My Sugar Brother

My Sugar Brother
37. Praduga


__ADS_3

Saat Lea sadar, yang pertama kali gadis itu lakukan adalah berlari mencari toilet, hingga akhirnya muntah di toilet dibantu Gemada yang mengusap punggungnya dengan lembut.


" Dokter bilang kamu drop dan Radang Lambung kamu makin parah. Kenapa hujan-hujanan begitu?" ujar Gemada. Lea menggeleng kepalanya lemas sebelum ia menumpu kepalanya pada lengannya yang ada di toilet. Ia tak tahu apa-apa, Ia hanya bisa merasakan lemas.


" Gema, kamu temenin ayah makan dulu ya, bunda mau suapin Lea dulu."


Gemada mengangguk, Lalu menggendong Lea ke kasur dengan posisi duduk dan menaruh bantal begutu banyak agar Lea dapat dengan nyaman menyender. Anna ingin tersenyum melihat perhatian dan kelembutan Gemada kepada Lea, tapi keadaan gadis itu sedang tidak memungkinkan untuk mendapat senyuman.


" Lea, makan dulu ya?"


" Maaf Tante, ini ... jam berapa?"


" Ini jam 8 pagi sayang. kamu pingsan semaleman... Tadi Farhan udah mampir dan nganter baju. dia bilang penerbangan dan jadwal kamu diundur sampe kamu pulih total. Kamu mau dirawat di rumah sakit sayang? mungkin disitu kamu bis--"


" Gausah Tante... maaf aku jadi repotin semua orang gini."


Anna menghela nafasnya. Lea masih saja sungkan kepadanya dan orang lain. Gadis ini memiliki dinding yang terlalu tinggi dan tebal.


Di lantai bawah rumah tersebut Gemada dan Agraham makan dengan tatapan yang sama-sama kosong. Keduanya memikirkan hal yang sama dengan konteks yang berbeda.


" Lea... tadi mimisan? kenapa sampai mimisan?" Tanya Agraham. Ia langsung pulang saat Anna mengatakan Lea pingsan dirumahnya. Gemada menghela nafasnya. " Kecapean yah... Tapi mungkin mimisan banyak karena Lea beberapa kali jatuh. Aku gak tau dia kesini pake apa sampe basah kuyub dan banyak luka kayak gitu." penjelasan Gemada tak memberikan rasa lega pada Agraham.


Pria itu semakin khawatir. " Bunda bilang, saat Lea sampe disini, Lea berkata Asa udah pulang, tapi gak inget Lea."


Agraham menatap tak percaya Gemada. Asa ditemukan? dan bahkan pulang? " itu dia.." Ujar pria paruh baya itu. Itulah yang menyebabkan Lea seperti ini. Gadis itu pasti hancur berkeping-keping.


" Lea... ngasih segalanya, waktu, kesehatan, apapun itu, dengan patokan Asa akan pulang. Siapa yang mengira pria itu pulang tapi gak kenal sama orang yang berjuang buat dia?" ucapan Agraham juga akhirnya memberikan jawaban pada Gemada.

__ADS_1


Pria itulah yang membuat Lea menjadi seperti sekarang. Lea kini tak memiliki pijakan ataupun patokan apapun, Gemada rasa inilah saatnya. Pria 28 tahun itu menatap Agraham dengan wajah sendu. " Yah, Gema udah nemuin dia."


" Apa maksud kam-- ketemu? benar-benar ketemu, nak?!" ucap Agraham tak percaya. kabar yang sejak lama ia tunggu, kalimat yang selalu ia harap bisa ia dengar dari putranya itu, Agraham merasa sangat bersyukur mengetahui dirinya masih bisa bertemu 'dengannya'.


Gemada menatap lantai atas, " Dia Lea, Yah.."


tanpa mendengar penjelasan Gemada selanjutnya, Agraham langsung berdiri dan berniat naik ke lantai atas. Semua dugaan juga harapannya benar, ia tak salah. tapi tangannya tertahan oleh Gemada yang menggenggamnya erat.


" gak sekarang Yah.."


" apa maksud kamu? kamu gak mau mendapatkan adik kamu lagi? Gema, Kamu sendiri lihat adik kamu lagi sehancur apa sekarang 'kan?!"


Gemada mengangguk, ia bahkan sangat paham sehancur apa Lea sekarang. Gadis itu pasti merasa kehilangan arah. Hanya melihat Lea menangis didepan restoran saja, Gemada sudah sangat tahu Lea sedang benar-benar frustasi dan hal itu juga benar-benar membuat pria itu merasa sesak karena tak bisa melakukan apapun selain mengantarnya pulang waktu itu.


