My Sugar Brother

My Sugar Brother
38. Let Him go


__ADS_3

Lea menatap semua orang yang telah berkumpul untuk melakukan Rapat umum ini. Semua divisi, jajaran Direksi ataupun karyawan di Kantor ini telah berkumpul, bahkan beberapa perwakilan dari kantor cabang juga hadir.


" Saya disini, akan mengumumkan hal penting kepada kalian semua. Terlepas dari rumor ataupun scandal yang menyangkut diri saya, saya memohon maaf jika saya ada salah kata, perbuatan ataupun secara pribadi dengan kalian semua."


" Karena untuk kedepannya, yang memimpin kalian bukan saya lagi, melainkan Pak Asa Aldebara kembali. jadi Saya mengumumkan pengunduran diri saya, Terimakasih banyak atas kerja keras kalian juga kesediaan kalian untuk di pimpin oleh saya yang tidak berpengalaman.


Pak Asa, silahkan masuk."


Geraian masuk dengan wajah datarnya. Ia tak percaya gadis itu memaksanya dengan cara seperti ini. Leksa juga akan mendapat kemarahannya. Pria itu hanya berkata bahwa Ada rapat yang ayahnya tak bisa hadiri dan Geraia di minta hadir menggantikan.


Geraia tidak mengira dirinya akan dijebak dan harus mengenalkan dirinya sebagai Asa Aldebara. Lea tersenyum manis sebelum gadis itu memberikan senyumnya kepada semua orang yang hadir. " Pak Asa masih belom pulih total, jadi saya harap untuk pekerjaan kalian bisa mengaturnya mulai yang paling darurat baru yang minoritas. Rapatnya sudah selesai, Kalian bisa kembali bekerja. Untuk yang dari kantor cabang, kalian bisa mendapat cuti seharian ini, Terimakasih banyak." Gadis itu membungkuk hormat dan mendapat tepuk tangan meriah dari karyawan disana.


Tersisa Lea dan Asa disana, lebih tepatnya Geraia yang ternyata Asa. pria itu menatap tajam Lea, memberikan denyutan sakit dihati Lea. " Saya bukan Asa. Kamu udah gil--"


Lea mengambil beberapa map yang memiliki logo beberapa rumah sakit ternama, " semua mengatakan kalau Anda dengan Asa Aldebara , 99.98% orang yang sama.


Maaf, tapi mulai sekarang, Anda bukan lagi Jagad Geraia Toha, Anda adalah Asa Aldebara Mahardika. Anda CEO Nextdoor Group."


Geraia memijat keningnya lelah. " Terus kamu siapanya saya? Adik kandung saya? kenapa saya gak--"


" Aku..." Lea meneguk salivanya. tak menyangka pada percakapan pertamanya dengan Asa setelah sekian lama, Ia akan mengucapkan hal seperti ini. " Saya bukan siapa-siapa anda. cuma teman dekat sampai anda menitipkan perusahaan ke saya. Di ruangan anda, Ada sahabat dan Asisten pribadi Anda yang sudah lama menunggu anda. Saya permisi."


" Lea?" panggilan Geraia yang terdengar ragu sempat berhasil menahan langkah Lea. Namun gadis itu akhirnya tetap melanjutkan langkahnya dan keluar dari ruang rapat itu.


Lea tak mengerti, Ia tahu walau orang itu Asa, namun didalamnya, sudah bukan Asa yang ia kenal. Nama aslinya memang Asa Aldebara, namun didalamnya tetap Geraia Toha. Lea harus menerima kebodohannya di masa lalu.


Ia menolak pria yang mencintainya sepenuh hati, padahal Hatinya sudah setuju. Kebodohan itu dibayar dengan sakit seperti sekarang ini.


Tanpa sadar air matanya mengalir deras. Lea berjongkok di ujung lorong buntu, menangisi kebodohan dan pecahan hatinya yang sudah berserakan. " Apa yang Lo harapin? Dia pulang dan masih cinta sama Lo? Lo egois Lea... Lo udah gak berhak dapet cintanya... dia pergi karena Lo..... Lo harus lepasin dia.." Ucapan monolog itu justru semakin menyesakkan dadanya. Lea menepuk dadanya yang terasa begitu penuh, hingga ia terbatuk-batuk.


Ia tak mengira melepas Asa, melepas harapannya, dan melepas hal yang selama ini menjadi tujuannya akan semenyesakkan ini.

__ADS_1


" Ya.." Panggilan lembut itu membuat Lea mendongak.


Pria yang sering menemaninya walau sibuk itu kini berdiri, dengan senyum tipisnya yang meneduhkan. " Jangan jongkok, nanti badannya sakit." Ucap Dion lembut.


Lea berdiri, namun Gadis itu langsung masuk ke dalam pelukan Dion. Menangis kencang di Dada pria itu, membiarkan Dion mengusap punggung dan kepalanya dengan sangat lembut.


" Lo kehilangan dia, Jadi tangisin dia sekeras mungkin. Tapi Besok, Jangan lupa buat senyum. Ok?" ucap lembut pria itu.


...****************...


Awalnya Agus merasa tak percaya saat Lea menghubunginya tiga hari yang lalu, mengatakan Asa telah pulang. Tapi Agus justru lebih tak percaya jika Asa lupa ingatan apalagi melupakan Lea.


