
Asa sangat peka hingga terlihat begitu pintar mencari cara untuk mengecoh Lea dari masalah hubungan asmaranya.
asmara my ***! Ingin sekali Asa membalik sofa rumah sakit untuk melampiaskan emosinya sejak kemarin malam. Siapa yang tidak emosi jika Lea di hina seperti semalam?
dia pikir Lea seberharga apa? Lea itu sangat berharga hingga tidak boleh tergores sedikitpun! kejadian tempo hari saja bisa membuat Asa memucat, Asa tidak bisa membayangkan jika ia melihat Lea terluka lebih dari ini.
Dan lagi, Memangnya Ashilla pikir wanita itu sesempurna apa hingga menyombongkan dirinya kepada Lea? mengingat hal itu, Asa jadi selalu ingat tentang Perdebatannya dengan Lea yang melibatkan status Ashilla sebagai pacarnya duku dan berakhir dengan Asa mengatakan bahwa Lea tak bisa menghargai dirinya sendiri.
Rupanya hal itu belum berkurang pada diri Lea. Gadis itu masih sangat mudah untuk dibuat lunak dengan hinaan sekecil apapun. Rasanya Asa ingin berpisah dari Ashilla, Lagipula apa yang selama ini Asa tunggu?
ah, bukan menunggu... Asa terlalu sibuk dan bahkan tak ingat ia punya kekasih jika saja Lea tak menanyakan perihal 'pacar atau adik' waktu itu. Ini salahnya juga karena tak memutuskan hubungannya saat Lea sudah ada di genggamannya.
Untuk sekarang, putus dari Ashilla hanya akan membuat Lea jauh lagi darinya. Apa tidak ada masa tenang untuknya dan Lea agar bisa tertawa walau sejenak? Ck! Asa benar-benar ingin sekali memulai hidup baru dengan Lea tanpa seorang pun yang mereka kenal!
Semua pertimbangan melibatkan nama Aeleasha Gayatri.
tentunya begitu. Asa mana pernah memikirkan orang lain? ataupun perempuan lain? Farhan saja ia pikirkan hanya kalau ia butuh pria itu, apalagi perempuan lain. 3 tahun lalu ia pertama kali bertemu dengan Lea, dan selama itulah ia hanya memikirkan gadis itu.
hanya Lea. hanya gadis itu, dan tak ada yang lain. Ashilla... bahkan tak pernah ia pikirkan secara pribadi. bagi Asa, Wanita itu adalah satu bagian kecil dari semua rencananya untuk kebahagiaan Lea. Lagi-lagi, ini semua tentang Lea.
Semua yang Asa miliki sampai sekarang adalah hasil dari memikirkan gadis itu setiap detik. Semua untuk perempuan yang tengah tidur lelap di kasurnya tanpa menyadari bahwa Asa menyusup masuk ke kamar Lea untuk melihat gadis itu tidur.
Baiklah, Asa akan menyelesaikan semua ini. Dan lagi-lagi untuk Lea.
" Lea, Jangan pernah benci saya. Karena itu sama sakitnya dengan kamu meninggalkan saya. Itu lebih mengerikan dari mimpi buruk." bisiknya sambil mengecup kecil genggaman yang ia pegang itu.
Mimpi buruknya dulu adalah kematian Albara. Tapi setelah Lea bersamanya, Mimpi buruknya adalah Gadis ini meninggalkannya. Itu ketakutan Seorang Asa Aldebara.
***
Lea duduk di meja makan sambil menatap layar laptop dihadapannya. Entah Dosennya begitu baik dan cerdik sampai ia masih bisa ikut perkuliahan walau via daring sendirian, Tapi ini benar-benar solusi yang keren!
Sedangkan Asa hanya tersenyum lembut memperhatikan Lea yang terlihat menggemaskan saat sedang berpikir, menjawab pertanyaan dosennya dimana gadis itu lupa membuka mic nya. Is she always being cute just like this? Asa sedikit menyesal Lahir lumayan jauh dari Lea hingga ia tak bisa sekelas dengan gadis ini.
Lea memasang senyum terbaiknya sebagai salam bisu akan undur diri dari dosen terakhir hari ini. " Gimana? enak kuliah daringnya? kalo gak nyaman, Biar Kakak anter jemput ke kampus." ujar Asa.
tawa kecil menyambut perhatiannya itu. " gausah, Kak... begini udah enak banget... dosennya cerdik banget sih? gak heran dia jadi dosen PA terbaik." ucap Lea bersyukur. Asa hanya bisa memberikan senyumnya.
Apa? kenapa hari ini mereka banyak tersenyum?
" Kak Asa, mau nanya deh."
Asa mengangguk, membiarkan Lea melanjutkan pembicaraan. " waktu itu... kenapa Kak Asa galak banget?? itu mulutnya pedes banget kayak Santang dikasih cabe rawit... kenapa sih begitu?"
