
Sebulan lamanya semenjak Geraia bekerja di perusahaan atas nama Asa itu, dan sebulan lamanya ia kesulitan bertemu dengan adiknya dan Juga gadis bernama Lea itu. Padahal Geraia memiliki banyak pertanyaan untuk gadis itu.
Seperti, kenapa Lea bisa dekat dengannya? kenapa ia menyerahkan perusahaannya kepada gadis itu? hubungan apa yang ia miliki hingga Ia dengan Lea bisa tinggal bersama? kenapa dirinya pergi tanpa Lea jika memang ia sangat dekat dengan Lea? Kenapa Lea melihatnya dengan sendu? Dan kenapa gadis itu tak menahannya?
Atau kenapa Gadis tidak memeluknya lagi saat mereka bertemu kembali?
" Pelukannya hangat." Gumam pria itu. Merasa dirinya keceplosan, Geraia menghela nafasnya lelah. Leksa benar-benar sibuk dengan pembukaan Cafenya, seolah tak punya kakak, Geraia benar-benar tak mendapat kabar dari Pria imut itu.
Disamping itu, Pria yang dipikirkan Geraia justru tengah menggunakan otaknya begitu keras sambil menatap sebuah objek yang menjadi perdebatannya. " Kenapa harus Parfum floral? kenapa gak Moca aja? Ya... ini kan Cafe yang nyajiin kopi... masa baunya bungaa..." keluhan Leksa membuat Lea menghela nafasnya lagi. ini sudah ke 5 kalinya ia menjelaskan hal yang sama dan Leksa hanya menggantik kalimat pertanyaan tanpa mengubah makna pertanyaan pria itu.
" Sumpah ya Kak... bau kopi tuh udah dimana-mana... gak perlu ditambah parfum juga udah ada bau kopinya... floral tuh biar seger aja gituu... atau mau bau vanilla? suka-suka aja asal bukan bau moka... eneg tau baunya.."
Leksa menghembuskan nafasnya kesal, masih tak terima tapi penjelasan Lea ada benarnya. Pria itu melahap kue kecil yang Lea buat untuk menjadi Sample. Leksa secara langsung mengajukan kontrak pada gadis itu untuk menjadi pâtissière* dan baker** di Cafenya.
(*Chef Pastry perempuan: Koki yang ahli membuat pastry dan kue-kue kecil/kering khas Eropa
** Tukang Roti bahasa kasarnya, ahli roti gitu deh.)
" Pembukaannya besok lho, Kak... untung Deket SMA nya Daniel jadi kalo mau jemput juga gak jauh."
" Emang sengaja Deket kampus sama Sekolah gini... biar banyak emak-emak yang Nongki... kali aja ada Mama mama muda, iya gak Rob?" Tanya Leksa pada sahabatnya, Robin. Robin adalah teman SMP Leksa, dan masih berhubungan baik hingga sekarang. Robin hanya bisa tersenyum sambil menggeleng kepalanya tak habis pikir. " Ada aja pikiran lu, Sa.." heran pria itu.
Dering ponsel Lea menarik perhatian beberapa orang yang tengah menata kursi dan perabotan lainnya. Lea mengangkat panggilan yang ia tak lihat namanya itu. " Hallo?"
" Lea... ini Tante Anna... kamu lagi sibuk gak? Tante lagi mau coba salah satu resep cookies gitu, tapi jadi inget kamu.." mendengar ucapan manis itu membuat Lea tersenyum.
" Engga kok Tan.. Aku ke rumah Tante aja sekarang?" Tawar gadis itu. " Boleh! atau kamu mau dijemput Gema? biar dia pulang sebentar... dia gak pernah pulang ke rumah semenjak pindah ke apartemen.." Gerutu Anna kesal. Lea tertawa kembali.
" Gausah Tan... bisa dianter temen kok."
setelah percakapan kecilnya dengan Anna berakhir, Lea menatap jenaka Leksa. " Kak, anterin dong..."
" Dapet apa nih Gue??" Ucap pria itu sambil menaik-turunkan alisnya. Lea tertawa keras sambil menggeleng kepalanya. " Dapet Cookies enak dari aku.." Leksa bersorak senang. Jika urusannya makanan, Ia akan maju paling depan.
Sekitar 30 menit, dan Lea telah sampai didepan rumah Anna. Saat sampai, Lea langsung disambut dengan pelukan hangat Anna yang anehnya terasa menyejukkan, melegakan hatinya yang beberapa waktu ini terasa berat menahan rasa sakitnya.
" kabar kamu gimana? kamu kurusan lagi Lea... pasti makannya gak teratur deh."
" Dia makan nya dikit-dikit Tante... padahal dia yang masak... Sok patah hati gitu.." Adu Leksa sambil menghampiri kedua perempuan itu. Anna menekuk wajahnya, merasa kesal sekaligus gemas kepada Lea.
" Jangan gitu ah, Masih ada Gema kok.."
