My Sugar Brother

My Sugar Brother
17. Seorang PACAR


__ADS_3

Matanya bahkan tak berkedip memperhatikan seluk beluk wajah dihadapannya. Sejak Lea tahu siapa yang dibawa Orias, batinnya tak pernah berhenti berkata " kenapa harus secantik ini dan kenapa harus jadi pacarnya Kak Asa??" rutuk batinnya tak terima.



Rasanya semesta tengah mengejek dan menjadikannya badut. Lea tak pernah membayangkan menjadi badut Semesta rasanya senestapa ini. Kenapa Asa punya selera ketinggian begini? Lea merasa sudah tak punya tangga untuk meraihnya.


HEe??


Tangan Lea tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri, seolah memperingatkan mulutnya ataupun batin rewelnya ini untuk menjaga kata-katanya walau hanya ia yang tahu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, tanpa memperdulikan dua orang yang tengah memperhatikannya.


Agraham dan Anna sudah pulang karena Pria paruh baya itu ada urusan mendadak dan tak bisa meninggalkan istrinya walau sejenak. Kalau Lea bilang, Agraham bucinnya awet sekali seperti wajahnya yang awet muda.


Dipikir-pikir lagi, wajah Asa itu terhitung dewasa yang sesuai umur, berbeda dengannya yang kadang masih dikira anak SMP kalau saja ia menggunakan rok pendek berwarna biru. Kalau dibandingkan Ashilla yang Elegan, anggun, cantik sudah pasti, Lea rasa, dibandingkan dengan dakinya Ashilla saja, dirinya tak akan menang. itu pun kalau memang wanita sesempurna Ashilla memiliki daki. kulit wanita itu bahkan mengalahkan putihnya lantai masjid kampus Lea yang di bersihkan 3 kali sehari.


Lea menggaruk belakang telinganya yang bahkan tidak mengalami apapun. hanya mencari kegiatan ditengah rasa canggung bodoh ini. " Ehm.. Kak Ashilla, pacarnya Kak Asa ya? kok gak pernah mampir?"


Ashilla yang sejak tadi memperhatikan tingkah manis Lea, kini tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangan kirinya. "Sial, Kenapa anggun banget kayak putri Duke di komik yang biasa gue baca?!" rutuk batinnya gemas melihat tingkah Ashilla.


Wanita itu menatap ke sekitarnya lalu mengetuk-ngetuk kecil dagunya seolah memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab Lea. " Asa gak ngebolehin aku Dateng. Kamu pernah?"


Mendapat pertanyaan balik seperti itu membuat Lea merasa dirinya begitu bodoh menanyakan hal itu. Apalagi mengetahui fakta bahwa Ashilla dilarang datnag ke rumah pacarnya sendiri,


Apa yang wanita cantik ini akan katakan kalau ia tahu bahwa Lea bukan adik Asa yang sebenarnya, dan bahkan tinggal disana, dihidupi dan dimanjakan pria itu?


" aku seringnya ke rumah Rafa sih, kak." ujar Lea seadanya. Gadis itu tanpa sengaja bertemu mata dengan Orias yang tengah menatap jenaka dirinya dengan senyum iblis. Apa Asa tadi bilang ia dapat didepan rumah sakit? sudah berapa lama ya? kenapa rasanya sudah lama sekali?? Lea ingin sekali Asa atau Farhan datang mendadak membawakannya obat yang sejak tadi pagi sering ia tolak.


Ashilla mengerutkan keningnya, dan hal itu membuat Lea sendiri merasa gugup tanpa alasan yang ia sendiri ketahui. " Rafa ... sepupunya Asa.. sodaranya Lea juga.. iya 'kan Ya?" ucapan Orias membuat Lea mengangguk-angguk cepat walau begitu kentara rasa gugupnya.


Ashilla menepuk tangannya dengan senyum sumringah seolah akhirnya mengerti situasi. " Ah... yang tinggi dan gigi kelinci itu ya?? iya-iya.. katanya rumahnya didepan rumah Asa. Kamu beneran Deket ya sama Mereka? kok aku baru denger tentang kamu sekarang ini ya?"


Lea hanya tertawa kecil menggaruk lehernya dan memasang wajah bodoh seolah berharap Ashilla berhenti menanyakan hal seperti itu.


pintu ruang inapnya terbuka dengan lebar, memperlihatkan seseorang yang membuat Lea sedikit terkejut melihatnya. Lea sekarang merasa bahwa semua orang di dunia tahu ia dirawat di rumah sakit padahal ia bukan Donald Trump ataupun Kim Jong un.