Awalnya Asa bersikap tegang, tapi ucapan yang terkesan menyindir namun terlalu lucu itu membuat Asa tertawa mendengarnya. Asa menggeleng kepalanya, " itu mulut lucu banget sih kayak nano-nano? macem macem aja rasanya, hahahah.." balas Asa.
Lea menyesap bibirnya kesal. " iihh.. serius!" geramnya. Asa menghela nafasnya, niat hati mengecoh namun tidak mempan.
__ADS_1
" She is a girlfriend, but not a lover." Jawab Asa seadanya. Lea mengerutkan keningnya, Ia tak mengerti maksud ucapan Asa.
" not your lover? you never love her? so... why you ha--"
*(duh maaf banget nih, lagi pengen banget ngetik bahasa Inggris... hehehe..-Author)*
Asa secara mendadak berdiri dan melangkah mendekati Lea, mengambil duduk disampingnya, dan menyenderkan kepala di meja makan, dengan kepala menatap sedikit ke atas, posisi dimana wajah Lea yang kebingungan berada.
" Biar kakak gak dijodohin." ucap Asa memperjelas. Tapi sepertinya, Lea masih kurang paham. jika memang hanya agar tidak dijodohi, Asa bisa putus sesegera setelah acara perjodohan dibatalkan, lalu kenapa sampai sekarang belum?
Tunggu, kenapa Lea seolah menyesalkan Asa yang belum putus dari Ashilla?
Gila, Lea sudah gila!
Siapapun katakan Lea gila dan marahi dirinya! Lea butuh pencerahan sekarang! Apalagi wajah Asa sekarang minta sekali diunyel-unyel... Lea tak tahan!!
Asa sedikit memajukan bibirnya, entah tengah berpikir atau merajuk, tapi itu mematikan bagi Lea. Bersifat Lethal kalau Lea mengingat mata kuliah pathology. " Hmmm... Dulu 'kan Kakak tinggalnya berdua sama Al, setelah dia meninggal, gak lama dari itu, Orang tua Kakak minta kakak mempertimbangkan perjodohan, kayak perjodohan sesama relasi bisnis.
Tapi Ada yang Perlu kakak Dapetin, jadi Kakak gak bisa di jodohin, walau cuma tunangan sekalipun, Kakak gak mau. Jadi Kakak bilang, kakak punya pacar." ujar Asa.
Lea ikut menyenderkan kepalanya di meja, menjadikan lengannya sebagai bantalan sama seperti Asa, dan membuat keduanya saling berhadapan, menatap mata satu sama lain secara langsung. " Terus?" respon gadis itu.
" Kebetulan, Ada Model yang jadi ambassador mobil keluaran terbaru perusahaan Ayah, dan ternyata dia temen SMA kakak. Dia juga punya masalah sama mantannya yang agak... gila,
yaudah, Kakak tawarin. Sama-sama untung. Lagian, Orang tua Kakak nyaris gak pernah pulang. Waktu kakek nenek dan Al meninggal, mereka bahkan gak datang untuk pemakaman." Ucap Asa.
Asa tertawa kecil. Apa ini rasanya di bela? Asa merasa lega dan senang secara bersamaan. Apalagi Lea mengelus surainya dengan lembut, memenerikan rasa nyaman kepadanya.
" kamu gak mau bilang, ' gimanapun itu orang tua Kak Asa' ? biasanya orang bilangnya gitu..." heran Asa. Lea mendengus mendengar ucapan klise Asa.
Gadis itu menghela nafas, Ia juga sering mendapatkan kalimat seperti yang Asa katakan, dan nyatanya itu hanya membuatnya tambah kesal. " persepsi orang 'kan beda-beda. Dan kita juga manusia Kak, pasti ada aja pikiran negatif yang lewat di kepala, cuma yang membedakan orang baik sama jahat itu ya, mereka memilih pikiran negatif itu atau engga.
aku gak pernah mengakui aku orang baik, Karena disekitarku juga gak banyak orang baik. Orang tua aku gak bisa dibilang baik, tapi ya gak jahat juga. Tapi perlakuan mereka yang abandoning me as ever until now, makes me feels like, mau mereka orang tua, ustad, petinggi. kalo perilaku buruk, ya salah udah.
Orang tua kakak abai, mau alasannya cari uang untuk anak atau apapun, mereka pasti udah menentukan dan tau konsekuensi dari pilihan mereka. Dan kalau kakak jadi gak nyaman atau bahkan lupa sama mereka, itu bagian dari konsekuensi pilihannya.
asal jangan membenci aja."
Senyum manisnya tidak luntur bahkan saat Lea sudah berhenti menggerakkan bibirnya. Dengan punggung sekecil itu, apa saja yang Lea sudah lalui hingga menjadi gadis sebijak ini? " kenapa gak boleh benci? Mereka kayaknya pantas dibenci."
Lea menyentil kecil kening Asa dengan gemas. Kenapa pria dewasa ini mendadak jadi anak SD yang banyak tanya? Dan Asa hanya tertawa kecil mendapat sentilan itu. Lea menatap lekat mata Asa, mencari tatapan benci, namun ia hanya menemukan tatapan sepi dan lega Dimata indah itu.
