My Sugar Brother

My Sugar Brother
43. Coming Home


__ADS_3

Lea hanya menunduk sambil memasang telinganya dengan teliti. Ia menyimak ucapan Dokter Tantri walau matanya sibuk menatap kedua tangan berbeda yang menggenggam tangan satu tangannya yang tidak terpasang selang infus.


Agraham dan Anna datang sebagai walinya, dan keduanya dengan tenang menemani Lea, Bahkan keduanya benar-benar bersikap seolah mereka berdua orang tua Lea dengan menggenggam tangan Lea hangat.


" Saya tidak menyarankan aborsi Karen hal itu ilegal dan tentunya rumah sakit tidak bersedia memberikannya. Jadwal Check up bisa Diminta di Admin." Ujar Tantri sebagai tanda bahwa sesi konsultasi ini akan berakhir.


Wanita muda itu menatap sejenak Lea, " Lea.." Panggil Tantri. Tentu yang dipanggil langsung mendongak, menatap mata Tantri dengan pandangan cemas.


" Jangan terlalu cemas dan banyak pikiran. Ingat, pikirin diri kamu sama janinnya aja, Sisanya gak penting dan bisa kamu serahkan ke orang disekitar kamu.


Stress gak bagus buat ibu hamil. ingat itu ya? Bapak dan ibu tolong awasi putrinya ya." Ucap Tantri sambil tersenyum lembut.


Ketiganya mengangguk dan keluar dari ruang Dokter kandungan itu, Berjalan perlahan hingga masuk ke ruang inap.


" Kamu istirahat aja ya, Sayang.." Ucap Agraham lembut sambil mengusap kepala Lea yang sudah terduduk di brangkarnya. Gadis itu menunduk, ia merasa tak enak hati merepotkan pasangan ini. " Maaf.. Lea yang buat masalah, tapi Lea malah repotin anda berdua... maa--"


Agraham merasa tertusuk mendengar putrinya memohon maaf kepadanya seperti ini. Ia menangkup wajah Lea dan menatap sendu putri malangnya ini.


" Hei... Kamu gak salah... kamu disini korban sayang.. kamu yang menderita... Jadi biarkan kami yang atasi semuanya, kamu cukup pikirkan diri kamu sama kandungan kamu. Kamu denger dokter tadi 'kan? serahkan sisanya ke orang disekitar kamu. Jangan nangis...O-Om gak bisa lihat muka yang mirip Om jelek begini.." Rasanya berat menyebut dirinya dengan sebutan itu saat ia tahu bahwa dihadapannya adalah putri kandungnya sendiri.


" Lebih baik kita jujur sekarang aja Mas... Aku gak bisa liat Lea begini terus sama kitaa.." Ucapan frustasi Anna membuat kening Lea mengernyit. Agraham tak melepas pandangan sendunya dari Lea.


" Kamu gak perlu minta maaf, Gak ada orang tua yang merasa kerepotan saat putri mereka meminta bantuan bahkan dengan kondisi kamu seperti ini..."


Lea menatap bingung Agraham dan Anna bergantian. "Mak-maksudnya? Lea gak ngerti, Om.. Tante... maksudnya apa?"


Agraham menggenggam erat tangan Lea dan mengecupnya beberapa kali, Mengucap kata maaf berkali-kali, yang semakin membuat Lea kebingungan. " Maafin Ayah sama bunda yang baru nemuin kamu sekarang... maaf baru nemuin kamu...


Kamu udah melalui banyak hal.. Ayah sama bunda melewatkan pertumbuhan kamu, Kami orang tua yang buruk.. Maafin kami.."


mendengar tangis penyesalan Agraham, Lea kini ikut menangis. Ia tak mengerti maksud ucapan Agraham, tapi mendengarnya saja rasanya sakit. " maksud om Agam apa... Lea gak paham.. Om ngomong yang jelas..." Ucap Lea Sambil berusaha mengangkat lengan Agraham agar bangun dari posisi berlututnya.


" Om Agam..!!" Keluh Lea dengan tangisnya yang makin menjadi. Kenapa orang sebaik ini mengatakan dirinya bukan orang tua yang baik, apalagi kepadanya??


" 25 Februari 20 tahun yang lalu, Saya melahirkan seorang putri cantik.. waktu itu Suami saya dengan menyebalkannya membanggakan dirinya yang sangat mirip dengan wajah Putri kecil kami.


_Flashback_


" Liat deh, Na... Putri kita cantik bangett.. mukanya mirip aku Hahahaha... kamu gak kebagian deh kayak pas Gema" ujar Agraham dengan wajah bahagianya. Siapa yang tak bahagia saat ia dikarunia malaikat lagi dalam hidupnya.