" Lo.... kalo dibiariin bentar mungkin bisa mati kali ya?" ujar Sehan tak habis pikir. Rafa dibelakangnya tersenyum dengan sedotan susu pisang yang masih ia ****, merasa situasi yang Lea hadapi sejak tadi begitu lucu.


Seorang gadis asing yang tinggal dirumah seorang pria dewasa, dijenguk oleh pacar pria itu ditemani pria lain yang menyukai gadis asing itu. Jika ini drama Korea, Rafa pilih Tim kapal Asa-Lea daripada tim Asa-Ashilla ataupun Lea- Orias.


" Setan tad--"


" Sehan, anj**g." Ralat pria tampan itu dengan pandanga kesal. Rafa tertawa bodoh, merasa dirinya lucu, walaupun tidak. " yahh gitu dah, kemarin pas Lo ilang si Sehan bantuin nyari juga dikomplek, kali aja nyasar kayak waktu lu marahan sama Bang Asa--" Rafa menghentikan penjelasannya melihat wajah Lea yang gugup bukan main dan menatap tajam dirinya seolah ada nafsu membunuh.


Pria itu pun menoleh dan mendapati Ashilla menatapnya bingung, Rafa lupa ada wanita ini sekarang. " yah pokoknya Si Sehan kemarin mencemaskan dirimu gitchuu.." ucap Rafa sambil memberikan wajah berlebihan sesuai dengan kalimat akhirnya. Lea tertawa kecil melihat tingkah Rafa.


Sehan mengambil duduk disamping Kanan Lea, bersebrangan dengan Orias dan Ashilla. " Lo perlu dirante kali ya biar gak ilang atau sakit?" tanya Sehan keheranan.


__ADS_1


pasalnya, Lea sangat sial, sudah tertabrak mobil, di culik, dan hanya Lea yang tahu bahwa ia nyaris dilecehkan jika saja ia tak nekat melompat dari lantai dua dan berjalan cepat dengan kaki yang sudah patah. Lea tak merasa bahwa ucapan Sehan itu salah. Jika Lea terlahir seperti Asa yang jadi 'sendok perak' sejak kecil mungkin Lea sudah sewa bodyguard agar hidupnya aman walaupun kurang nyaman.


Ah, Lea merasa kebiasaan membaca komik dan menonton dramanya sudah mempengaruhi pola pikir dan budaya di otaknya.


Kembali pada keadaan di ruang inapnya, Ashilla tak henti-hentinya tersenyum dan menceritakan kesehariannya, untuk ukuran Seorang perempuan yang bertemu adik kesayangan pacarnya, Ashilla benar-benar supel dan pintar membawa suasana. Tapi sayangnya kesupelan itu tidak akan berguna jika Lea gugup akan rasa bersalah seperti sekarang.


" Kak Asa orangnya romantis ya ke Kak Shilla?" Tanya Lea asal. Ia hanya ingin menghindari pertanyaan dari Ashilla sehingga ia memutuskan untuk bertanya Asal seperti ini.


Gadis itu tidak tahu orang di sebrang gedung rumah sakitnya, tepatnya di gedung restoran ternama di kota itu, tengah mengusap lehernya yang mendadak merinding.


" kenapa Pak?" tanya Farhan heran. Asa menggeleng kepalanya. Rasanya seperti ada yang memanggilnya lewat angin padahal tidak ada jendela yang terbuka dan mesin AC ruangan ini berada di seberangnya. Aneh.


Pria itu menatap jendela yang menampilkan gedung rumah sakit Lea. Jika tau seperti ini, ia akan memesan kamar di lantai yang sejajar dengan restoran sehingga ia bisa melihat Lea sekalipun ia tengah rapat.


" Farhan, tolong buatkan surat izin sakit buat Lea, minta surat rekomendasi dokter dan ajukan permohonan kuliah online untuk Lea karena kakinya patah dan sulit untuk ke kampus. paham?"


Farhan mengangguk, " biar Nona Lea gak perlu menambah absennya dan juga gak perlu ke kampus, tapi tetap bisa berkuliah." ujar Farhan mengklarifikasi. Asa mengangguk. Jika ia ingin, bisa saja Lea ia suruh berhenti dan melakukan segala sesuatu yang gadis itu inginkan walau itu berarti Lea benar-benar menganggur dan bergantung padanya.


