
Yamato tergesa-gesa menerobos kerumunan beberapa orang di rumah sakit. Tak peduli jika saat ini ia bahkan masih mengenakan seragam basket lengkap beserta sepatunya. Seluruh mata pengunjung di rumah sakit menatap Yamato yang berlari sekuat tenaga. "Semoga belum terlambat" gumamnya dalam hati terus dan terus.
Jauh dalam lubuk hati Yamato, ia sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Beberapa kali ia memikirkannya, mungkin inilah yang terbaik untuk Megumi. Meakipun hati kecilnya selalu berdoa untuk kesembuhan Megumi. Ruang gawat darurat di lantai 18. Dalam rumah sakit itu terdapat empat lantai khusus untuk pasien yang membutuhkan perawatan lebih. Bisa dibilang lantai yang terisolasi. Tiga tahun sudah Megumi menempati lantai terisolasi tersebut.
Waktu demi waktu yang dimilikinya habis karena penyakitnya. Segala pengobatan berusaha dilakukan Yamato. Namun, seolah penyakit itu tak kenal ampun menggerogoti tubuh Megumi yang semakin hari semakin kurus. Yamato tak berhenti menatap lampu ruang gawat darurat tempat Megumi sedang dilakukan tindakan. Seperti sudah rela dengan segala keputusan yang nantinya terjadi.
Yamato mondar-mandir di depan ruang gawat darurat. Suara gesekan yang ditimbulkan dari sepatunya sama sekali tak mengganggunya. Perasaan gelisah bercampur takut telah membungkus seluruh hatinya. Meski sudah siap dengan keadaan semacam ini, tetap saja kini ia gelisah dan khawatir.
Ponsel dalam sakunya sejak tadi berdering. Yamato hanya meliriknya sesaat kemudian memasukkan kembali ke dalam sakunya. Bahkan telepon dari Aizawa pun tak membuatnya tenang. Pasti Aizawa juga mengkhawatirkan kondisinya. Tapi mungkin, Yamato tak ingin bertemu siapapun dulu. Hanya Megumi satu-satunya yang ingin Yamato temui saat ini.
Pintu ruang gawat darurat yang sejak tadi tertutup rapat, kini terbuka. Seorang dokter muda mengenakan seragam operasi lengkap dengan stetoskop tergantung di lehernya. Rasa cemas mulai menghantui Yamato. Ia bergegas menghampiri dokter itu. Harapannya seketika menciut saat melihat ekspresi sedih di raut wajah sang dokter.
"Adikku.....bagaimana dengan Megumi?" Tanya Yamato terbata-bata dan mencoba membaca raut wajah dokter. Ketakutan mulai menggerogoti Yamato.
"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tim kami sudah berusaha melakukan segala cara untuk menyelamatkan Megumi. Tapi, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Virus dalam tubuh Megumi jauh lebih kuat dan menyerap semua kekebalan di tubuh Megumi. Kami mohon maaf tak bisa menyelamatkannya."
Lutut Yamato serasa lemas seketika. Tak lagi mampu menopang berat tubuh. Air mata yang sejak tadi tak mengalir setetespun, kini deras membasahi wajahnya yang lembut. Adik satu-satunya yang ia miliki, satu-satunya keluarga yang tersisa, turut meninggalkannya. Semua yang sudah ia lakukan untuk kesembuhan adiknya seolah sia-sia. Bagaimana mungkin ia sanggup menjalani hari-hari selanjutnya? Isak tangis tanpa suara, bibir yang bergetar, tangan yang mati rasa seolah tak lagi dirasakan Yamato.
Langkah Aizawa terhenti saat melihat Yamato duduk tersungkur dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Tanpa bertanya pun, ia seolah mengerti situasinya. Aizawa menatap kamera yang sejak tadi ia genggam selama perjalanan ke rumah sakit. Padahal ia merekamnya untuk membuat Megumi tersenyum bahagia. Tapi kenapa? Kurio berlari menghampiri Yamato dan membantunya berdiri. Selama beberapa bulan ini, Aizawa hanya melihat sosok Yamato yang selalu tersenyum dan bersemangat. Kali ini ia mematung melihat kondisi Yamato yang hancur berantakan. Seandainya salah langkah sedikit saja, bisa hancur berkeping-keping.
Aizawa melihat ke ruang gawat darurat dimana Megumi masih terbaring tak berdaya disana. Air matanya mengalir saat mengetahui tubuh Megumi sudah tertutup rapat sebuah kain putih yang menjulur ke seluruh tubuhnya.
