
Asa, Juan dan Rafa sejak 2 jam yang lalu tidak lepas dari kendaraan masing-masing. Asa dan Juan dengan mobil mereka , Dan Rafa dengan motornya. Ketiganya Sibuk mencari Lea yang masih belum pulang. Bukan, mungkin lebih tepatnya hilang.
Asa tahu bahwa Lea kemungkinan hanya bertamu lebih lama di rumah teman kakek gadis itu, dan berkat bantuan bawahannya, ia bisa melacak ponsel Lea dan mengetahui rumah teman kakek Lea.
Tapi pernyataan pria lansia itu yang juga terlihat bingung membuat Asa yang menjemput Lea seorang diri langsung pucat. Bahkan Pria itu tak mampu menjawab pertanyaan Satrio, kakek Lea, karena terlalu panik.
Hingga akhirnya Asa menghubungi rumahnya dan meminta beberapa orang membantunya mencari Lea, dimana Juan dan Rafa ikut membantu Asa mencari keluar, dan sisanya di rumah untuk antisipasi jika saja Lea pulang ke rumah.
Tapi dua jam mencari dibawah sinar senja yang semakin oranye dengan langit diatasnya semakin gelap belum memberikan jejak gadis itu sedikitpun. Apalagi Ponsel Lea tidak aktif bahkan sebelum gadis itu keluar dari kompleks perumahan teman Kakek Lea.
Asa mempertemukan keningnya dengan keras kepada stir mobilnya berkali-kali. Ia merasa gagal menjaga Lea, sama seperti saat Albara pergi meninggalkannya. Pria itu tak pernah lupa merapalkan do'a untuk Lea setiap harinya, Begitupun untuk Albara yang di surga. Yang ia harapkan hanya kebahagiaan Lea saat ini, namun mengapa ada saja yang menggagalkan keinginannya.
" Lea... kamu dimana???"
DOK DOK
Pria itu menoleh dan menatap jendela mobilnya, Ada Rafa yang wajahnya masih terlihat khawatir, " Kenapa?"
" Kita pulang dulu deh Bang, Atau Engga kita shalat dulu di masjid Deket sini, Lu juga harus nenangin pikiran dul--"
Asa menarik kerah baju Rafa dan emnatap tajam pria itu. " LEA ILANG!! LO KIRA KITA BISA NEMUIN DIA KALO KITA BERENTI KAYAK GINI??"
Rafa melepas tangan Asa dari kerahnya, Ia sendiri sudah tersulut emosi sejak tadi. Lea belum ditemukan, Asa yang frustasi, dan dia yang kena omel. Ia juga khawatir, tapi Rafa sadar, membalas emosi Asa tidak akan membuat Lea ditemukan.
" Bang, frustasi dan gegabah gak bakal bikin Lea ketemu. Lo tenangkan pikiran dulu. Kali aja kita kepikiran suatu petunjuk. Semua juga mau Lea ketemu. Ok?" bujuk pria itu dengan tenang.
Melihat Asa berwajah pucat dan sedikit berkwringat membuat Rafa kembali menghela nafas. Lea begitu hebat. Hanya dengan menghilang selama 3 jam, Gadis itu berhasil membuat Asa yang dikenal bagai gunung Es Kutub langsung meleleh menjadi air yang tak berdaya.
Disamping mereka yang tengah memilih untuk rehat dan mendinginkan pikiran sejenak, seisi rumah itu tengah tegang sambil menunggu kabar.
" Gimana kabarnya?"
" belum nyampe, katanya masih dijalan. Ini gimana Si ceweknya?? Gue ngeri dia ngelaporin kita!" Ujar Gayuh panik. Kedua temannya pergi menjemput teman mereka yang mungkin bisa membantu mereka, sedangkan dirinya dan Raka duduk diruang makan sambil menatap cemas ke lantai atas rumah Gayuh, dimana ada sebuah ruang gudang yang mereka gunakan untuk menyembunyikan tubuh Lea.
Raka memijit pelipisnya. " Kalo aja Lo gak minum Vodca setengah botol tadi, Lo gak bakal nabrak dia dan kita gak perlu panik kayak gini... gue udah bilang gue yang nyetir karena Lo semua mabok, tapi Lo kek orang bego gak ngedengerin.." Ucapan menyudutkan intu membuat Gayuh makin sulit memikirkan solusi. Ia semakin panik saat Raka justru tak memberikannya solusi seperti sebelumnya .