Seperti sekarang. Sejak tadi raut wajahnya terlihat terkejut setiap Geraia mengatakan bahwa Dirinya tak ingat siapapun.


" Han, Lea di mana?" tanya pria pendek itu. Farhan menunduk sebelum ia menggeleng kepalanya. Rasanya Farhan terlihat lesu. " Nona Lea sudah membereskan barang-barangnya dan pindah ke apartemen adiknya Mas." Ucap Farhan.


Agus dan Giyatsa menggeleng kepalanya. " Lo yakin gak kenal Kita-kita? Atau Bara? Lo inget adek Lo gak? si Bara? Albara..." Ucap Giyatsa tak sabar. Ia benar-benar gemas melihat Geraia bertampang polos seperti ini.


" Ini... kamar Adek Lo, Albara... dia mati disini juga. vLo gak inget??" Tanya pria itu frustasi.


Agus yang baru sampai hanya bisa memperhatikan Geraia yang masuk perlahan dan mengelilingi kamar itu. " Ada bau kopi."


" Adek Lo suka kopi. bahkan suka bikin kertas kopi. Lo juga suka bau kertasnya." Ujar Agus. Geraia menatap dalam pintu kamar mandi itu. Menatapnya lama entah kenapa membuat Kepala Geraia sakit begitu keras. Rasanya seperti dihantam batu besar.


"Sa?" panggil Agus. Giyatsa menghampiri Asa, dan justru mendapatkan tubuh Asa yang jatuh. "ANJIM, BERAT!"


...****************...


Daniel dan Leksa menatap lamat-lamat seseorang yang duduk dengan tenang di meja ruang tengah apartemen ini. Kepulangan Lea sudah cukup mengejutkan kedua pria yang tadi sedang sibuk merapihkan meja belajar Daniel yang mulai penuh dengan kebutuhan sekolahnya.


Sekarang mereka semakin bingung dengan Seorang pria yang tengah ikut makan Indomie Soto buatan Lea.

__ADS_1


" Tumben boleh makan mie, mbak."


" mbak lagi males masak hehehe... ngomong perlengkapan sekolah udah lengkap? sepatu udah? terus rute ke sekolahnya udah apal?"


" Udah mbak. semua udah, tapi E-money buat naik busnya bel--" ucapan Daniel terpotong karena Lea bangkit dari duduknya dan memasuki kamar gadis itu. Ia kembali sambil menyodorkan satu kartu putih bergambar bis kepada Daniel.


" Pake punya mbak aja. mbak ada dua kok. yang lain-lain udah ya? Besok kamu mulai masuk, mbak ikut anter aja, sekalian ketemu guru-guru mbak dulu." Daniel mengangguk sambil tersenyum kecil.


Lea menatap sejenak Dion yang masih lahap makan dengan sangat tenang. " Kak Dion besok ada meeting apa?" Tanya Lea tiba-tiba. Dion menelan makannya terlebih dahulu sebelum ia menatap langit-langit apartemen seolah tengah berpikir. " Gak ada."


" Yakin?"


" Kan udah keluar."


" EHH??" tak hanya Lea, tapi Leksa juga merasa terkejut. Setaunya Jabatan Dion cukup tinggi di kantor itu, seperti yang biasa diceritakan Lea. " kok?"


" salah satu perusahaan di Amerika nawarin saya lagi, dan tawaran lebih menguntungkan dibanding tawaran sebelumnya. Jadi Saya terima. Saya udah terima dari dua hari yang lalu. Setelah kamu ngasih kabar bahwa Asa udah ditemukan."


Mendengar penjelasan Dion membuat Lea merasa tak enak hati. Gadis itu menunduk, Karena dirinya yang tak kompeten, Ia membuat Orang seperti Dion harus menolak tawaran besar dan menetap bersamanya.


" Saya memang menerima tawaran untuk bekerja dibawah kamu karena alasan subjektif. Saya gak mau kamu kenapa-kenapa. Sama cuma mau kamu bahagia, Lea. Jadi setelah saya berangkat ke Amerika nanti, saya Harap kamu benar-benar bahagia, walau bukan dengan Asa." Ucap Dion lagi.


Lea menunduk sambil mengusap airmatanya. Ia sudah dilimpahkan banyak kasih sayang disekitarnya. Dari Dion, Agus, Agraham dan Anna, Daniel, Leksa dan yang lainnya. Rasanya tak tahu diri jika ia mengabaikan semua kasih sayang itu dan hanya menatap cintanya kepada Asa. " Iya... Lea janji bakal usaha bahagia. Lea bakal kerja di bidang yang Lea suka dan Lea bakal lakuin semua yang Lea mau... makasih udah bantuin dan nemenin Lea ya Kak.." Ucap gadis itu sambil sesengukan.


Daniel tak kuat melihat kakaknya menangis. Ia menghampiri sang kakak dan memeluk erat perempuan itu. " Iya... mbak harus bahagia. Daniel bakal bantuin hak itu terwujud.


Leksa menepuk bahu Dion simpatik. " Gue ngerti perasaan Lo. Lea emang pantas mendapat sejuta kebahagian dari Semesta."


" dan gue berharap menjadi satu bagian dari sejuta kebahagian itu." Ucap Dion kecil.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2