"Megumi bahkan belum sempat berkata apapun padaku." Yamato akhirnya bicara. Bibir Yamato bergetar saat mengatakan kata-kata itu. Seolah teramat berat untuk mengutarakannya.
__ADS_1
Aizawa tak menanggapi apapun. Air matanya terus mengalir dan tangannya terus menggenggam kamera miliknya. Aizawa menatap Kurio yang membantu Yamato untuk berdiri. Air mata juga terlihat di wajah Kurio. Entah bagaimana hal itu semakin membuat hati Aizawa teriris. Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakan tentang Kurio.
"Aku akan membawa Yamato ke kamar Megumi. Bagaimana denganmu?" Ucap Kurio sambil membopong Yamato yang tak sanggup berjalan.
Aizawa mengalihkan pandangannya dari Kurio. Ia menatap tubuh Megumi yang masih terbaring. Butuh beberapa detik untuk menata hatinya. "Aku akan disini dulu. Nanti aku menyusul." Kurio tak bertanya lebih lanjut dan segera meninggalkan Aizawa sendirian. Sebuah ruang gawat darurat yang sudah tertata rapi, namun masih terlihat sangat jelas bahwa beberapa menit yang lalu mesin-mesin itu baru saja beroperasi. Aroma rumah sakit jelas terasa sangat menyengat di ruangan itu. Tubuh Megumi belum dipindahkan. Perlahan, dengan gemetar tangan Aizawa mencoba meraih kain yang menutup seluruh wajah gadis yang beberapa hari yang lalu masih terlihat ceria.
"Aku bawakan video permainan basket Yamato dan Kurio. Apa kau tidak ingin melihatnya? Ini sesuai permintaanmu padaku. Aku akhirnya bisa merekamnya untukmu. Hei, Megumi ? Jawab aku !!" Suara Aizawa mulai bergetar. Tangannya menggapai kain penutup wajah Megumi. Perlahan namun tanpa ragu ia menarik kain itu. Wajah putih pucat yang terpejam. Terlihat sangat tenang dan damai. Seolah tak sedikitpun penyesalan hadir dalam sepanjang hidupnya. Aizawa mempererat genggamannya. Bagaimana mungkin tak ada sedikitpun kesedihan diraut wajah Megumi? Sedangkan kakak dan tunangannya mungkin sedang menangis habis-habisan di kamarnya. Kenapa ia nampak tersenyum di peristirahatan terakhirnya? Apa semua permohonannya sudah terkabulkan? Apa mungkin Megumi sudah puas dengan hidupnya selama ini? Mungkin benar. Ia sudah berusaha kuat melawan virus ganas itu. Jika akhirnya kalah juga, itu bukan salahnya. Tuhan sangat menyayangi Megumi. Tuhan tidak ingin melihat Megumi berjuang keras melawan virus ganas itu. Pasti begitu, kan?
Menyadari sudah seharusnya ia kembali menyusul Kurio dan Yamato, Aizawa kembali menutup wajah Megumi dengan kain putih yang terjulur ke seluruh tubuhnya. Aizawa menyeka air mata di pipinya yang mulai mengering. Sedikit menata hati yang cukup berantakan. Ia mengambil nafas dalam dan kemudian ia hembuskan perlahan. Matanya terpejam sambil menghirup aroma ruang gawat darurat itu. Seolah masih ada Megumi di sekitarnya. Mungkin saja roh Megumi masih berada di sekitarnya.
Aizawa masih mengenggam kamera miliknya. Ada beberapa penyesalan muncul di hatinya. Bagaimana mungkin ia sempat membenci seseorang sebaik Megumi? Langkah kakinya terhenti di depan kamar yang sudah tiga tahun ditempati Megumi. Ia terkejut saat mendengar suara barang pecah. Bukan hanya itu saja, suara teriakan bersamaan suara tangisan ikut terdengar sampai keluar kamar. Seluruh bulu kuduknya merinding mendengar tangisan itu. Aizawa kembali meneteskan air matanya. Itu jelas sekali suara tangisan Yamato. Tangan Aizawa berusaha menggapai gagang pintu kamar yang daritadi tertutup rapat. Mungkin mengintip sedikit tidak buruk juga.
"Jangan...!!!"
Kurio mencegah Aizawa membuka pintu kamar dimana Yamato sedang menangis disana. Entah Kurio datang darimana. Aizawa terkejut dan mengurungkan niat untuk masuk ke kamar itu. "Biarkan Yamato sendiri. Ia butuh waktu."
"Tak ada siapapun lagi disini."
Tiba-tiba suara Kurio memecah keheningan diantara keduanya. Aizawa masih menerka apa yang dimaksud Kurio.