Gayuh terpikirkan sebuah cara. " Gimana kalo kita buka dikit bajunya, terus kita foto abis itu nanti kalo dia sadar, kita ancam bakal kita sebarin! gimana? Atau ... kita 'pake' beneran aja daripada nanggung." Ucap pria itu dengan wajah sedikit cerah, seolah telah menemukan lampu jalan di tempat yang gelap. Berbanding terbalik dengan Raka yang menatapnya tajam dengan rahang mengeras.
pria berusia 23 tahun dimana ia tengah di tahun terakhir masa pendidikan sarjananya itu menarik kerah baju Gayuh. " CUKUP GAY!! UDAH CUKUP!!!" teriak Raka emosi.
Ia tak habis pikir dengan otak brengsek temannya itu. Bagaimana bisa ia berpikir melecehkan korban tak bersalah itu untuk melepaskannya dari tanggung jawab atas kesalahannya.
" Kita tadi bisa aja bawa dia ke rumah sakit kalo aja Lo gak naro dia dibagasi belakang, dan malah kesini, ke rumah lama Lo!!" ucap pria itu keras.
__ADS_1
Mereka tak tahu, di tempat yang sejak tadi membuat mereka panik dan ketakutan, Lea sudah sadar dan mendengarkan semua perkataan mereka. Lea bersyukur bahwa hanya tangannya saja yang diikat, sehingga ia mampu berdiri walau sedikit sulit karena Kakinya terluka dan sedikit terkilir.
Lea sejak tadi mendengarkan sambil berusaha memasang tas selempangnya dari bawah kakinya hingga akhirnya bisa tersampir dibahunya. Melihat tasnya, Lea jadi teringat Chatime yang ia beli, pasti pecah dijalan tadi. Lea merengutkan keningnya. ada sesuatu yang lengket tapi sedikit kering diseluruh kening bahkan pipinya. Ia mengusap keningnya dengan lengannya,
darah! batinnya berseru. Lea berpikir, ini pasti sudah masuk waktu malam, mungkin baru melewati petang, dan baru gelap, namun semua itu hanya tebakan. Lea tak yakin. Tapi sepertinya Ia sudah berdarah cukup lama hingga bisa membuat cetakan keningnya di lengan bajunya ini.
Apa yang menabraknya tidak memberikan perawatan kecil? setidaknya mengikat keningnya untuk menghentikan perdarahan sementara. Dasar penabrak biadab! rutuk Lea kesal.
Gadis itu menatap sekitarnya. pintunya pasti dikunci, dan jika ia memberikan suara sedikit apapun, mereka pasti akan membukanya 'kan? tapi jaminan ia bisa kabur akan sangat minim. Lea juga tak bisa melawan dua pria sekaligus terutama saat tangannya terikat dan mulutnya dilakban.
walau pusing menguasai kepalanya, Gadis itu masih berusaha untuk tetap sadar dan memperhatikan sekitarnya. Matanya berhenti pada satu titik. Setitik harapan untuknya bisa keluar dari sini sebelum si gila yang menabraknya itu melecehkannya.
Jendela.
***
Jarum jam menunjuk pukul 8 malam, dan Asa masih tak bisa kemana-mana selain berada didalam mobilnya. Ia tak tahu harus mencari Lea kemana lagi. Rasa panik semakin mengendalikan dirinya saat Ia dan Rafa juga Juan menyadari ada bekas darah di aspal sekitar jalan komplek tadi.
" kita lapor polisi aja?* tanya Rafa meminta pendapat. Juan menggeleng kepalanya. " daripada polisi, mending kita cari ke rumah sakit deket sini. Mungkin Lea beneran ketabrak dan dibawa ke rumah sakit. Iya gak sih?" ujar Juan. Rafa mengangguk, tapi ia masih kurang yakin.
" lapor polisinya? kalo diurus polisi 'kan bisa lebih cepet ketauan siapa yang nabrak atau ini bisa jadi laporan orang hilang."
