
Melihat sesuatu memenuhi lokernya hingga saat ia membuka loker itu, benda tersebut langsung jatuh keluar, Lea merasa tengah di teror.
Lea bahkan tak merasa dirinya tengah memesan bunga, tapi kenapa ada buket begitu besar memenuhi lokernya?
Sambil mengambil buket itu, Lea memikirkan siapa yang punya ide aneh memberinya bunga. mendapat sedikit ide, Lea menghubungi seseorang,
" Hallo Lea?"
" Kamu ngirimin aku bunga?"
" lah? gue aja lagi di kampus, gimana ceritanya ngirimin Lo bunga? dapet bunga apaan?"
" mawar putih... aku gak ngerti ini, gak ada namanya di buket." Ucap Lea sambil membalik-balik buketnya. Ia dapat mendengar tawa keras Rafa,
" mau mati kali Lo! HAHAHAHA!!" Lea berdecak mendengar candaan Rafa. pasalnya, Lea tak pernah punya ketertarikan dalam hubungan asmara sejak ia berkuliah. Ia juga tak merasa ada yang tertarik dengannya, karena itu ia merasa aneh jika ada bunga di lokernya. apa mungkin salah loker ?
" oh, itu bunganya tadi dianterin sama cowok pake kacamata item, kulitnya putih, terus bibirnya tipis... ganteng kok. Lo ada hubungan apa ama tuh orang?" ucapan Tazqia membuat Ke semakin bingung dibanding mendapat pencerahan.
Lea menghubungi nomor di kertas yang ia temui didalam bunga tersebut, tapi melalui WhatsApp. Ia tak berani menghubunginya melalui telepon.
" gimana?" tanya Tazqia. Lea mengangguk kepalanya menandakan semua masih aman. " dia bilang temuin di Cafe tempat gue kerja nanti malem. hari ini 'kan part time gue sore jadi masih bisa ketemu nanti pas udah selesai."
Tazqia mengendikkan bahu bahwa ia tak perduli sebenarnya akan informasi itu, ada yang lebih menarik untuk ia perhatikan berhubung Lea akan bertemu seorang pria asing,
" Lo udah ngabarin Abang lu, kalo lu mau ketemu cowok?" mendengarnya, Lea menatap aneh Tazqia,
" emang harus?"
****
Lea menatap tak percaya orang yang duduk dimeja itu. benar seperti deskripsi Tazqia, berkulit putih, berbibir tipis, dan tampan, apalagi sekarang ia tahu matanya sipit, jadi menambah ketampanannya.
" Maaf, Mas yang ngasih saya bunga ya?" tanya Lea ragu. Pria itu mendongak dan langsung melepas pen yang sejak tadi ia genggam. Ia berdiri dengan senyum cerianya dan mengulurkan tangan, " Orias, " mendengar suara itu, Lea merasa tak asing. ia membalas uluran tangan itu, dan mengangguk sopan,
" (a)eLeasha Gayatri...EHM... kita pernah ketemu ya mas?" Orias terlihat semakin antusias mendengarnya. Ia kira gadis ini akan sepenuhnya lupa terhadapnya. " Di Hysteria.." ucapnya malu-malu.
Lea seolah abai dengan ekspresi malu-malu kucing Orias dan berubah menjadi antusias, " Ohh!! mas yang histeria kemarinnn... yang saya pegangin tangannya ya?? gimana kabarnya Mas? muntah gak abis main itu?"
Orias tertawa kecil mendengar pertanyaan Lea. " duduk dulu, biar enak ngobrolnya." ajaknya. Lea mengangguk dan tersenyum manis.
siapa yang tahan melihat senyuman manisnya? tidak ada, termasuk Asa yang tak rela Orias melihatnya dadi dekat. Pria tinggi berhidung mancung itu meremas sedotannya hingga patah dan membuat Farhan mengambil yang baru lagi.
Asa menghela nafasnya kasar, Ia kira menjadi Kakak Lea adalah posisi paling aman untuk berada disamping gadis itu, rupanya, Asa masih kurang berpikir panjang.
Tazqia menahan tawa melihat ekspresi kesal Asa. " bang Asa gak suka adeknya punya pacar ya?"
Asa mendongak dan menatap tak percaya Tazqia. Apa gadi didepannya memang tidak tahu atau hanya memancing? " Saya itu tahu brengseknya cowok seperti apa. Daripada pacaran, saya lebih seneng kalau dia ketemu pria yang langsung ngajak dia nikah." Ucap Asa.
