
Pagi yang menyengat di tengah musim panas yang membara. Waktu menunjukan tepat pukul 11 menurut waktu jam tangan Aizawa. Ia bahkan sudah berada di sekitar fakultas orang lain. Jika Yamato berada di fakultas Sastra, itu artinya Kurio juga berada di fakultas yang sama. Dia bisa menemui Kurio sekalian. Ide yang bagus, kan? Meski sudah dicampakkan, bukan berarti harus menyerah, kan?
Ia sudah jauh-jauh datang kemari. Jika Kurio tidak ingin menepati janjinya, bukan berarti tak boleh berteman dengannya, kan? Semalaman Aizawa memikirkan tentang hal ini. Mungkin memang benar jika pasti Kurio punya alasan melupakannya. Jadi, satu-satunya cara agar bisa dekat lagi adalah dengan menjadi temannya.
Tak perlu menunggu lama, Aizawa melihat Kurio dan Yamato berjalan bersama. Ia pun segera menghampiri mereka. "Hai, Yamato." Sapa Aizawa sambil berlari ke arah Yamato dan Kurio.
"Aizawa? Kenapa ada disini?" Tanya Yamato terkejut melihat kedatangan Aizawa. Lebih penting lagi, ia terlihat sumringah sekali hari ini.
"Kalian mau kemana? Apa ke rumah sakit? Boleh aku ikut? Kemarin aku belum sempat menjenguk Megumi." Ucap Aizawa terlihat bersemangat. "Boleh, kan?"
Yamato tak ingin menanyakan alasannya lebih jauh. Mungkin hal ini juga karena dia mendukung dan memberi semangat pada Aizawa untuk terus berjuang demi Kurio. Jika mengingat hal itu, sungguh bodoh sekali. Mendukung percintaan orang yang dicintai dengan sahabatnya. Kali ini, Yamato baru menyadari kesalahannya. Sedangkan Kurio tetap bersikap cuek dan bahkan tidak melirik Aizawa sedikitpun
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya pergi ke rumah sakit bersama. Aizawa terus dan terus berusaha mengajak bicara Kurio. Meskipun selalu dicampakkan.
"Hei, Kurio. Kudengar kau anggota inti tim nasional basket, ya? Sejak kapan kau suka basket?" Tanya Aizawa begitu semangat melakukannya. Meski duduk di bangku belakang, tak menyurutkan semangatnya untuk bicara dengan Kurio. Misi menemukan Kurio sudah berakhir dan berubah menjadi misi merebut kembali hati Kurio.
"Bukan urusanmu." Jawab Kurio super cuek bahkan tanpa sedikitpun melirik Aizawa sekalipun. Aizawa memperlihatkan sedikit ekspresi kecewa.
Tak tega melihat hal itu, Yamato pun bertindak. "Kurio sudah bermain basket sejak masuk SMP. Dia itu sangat jago, hlo. Kau harus melihatnya melakukan dunk sambil berjalan di udara. Dia sangat ahli melakukan itu."
"Sungguh?" Aizawa terlihat sangat tertarik dengan cerita Yamato. "Kau beneran bisa melakukan hal semacam itu? Aku juga ingin melihatnya."
Tak butuh waktu terlalu lama untuk sampai di rumah sakit. Semenjak Megumi memasuki stadium akhir, Yamato berusaha lebih intens dalam mengawasi adik satu-satunya itu. Meskipun ia masih harus membagi waktu antara kuliah, mengurus bisnis keluarganya, basket dan asmara (fiuhh). Satu hal yang membuat Yamato sedikit merasa bersalah adalah sikap Megumi yang selalu memaksakan untuk ceria di depan semua orang termasuk dirinya. Sejak pertama kali divonis HIV/AIDS, Megumi sekalipun tidak pernah menanyakan kondisinya pada Yamato. Meskipun sebenarnya Megumi tahu bahwa usianya semakin berkurang.
__ADS_1
"Hai, Megumi !!" Sapa Yamato berusaha terlihat semangat di depan Megumi. Ia segera masuk kamar dimana Megumi dirawat dan diikuti oleh Kurio dan Aizawa.
Megumi yang sedang membaca novel dari Aizawa kemarin seketika terkejut melihat banyak orang berdatangan ke kamarnya. "Yamato-nii , Kurio, dan Ai-nee chan?? Kalian sama-sama kesini? Aku seneng bangett !!!"
Aizawa langsung mendekat ke ranjang tidur Megumi. Beberapa hari kemarin ia tidak sempat menjenguknya karena fokus mencari Kurio. Siapa yang menduga jika Kurio yang dicari itu sebenarnya sangat dekat dengannya. Yamato langsung mengganti beberapa perlengkapan makan milik Megumi. Hal itu ia lakukan setiap hari walaupun terkadang terlambat melakukannya. Sedangkan Kurio segera duduk di sofa yang ada dalam kamar tersebut. Merasa tak ada celah saat melihat Aizawa dan Megumi mengobrol. Kurio hanya menguap beberapa kali sampai akhirnya Megumi menyadarinya.
"O iya, aku belum memperkenalkan. Mungkin kau sudah mengenalnya melalui Yamato-nii. Dia Kurio, pacarku sekaligus tunangan." Ucap Megumi memperkenalkan Kurio yang sedang duduk di sofa.
Yamato yang mendengar hal itu seketika menoleh ke arah Aizawa. Sedangkan Kurio sejak tadi sudah menatap Megumi dan Aizawa. Seolah dalam hatinya berfikir, siapa yang lebih baik?
"Tu...tunangan?" Ucap Aizawa terbata-bata. Wajahnya sangat terkejut mendengar fakta yang sama sekali belum pernah ia dengar sebelumnya. Ia menatap ke arah Kurio kemudian ke arah Megumi secara bergantian.
__ADS_1
"Iya. Tiga tahun yang lalu, aku menyatakan perasaan padanya. Lalu, dua tahun yang lalu kami bertunangan. Tapi, karena kondisiku yang seperti ini, aku tidak tega melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih tinggi. Jika aku bisa sembuh nanti, aku ingin menikah dengan Kurio." Megumi mengatakan semua hal itu dengan ekspresi bahagia yang tak bisa satupun orang merusaknya, termasuk Aizawa.
Yamato hanya menunduk sambil berpura-pura membenahi bunga di kamar Megumi. Seolah menyadari satu kesalahan besar yang sudah ia lakukan tiga tahun yang lalu. Sedangkan Kurio sejak tadi mengamati ekspresi depresi yang diperlihatkan Aizawa. Berharap setelah mendengar hal itu, Aizawa tak lagi mengejar pria brengsek sepertinya. Kemudian Aizawa membisu. Membuang segala yang ingin ia ucapkan. Seolah telah mendengar jawaban meskipun pertanyaan itu belum terucap. Hari itu, mereka menyembunyikan perasaan masing-masing.