My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 7


__ADS_3

"Jadi, aku sudah mencari ke beberapa Universitas di Tokyo, jika perhitunganku benar dan Kurio tidak mengikuti kelas akselerasi, seharusnya ia juga mahasiswa baru. Itu karena kita seumuran." Jelas Aizawa sambil menyeruput minuman yang ia pesan.


"Apa kau sudah mencari ke semua Universitas dalam daftar ini?" Ucap Yamato sambil melihat kertas berisi daftar Universitas di Tokyo yang disodorkan Aizawa. Ia tercengang ketika melihat keseriusan Aizawa mencari sosok "Kurio" itu.


"Hanya tinggal tiga Universitas yang belum kucari. Tokai, Seijo dan Kyorin." Ucap Aizawa sedikit menunduk. "Jika, diantara ketiga Universitas itu aku tak menemukan Kurio, maka aku menyerah."


Hati Yamato seolah teriris mendengar perkataan Aizawa. Melihatnya berjuang sekeras ini hanya untuk seseorang yang bernama "Kurio" itu. Ingin rasanya segera bisa menemukan si Kurio ini. Tapi di sisi lain, Yamato tak ingin jika Aizawa menemukan cintanya. Entah sejak kapan, dirinya menjadi egois seperti ini.


"Dengan cara apa kau mencari? Apa kau mendatangi Universitas itu?"


"Aku memulai dengan membuka website Universitas. Disana pasti di-upload daftar nama mahasiswa yang diterima. Aku memang hanya fokus pada mahasiswa baru. Karena kupikir, kami seumuran, karena seharusnya juga sama-sama mahasiswa baru." Ucap Aizawa sedikit berfikir. Mungkin saja Kurio mengikuti program akselerasi. Jika memang benar seperti itu, berarti ia harus mencari dengan ekstra keras lagi dan lagi. "Setelah aku menemukan nama Kurio, aku langsung mendatangi Universitas itu dan mencari keberadaan Kurio. Meskipun sudah menemukan beberapa, tapi ternyata bukan Kurio yang kucari."

__ADS_1


Yamato mengepalkan telapak tangannya. Seberapa berartinya manusia itu di dalam hidup Aizawa sampai membuatnya harus berjuang sejauh ini. Tapi, ketika Aizawa berhasil menemukan Kurio, apa yang akan terjadi? Bagaimana dengannya? Bisakah ia bersikap egois? "Baiklah. Kita akan mulai dengan Universitas Tokai. Kalau tidak salah aku punya teman satu tim basket yang kuliah disana. Akan coba kumintai tolong padanya."


Bagai mendapat secercah sinar harapan, seperti ditolong seorang malaikat yang turun dari langit, Aizawa tersenyum bahagia. Tak menyangka jika semudah ini jika dibantu oleh Yamato. Ia pun meraih telapak tangan Yamato dan mengeluarkan jurus puppy eyes miliknya. "Terima kasih, Yamato. Kau mau membantuku menemukan Kurio. Terima kasih."


Yamato hanya tersenyum. Kemudian ia menunduk. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau tetap mau berteman dengan Megumi padahal aku sudah menyakiti perasaanmu. Sungguh, aku tak tahu bagaimana membalas budi padamu."


Aizawa hanya tersenyum. Mungkin alasan kenapa ia masih berteman dengan Megumi tak mungkin ia katakan. Karena mungkin akan lebih baik jika tak ada orang lain selain ia dan Megumi yang tahu.


Entah bagaimana ada rasa bersalah yang cukup dalam dirasakan Yamato. Berulang kali ia katakan pada dirinya sendiri. Pasti bukan Kurio sahabatnya. "Bagaimana kalau kita lanjutkan pencarian lagi? Selanjutnya, bagaimana jika Kyorin?" Usul Yamato sambil membuka website Universitas Kyorin.


Aizawa hanya diam. Di satu sisi, ia sangat bahagia dengan bantuan Yamato. Hal itu sangat meringankan misinya mencari Kurio. Namun, bukankah Yamato harus fokus pada kesembuhan Megumi? Apa tidak masalah jika mengalihkan perhatian dari Megumi?

__ADS_1


"Bagaimana jika hari ini sampai disini saja? Bukankah seharusnya kau menjenguk Megumi? Apa tidak masalah kau tetap disini?"


Yamato menjauhkan tangannya dari keyboard. Ia menatap Aizawa sejenak. Mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan Aizawa saat ini. "Megumi baru saja istirahat. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya.”


"Oh... Semoga Megumi segera diberi kesembuhan."


"Kau sangat peduli pada Megumi. Terima kasih." Ucap Yamato membalas doa Aizawa. "Oh ya, aku mau tanya tentang Kurio, maukah kamu menceritakan padaku?" Dengan harapan ingin tahu sosok seperti apa Kurio yang dicintai Aizawa, mungkin suatu saat nanti ia bisa merebut Aizawa dari si Kurio ini.


Aizawa menunduk sambil memeluk cincin mainan di jari manis tangan kirinya. "Tak banyak kenangan yang kumiliki tentang Kurio. Kami hanya saling mengenal selama satu bulan. Meski itu pertemuan yang singkat, tapi aku sama sekali tidak bisa berhenti memikirkannya." Ucap Aizawa menunjukan cincin mainan yang terpasang cantik di jarinya. "Meski hanya mainan, cincin ini adalah bukti janji yang diucapkan Kurio. Dia akan menjemput dan menikahiku suatu hari nanti."


Rasa ngilu itu terasa lagi di dada Yamato. Mungkin kali ini ia salah makan sesuatu. Yamato menatap Aizawa dengan tajam. Apa yang bisa dilakukan untuk membantu Aizawa menemukan Kurio yang dimaksud? Namun, dalam hatinya ia berdoa. Sebuah doa yang seharusnya tak pernah ia panjatkan. "Tuhan, semoga cinta Aizawa pada Kurio tak pernah terbalaskan." Yamato telah memanjatkan sebuah doa kejam untuk Aizawa. Meskipun kejam, ia merasa harus bersikap egois kali ini.

__ADS_1


__ADS_2