Tazqia tertawa mendengar alasan bodoh yang Asa ucapkan. Ia yakin Ada hanya berdalih dari dugaan yang ia tujukan secara tersirat.
__ADS_1
disamping itu, Lea tengah berbincang kecil dengan Orias yang menanyakan wahana apa saja yang Lea naiki bersama kakaknya. Topik ini berhasil menunjukkan ekspresi senang dan mata berbinar milik Lea kepada Orias. Semakin banyak ekspresi yang Orias lihat, ia semakin tertarik kepada Lea.
tangan gemetar yang menggenggamnya tempo hari itu berhasil mengalihkannya dan membuatnya terpesona. Bahkan saat ia berada diatas dan terguncang naik-turun oleh wahana, yang bisa ia lihat hanya Lea yang berteriak sambil tersenyum dengan rambut berantakan dan tertepa sinar senja waktu itu. Rasanya Orias masuk ke dalam dunia drama dan menjadi pemerannya waktu itu.
" Kakak kamu namanya siapa?"
" Kak Asa. Asa .. aja." ujar Lea sambil tersenyum kecil. Pertanyaan Orias seolah mencubit hati kecilnya untuk mengingat bahwa orang sesempurna Asa Aldebara, bukanlah Kakak kandungnya, bahkan mereka tak punya hubungan darah ataupun penghubung sama sekali. Dan Orias dengan cepat menyadari wajah murung Lea.
" Ehm... kamu mau tau satu hal tentang kakak kamu? saya kenal kakak kamu sebagai rekan bisnis, sih." Lea menatap terkejut Orias. Tapi ia tak terlihat menolak tawaran Orias. Hal itu membuat pria ini tersenyum senang.
" Kamu tahu gak? Keluarga Kakak kamu punya dua putra. Coba tebak kakak kamu yang sulung atau bungsu?" tanya Orias dengan wajah jenakanya. senyumnya semakin mengembang saat Lea menyebutkan jawaban yang salah,
" bungsu?"
" Dingdong, Salah! Asa adalah anak sulung, tapi itu cuma sampai 3 tahun yang lalu." Ujar Orias dengan senyum manisnya. Lea terdiam kaku dan memandang kosong Orias.
mulut gadis itu bergetar hanya untuk mengulang kalimat yang Orias ucapkan barusan. " Su-sulung? 3 tahun yang lalu? ma-maksudnya?"
walau melihat wajah pias Lea bukanlah tujuan pria itu mengatakan hal yang sejak tadi terasa tabu bagi dirinya sendiri, Orias merasa dirinya sudah diujung jalan. Gerbang Finish-nya didepan mata dan dia akan menjadi sangat bodoh kalau mundur sekarang.
" Yup! Karena 3 tahun yang lalu, Adiknya meninggal, didepan kakaknya dengan cara bunuh diri, Kam--"
" Lea."
panggilan dan suara itu berhasil mengalihkan Lea hingga menoleh, menatap langsung mata Asa yang terlihat sendu, Berbeda dengannya yang memiliki mata merah yang sudah basah dan siap untuk menangis.
Lea tak mengerti dengan situasi ini, detak jantungnya seolah tak ingin membiarkannya merasa tenang walau melihat wajah tenang Asa. Lea berdiri sambil mengusap matanya, dan menggenggam erat tangan Asa.
" Kak Orias, aku minta maaf.." Gadis itu tak tahu bahwa nafasnya sudah hampir habis hingga ia harus menghela nafasnya sekeras mungkin. Kali ini, daripada gugup, Rasa takut yang tidak jelas asal usulnya lebih menguasainya. " Aku udah dijemput kakak... aku.." ucap gadis itu dengan suaranya yang mengecil di akhir.
" Ah, gue lupa ngasih tau... adiknya itu namanya Albara Destianta. Iya 'kan Sa?" ucap Orias dengan senyum masih cerah diwajahnya. Asa menatap tajam rekan bisnisnya itu. Jika ia bisa, ia akan langsung memukul pria itu hingga mati.
Tapi Lea adalah prioritasnya saat ini. Ia tak bisa memukul Orias dan membuat dirinya seperti penjahat yang kedoknya ketahuan. Intinya, Lea dan pemikiran gadis itu saat ini adalah prioritas Asa.
Asa menggenggam tangan Lea dengan sangat erat. Rasanya, setelah semua ini, Lea akan pergi meninggalkannya tanpa pikir panjang. Asa takut akan hal itu.
" Lea, saya bisa jelasin semua n--"
" Kalau Kak Asa bisa, kenapa gak dari lama? kenapa gak dari Kak Asa sama aku ngomongin alasan kakak sebaik ini sama aku diawal?? Kakak bisa... tapi apa Kakak mau?"
