
Belum sembuh rasa sedih atas kabar hilangnya Asa, Lea sudah dihadapkan dengan dua orang yang saling menatap datar.
Kenapa Farhan mendadak datar seperti ini?
" Ehmm.. Mas Farhan, ini Kak Dion, temen aku.. dan Kak Dion, ini Mas Farhan, Asisten pribadi Kak Asa."
" dan Asisten pribadi Nona Lea." tegas Farhan menambahkan. Dion tak menghiraukan Farhan dan kembali menatap makanan yang baru saja Lea sajikan. " kamu gak sarapan?"
" Barusan sambil buat tadi. Kalian makan dulu aja. Aku bakal nanya banyak hal hari ini selama perjalanan."
" Kenapa dia juga ikut?" pertanyaan Farhan yang terkesan sekali tidak suka membuat Lea tertawa kecil. Apa Farhan memang sebawel ini?
" Karena Kak Dion mau bantuin aku. Jadi aku ajak ke kantor hari ini. Ah iya, aku belom ganti baju. Kalian habisin makannya dulu sambil aku ganti baju ya."
Saat mereka selesai, Lea juga sedang menuruni tangga. Gadis itu tersenyum manis, dengan kaus putih yang dibalut blazer hitam dan rok selutut berwarna hitam juga. Tak Lupa gadis itu mengikat rambutnya dengan rapih. Farhan bahkan berdeham keras menyadari Dion tak berkedip memperhatikan atasan barunya itu.
" kenapa pake baju kayak gitu?"
" karena Kak Asa biasanya kayak gini. walau Dia kayaknya gak pernah pake celana pendek selain jalan sama aku sih."
Dion mengangguk. Entah disengaja atau tidak, keputusan Lea memilih style seperti apa yang Asa biasa kenakan akan cukup berpengaruh. Karena perubahan pemimpin secara mendadak pasti akan mengundang beberapa 'pengawas tidak resmi' untuk memperhatikan Lea.
Selama perjalanan, Dion menjelaskan tugas utama dan makna dari jabatan CEO. " yang paling penting adalah CEO itu wajah perusahaan baik dalam ataupun luar. Kalau kamu bersikap ragu-ragu didepan investor atau kolega, maka perusahaan juga akan dipandang tidak kompeten. "
" kalo aku keliatan berwibawa dan tegas, maka perusahaan kelihatan baik dan kokoh."
Dion mengangguk. " Tapi, image kamu harus sesuai sama image yang kakak kamu buat. untuk yang seperti itu, kamu tanya Farhan aja."
Farhan menatap kesal Dion yang sejak tadi berbicara dengan Lea. Padahal Lea baru keluar dari rumah setelah beberapa hari mengurung diri di kamar, tapi Dion sudah mengoceh kan hal-hal rumit kepada gadis itu.
" Pak Asa selalu ngebangun image tegas tapi bebas. Kayak Burung Elang yang terbang tinggi dan gak bisa diganggu siapapun, seolah gak ada yang membatasi dia mau makan apa. mau dia makan daging atau makan daun itu sesuka hatinya, asal dia kenyang.
maksud saya, Pak Asa gak merasa perusahaannya terbatasi dalam bidang apapun. perusahaan ini kan di awali dengan otomotif, lalu bertambah bidang ke elektronik, perhotelan, dan sekarang lagi mulai melirik bidang kuliner. Seperti gak ada yang membatasinya mau berkembang dibidang apa. Divisi apapun yang punya ide boleh mengajukan dan akan dieksekusi pak Asa dari mulai proposal sampai penempatan pelaksanaannya."
tidak hanya Lea, Dion juga merasa takjub. Memang banyak perusahaan seperti itu, tapi Dion tak percaya ia akan berurusan dengan orang terdekat dari pemilik perusahaan sebesar Nextdoor Group. " apa yang ngomong kayak gitu kak Asa?" tanya Lea.
Farhan mengangguk sambil tersenyum. " Pak Asa suka ngomong kayak gitu kalau lagi melamun atau mikirin sebuah ide yang diajukan."
Lea mengangguk paham. Saat mereka sampai di kantor, Jantung Lea rasanya berdebar kencang. Gadis itu merasa takut, tapi juga tertarik, tak lupa merasa tidak enak karena mengambil posisi Asa walau pria itu lah yang menaruhnya dalam situasi ini.
Namun degupan jantungnya mereda saat tangan hangat yang menggenggamnya, dan senyum manis tidak niat Dion tertangkap matanya, berhasil membuat rasa gugupnya hilang dan Lea justru tertawa. " gausah senyum kalo gak niat! hahahaha.."
