My Sugar Brother

My Sugar Brother
24. Geardion Abid Siara Asmoko


__ADS_3

Lea menatap kalender yang ia pajang di dapur rumah. Sudah sebulan lebih Asa pergi ke Aussie tanpa pamit padanya, dan Samapi sekarang belum pulang.


Lea merasa kesepian? tentu saja.


biasanya Asa yang dijadikan kelinci percobaannya. dan Kini Ia harus menyeret Rafa atau Sehan. sebenarnya tidak perlu menyeret karena kedua memang suka makanan gratis.


Sebulan itu pula Farhan selalu menyempatkan dirinya mendampingi Lea. Gadis itu juga tahu diri sehingga ia sebisa mungkin hanya memanggil Farhan untuk mengantar jemput. Untuk menemani ataupun menjaganya diluar ataupun didalam rumah, Lea sering meminta Rafa atau Dion.


Dion? kok bisa?


Entah karena pria itu menyarankan Lea ke psikolog, atau karena Dion bisa menjelaskan semua keinginan tahu Lea tentang bisnis yang sekarang ini memang ia gemari, Keduanya menjadi teman akrab. walau usia Pria itu nyari sama dengan Asa, hanya berbeda dua tahun, Lea sendiri tak merasa canggung. Mungkin karena Sikap Dion kepadanya cukup wajar. Pria itu juga cukup kasar, kadang memukul kepalanya jika ia melakukan kesalahan. Sehingga rasa tenggang pada Dion langsung lenyap di diri Lea.


Dan Pria itu akan melakukan upacara kelulusannya dalam mengambil Gelar MBA, dan Lea sendiri diundang untuk hadir sebagai teman. Walau Lea tidak begitu berniat untuk hadir, Lea tetap bersiap dengan pakaian adat kebaya dan bawahan batik seperti yang Dion ingatkan kepadanya.


Tentu Lea pergi ke lokasi di antar Farhan, dan bahkan benar benar sampai di Lobby gedung acara karena Farhan Takut Lea tersesat atau kena celaka. Yah, Lea mengakui bahwa ia memang penuh dengan segala kebalaan dunia, sehingga tidak heran jika orang sekitarnya khawatir ia akan tertabrak atau kepalanya bocor karena tersandung bawahan batiknya sendiri.


Gadis itu menatap sekitar, mencari Dion yang berkata pria itu akan menunggu di depan lobby.


" Gayatri!"


Lea menoleh sambil mengerutkan keningnya. Hei, siapa yang memanggil nama tengahnya?



Lea mengerutkan keningnya lebih dalam. Dia tidak salah kostum 'kan? Dion kemarin mengatakan ia harus pakai kebaya dan bawahan batik seperti perayaan hari Kartini saat SMA. ini kenapa pria ini menggunakan tuxedo?


" ini kostumnya gak salah 'kan?"


" engga."


" terus ini kenapa pake tuxedo?"


" emang tuxedo kenapa?"


Ck. Lea berdecak kesal. Orang ini sok misterius, menyebalkan sekali. " aku duduk dimana?"


" samping Mama."


" heee??" Lea menatap horor Dion yang tersenyum manis sambil mengatakan hal absurd itu. " Mama? Mama siapa?"


Dion tertawa kecil sambil menunjuk seorang wanita cantik dengan kebayanya yang sederhana. " Bercanda. samping Mama ada temen saya, namanya Chandra, kamu duduk di samping dia."


Lea mengangguk. Ia Dapat melihat Seorang pria jangkung mungkin setinggi Giyatsa, tengah tersenyum kepadanya. " temennya tinggi, kok Kak Dion enggak ya?"

__ADS_1


Dion mendengus mendengar sindiran Lea kepadanya. mungkin gadis itu orang pertama yang mengatakan hal seperti itu seenak jidat didepan wajahnya.


" ati-ati.. dia tukang modus."


Lea mengerutkan keningnya sambil menatap aneh Dion. " berguru Ama situ kali." sindir Lea sebelum berlari kecil saat mengetahui Dion menatapnya datar. Lea takut Dion menghancurkan tatanan rambutnya sudah susah payah ia pelajari semalam.


