikir Kau tidak akan datang.” Ucap seseorang yang tiba-tiba mendekat dari belakang. Aizawa menoleh dengan terkejut kemudian lega karena yang muncul adalah Kurodo. “Kau pasti bertanya-tanya siapa yang lebih banyak mengumpulkan poin. Aku sengaja menyaksikan dari awal karena terhibur dengan sikap kekanakan mereka. Saat ini Kurio unggul dengan 14 poin, sedangkan Yamato mengumpulkan 12 poin.”
__ADS_1
Aizawa melemparkan kembali pandangannya ke lapangan. Ada rasa kecewa terlintas saat mengetahui bahwa Kurio lebih unggul daripada Yamato. Babak kedua sudah berakhir. Skor akhir babak kedua adalah 36-12. Sebuah angka yang tak mungkin lagi dikejar oleh lawan.
Pertandingan dimulai kembali. Jantung Aizawa mulai berdegub kencang ketika Yamato dan Kurio kembali memasuki lapangan. Kali ini ia harus benar-benar memilih. Ini bukan tentang siapa yang lebih banyak mengumpulkan poin. Jika matanya tak bisa menentukan, maka ia membiarkan hatinya yang memilih. Aizawa menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Matanya tertutup untuk merasakan kemana arah hatinya memilih. Dihiraukan semua suara di sekitarnya. seolah senyap dan seorang diri.
__ADS_1
Kurio adalah cinta pertamanya. Pria pertama yang menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Seseorang yang selama delapan tahun ia cintai. Hatinya berdebar saat bertemu kembali dengan Kurio di rumah sakit. Tapi disaat yang sama hatinya hancur ketika mengetahui tentang hubungannya dengan Megumi. Kebahagiaannya bersemi ketika Kurio memperbarui kenangan mereka dengan mengganti cincin yang lebih mengikat hubungan mereka. Tapi, semua kebahagiaan itu tak bertahan lama, ia harus menelan pahitnya kenyataan pertunangan Kurio dengan Kanata. Bagaikan dijatuhkan berulang kali. Rasa sakit itu membekas dalam hatinya meski tak pernah terlihat.
Yamato…sahabat pertama sejak ia sampai di Tokyo. Dalam kondisi apapun, Yamato selalu ada untuk Aizawa. Ia sempat merasa bersalah ketika Megumi meninggal dan ia justru merebut Kurio begitu saja. Yamato selalu berusaha melindungi dan membimbingnya. Bahkan ketika ia jatuh karena Kurio, Yamato satu-satunya yang ada disampingnya. Selalu dan selalu. Aizawa membuka matanya. Bukankah cinta itu sederhana? Bukankah cinta itu membahagiakan meski terasa sakit? Bukankah sudah sangat jelas apa yang menjadi jawabannya?
__ADS_1