Dion terkekeh. akhirnya ia melihat tawa gadis ini lagi. Terakhir ia melihat tawa Lea adalah saat Gadis itu tengah bergibah dengan Chandra di upacara kelulusannya.
pikirannya buyar saat suasana dikantor yang sudah mulai ramai itu kini menjadi sunyi senyap semasuknya mereka ke dalam lobby.
" Ruangan anda di lantai 30, Bu Lea." sikap formal nan kaku Farhan membuat Lea semakin merasa gugup. Gadis itu berjalan tegap, menghela nafasnya kasar demi merelaksasi bahunya yang kaku. Cukup berjalan seperti tengah berjalan di kampus kan. Tegas dan malas berbicara.
melihat tingkah Lea membuat Dion tersenyum. Lea cukup cepat memahami bagaimana dia membawa dirinya. Dion ataupun Farhan tentu menyadari sudah banyak mata yang mengawasi gadis itu.
pemimpin perusahaan absen selama 2 bulan, lalu gadis yang terkadang masuk ke ruangannya secara mendadak datang ke kantor. Pasti banyak opini dan persepsi yang terbentuk akan situasi tersebut.
Saat Lea hendak masuk ke dalam ruangan Asa, Seseorang berdiri tegap dihadapan gadis itu, tepat di depan Pintu. Jika saja Dion tak menarik bahu Lea ke belakang dan Farhan tidak memunggunginya, Lea mungkin akan menabrak dada bidang itu.
" Rena, kamu sebagai sekretaris ngapain sih? bisa-bisanya diem aja saat orang asing mau masuk ke dalam ruangan Presdir?"
Farhan mengeratkan rahangnya. Ia ingat betul Leo mengatakan sudah memberi tahu jajaran direksi perusahaan tentang pengalihan jabatan Asa kepada Lea. Untuk apa wakil direktur ini berdiri di depan pintu ruangan yang kini menjadi milik Lea dan berkata seolah-olah Lea adalah orang asing.
" apa saya terlihat orang asing?" Tanya Farhan dingin. Mutarobin menatap jenaka Farhan. " Saya kira kamu anjing penurut yang setia, tapi ternya--"
" minggir." Ucapan dingin nan tegas, juga dorongan keras yang membuat pria berkacamata bingkai hitam itu jatuh membuat semua menatap tak percaya. Lea baru saja membuka ruang CEO setelah mendorong pria seumuran ayahnya itu.
__ADS_1
" kenapa diem aja? lewatin aja. pintu ada buat dibuka dan dimasukin 'kan?" Keheranan Lea membangunkan Farhan dan Dion untuk segera masuk, mengabaikan wajah Merah penuh rasa malu Mutarobin yang masih terduduk dilantai kantor.
Dion tersenyum miring melihat Lea bisa sekeji itu di hari pertama bekerja. Farhan pun berpikir begitu, lagi-lagi ia merasa merinding mengetahui Lea tak ada hubungan darah dengan Asa namun memiliki banyak kemiripan.
Walau Asa masih muda, Pria itu dihormati dan juga ditakuti oleh banyak direksi atas perusahaan. Karena Saham terbesar dipegang olehnya, dan beberapa temannya seperti Agus dan Juan memegang saham lumayan besar juga diperusahaan, Tidak ada yang berkutik atas semua tindakan dan keputusan yang Asa buat. Tapi Asa tak pernah bersikap semena-mena. Ia hanya menerapkan 'darah dibalas darah, air dibalas air'.
Dan nyatanya Mutarobin belum tahu akan bahaya dari perbuatannya memasuki ruangan Lea tanpa tata Krama. " Kamu gak diajarkan sopan santun ya?! say--"
" Santun dibalas santun. Walau belum resmi, saya rasa Leo sudah menginformasikan bahwa saya sudah masuk bekerja ke kantor hari ini. Dan saya rasa anda juga tahu, mengatakan seorang pemimpin sebagai orang asing adalah hal terkonyol yang pernah saya lihat. Sekarang anda menuntut sopan santun padahal anda masuk ke ruangan saya tanpa izin ataupun tata Krama?!"
Mutarobin tak berkutik. Ia kalah. tatapan dingin yang tajam, dan suara tegas yang tak tergoyahkan itu benar-benar mirip dengan pemimpin yang asli.
Tidak diragukan lagi, ini benar-benar adik pimpinan nya... Ia tidak bisa tinggal diam.. ini berbahaya.
Lea menghela nafasnya kasar saat Mutarobin keluar dari ruangannya. Baru masuk ruangan saja, Lea sudah bertemu hatersnya. Jika ini terus berlangsung mungkin Lea akan punya haters lebih banyak dari artis Korea sekalipun.
" Mas Farhan, nanti ada rapat?"
" Ada, Bu. Dengan divisi Marketing dan produksi Bu. Dari divisi produksi ada dua planning baru, salah satunya kuliner dan yang lainnya Fashion."