Asa hanya bisa diam. Menatap Lea yang menangis akan sakit, sehingga ia tak berani melakukannya. "Aku mau pulang." Ucap gadis itu setelah meredakan tangisnya.
Asa mengangguk. Selama perjalanan, tak ada percakapan apapun, hanya isak tangis Lea yang tertahan, dan rematan tangan Asa pada stir yang tidak disadari siapapun termasuk dirinya sendiri.
Sampai dirumahnya Lea masuk ke kamarnya tanpa basa basi. ia mengunci pintu setelah membantingnya tepat didepan wajah Asa. " Lea..." panggil pria itu lembut.
Lea duduk diam dibalik pintunya. Meratapi kisah lucu yang ia alami sekarang. " Aku... dari awal udah curiga dan ngerasa aneh... Kak Bara... adik kakak? Kak Albara yang bunuh diri?" tanya Lea walau sulit mengatakannya secara langsung disaat ia menahan tangis yang menyesakkan.
mendengar nama itu, juga panggilan itu, Asa terduduk tepat di pintu Lea seperti gadis itu. " Kak Bara..." Asa terkekeh kecil, " jadi dia dipanggil begitu sama kamu?" Lea mengerutkan keningnya sambil menatap pintu yang menjadi pembatas antara dirinya dengan Asa.
" Dia bilang, Ada orang yang manggil dia Kakak... Al bilang, rasanya dia punya jalan baru untuk bahagia setelah lama sedih."
__ADS_1
Flashback on>>
Saat itu, adalah masa terburuk keluarganya. Asa hanya bisa diam dengan sikap dinginnya untuk menanggapi semua ucapan duka untuknya. Yang mampu membuatnya menoleh hanyalah adiknya Albara, yang sama dinginnya dengan Asa. keduanya menggunakan setelah yang begitu rapih, tapi wajah tampan mereka tidak bisa mempesona siapapun.
wajah terpukul dan merana mereka justru membuat siapapun yang melihatnya bersimpati. pasangan kakek-nenek yang mengurus dua pria itu terbunuh oleh perampok yang telah tertangkap sejak malam kejadian itu.
Albara si bungsu, dialah yang menyaksikan kematian kedua pasangan lansia itu. Saat tragedi itu terjadi, Asa memiliki jadwal kuliah malam. Adiknya adalah satu-satunya yang bertahan hidup sampai polisi datang berdasarkan laporan dari salah satu tetangganya.
sebatang kara, hanya memiliki saudaranya, Semua kata itu terngiang dikepala pria berusia 22 tahun itu. Sebatang kara? Asa sangat Ingin mengatakannya didepan pasangan menjijikan yang termakan dunia karir mereka hingga lupa kewajiban orangtuanya.
Mereka berdua kembali tinggal dengan orang tua mereka. Lebih tepatnya, Mereka kembali tinggal di rumah yang orangtuanya beli tapi jarang dihuni. Asa semakin sibuk dengan perkuliahannya karena berfokus untuk lulus cepat.
Sedangkan Albara terlalu sering tenggelam akan duka dan kesedihannya. Pemuda malang itu kesepian dan mengalami guncangan cukup lama. Asa selalu berusaha memperhatikan adiknya itu, menjaga kewarasan adiknya, juga menyadarkan Albara bahwa masih ada si sulung yang bersamanya. Mereka masih memiliki satu sama lain.
Sampai suatu hari Cahaya menyempatkan diri untuk memberikan sedikit harapan pada Albara. Siswa tahun akhir SMA itu bertemu dengan seorang gadis, Albara menceritakan kesehariannya bersama gadis yang manis itu kepada Asa.
Menceritakan seorang gadis Sulung yang sering merasa tertekan dengan posisinya di keluarga, keadilan yang terlalu berat sebelah, dan kebahagiaan kecil gadis itu karena memiliki Albara yang memberikannya gambaran seorang kakak.
" Dia bilang, Rasanya lega bisa berbagi sama aku Kak! Katanya, dia gak berani curhat sama siapapun karena takut ngebebanin dan bikin orang sungkan. Tapi kalo sama aku, dia ngerasa kalo aku bisa jagain dia!" itulah yang Albara ucapkan.
Asa mengerti apa yang adiknya rasakan. Merasa berharga saat dibutuhkan seseorang, mungkin Albara jarang menyadari bahwa Asa menggantungkan hidupnya pada sang adik.
