My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 20


__ADS_3

Pernak-pernik itu menyita perhatian Kurio. Bermacam-macam bentuk mulai dari kalung, cincin, gelang juga anting. Perjalanan mereka menuju taman yang terletak di samping Sekolah Dasar tempat Aizawa pernah belajar disana, harus terhenti sejenak pada penjual pernak-pernik. Aizawa bertanya-tanya apa yang membuat Kurio tertarik melihat pernak-pernik yang seharusnya menarik perhatian wanita. Tapi keadaan ini sungguh terbalik.


Aizawa mulai memanggil Kurio untuk bergegas. Karena tak bisa tidur, mereka berdua akhirnya kesiangan menuju taman tersebut. Entah Aizawa sendiri tak tahu apa yang akan dilakukan Kurio disana. Aizawa mulai bete karena Kurio berhenti cukup lama di tempat penjual pernak-pernik. Matanya seolah sedang bingung memilih sesuatu. Bukankah seharusnya yang bingung memilih pernak-pernik itu adalah wanita? Tapi kenapa? Ia ingin memberikan sesuatu pada Aizawa. Tapi ia bingung harus memilih yang mana. Tiba-tiba saja sebuah cincin dengan diamond kecil di tengahnya menarik perhatian Kurio. Ia segera mengambil pernak-pernik itu dan membayarnya.


Kurio berlarian kecil menyusul Aizawa yang mulai bete menunggunya.


"Ngapain aja sih?"

__ADS_1


Kurio hanya cengar-cengir melihat Aizawa memarahinya. Keadaan ini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dimana Aizawa berpura-pura tidak pernah mengenalnya. Meski itu semua atas keinginan Kurio, ternyata rasanya lebih sakit dari apapun. Keduanya berjalan di tengah teriknya panas matahari. Tentu saja, musim panas belum selesai. Aizawa sudah menunjukan wajah kelelahan dan kepanasan, namun Kurio masih adem ayem. Entah apa yang daritadi ia pikirkan. Hal itu jelas membuat suasana hati Kurio terlihat menyenangkan.


Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, keduanya akhirnya sampai di taman tempat mereka pertama kali bertemu. Meski sudah 8 tahun, taman itu tak mengalami perubahan yang signifikan. Beberapa titik terlihat tetap sama. Walaupun musim panas, tak mengganggu anak-anak untuk bermain di taman itu. Sebuah bangku panjang dan kosong terletak tepat di bawah pohon sakura yang masih menyisakan beberapa kelopak yang bermekaran. Aizawa segera meletakan punggungnya pada kursi panjang itu. Sedangkan Kurio ikut bermain dengan anak-anak di taman. Melihat hal kecil itu membuat Aizawa berfikir tentang pertama kali mereka bertemu di taman ini.


Saat itu Kurio sendirian di taman ini dan hanya melihat anak-anak lain sedang bermain. Aizawa langsung mengajak Kurio bermain tanpa bertanya-tanya dulu. Mungkin karena merasa nyaman dengannya, Kurio tetap mengikuti Aizawa bahkan setelah permainan di taman berakhir. Aizawa yang tidak tega dan tidak tahu harus berbuat apa terpaksa membawanya pulang ke rumah. Tentu saja saat itu Ibu sangat panik. Takut disangka menculik anak kecil. Kurio tetap tidak ingin pulang dan kemudian menginap di rumah Aizawa. Ibu cukup kerepotan mengurusi Aizawa dan Kurio saat itu. Bagaikan memiliki dua orang anak.


Kedua anak perempuan itu memberikan beberapa bunga sakura yang masih terlihat segar. Dalam hatinya penuh pertanyaan "bagaimana bunga itu diambil?"

__ADS_1


Aizawa segera mengambil bunga Sakura. Salah seorang anak perempuan menunjuk ke arah dimana Kurio berdiri. Terlihat jelas bahwa Kurio melambaikan tangan ke arah Aizawa. Ia tampak berdiri di bawah pohon Sakura yang masih terdapat beberapa sakura yang mekar. Aizawa tersenyum seolah terjawab sudah pertanyaanya tadi. Kurio segera berjalan menuju Aizawa. Ia berjalan dengan diiringi dua anak laki-laki di kedua sisinya. Entah mengapa hal itu membuat Aizawa tersenyum dengan sendirinya tanpa sadar. Ketika sampai di bangku tempat Aizawa duduk, Kurio segera berlutut dan sembari menunjukan sebuah cincin yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tangannya. Cincin dengan sebuah diamond kecil di tengahnya. Meski hanya imitasi dan tidak ada harganya sama sekali, bagi Aizawa sudah membuatnya merona.


"Mungkin ini hanya cincin imitasi. Tapi, melihatmu selalu mengenakan cincin mainan pemberianku dulu, rasanya tidak adil jika tak ada suatu kemajuan sedikitpun." Ucap Kurio sambil meraih tangan Aizawa dan melepas cincin mainan yang sudah melekat di jari manisnya selama 8 tahun. Aizawa hanya diam dan menatap Kurio.


"Aku yang mengenakan cincin ini. Maka hanya aku yang berhak untuk melepaskannya." Ucap Kurio masih berlutut di depan Aizawa. Kali ini ia menatap tajam mata Aizawa. "Apa kau menghendaki aku menyematkan cincin pengganti ini di jari manismu? Cincin ini sebagai bukti bahwa hubungan kita sudah meningkat. Aku berharap akan selalu bersama selamanya."


Aizawa sangat tahu jika mungkin Kurio bukanlah orang yang romantis, itu sebabnya ia merasa tersipu ketika Kurio mengatakan hal yang hampir tak mungkin dilakukan. Anak-anak kecil yang daritadi masih berada di sekitar mereka terlihat sangat menunggu jawaban. Mata mereka berbinar seolah menunjukan antusiasme mereka.

__ADS_1


Tak ada keraguan di hati Aizawa. Sejak awal hanya Kurio satu-satunya yang selalu ia pikirkan. Aizawa mengangguk tanda menyetujui permintaan Kurio. Anak-anak langsung bersorak bahagia. Kurio segera menyematkan cincin itu di jari manis Aizawa. Wajah keduanya langsung memerah setelah cincin itu berhasil disematkan. Musim panas yang penuh kenangan dimulai kembali dengan penuh cinta.


__ADS_2