" Fashion? emang kita pernah sentuh bidang fashion?"
Farhan menggeleng kepalanya. Lea tersenyum miring. apa ini cara mereka menyambutnya?
" rencana Fashionnya ada sejak kapan? dari sebulan Kak Asa absen atau gimana?" tanya Lea lagi. Farhan mengangguk kepalanya. " ini kedua kalinya. mereka pernah mengajukannya sekitar satu tahun yang lalu, tapi di tolak pak Asa."
" Kalo gitu, panggil semua divisi untuk ikut rapat sama Produksi dan Marketing."
Lea meminta proposal yang pernah Asa tolak tersebut, dan Farhan menyampaikannya kepada Sekretarisnya. Gadis merasa energinya sudah terkuras habis hanya karena mempersiapkan rapat.
" Kak Dion udah MBA gak mulai cari kerja?"
" lah... kenapa gak kesana."
" nemenin kamu."
Lea tersenyum kecil. Ia mengangguk paham lalu menoleh kearah Farhan yang menatap sengit Dion. " Mas Farhan, jangan sengit gitu... dia bakal sering main kesini. walau aku sendiri gak enak."
Farhan menoleh dan menggeleng kepalanya segera. " gausah merasa sungkan. Nona Pemilik sah seluruh perusahaan ini."
Lea hanya diam. rasa sedih muncul kembali ke permukaan hatinya. Ia kembali merindukan Asa. Semua yang ia lakukan saat ini untuk Asa. Agar saat pria itu kembali, Ia pantas mendapatkannya dan tak akan lagi meragu hingga membuat asa menunggu kembali. Lea berharap Asa diluar sana masih bernafas dan baik-baik saja.
" Waktu itu, katanya banyak jadwal yang terdelay ya?"
Farhan mengangguk. ia memberikan sebuah map berisi jadwal yang terdelay dan rencana reschedulenya. " Beberapa perusahaan asing akan sulit untuk diundang kembali jadi saya mengajukan kehadiran anda untuk ke negara mereka."
" Inggris, Amerika, Korea? tiga-tiganya?"
" iya... karena kesibukan diawal akan sangat padat jadi saya merancang satu Minggu penuh untuk anda ke Inggris,, Amerika lalu Korea. "
Dion menggeleng kepalanya. Lea langsung kerja lembur, batinnya.
****
Lea menatap proposal yang diserahkan kepadanya, sambil sesekali melihat Presentasi dari tim produksi. Dion menunggu diruangannya dan Farhan kini duduk disampingnya. Ketua divisi produksi duduk manis dan pelopor dari plan project kuliner ini mempresentasikan materinya dengan sangat baik dan semangat.
Lea tersenyum manis saat presentasi tersebut berakhir dengan penutup yang sempurna. " presentasinya bagus, planning kalian rapih dan lengkap. Terus Marketing nya gimana?*
" Untuk marketing, Divisi marketing akan menyampaikan presentasi nya." Lea mengangkat kedua alisnya bersamaan. salah satu tim marketing menyampaikan planning marketing pada produk kuliner tersebut. Lea menyukai caranya dan mengerti maksudnya.
" Jadi Kalian mau mengenalkan produk kuliner ini seolah ini cuma punya hotel Nextdoor, lalu akan memulai restoran mulai dari restoran skala sedang di Mall dan nanti akan merencanakan Restoran mandiri? Bagus..." Lea mengangguk paham sambil tersenyum.
__ADS_1
Gadis itu seolah menunggu hingga hanya ada kesunyian diantara puluhan orang dengan ekspresi canggung itu di ruang rapat besar ini.
" udah? ada lagi?"
" A-ada Bu.... Kami sudah menyampaikan proposal tentang Fashion Next door untuk dikolaborasikan dengan otomotif Nextdoor terbaru, yaitu unit NX-5."
Lea menatap proposalnya, tersenyum manis sambil mengangguk kembali, membuat wajah-wajah yang tadi suram dan tegang kini tersenyum cerah dan penuh harap. Bahkan Salah satu tim produksi sudah berdiri dan bersiap melakukan presentasi.
" continuity plan*-nya?"
Wajah berseri itu langsung padam dan kaku. Bahkan yang sejak tadi biasa saja kini menjadi tegang. Lea menatap orang berdiri, " Continuity plan dari Fashion ini gimana?
kalo kalian cuma mau jadikan fashion ini sebagai souvenir untuk customer, dengan jumlah terbatas, dan bisa meningkatkan citra perusahaan terutama di otomotif, Saya gak akan menanyakan Continuity plan. Karena Udah banyak perusahaan otomotif yang melakukan hal tersebut dan memang punya pengaruh bagus walau kecil.
tapi kalian jadikan ini sebagai bisnis baru, tentu kalian punya Continuity plan 'kan?"