" gausah benci-bencian deh... buang buang tenaga. Kalo gak suka, gausah diperduliin. Tau gak Api ditambah Api jadi apa?"
" jadi Apilah.."
" kebakaran. hangus, hancur. itu yang kejadian kalo benci dibalas benci. gak akan ada api kalau gak ada pemantik. hidup damai aja kenapa sih? oksigen masih gratis, mandi masih pake air juga."
__ADS_1
Asa tertawa mendengar gerutuan Lea yang begitu menyindir dan ketus. Pria itu mengambil tangan Lea yang masih berada di puncak kepalanya, menggenggam lalu meletakkannya genganggam itu dipipinya. membiarkan hangat tangan Lea menyentuh pipinya. " Kakak bakal putusin dia. kamu gapapa 'kan?"
Lea menatap aneh orang disampingnya ini. " Yang diputusin 'kan kak Ashilla, kok yang ditanya aku?"
" kamu 'kan sering gak enakan tanpa sebab."
mendengarnya membuat hati Lea menghangat. Ia tak mengira Asa akan memikirkan dirinya sampai sebegitunya. " as long as you happy, that's not a problem." ujar gadis itu sambil tersenyum.
***
"Lo ngerasa jadi PHO ya?"
Lea menatap terkejut Ucapan Indy, kenapa pertanyaan itu rasanya mengena sekali?? Lea tak bisa menerima perasaan yang mengakui ini! " enggak! kenapa PHO sih?"
Indy melempar wajah Lea dengan kerupuk ketopraknya dengan gemas. " Lo tuh pengen milikin dia, tapi dia punya pacar.
terus ternyata dia gak cinta sama pacarnya, akhirnya Lo setuju sama saran dia buat putus, karena Lo mikir itu solusi menguntungkan buat Lo. you got the gain from his farewell dude."
Lea menatap Indomie ayam bawang plus cabe rawitnya tanpa lupa dengan telur rebusnya. Apa memang seperti itu? ia menginginkan Asa? tapi... Lea merasa tak masalah jika Asa tak ada. " Tapi gue gak masalah kok kalo dia gak ada pas baru tau dia punya pacar."
Tazqia tertawa mendengar ucapan bodoh sahabatnya itu. Sejak tadi ia hanya mendengar dan sudah tau siapa yang Lea bicarakan. Hanya menonton dan menikmati kebodohan sahabatnya ini. " Lo tenang-tenang aja karena Lo gak tau bentukan ceweknya. Apalagi, tadi Lo bilang itu cowok ngehargain Lo banget 'kan? Ya pasti Lo merasa jadi prioritas. makanya Lo tenang-tenang aja. Eh pas tau bentukan macannya, Nyali Lo langsung hilang terhempas angin! ahahahaha goblok banget sih temen gue."
Walau mengakui ucapan Tazqia ada benarnya, Lea tetap tak terima dikatai bego oleh orang itu. Lea memasukkan suapannya ke dalam mulut, membungkam mulutnya agar tidak bertanya lagi.
Dering ponselnya membuat Lea sedikit kaget karena dering itu begitu jarang berbunyi. Lea memberikan dering untuk orang secara berbeda-beda. dan dering yang berbunyi barusan, adalah milik orang ayahnya.
" Hallo?"
" Kamu... pulang sekarang! Ayah gak mau tahu kamu naik apa, lagi apa sekarang, sekarang kamu Pulang ke rumah!!"
" Eh?"
Tutut Tutut Tutut ...
Lea menatap layar ponselnya dengan pandangan bingung. Ini ada apa?? Lea bahkan hampir tak pernah mendapat panggilan dari orang tuanya sejak awal semester waktu itu, lalu kenapa tiba-tiba marah-marah seperti ini?
Tazqia yang duduk disebrang, tapi mampu mendengar percakapan Lea, menatap khawatir Lea, " kenapa Ya?"
" bokap... minta pulang? gimana ya?"
" Minta Bang Farhan deh, atau taksi on-- jangan deh, bahaya. mending minta Bang Farhan."
Indy yang merasa heran, kini menggeleng kepalanya. " kan kaki Lo lagi patah, Ya... bokap Lo aneh aneh aja deh." ujar Indy tak terima. Lea mengangguk setuju. Ayahnya memang aneh. Tazqia berlari naik ke lantai atas dan kembali dengan tas kecil yang sudah ia isi baju ganti dan perlengkapan yang Lea butuhkan. " mau gue temenin?" tawar gadis itu.
Lea menggeleng kepalanya. Jika ia meminta Farhan, Asa pasti akan ikut walau sibuk. Mereka berdua sudah lebih dari cukup baginya. " gapapa. nanti ada Kak Asa sama Mas Farhan. "
Tazqia mengangguk paham. Ia hanya bisa berdoa semoga Lea tidak mendapat masalah berat dan kembali secepatnya.
__ADS_1