__ADS_1


Anna mendengus lalu mengulurkan tangannya untuk meminta bayi kecilnya itu. " Tetep aja dia bakal nempel sama aku. Nanti aku latih dia biar mukanya aja yang mirip kamu, jangan sampe karakternya mirip kamu juga.. nanti semua anak aku kerjaannya ledekin aku kayak ayahnya." Ucap Anna dengan ketus.


Agraham tertawa sambil memberikan putri mereka kepada sang istri sambil mengambil kesempatan untuk mengecup kecil kening Anna. " Makasih banyak ya istriku... Gak pernah aku bernafas tanpa syukur yang Tuhan berikan dengan mempertemukan kita."


Anna tersenyum manis. Ia merasa keluarganya benar-benar bahagia. Dicintai suami yang sangat penyayang, Memiliki putra pintar dan pengertian dan kini ia memiliki putri yang sangat cantik dan pastinya akan sangat mempesona saat dewasa nanti. Apa lagi yang Anna harapkan? wanita itu tak merasa perlu apapun selain keluarga kecil bahagia nya ini.


Ia tak tahu dibalik pintu ruang inapnya, Seseorang menatapnya geram dan penuh rasa sakit yang mendalam. " Gak akan semudah itu."


Dan pada malam hari itu juga, Suara tangis bayi yang begitu kencang terdengar sepanjang lorong, berhasil membangunkan Gemada kecil yang tengah tertidur di Sofa ruang inap ibunya.


Gemada kecil keluar, mengikuti sumber suara, dan melihat seseorang tengah menggendong bayi yang menjadi sumber kebisingan lorong ini. Gemada memperhatikan kain yang membalut Bayi itu dan merasa tidak asing.


Anak kecil berusia 6 tahun yang pintar itu merasa kenal dengan kain itu. " misi Tante, Bayinya nang--"


Ucapan Gemada terhenti saat ia mengetahu wajah perempuan yang menggendong bayi itu. Itu pengasuhnya, Sri. Mungkin kah Bayi itu. .


" mbak Sri, itu... Adek Mada kan? kenapa dibawa keluar?"


Sri menatap cemas Gemada dan Bayi yang digendongnya beberpaa kali sebelum ia berlari meninggalkan Gemada yang berteriak mengejarnya.


", Mbak Sri!!! balikin adik Mada!!!" Teriakan Gemada yang begitu keras menarik perhatian banyak pengunjung dan pasien yang tengah berlalu lalang. Tak ada yang berusaha menghentikan Sri, Dan bahkan wanita itu masuk ke dalam mobil jemputan ya.


Disamping itu, Sri menghela nafasnya yang memburu, " Kita jual aja... Ada yang butuh bayi buat ngemis kan? Aku gak mau bayi ini bisa hidup bahagia dengan kita buang sembarangan. mending dia dikasih obat terus sampe dia mati nantinya." Ucap Sri dengan kejam.


Kakaknya, Rama, menghela nafasnya. Obsesi adiknya terhadap Agrhaam sudah diluar batas. Hanya karena Anna melahirkan anak dari Agraham lagi, dan Pria sukses itu tidak meliriknya sama sekali, Sri langsung menggila.


Wanita itu sudah merencanakan semua ini sejak berita kehamilan Anna terdengar ditelinganya. Ia akan membuat keluarga kecil itu menderita sampai mereka semua.kesukitan bernafas dan memohon untuk dibunuh. untuk melakukan itu, Ia harus mengambil sumber kebahagiaan keluarga mereka.


Bayi ini. Bayi tak bersalah yang cantik ini harus ia korbankan. Jangan salahkan Sri, Agraham mengabaikan dirinya, mematahkan Hatinya, Perbuatanya ini masih terlalu baik. Ia bisa saja menculik Gemada juga, Tapi ia tak merasa perlu membuang tenaga membawa bocah itu.


Terlalu banyak melamun membayangkan seberapa nestapanya kehidupan keluarga itu membuat Sri tak sadar keberadaannya sudah dimana.


Kerutan tergambar jelas dikeningnya. " Bang, kita kemana? kok ini di pegunungan?? bukannya ke--"


" Abang gak bisa dukung rencana kamu dek.. biar Abang yang urus bayi itu. kamu cuma mau mereka kehilangan dia 'kan? kamu gak perlu siksa dia... biar Abang yang urus dan Ka--"


"GAKK!! BAYI INI HARUS MENDERITA BIAR AGRAHAM NANGIS DARAH KARENA KEBODOHANNYA MILIH ANNA!!" Jeritan Sri membuat Rama berjengit.


Sri menahan tangan Rama yang memegang stir, berusaha membuat mobil itu berhenti namun justru membuat mobil menjadi kehilangan arah.