Juan memijit pelipisnya. " terus Lo mau bilang kita punya hubungan apa sama Lea? kakak-kakaknya? lagian kasus orang hilang itu baru bisa dimulai kalo udah ilang tanpa kabar lewat dari 2 hari semenjak hilang."
Sama sepertinya, Lea pun diburu waktu. semakin lama ia melangkah dengan kaki pincangnya, semakin kecil kemungkinannya untuk selamat. Selagi para pria itu tidak mengetahui bahwa yang jatuh dari lantai dua tadi, Mungkin ia bisa sampai di suatu tempat umum yang dilalui banyak orang.
Namun, sejak tadi yang Le lihat hanya pohon, rumah-rumah yang mayoritas kosong dan jalan yang sepi. Lea tidak mengenali daerah ini, Dan tangannya masih terikat, pun mulutnya masih tertutup lakban.
Lea sudah menyalakan ponselnya berkat kaki yang sangat terampil ini, tapi karena hal itu juga Lea harus berjalan di aspal dengan kaki telanjang berserta cedera terkilirnya yang menghambat gadis itu untuk bisa berlari.
perumahan ini begitu sepi, bahkan suara kucing terdengar begitu besar saking sepinya. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya Lea diculik karena menjadi korban kecelakaan. Apakah dunia berevolusi menjadi aneh seperti ini?
Sayang sekali Lea tak bisa menghubungi Asa karena tangannya tak bisa menggapai ponselnya untuk bisa membuka keamanan fingerprint.
Sakit kepala dan nyeri pada kakinya membuat Lea merasakan air keluar dari matanya. Lea berusaha menguatkan dirinya, Ia tak bisa menangis sekarang, karena nanti langkahnya akan melambat dan energinya akan terbuang sia-sia jika ia menangis sekarang.
matanya lagi-lagi dengan jeli melihat sesuatu yang disebut harapan. Lea dapat melihat sebuah pos satpam komplek ini. sepertinya hanya muat 2-3 orang, tapi Lea berharap lampu pos yang menyala itu memang karena ada satpam disana.
Ia mempercepat langkahnya, jaraknya mungkin masih 1 km meter dari pos satpam, dan sial sekali karena langkah kaki berlari dibelakangnya semakin terdengar. Jantungnya berdetak tak karuan, Lea merasa panik. Selama berjalan cepat Gadis itu sudah menjilat lambannya agar tidak lagi melekat. Puji Tuhan karena kali ini lakban itu bisa dilepas.
Tapi sebuah tangan tangan yang meraihnya membuat Lea semakin panik hingga jatuh. " TOLONGG!! PAK TOLONG!!!" Tidak hanya Lea tapi orang yang menangkapnya pun terkejut dengan volume suaranya yang sangat besar hingga menit berikutnya, Satpam di pos itu keluar, juga beberapa rumah disekitar pos itu membuka pagar mereka dan keluar.
mereka membantu gadis itu melepas ikatan talinya dan membawanya ke pos satpam. seorang ibu paruh baya menatap iba Lea, dan suaminya pun sama ditambah tatapan cemas juga tak habis pikir. ," Ini gimana ceritanya ada penculikan di komplek kita ya pak?" tanya Agraham, Suami dari Wanita paruh baya yang sejak tadi menggenggam tangan Lea untuk memberi kenyamanan bagi gadis itu. Anna menoleh dan menatap satpam kompleknya Somat, ia setuju dengan ucapan suaminya, bagaimana bisa ada penculikan di kompleknya saat ada satpam disini?
__ADS_1
Somat menatap bingung semua orang di posnya ini. " Saya kurang tau pak. Nanti saya tanya di Pos gerbang ada yang masuk dengan mencurigakan. Sekarang kita nanya mbaknya ini dulu, dia kenapa bisa begini dan mau pulang kemana."
Anna menatap Lea yang masih berwajah pucat, apalagi dikening gadis itu, begitu banyak darah menempel disana. " kamu ketabrak ya?" tanya Anna. Lea mengangguk cepat. " sa-saya mau pulang.." ucap Lea terbata-bata dengan suara berbisik.
Apa suaranya habis karena teriakannya tadi? Lea tak percaya pita suaranya selemah ini.
Anna mengusap kepala gadis itu dengan lembut. " ke rumah sakit dulu ya? kamu harus diobatin." bujuk Anna lembut. Agraham mengangguk setuju, " Biar saya sama istri yang anter kamu ya?"