Gadis itu tersenyum canggung kepada Pria tinggi bertelinga caplang. Wajahnya agak tegas ya, jadi orang suka salah sangka mengira pria itu tengah emosi jiwa. " Permisi, Kak Chandra ya? temennya kak Dion?"


Chandra tersenyum manis sambil mengangguk. " Chandra, kemarin Dion bilang gue aja yang Duduk disamping ibunya dan larang temen-temen lainnya untuk ikut duduk, karena bangkunya cuma 4. ternyata buat lo yang satu lagi."


Lea tersenyum canggung. Ia kira Dion punya teman sedikit, dilihat dari tingkah dan kelakuan pria itu, ternyata Dion sampai melarang temannya duduk di bangkunya. Kalau Lea tak datang, bangkunya mau diapakan? dibiarkan kosong?


" soalnya ada temen yang kayak buaya tukang modus." Lea tertawa kecil. Apa semua teman Dion tukang modus? karena Chandra juga dibilang tukang modus oleh Dion.


" kak Chandra temen kuliah?" tanya Lea. sejak tadi ia penasaran. mungkin saja pria ini lebih tua dari Dion'kan?


" ah, gue adek tingkatnya Dion. Tapi ya gitu, suka dikira lebih tua karena Dion kuntet banget."


Lea tertawa, tak habis pikir bahwa ia akan mendengar orang lain menghina Dion sejujur ini. Bahkan saat Dion berdiri didepan, menyampaikan kata-kata terimakasih dan sebagainya, gadis itu tak bisa berhenti menahan tawa karena Chandra tak henti-hentinya menceritakan hal-hal buruk tentang Dion.


Dion bahkan sempat menatap tajam Mereka berdua sebelum turun dari podium dan kembali duduk.


Upacara selesai tak begitu lama. karena Mahasiswa gelar MBA-nya pun tidak begitu banyak.


Apakah Asa juga mengalami hal ini? atau justru pria itu melakukan foto sendirian? atau bersama teman-temannya saja, tanpa kedua orang tuanya?


mungkin kah Asa merindukan Bara dan berharap Adiknya itu ada disampingnya saat tengah merayakan kelulusan gelarnya seperti Dion?


Lea merindukan Asa. Gadis itu mengakuinya. Lea menyayangi Asa, Gadis itu tak akan ragu untuk mengatakannya. Tapi Asa belum pernah pulang, ataupun mengabarinya.


Lea meragu, dan berharap bahwa Asa disana tertahan akan urusan bisnis dan bukan karena telah nyaman dengan wanita pilihan Mami Asa. Walau terlihat menyebalkan dan minta dihujat, Lea berharap Asa pulang sendirian, dengan senyuman pria itu dan mengatakan bahwa Ia hanya bisa memikirkan Lea.


Gadis itu menatap sekitar untuk mengalihkan pikiran sendunya. Dan tatapannya berhenti melihat seorang pria dengan bibir tebalnya tengah tersenyum. Ia bahkan tanpa sadar menghampiri pria itu, " Kak Jimmy?"



Jimmy menoleh dan tersenyum manis walau kemudian menatap heran Lea. " kamu kesini sama siapa, Lea?"


" hm.. tadi di anter Mas Farhan. aku kesini buat temen. Kak Jimmy?"


" lah, si bang Giyat lagi lulus-lulusan ini.. tuh orangnya lagi duduk cantik, sok kegantengan." Ucap Jimmy sambil menunjuk Giyatsa yang ia maksud.


__ADS_1


Lea membulatkan mulutnya sambil mengangguk paham. " kak Jimmy aja? Kak Agus sama yang lain?"


" Pada Gak bisa... si Juan lagi ada business trip, Agus ada meeting penting tadi, tapi katanya sih bakal nyusul, Julian lagi ke toilet barusan. emang kenapa?"