Tapi Cahaya hanya bertahan sebentar. Albara mendapat tantangan dengan seorang pembunuh yang ia temui di malam buruk beberapa tahun yang lalu. Albara merasa terancam hingga memutuskan untuk mengakhiri semua mimpi buruk yang mengancamnya diam-diam.
Kalimat dan senyum terakhir pria manis itu, " Aku pengen banget ngenalin Lea ke Kak Asa. Dia bakal ngelihat sosok Kakak yang sebenarnya pasti, kayaknya bakal seru kalau nanti pas kuliah dia ngekost aja di rumah kita kak! iya gak sih? rumah kita 'kan terlalu besar buat berdua... dia bilang dia mau jadi perawat, jadi kalo kita sakit tinggal mampir ke kamarnya... Hehehehe.."
dan setelah mengatakannya di makan malam itu, Pagi yang cerah seolah tengah menguatkan Asa untuk menghadapi jasad adiknya yang penuh darah dan menggantung di jendela.
Adiknya menulis beberapa surat. salah satunya untuk kedua orang tua mereka, Asa, dan terakhir, Untuk Lea seseorang berharga yang dianggap Adik oleh Albara.
Panasnya hari itu gak bisa mengeringkan basahnya tanah makam Albara. Seolah mengatakan bahwa sekalipun hari sepanas itu, tubuh Albara dan tanah makamnya akan tetap dingin dan teduh.
Saat semua orang yang berduka berpamitan, Ada seorang gadis dengan seragam sekolah yang kotor dan tubuh yang penuh dengan luka termasuk bekas darah yang menempel disepanjang kening dan pipinya.
Gadis itu berjalan lemas dengan wajah pucat, menabrak rombongan pelayat tanpa sadar, dan berdiri tepat didepan nisan Albara dengan mata merah dan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Gadis itu menatap nisan itu tanpa berkedip,
" Apa dia... meninggal sambil tersenyum? Karena dia bilang, kalau dia mau bunuh diri, dia mau sambil senyum, biar keren katanya..." Gadis itu enggan menoleh, masih enggan mengakui kematian Albara yang mendadak pergi tanpa berpamitan padanya.
" Dia... pergi sambil tersenyum... bahkan dengan wajah pucatnya dia masih terlihat keren dan ganteng.." jawab Asa dengan suaranya yang bergetar. Yang sejak tadi ia tahan, dan ia usahakan untuk tetap tersimpan, kini menyeruak tak mau berhenti keluar.
Gadis dengan banyak luka tertawa bersama air matanya. Ia terus menahan senyum dan pandangannya walau air matanya menghalangi, lalu ia terduduk tepat disamping nisan Albara dengan mengangkat kedua tangannya yang menampilkan ibu jari dengan ukurannya yang tak seberapa itu. " Berarti aku nganterin kakak dengan tawa, iya ' kan kak?
kan aku udah bilang, kalo kakak bunuh diri, aku bakal ketawain sambil nangis... tapi... siapa yang bakal ngetawain makam aku nanti? Kak? Kak?? Kakak gak keren kalo aku cuma liat kuburan kakak!!"
Flashback off>>
Lagi, Lea dan Asa menangisi Albara bersama lagi. Mengenang pria yang mereka sayangi, menangisi kepergian pria itu tanpa menyempatkan mereka untuk saling berkata pamit. Lea mengingat jelas hari itu.
ia tengah menaiki sepedanya dengan kayuhan tercepatnya, mengejar ambulance yang berasal dari rumah Albara, hingga ia tertabrak mobil besar dan cedera. Walau ia di ajak ke rumah sakit, gadis itu tetap bersikukuh untuk melanjutkan perjalanannya sekalipun harus berjalan. Saat sampai di makam, Albara sudah terlelap nyaman diselimuti tanah yang basah.
Lea mengingat pria itu dengan sangat jelas. Lea tak memiliki banyak teman dekat pria terutama saat SMA, tapi Albara adalah temannya yang paling dekat. Pria yang selalu berkata bahwa dirinya tak berguna, nyatanya memiliki makna yang sangat berarti bagi seseorang.
__ADS_1
Lea merasakan sesuatu menyentuh jemarinya dilantai. Gadis itu melirik pintu, dan menemukan sebuah kertas. " itu... surat dari Al... udah lama kakak mau kasih kamu ini, tapi Kakak takut kamu sedih nginget Al lagi. Tapi...
Al pasti sangat ingin kamu baca itu, jadi saya minta kamu tetap baca sekalipun itu menyakitkan Lea... Gak cuma kamu yang bergantung sama Al... saya juga menggantungkan kebahagiaan saya kepadanya walau dia gak menyadari hal itu..."