"Yamato tak punya siapapun lagi di Jepang. Kini ia hanya sebatang kara. Keluarga besarnya berada di Inggris." Lanjut Kurio menjelaskan kata-kata yang terpotong tadi.
Keadaan Aizawa pun tak jauh berbeda dengan Yamato. Ia hanya seorang diri di Tokyo. Hanya saja ia masih memiliki keluarga di Hiroshima.
__ADS_1
"Sejujurnya aku merasa bersalah telah berpura-pura mencintai Megumi. Karena sesungguhnya sejak dulu aku hanya memikirkanmu seorang." Ucap Kurio yang kini menatap Aizawa dengan tajam. Matanya seolah memancarkan keseriusan terhadap apa yang diucapkan. Tak ada keraguan setitik pun.
Mata Aizawa berputar jauh. Seakan tidak percaya jika Kurio akan mengatakan hal itu saat ini. Ini bukan saat yang tepat. Bukankah ia baru saja kehilangan tunangannya satu jam yang lalu? Tapi kenapa? Aizawa hanya menunduk. "Ini bukan waktu yang tepat bagimu mengatakan hal semacam itu. Tubuh Megumi bahkan belum dimakamkan !!" Ucap Aizawa setengah berteriak. "Bukankah kalian sudah mengikat janji pertunangan? Apakah secepat itu kau melupakannya begitu saja?!!"
"Aku melakukan itu karena kasihan pada Megumi !!! Aku mengorbankan perasaanku padamu demi membuat Megumi bahagia dan sembuh. Tapi.......jika tetap berakhir seperti ini, aku menyesal sudah mengorbankan perasaanku padamu !!!"
Aizawa mengepalkan kedua telapak tangannya dan menampar Kurio.
PLAAAKKKKKK
"Jika........jika saja Megumi sembuh, apa kau tetap akan mengatakan hal mengerikan seperti itu? Aku yakin kau tetap akan menikah dengannya dan pada akhirnya kau tetap saja membuangku, bukan??"
Kurio hanya diam membisu. Mungkin merasakan perih yang amat di pipi dan hatinya. Air mata Aizawa tak lagi bisa dibendung. Sakit dihatinya sudah tak mampu ia tahan lagi. Ia sudah berusaha menerima kenyataan Kurio mencintai wanita lain dan mulai berusaha membuang perasaannya pada Kurio. Tapi, jika hal ini terjadi, sungguh membuat hatinya tersayat dua kali lipat lebih sakit. Menyakiti hatinya dan hati Megumi secara bersamaan. Apakah ini benar Kurio yang selama 8 tahun ia cintai?
Aizawa menyambar tas ranselnya dan mulai meninggalkan Kurio yang masih tertunduk disana. Mata Aizawa terbelalak saat melihat Yamato berdiri tidak jauh dari tempat Kurio dan Aizawa berdebat. Sejak kapan ia berdiri disana? Mungkinkah Yamato mendengar semua percakapan tadi?
"Malam ini aku akan membawa Megumi terbang ke Inggris. Keluarga besarku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali." Ucap Yamato tanpa menyapa ataupun berbasa-basi. Atau mungkin bukan saatnya untuk basa-basi.
Yamato berjalan perlahan melewati Aizawa tanpa melirik sedikitpun. Ia berjalan menuju Kurio yang masih terduduk terkejut. Mungkinkah ia hendak menghajar Kurio?? Aizawa langsung berbalik berniat menghentikan Yamato. Namun, Yamato langsung membungkuk di hadapan Kurio.
"Terima kasih untuk semua pengorbananmu pada Megumi. Maafkan jika aku dan Megumi selalu merepotkanmu selama ini. Mulai saat ini, kau tak perlu lagi memikirkan perasaan Megumi. Kau bebas bersama wanita yang selama ini kau cintai. Aku dan Megumi takkan menghalangi lagi."
Aizawa hanya melongo mendengar kata-kata itu dari mulut Yamato. Keterlaluan. Kali ini Kurio sudah keterlaluan.
__ADS_1
"Aizawa, maafkan Megumi yang sudah menghancurkan hubungan kalian berdua. Maafkan aku yang tidak tahu apapun tentang Kurio yang selama ini kau cintai. Mulai sekarang kau bebas bersama dengan Kurio tanpa ada pengganggu satupun."
Yamato segera meninggalkan Kurio dan Aizawa yang diam membisu. Tak ada satupun kata-kata yang mampu keluar untuk menyangkal ucapan Yamato. Jauh dalam lubuk hati Aizawa, ia masih tak bisa melupakan begitu saja perasaannya pada Kurio. Demikian pula dengan Kurio yang seakan mati kutu dengan ucapan Yamato.