My Sugar Brother

My Sugar Brother
44. Rehat


__ADS_3

Pintu itu dibuka dengan gaduh oleh Leksa yang panik mendengar Bahwa Lea pingsan sejak kemarin. Pria itu menghela nafasnya kesal melihat Lea tengah tertawa kecil melihat kelakuannya.


" Sumpah, harus banget ketawa liat orang panik?" kesal pria itu. Lea mengangguk sambil tersenyum manis. " Ada banyak kabar nih buat Kak Leksa. mau yang mana dulu." ujar Lea sambil menyodorkan sebuah apel yang dibawa Gemada kemarin malam.


" Yang paling pengen gue denger dulu deh." ujar pria itu sebelum menggigit apelnya. Lea memukul kecil bahu Leksa dengan kesal, sedangkan pria itu menatap bingung Daniel yang terlihat masih sibuk mengupas jeruk untuk Lea.


Lea melahap jeruk yang Daniel suap kepadanya, lalu mengatakan, " aku udah ketemu orang tua kandung aku, heheheh.." Ucap Lea dengan senyum manisnya.


Leksa mengangguk paham sampai akhirnya sadar dengan apa yang ia dengar dan membuka mulutnya lebar-lebar. " HAH?!" Kejut pria itu.


Lea tertawa riang melihat wajah bodoh Leksa. Entah kenapa sejak pagi ia sangat ingin melihat ekspresi aneh Leksa. " Kak Leksa mukanya gak bisa gitu terus ya? lucu soalnya..", gemas Lea membuat Leksa menatap aneh Lea juga Daniel.


" Niel, kakak lu gapapa 'kan?"


" Biarin aja Kak. Ibu hamil emang gitu, aneh-aneh.", Ucap Daniel lelah. Ia juga sudah cukup lelah menghadapi segala keanehan Lea. Kakaknya ini mendadak menjadi ceria dan mengatakan dirinya hamil seolah itu bukan masalah besar.


" tunggu, apa?"


" kabar yang gak mau kakak denger, iya , aku hamil." Ucap Lea dengan tenang. Leksa menatap heran Lea. Gadis ini bukanlah perempuan santai yang kalau hamil karena kecelakaan akan bersikap tenang dan santai seperti ini.


Pria itu mendekati Lea, dan bahkan merengkuh bahu gadis itu, " Lo kenapa?"


" apanya yang kenapa?" kerutan dikening Lea bahkan terlihat aneh Dimata Leksa. Lea tak pernah memandangnya dengan aneh seperti ini. Daniel pun merasakan hal yang sama. beberapa bulan tinggal bersama, dan bahkan ia juga sudah sangat mengenal kakak yang mengurusnya sejak kecil itu. Lea bukan orang yang akan dengan sangat ceria mengabarkan hal yang mungkin terdengar jahat, Tapi memang bukan kabar yang diharapkan untuk didengar.


Leksa mengeratkan cengkramannya dibahu Lea. " Jangan bodohin diri sendiri, Ya.. Lo pasti gak seneng kan? Lo pasti kebingungan dengan semua ini?"


Lea tertawa kecil sambil menggeleng kepalanya. " Kak, Kata dokternya, aku gak boleh stress... Yaudah aku happy happy aja. emang salah kalo aku hap--"


" Happy itu dengan tulus, Ya... bukan dipaksain kayak gini... Lo kayak boneka yang lagi bersandiwara...


Kalo Lo kayak gini terus Lo bisa stress beneran..." Nada lelah Leksa benar-benar terdengar jelas disetiap kata yang keluar dari mulut pria itu. Lea menunduk, Dirinya merasa ada yang salah saat ini.


kenapa Leksa terlihat frustasi saat melihatnya tersenyum bahagia. " Sebenernya kalian maunya apa sih? Kalian semua bilang kalian ada buat Lea, Lea cukup bahagia 'kan?! terus kenapa kalian malah keliatan frustasi saat Lea bahagia!!!" Teriakan Lea membuat Leksa dan Daniel terdiam.


" Ya.. Lo te--"


" Aku.. cuma gak mau bikin semua kerepotan... Aku gak mau jadi beban... kalo aku bahagian kalian tenang 'kan?"


sejujurnya, Leksa paling pantang menyakiti perempuan terutama secara fisik. tapi Ke kali ini benar-benar harus dihantam biar sadar. Pria itu membentur keningnya ke kening Lea dan berhasil membuat gadis itu menjerit kesakitan. Daniel bahkan melongo sampai tak sadar buah jeruk yang ia kupas tadi jatuh ke lantai.