Tapi Lea sudah mengalami Banyak hal. puluhan keajaiban selalu diiringi ratusan luka, hal itu sudah sering Lea dapatkan. Langsung mengakuinya sebagai adik dan anak dari keluarga ini, Apa Lea akan langsung menerima dan berbahagia?


" Lea belum siap, Yah.."


" Kita ada disampingnya sebagai kerabat dulu aja ya? kita buat diri kita selalu ada buat dia, Sampai dia merasa kita itu keluarganya sendiri. Itu akan lebih mudah." Ucapan lembut Gemada membuat Agraham tak bisa membantah lagi. Gemada selalu bersikap dingin ataupun datar langsung melembut seperti ini Agraham yakin Gemada memang sudah yakin akan rencananya.


****


Lea menatap Wajah kusut Farhan yang sejak tadi membujuknya agar tidak perlu terburu-buru untuk berangkat seperti yang dilakukannya sekarang. Lea juga sudah mendapat bujukan yang sama di rumah Agraham, juga dari sang adik saat ia pamit tadi.


" Mas Farhan, Aku minta tolong satu hal. "


Farhan mengangguk sambil mendekati Lea, " Tolong cek DNA rambut yang nanti Kak Leksa kasih ke mas Farhan sama Rambut yang ada di meja kerja aku. Aku butuh hasilnya sebelum aku berangkat ke Korea dari Amerika. bisa?"

__ADS_1


Farhan dengan cepat menganggukkan kepalanya. " Tolong hati-hati dan jangan paksakan diri." Pinta pria itu cemas.


Di samping itu, Leksa menatap lekat-lekat wajah Kakaknya yang tengah mengunyah sarapannya dengan sangat tenang. " Bang. Yakin gak kenal Lea?"


" Lea tunangan Abang kan?"


" Lea tetangga kita... Aeleasha.. yang gue panggil Gaya.."


Geraia menatap bingung adiknya sejenak sebelum pria itu mengangguk paham, " Yang waktu itu meluk Abang? salah sebut nama Abang?"


Leksa mengangguk cepat. Mungkin saja Geraia mengingat sedikit tentang Lea. " Lo gak ngerasa familiar gitu bang?"


" Engga.."


Leksa menarik rambutnya frustasi. " Bang, Lo sendiri tau Lo itu hilang ingatan, Amnesia!! sekarang ada orang yang inget Lo, dan bahkan tau identitas, Lo yakin gak inget apapun?"


Geraia menimbang-nimbang, namun dirinya malah merasakan pusing saat mengingat wajah Lea. " Gak... ah... gue gak tau. Udah ah, Sa... kepala gue pusing."


Leksa menghela nafasnya. Ia tak bisa memaksakan kakaknya itu.


Leksa pertama kali bertemu Geraia saat ia tengah berlibur dengan orang tuanya di salah pantai indah di Bali. Ia menemukan seorang pria pingsan di tepi pantai. Liburannya dengan sang orang tua berubah menjadi misi penyelamatan seorang pria itu.


pria itu Geraia. Namanya pun pemberian kedua orang tua Leksa. Saat Geraia sadar, Pria itu nyatanya tidak mengingat apapun bahkan namanya sendiri. Tapi Geraia tidak merasa asing dengan Leksa. Pria itu justru bertanya apa Leksa mengenali dirinya, seolah Geraia berpikir Leksa memang kenalannya.


Akhirnya orang tua Leksa memutuskan untuk membawa Geraia pulang ke LA. Leksa sendiri tak masalah karena merasa nyaman memiliki saudara. Hanya saja, Leksa berpikir apakah tak masalah membawa seseorang tanpa berusaha mencari kenalannya dulu? mungkin saja Geraia adalah ayah dari seorang anak, atau kekasih dari seorang wanita?


Tapi itu kejadian berbulan-bulan yang lalu. Sejak 3 bulan Geraia di LA, Leksa menganggap pria itu tak memiliki kenalan lagi.

__ADS_1


Mana pernah Leksa mengira bahwa Gayatri-nya justru adalah orang yang menunggu kepulangan kakaknya sampai sekarang. Apalagi mengingat sedalam apa hubungan Lea dengan 'Asa' itu, Leksa merasa bersalah karena tak pernah berusaha mencari kerabat Geraia di Indonesia.


Itulah kenapa Leksa tak masalah saat Lea memohon kepadanya untuk mengambil beberapa helai rambut kakaknya untuk dilakukan test DNA.


__ADS_2