Tapi jika memang seperti itu, Lea tidak mungkin bekerja hingga subuh demi uang kuliah dan lupa makan demi menghemat pengeluaran. Pasti ada Alasan mengapa Lea berusaha sekeras itu, dan Asa ingin menghormatinya.


Asa tak pernah berusaha memantau pengeluaran kartu kredit yang ia berikan kepada Lea. Tapi Farhan beberapa waktu lalu melaporkan bahwa Lea belum pernah mengeluarkan uang dari kartu itu sama sekali. Asa berpikir apa Lea sungkan atau justru merasa tersinggung karena ia memberikannya kartu kredit dan merasa tengah direndahkan? Tapi menanyakan hal seperti itu hanya akan memperkeruh keadaan mereka berdua yang sebenarnya memang sudah keruh.


Dan Asa harap hubungannya dengan Lea sedikit demi sedikit bisa memiliki jarak yang tak begitu terbentang seperti sekarang.


Baru saja Asa memikirkan harapan itu, dan Ia sudha merasa pesimis sekarang, melihat Wanita yang ia sebut pacarnya, tengah duduk disamping Lea, menatap dirinya yang menarik perhatian karena membuka pintu kamar inap seperti orang tengah dikejar sehan, eh maksudnya setan.


Asa menatap ke arah Farhan yang berada tepat dibelakangnya, meminta penjelasan akan orang-orang ini dan situasi mencekam ini, Ah, jangan lupakan tatapan tajam Asa yang mematikan itu.


Farhan menggaruk lehernya, " saya tadi 'kan sama bapak.." jawab Farhan seadanya, Lea tentu mendengar hal itu, Lea mengubah posisi menyendernya menjadi duduk tegak dan menggeleng kepalanya.


" Tadi tuh Om Agraham ada urusan, dan musti bawa istrinya... kebetulan Kak Orias sama... Kak Shilla lagi jenguk jadi nitipin aku sama mereka. Gapapa 'kan?" jelas gadis itu gugup. Lea tak mengira bahwa Ada akan menatap tajam Farhan karena ada Orias dan Ashilla.


Bingung. Lea bingung mengapa Asa terlihat tidak suka Ashilla disini? atau karena ada Orias? kalau Orias, Lea cukup mengerti.. Pria itu memang agak menyebalkan dengan sikap egoisnya, tapi Lea berpikir, untuk Asa menatap tajam pacarmya sendiri seperti sekarang, Lea harus bertanya-tanya. Apa keduanya sedang bertengkar?


tapi katanya, Asa itu sangat romantis dengan Ashilla...


Lea pusing.


" ngapain kamu masih disini? gak tau cara pulang atau gak tau cara jalan?"


Lea terkesiap dan langsung menyibakkan selimutnya. " Kan kaki aku patah!!" sentak gadis itu kesal.


tentu saja keluhan Lea membuat semua orang menatap kaget gadis itu. Bukan kaget karena gadis itu mengeluh, namun karena gadis itu terlihat bodoh dengan sangat natural.


prok Prok!!!


__ADS_1


Rafa adalah orang yang pertama memecahkan drama sunyi ini dengan tepuk tangan hebohnya. Hei, Rafa ingin drama picisan layaknya drama Korea ini terus berlanjut, Jangan hentikan dengan kebodohan Lea. itu tidak seru. " Yang diomongin Bang Asa itu, Ashilla, Ceweknya, Ya... mana berani sih Bang Asa ngomong gitu sama Lo!" ujar pria itu jenaka.


Ashilla tersenyum canggung kepada Lea, membuat rasa tidak nyaman bernama sungkan dan bersalah semakin membuatnya insecure.


" Kak Asa jangan gitu ah, sama pacarnya juga.." ucap Lea menasihati. Asa masuh tak bergeming dan terus menatap tajam Ashilla.


ia tahu apa yang ia lakukan sekarang akan membuat Lea kesal, tapi tak ada yang bisa menghentikan Asa untuk mengusir wanita itu sekarang juga. Pertemuan Lea dengan Ashilla adalah kejadian yang paling Asa hindari, dan Orias mewujudkan hal itu dengan wajah sumringah menyebalkannya itu.


" Saya tidak mau mengulang ucapan saya, silahkan kamu lakukan, atau saya minta Farhan untuk menyeret kamu."