__ADS_1


" Sakit Kak Leksa!!"


Leksa mendengarnya kini mendengus. " Sakit? kita semua yang disekitar Lo juga sakit kalo Lo gak bahagia Ya! Gaya, bahagia bukan keharusan tapi itu hak yang bisa Lo miliki. Lo sendiri paham itu kan? kalo Lo kesel marah-marah aja! kalo benci ya benci aja! kalo anak Lo ngences, gue yang elapin. tenang aja!" Ucap pria itu tegas.


Mendengar kalimat itu membuat Lea mengangguk lemah sambil menahan tangis. " Jangan bersikap konyol Ya... malu sama janin Lo. dia aja bisa bertahan sampe ketahuan sama dokter dengan segala depresi yang Lo alamin kemarin-kemarin.. masa Lo gak bisa bertahan buat dia?"


Air matanya tak bisa terbendung lagi. Tak ada tempat dimatanya untuk menampung luapan air mata itu. Ya, kenapa ia tak bisa bertahan untuk si kecil tak bersalah ini? Si kecil ini sudah sangat hebat bertahan dengan segala kesedihan yang Lea rasakan beberapa bulan belakangan, itu artinya ia harus bisa bertahan, bersama si kecil ini.


" Tapi... Gimana kalau si kecil ini gak diterima ayahnya? gimana kalau Kak Asa gak terima dan nyuruh aku gugurin anak ini? di-dia gak bersalah... Kamu gak bersalah..." Ucap Lea bersama tangisnya sambil mengusap perutnya yang masih rata. Leksa dan Daniel tak berkutik. ini bersangkutan dengan Asa, Mereka tak bisa berkata apapun yang mengandung harapan jika semuanya belum pasti.


" Kak Asa... 'kan belum tahu. Kalau dia gak terima, urusan gugur-menggugurkan itu pilihan Mbak. Karena yang mengandung dan membawa segala rasa sakit bersama janin itu, cuma Mbak, Kak Asa gak ada andil apapun selain dalam proses pembu-- ya mbak tau maksud Daniel 'kan?"


Leksa mengangguk setuju. Jika Asa menolak, ia akan meninju pria itu sampai gegar otak. mungkin saja ia akan sembuh dari amnesianya dan kembali dengan Lea.


" Atau Lo mau gue tabrak Asa? biar dia gak amnesia lagi gitu? atau gue lempar dia dari pesawat biar terdampar lagi?" tawaran Leksa membuat Lea dan Daniel menatap horor pria itu.


" jangan gila, kak. itu kriminal." Ujar Daniel sambil menggeleng kepalanya tak habis pikir.


...****************...


Kabar Lea hamil hanya menyebar di keluarga kecil Agraham, Leksa dan Daniel saja. Sisanya seperti Dion, Agus dan kawan-kawan , Farhan apalagi Asa, tidak ada yang tahu menahu akan hal itu.


Apalagi Lea tak lagi menempati apartemennya dan Daniel dan menetap di villa milik Agraham di luar kota untuk sementara waktu.


Mana mungkin Lea bisa membantah? Sekian Lama terpisah, tentu saja yang sangat ingin Lea lakukan adalah menurut kepada Orang tuanya.


Beginilah jadinya. Lea tengah sibuk memupuk Tanah didalam pot dimana tengah-tengahnya ada batang pohon yang Lea baru saja cabut akarnya dan Lea pindahkan ke pot itu.


Lea tak percaya Bogor bisa sesejuk dan semenyenangkan ini. Lea juga tak jarang berkeliling ke tugu berbentuk batok kelapa dimalam hari, hanya untuk melihat keramaian jalan Kota Bogor.


intinya, selama seminggu pertama ia tinggal di Bogor, Lea benar-benar hanya melakukan hal-hal yang dilakukan turis saat berlibur di negara orang. Kini Lea menyibukkan dirinya dengan acara menanam tanaman. Gadis itu sesekali memesan tanaman Kaktus untuk di letakkan di dalam ruang tengah yang menaikkan moodnya belakangan ini.