Lea menggeleng kepalanya, Jam ponselnya sudah menunjukkan pukul 10 malam. Lea tak bisa mengukur waktu untuk pulang lebih lama dari ini. " Saya... mau pulang.." bisik Lea lagi bersama tangisnya.
Ia hanya ingin pulang, bertemu Asa, memeluk Pria yang ia anggap kakaknya itu, merasa aman, di rumahnya, di Rumah Asa berserta orang-orang didalamnya.
Anna dan Agraham menghela nafas mereka. para tetangganya sudah pulang karena mereka merasa Agraham dan Anna mampu menyelesaikan masalah seperti ini bersama satpam. Agraham berbalik dan masuk ke dalam rumahnya.
" Nama kamu siapa sayang?" tanya Anna. Lea mendongak kecil, " Le-lea.." ujar gadis itu. Anna mengangguk dan tersenyum lembut keibuan. Ia mengusap punggung tangan Lea dan berkata, " Dianter sama Tante dan suami Tante ya? kamu cukup bilang tinggal dimana, nanti kami anter kamu langsung kesana, tapi janji kalau udah pulang kamu harus ke rumah sakit. Ada nomor yang bisa kamu hubungi?"
Lea membelalakan matanya, teringat akan Asa yang pasti khawatir padanya. Ia membuka ponselnya dan menghubungi pria itu.
" Lea? Lea! kamu dimana sekarang? biar kakak jemput."
mendengar suara khawatir itu membuat air mata yang sejak tadi ia tahan melarut turun ke pipinya. " aku... gak tau..." ucapnya seraknya. Anna menghela nafasnya melihat tangis pilu gadis itu. Anna mengerti bahwa Lea pasti ketakutan dan sekarang hanya ingin bertemu dengan keluarganya.
Anna meminta izin Lea untuk berbicara dengan Asa, " Maaf, Kakaknya Lea, Lea ada di komplek rumah saya, Komplek Puri botanical. Saya akan antar ke rumah kamu, rumah kamu dimana? sepertinya Suara Lea habis jadi sulit untuk bicara." Ucap wanita itu.
klakson mobil Agraham membuat Lea dan Anna menoleh, dan akhirnya memutuskan untuk masuk dulu ke dalam mobil.
Selama perjalanan ke alamat Lea , Agraham dan Anna tidak ada yang membicarakan tentang masalah gadis itu ataupun penyebabnya. Sayangnya, mereka hanya bisa mengantar Lea sampai di gerbang komplek itu karena portalnya sudah ditutup.
Anna awalnya enggan membiarkan Lea berjalan sendiri di komplek itu, Tapi karena ia sudah memasukkan nomornya ke dalam ponsel Lea, ia akhirnya harus membiarkan gadis itu.
Lea sendiri masih takut untuk berjalan sendiri. Bagaimana kalau para pria brengsek itu mengikuti mobil Anna dan Agraham? lalu mereka masuk lewat portal lainnya? menculiknya? Lea kembali melangkah mundur kepada Anna dan Agraham yang masih berdiri dibelakang portal pembatas.
ia menghubungi Asa, berharap pria itu bisa menjemputnya. Tentu Asa langsung mengambil mobilnya dan pergi dengan kecepatan tinggi walau gerbang komplek dengan rumahnya hanya berjarak tidak lebih dari 2 KM.
Saat melihat atensi Lea yang tidak jauh, Asa langsung keluar dan berlari menghampirinya. Lea pun ikut menghampiri Asa denhan langkah lambatnya. Tapi Langkah Asa melambat dengan wajah cerah yang berubah menjadi pucat nan pias, Keadaan Lea jauh dari harapannya.
Namun Lea tetap menghampirinya dengan senyuman. " Kak... aku baik-baik aja..." ucap gadis itu setengah berbisik, yang semakin membuat Asa merasa tak berguna.
saat keduanya bertemu, Asa tak berani menatap Lea. rasa bersalah menghantuinya dan menyorakinya sebagai pria tidak becus. " Ka..." Barulah Asa menatap wajah Lea saat gadis itu nyaris jatuh didepannya jika saja ia tidak sigap menangkapnya.
" Lea? Lea!!"
Bersambung....
__ADS_1