Lea menatap bingung sekaligus takut kepada Asa. Lea tak mengerti apa yang terjadi, tapi ia harap Asa sedang tidak emosi. Selama ini, Lea jarang bertengkar melibatkan urat dengan Asa selain terakhir kali gadis itu bertengkar dengan Asa. itupun, Lea yang emosi, Asa hanya dia menerima ucapannya tanpa berniat membalasnya dengan emosi juga.


Jadi Lea sangat berharap pria itu tidak sedang Emosi karena Kaki Lea belum siap untuk digunakan kabur dari Rumah sakit.


Ashilla berpamitan bersama dengan Orias, sebelum keluar, Wanita itu sempat diam menatap Lea dalam, " Semoga kamu udah sembuh saat kita ketemu lagi." Ujar wanita itu.


Asa mendengus sambil menggaruk alisnya. " Gak ada kata ketemu lagi. Kamu gak akan pernah ketemu dia, dan saya gak akan biarin hal itu terjadi."


ucapan Asa membuat kecurigaan Ashilla semakin menjadi-jadi. Sejak Ia mendengar bahwa Asa memiliki adik perempuan, yang begitu dekat dengan pacarnya itu, Ashilla sudah cukup curiga.


Ia yang berstatus pacar Asa saja tidak tahu rumah pria itu, orang tua pria itu, hanya sebatas salah satu Teman dekat Asa, Farhan, dan Rafa, sepupu Asa. Berpacaran selama 3 tahun, Ashilla merasa dirinya hanya pajangan nama. hanya memiliki gelar tanpa mendapatkan posisi yang sebenarnya.


Dan Kecurigaannnya kepada Asa semakin memuncak sekarang. Mana mungkin Asa dekat dengan perempuan sekalipun dengan adik sepupunya? dengan Rafa saja Asa masih tergolong pendiam, dan sekarang pria itu jadi banyak bicara hanya untuk menjauhkannya dari si adik perempuan itu.


" Dia sebenernya siapa sih? Sa, aku pcara kamu, tahu rumah kamu aja aku engga, masa cuma kenalan sama your precious little sister aja gak boleh? emang perlu seposesif itu? aku yang sering kena skandal sama artis lain, tapi kamu kayak gak tau apa-apa perasaan!" Seru Ashilla.


'kan... Ini yang Rafa tunggu. Penagihan Hak seorang pacar, and another bullshit again Hahaha...


Asa tertawa kecil, Namun hal itu membuat Lea merinding. Asa memang sering tertawa bersamanya, tapi kali ini terdengar sangat dibuat-buat bahkan terdengar tidak niat.


" Siapa yang bilang Lea adik saya? teman adik saya, itu benar. Dia gak ada hubungan darah apapun dengan saya, tapi sayangnya, dia cukup lebih penting dari pada kamu untuk saya perdulikan. Kamu ngerti 'kan maksud saya?" Ujar Asa dingin. Lea menjengut rambutnya frustasi mendengar ucapan pria itu. Asa dan sikap dinginnya membuat gadis merasa kehabisan setengah umurnya secara mendadak.


Habis sudah reputasinya. Apakah Ashilla akan menyiramnya dengan air Es? tidak, sekarang bukan di cafe. Jadi apakah Ashilla akan mencabut infusnya dan membuat tangannya perdarahan?


astaga, Lea sudah tidak bisa berpikir lagi. Apalagi Ashilla sudah menangis sambil berjongkok didepan pintu. Merapalkan segala kata cinta dan kutukan atas betapa kejamnya ucapan Asa kepada dirinya.


Lea merasa ia menghabiskan 2 malam untuk mendengarkan semua umpatan Ashilla kepada Asa, dan merasa sudah dikutuk masuk ke jurang rasa bodoh hanya karena satu kalimat terakhir Ashilla sebelum benar-benar pergi diseret mundur Farhan,


" Kamu pikir kamu seberharga apa sampe bisa dapetin Asa? kamu gak lihat saya?"


Lea terkekeh dengan wajah manisnya didepan Asa yang sudah mengantuk disampingnya ini. Melihat Lea tertawa membuat Asa sedikit bingung juga penasaran.


tapi rasa itu urung karena setelahnya Lea menghela nafas kasar seolah dirinya tengah memikirkan masa depan yang begitu berat.


" Eishhh... makasih lho remindernya." gemas gadis itu untuk kalimat Ashilla kepadanya.


iya tahu kok, gue mana berharga sih? Lo yang kek berlian aja di gituin, apa lagi gue yang Ama daki Lo aja masih kalah.

__ADS_1


__ADS_2