Anna dan Agraham setiap akhir Minggu menemani Lea sedangkan Senin sampai Jumat Gemada yang menetap di Villa itu. Pria sibuk itu membawa semua pekerjaannya pulang setiap pukul 3 sore agar blsa sampai di Villa Bogor itu sebelum petang.


Tentu Saja Lea tak tahu Kakak kandungnya itu kerepotan seperti ini, Gemada berbohong dengan dusta bahwa Kantor cabangnya di Bogor sedang ada urusan penting yang tak bisa Gemada tinggal secara kebetulan.


Kebetulan yang dibuat-buat lebih tepatnya.


Tapi Lea cukup senang dengan keberadaan Gemada disampingnya. Kakaknya itu sangat perhatian dan Lembut. Terutama Saat Mood Lea mudah berubah dan Mual Pagi Lea yang belakangan ini lebih sering terjadi dibanding sebelumnya.

__ADS_1


Walau begitu, Lea masih merasa ada yang kurang.


Asa


" kak.."


Gemada menoleh dan mendekati Lea yang berjongkok didepan pot tanaman, " Kenapa?"


" Apa aku gak serakah kalau masih ngarepin Kak Asa?"


Gemada terdiam sejenak. selama seminggu yang lalu, Gemada sangat lega Lea tak membicarakan atau terlihat memikirkan hal-hal menyebalkan dan rumit seperti perusahaan Asa, Asa, dan hubungan Lea dengan pria sialan.


Tapi Gemada sendiri lupa bahwa perasaan Lea kepada Asa bukan hanya sekedar Suka. Adiknya itu mencintai pria bejat yang mengotori adiknya ini. Jika saja bukan Lea yang bertanya, mungkin Gemada akan membanting pot yang dipegangnya ini hingga pecah tak berbentuk.


Pria itu sekarang hanya bisa mengepal tangannya kuat, menahan gejolak Emosi dan cemburu karena adiknya memikirkan pria bodoh nan tolol itu sampai segininya. " Apapun mau kamu, itu bukan dosa ataupun serakah. bagi kakak, Kamu itu mutlak, Ya.." Ucap Gemada sambil mengusap tangan Lea dengan lembut. Berharap kalimatnya dapat memicu senyum manis Lea.


Dan ternyata berhasil! Gemada menghela nafasnya lega. Setidaknya, yang membuat Lea tersenyum seperti sekarang adalah dirinya, dan yang membuat adiknya murung adalah Asa. Siapapun tau siapa yang layak disamping adiknya.


hanya pria yang bisa membuat adiknya tersenyum dan bahagia seperti ini yang berhak bersama adiknya. Bukan yang membuat adiknya menangis dan murung seperti Asa sialan itu.


Bersambung....


...****************...


pagi, Siang, Sore, Malam, dini hari, kapan pun kalian baca ini,


MAAF BANGET YA LAMA UPnya😭


gue gak akan membela diri dan mengatakan sibuk praktik dll. Karena emang gue sendiri belom nabung part ceritanya. Jadi mohon maaf bgt kalian jadi nunggu selama ini🙏


Sekaligus hamba ini mengabarkan Kalo gue bakal puasa nulis dulu beberapa Minggu. Karena Minggu depan gue bakal Mulai Praktik Klinik di Rumah Sakit,🤭


Jadi akan sulit bat buat nulis lanjutan My Sugar Brother. Sebenernya udah mau kelar sih, tinggal 2-3 part lagi buat tamat.


ET TAPI TENANG AJA GUYS, UDAH NYIAPIN SEQUELNYA HEHEHE


bulan Mei terbit nya. Jadi sampe April Minggu depan mungkin Ceritanya Lea&Asa udah selesai. Kalo bulan April pertengahan tiba-tiba ada notif dari lapak ini, Berarti kalian beruntung karena saya ada waktu luang buat bikin part bonus cerita Lea&Asa ini.


Mohon do'anya buat dinas ya, soalnya takut bgt nyelakain pasiennya😣 Disini gue juga doain para pembaca untuk sehat selalu, dan semua yang kalian lagi kerjakan dan lakukan bisa berjalan dengan lancar dan yang lagi ada hambatan bisa menemukan solusi dan petunjuk jalan keluar masalahnya.

__ADS_1


Semangat ya semuanya, Love you All😘


salam sayang dari istrinya Kyungsoo, Malleeka 💋


__ADS_2