" engga... aku mau tanya kabar aja, hehehe.." Walau Lea tak berbohong bahwa ia memang ingin menanyakan kabar, kabar Asa yang mungkin saja menghubungi kelima sahabatnya.


Jimmy menatap lembut Lea. " kalo kamu baik-baik aja, berarti Asa udah balik kan? si Agus berarti panikan."


" panikan?"


" iya... waktu 4 hari setelah Asa berangkat Aussie, dia ngabarin bakal pulang dan udah check in. katanya dia bener bener tinggal naik pesawat aja. abis itu gak ada waktu dua- tiga jam, ada laporan pesawat hilang. Kita semua ngira Asa salah satu penumpang pesawat itu. karena tujuannya dari Aussie ke Jakarta.


apalagi seminggu setelah berita, Badan pesawatnya ketemu, tapi banyak puing yang ilang dan gak ada korban selam-- Ya?" Ucapan Jimmy terhenti melihat wajah pucat Lea.


Gadis itu menatap linglung sekitarnya, bahkan panggilan Jimmy tak terdengar. Lea mencari Dion, dan berhasil menemuka pria itu tengah berjalan kearahnya. " Ayo Foto. temen saya udah nunggu."


Lea benar-benar kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa tersenyum canggung sebelum akhirnya Dion meremat bahunya. "Lea, kamu kenapa?"


" Ka-kak Asa... Ka-kak.. aku.."


" apa? kakak kamu kenapa?"


Lea melepas rengkuhan dibahunya dan berlari menerobos kerumunan yang ada. Ia Tak bisa menahan air matanya. Lea harus bertemu Farhan atau Agus untuk mencari jawaban.


Perih di kakinya karena wedges yang menyiksa itu tak ia hiraukan. Apa tadi, Kecelakaan pesawat? kenapa ia tak tahu? dan itu sudah ada beberapa Minggu yang lalu..


Lea tak sengaja menabrak seseorang, namun ia terkejut saat lengannya ditahan, Ia menoleh, menatap pria yang menahannya itu dengan pandangan kalut dan putus Asa.


" Lea, kamu mau kenapa lari begitu?"


suara datar yang sejak tadi ia pikirkan kini terdengar, Lea Mennggenggam tangan Agus, " Kak, yang Kak Jimmy bilang bohong 'kan? Kak Asa gak ada didalam pesawat itu 'kan? Kak Asa masih di Aussie 'kan??" Pertanyaan diiringi nada memohon, seolah meminta Agus untuk menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sesuai harapannya.


Agus menunduk. Ia berharap dan sepakat dengan Farhan Agar Lea tak mendengar berita ini sampai ada kepastian dari informasi yang mereka kumpulkan.


Namun, sayangnya, Gelengan yang ia lakukan membuat Lea terduduk dilantai sambil menangis keras, seolah sesuatu yang gadis itu sayangin dengan sangat, tengah direbut paksa dan ia tak terima akan kehilangan yang tidak adil ini.


Agus memeluk erat Lea, berharap, walau tak sama dengan pelukan Asa, Lea bisa merasa sedikit tenang atau terjaga. " Lo gak sendiri." hanya itu yang bisa Agus katakan kepada Lea yang menangis meraung-raung saat semua orang di gedung itu hanya menangis haru dan tertawa bahagia atas pencapaian keluarga dan teman mereka.


Lea berduka disaat dia seharusnya merasa senang karena Temannya, Dion berhasil mendapat gelar MBA dan ternyata Giyatsa juga sama,


dan ternyata hal itu tertangkap oleh Dion yang sejak awal mengejarnya untuk memastikan gadis itu pulang dengan selamat.


Dion tak pernah merasa sebodoh dan tak berguna seperti ini. Melihat Lea menangis seputus asa itu mengingatkannya akan seseorang, Dan Dion berharap, ia bisa membuat Lea menjadi lebih baik.

__ADS_1


Tapi untuk sekarang, apa yang bisa ia lakukan? ia tak tahu masalahnya, dan tak tahu Separah apa Sakit yang Lea rasakan saat ini. hanya punya niat, namun tekadnya belum kuat.


__ADS_2