Hanya diam. Lea hanya mendapat keterdiaman dari tim produksi. Gadis itu terkekeh sambil memutar kursinya ditempat. " engga... bentar deh ya.. aneh gak sih kalau tim produksi gak bisa jawab tentang Continuity plan? kalian punya otak buat mikir 'kan? punya mulut buat jawab?" pertanyaan Lea semakin membuat semua diam dan bahkan kini menunduk. " Pak Ketua divisi produksi. anda membiarkan proposal ini sampai ke tangan saya tanpa memikirkan hal itu?" Tanya Lea dingin.
Pria dewasa yang mungkin seusia Farhan kini memandang gugup Lea sambil menggeleng. " Saya tanya kalian semua yang divisi Produksi, kalian punya mulut?"
" pu-punya.." jawab mereka serentak. Lea kini mendengus.
" Terus kenapa gak jawab? Saya gak akan pecat kalian kok sekalipun kalian jawab gak punya. jadi kalian punya Continuity plan untuk project fashion ini atau engga?!" Sentakan Lea membuat semua orang berjengit. Tidak hanya semua divisi, tapi juga Farhan.
" Ma-maaf Bu.. kami belum memikirkan Continuity plan nya."
Lea tersenyum sambil melangkah mendekati divisi IT yang duduk menyebrangi tim produksi. Gadis itu ingin mengetahui wajah-wajah yang berhasil mengusiknya dipagi hari. " sama kayak setahun lalu 'kan? Gak ada yang berubah dari proposal kalian dari tahun lalu, cuma tanggal dan desainnya aja yang beda. Isinya sama, kurangnya juga sama."
Wajah-wajah itu langsung menegang. Tak mengira Lea mengetahui tentang proposal tahun lalu. Semuanya terkejut saat Lea membanting proposal project fashion tahun lalu dan saat ini ke meja.
"Jangan kalian pikir, karena saya jauh lebih muda dari kakak saya, saya bisa kalian bodohi! Kalo project kalian gagal, kalian mau ngasih gaji kalian buat ganti kerugian perusahaan? Gaji kalian satu tahun juga belum cukup untuk bayar anggaran yang kebuang untuk rencana gak sempurna kalian!
Kalian bisa ambil semua bidang, mau kuliner, sport, atau apapun, terserah! tapi pikirin kedepannya gimana. Pikirin kalau sampe project kalian gagal, Yang gajinya kepotong gak kalian doang, tapi semua divisi, bahkan saya gak akan ragu potong gaji direksi dan komisaris. Biar mereka tahu, bawahannya begitu luarrr biasa!" Tatapan tajamnya menghunus semua divisi produksi itu. Tapi yang merasa merinding tidak hanya mereka, namun semuanya.
Lea menghela nafasnya lelah lalu melangkah kembali ke tempatnya, tak ada tanda-tanda ia akan duduk, " Saya Aeleasha Gayatri, yang akan jadi pemimpin kalian mulai hari ini dan sampai waktu yang belum ditentukan,
Kalau kalian gak terima dengan kehadiran saya, Pintu keluar perusahaan ada dilantai 1, tepat didepan lobby. dan jangan lupa titip surat perpisahan ke sekretaris saya. Terimakasih." Salam perkenalan tersebut membuat Semua menunduk memberi salam, dan baru bangkit saat Lea keluar dari ruang rapat.
Semua menghela nafas lega. " Gila... sumpah, Serem banget barusan..." keluh Evan, yang tadi berdiri untuk presentasi proposal project fashion-nya.
" katanya bukan anak manajemen bisnis... tapi ngerti banget deh kayaknya.." Ucap ketua divisi HRD.
" Mungkin diajarin kakaknya..."
" tapi Keren sih... maksud gue, lebih jelas dari Pak Asa. Kalo Pak Asa 'kan cuma ngomong sepatah dua kata. kalo Bu Lea langsung ngejelasin salahnya dimana.." Ujar ketua divisi Produksi yang sempat ditunjuk Lea saat rapat tadi.
beberapa mengangguk. " to the point to the strike. Cantik pula.."
" umurnya berapa ya?"
" kira-kira dia bisa lengserin direksi gak ya?"
ucapan ketua divisi purchasing atau pengadaan, Kemas, berhasil membuatnya semua diam, dan juga membayangkan ucapannya.
" aamiin.." ucap mereka semua serempak.
Lea yang sejak tadi masih berada di balik pintu pun ikut mendengarnya. " Mas Farhan, selidikin soal direksi, terutama yang bermasalah di pengadaan."
Farhan mengangguk dan ikut melangkah dibelakang Lea.
melihat punggung mungil yang tadinya sudah bebas kini harus memikul nasib banyak orang dengan keputusannya, Farhan berharap Asa diluar sana cepat kembali.
__ADS_1