__ADS_1


Rama terkejut dan menghempaskan tangan Sri dari stir dan merebut bayi dari rangkulan wanita itu saat ia melihat arah mobilnya justru mengarah pada perbatasan jalan.


dalam hati kecilnya ia mengutuk dirinya yang memikirkan anak orang dibanding adik kandungnya sendiri, tapi ia juga berharap, bayi kecil didalam pelukannya bisa selamat dan kembali pada keluarganya.


Rama hanya ingin menolong bayi ini sebagai ganti dari ketidakmampuannya untuk menolong adiknya untuk lepas dari obsesi gila ini.


Mobil itu terjatuh, berputar beserta isinya dan berhenti tepat di tepi sungai. Walau suaranya gaduh, Tak ada yang tahu tentang kecelakaan ini.


Rama membuka mata dengan kepala yang merasa sangat pusing dan dengung nyaring dikepalanya. Ia bisa mendengar rengekan bayi yang berada tepat dipelukannya. Rama melihat ke sekeliling, dan mendapati adiknya yang tak sadarkan diri tengah bersimbah darah.


Rama menangis, memanggil nama adiknya. memohon kepada sang adik itu membuka matanya, Dan saat ia mencari nadi Sri, Hanya sunyi dan keheningan yang ia dapat. Tangan adiknya sudah mulai dingin.


Tangisan Bayi yang ia tinggal tadi membuatnya sadar bahwa masih ada yang harus ia selesaikan.


Dengan berat hati, Rama meninggalkan Sri dan berjalan tertatih sambil membawa bayi kecil itu. Entah semesta yang menuntunnya, Rama tak tahu, ia hanya bisa terkejut melihat sebuah panti asuhan diujung perjalanan asal-asalannya.


Pria itu meletakkan bayi yang sudah terlelap itu, meninggalkannya di depan pintu Rumah yang seperti asrama itu, mengetuk pintunya beberapa kali sebelum ia pergi menjauh.


Itulah terakhir kalinya Rama melihat bayi Kecil Anna dan Agraham yang diculik almarhum adiknya. Begitupun terakhir kalinya Gemada menangis dan kali terakhir Anna dan Agraham menggendong bayi kecil mereka.


_Flashback End_


Lea terdiam, mencoba memahami cerita Anna tentang penculikannya, Usaha Anna dan Agraham begitupun Gemada untuk menemukannya sampai Gemada melakukan tes DNA diam-diam dan hasilnya Lea dan Agraham memang seorang putri dan ayah.


Melihat Reaksi Lea yang tidak menutupi keterkejutannya, Anna merangkul bahu Agraham, Berdiri tepat didepan Lea. " Kami disini sebagai orang tua kandung kamu... Kamu gak perlu merasa takut dan cemas. Kami disini akan mendukung kamu sepenuhnya sayang... ada kami yang akan urus semuanya, kamu cukup pikirin kebahagiaan kamu."


" Ta-tapi Lea udah kotor..." Ucapan dan tangisan itu sukses membuat Agraham menunduk, menahan tangis atas rasa sakit melihat putrinya seperti ini.


" Lea gak pantas punya orang tua sebaik kalian... Aku udah gak punya kesempatan buat bahagia... aku itu udah kotor Tante... Tante gak perlu mengakui Lea anak Tante... Lea cuma bawa mal--"


" Jangan ngomong gitu sayang... jangan bicara lagi... Kamu berharga Lea... demi tuhan dan demi nyawa Ayah, Kamu sangat berharga dalam keadaan apapun... Jangan bicara kayak gini didepan ayah... ayah mohon...." melihat suaminya memohon seperti membuat Anna menutup mulutnya, menahan Isak.


Agraham selama ini menjadi Suami yang begitu bijaksana dan Bertanggung jawab, Saat bayinya menghilang pun Agraham masih berusaha menenangkan Anna walau dirinya sendiri merasa terpukul bukan main.


Selama ini pria itu berharap putrinya bahagia walau bukan bersama keluarganya. Tapi saat Mendapati Lea seperti ini, Anna sangat mengerti betapa hancurnya hati Agraham melihat keadaan putrinya seperti ini.


" Kalau hanya masalah kehamilan kamu, Kami gak masalah Lea. Kamu gak bersalah disini. Masalah seperti ini gak bisa memutus hubungan darah kamu sama kami... Kami tetap menyayangi kamu... tanpa syarat, karena kami orang tua kamu sayang..." Ujar Anna sambil membawa kepala Lea kedalam dekapannya.


Ketiganya menangis di ruang inap itu, melampiaskan kerinduan, penyesalan, amarah, dendam dan keluhan batin selama 20 tahun ini terpendam. Menyampaikan kepada semesta bahwa Sekalipun mereka terpisah sejauh dan selama apapun, Tali takdir yang mengikat tetap menuntun satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2