" Lho Tan, Kemarin Lea abis ditembak lho sama tem--"
" Kak..." Keluh Lea kesal. Kenapa Leksa mulutnya lemes banget sih? batin Lea menggerutu.
__ADS_1
Semenjak dirinya melepas Asa sepenuhnya, Lea lumayan sering mengunjungi Anna dan Agraham. Karena kesibukannya tak sepadat dulu, dan Agraham juga Anna sering kali menghubunginya, meminta kabar ataupun mampir walau hanya untuk makan siang.
Pekerjaan yang Lea ambil setelah keluar dari perusahaan Asa adalah menjadi parttimer Barista dan Pelayan Cafe lagi dan membuka usahan Kue kecil-kecilan. Setelah menandatangani kontrak dengan Leksa, Lea berencana melepas pekerjaan pelayan cafenya.
Gadis ini benar-benar melakukan semuanya dengan senang hati. Walau sebenarnya Hatinya belum benar-benar sembuh dari luka kemarin.
Tapi berkat dukungan yang lain, Terutama Anna dan Agraham yang memperlakukannya dengan sangat baik, Juga Leksa yang tak pernah membiarkannya merasa sendiri, Lea merasa dirinya pasti mampu bangkit lagi.
" Kamu masih tuker kabar sama Asisten Asa?"
Lea tersenyum tipis sambil mengangguk. " Masih, malah Mas Farhan kadang-kadang nelpon dan nanya-nanya makan aku seminggu ini apa aja, tidurnya jam berapa, dan dia kadang ngasih tau kondisi Kak Asa."
Anna mengusap lembut surat Lea. " Jangan ditahan ya, kalau sedih, sedih aja. Kan ada Tante, ada Om Agam, Sama Gema juga... anggap aja kita ini keluarga kamu seperti dulu kamu menganggap Asa sebagai kakak kamu." Lea mengangguk patuh.
Lea menatap seksama Oven yang tengah memabggan kue kering itu. " Kadang aku mikir, seandainya aku ini emang anaknya Tante sama Om Agam, mungkin aku gak akan ambil jurusan keperawatan, gak akan ketemu Kak Bara, atau mungkin Gak akan kenal Kak Asa dan bahkan gak akan menjadi diri aku yang sekarang.
Itulah kenapa aku selalu bersyukur sama keadaan aku sekarang sesulit apapun itu. Karena Saat aku mendapat ribuan cobaan dan kesedihan, Semesta akan membayarnya dengan jutaan kebahagiaan. Dan memiliki orang-orang disekitar aku sekarang ini, itu Bahkan gak sebanding dengan Sejuta kebahagiaan." Kekehan Lea membuat Anna ikut tertawa kecil walau tangannya kini sibuk mengusap pipinya yang basah.
Lea benar-benar sudah sedewasa ini. Gadis ini benar-benar layak mendapat jutaan kebahagiaan dari semesta. Dalam batinnya, Anna berharap bahwa Lea hanya akan bertemu bahagia untuk kedepannya.
Dering singkat dari ponsel Lea membuat gadis itu menoleh, Dering singkat adalah dering khusus untuk adiknya, Daniel. " Kenapa Dek?"
" Mbak, aku kayaknya pulang malem... Ada kerja kelompok dan tugasnya masih banyak banget mbak.."
" kalau nginep aja boleh mbak?"
Lea berkedip sejenak sebelum ia tertawa kecil. " Boleh lah... Kamu gausah takut gitu.. Asal jangan macem-nacen ya... kabarin mbak kalo kamu jadi nginep, ok?"
" Ok mbak. Makasih ya mbak!"
Sambungan tertutup, Saat Lea menoleh Anna sedang tersenyum setelah memperhatikan interaksi gadis itu dengan sang adik, " kamu Deket banget sama adikmu?"
" Iya Tan... maklum, kan dia cuma punya saya, begitupun saya, hehehehe." Lea menggaruk lehernya canggung.
...****************...
Geraia menatap Gelas pendek dengan air berwarna kuning keemasan yang tertakar sedikit di gelas itu. Pandangannya sudah mulai kabur walau ia masih bisa melihat dengan jelas jika ia memicingkan matanya. Tanpa memperdulikan kesadarannya, ia kembali menenggak minuman beralkohol itu.
Jimmy disampingnya menatap heran pria itu. Asa masuk dalam jajaran manusia lurus yang jumlah kunjungan ke Bar itu masih bisa dihitung dengan jari untuk seumur hidup. Lalu kenapa Asa sekarang duduk disampingnya, dengan tatapan sayu akibat efek mabuk dan masih meminta Bartender tersebut menuangkan Vodca ke gelas pria itu.
Tentu saja Geraia mabuk. Pria itu bahkan tak berpengalaman dengan Alkohol. Walau tinggal di LA, Keseharian pria itu hanya duduk diam di perpustakaan kota, atau rebahan di apartemen.
Tak heran jika pria itu sekarang sudah limbung tak bisa berdiri dengan tegak. " kenapa dia gak pergi?" tanya Geraia setengah sadar.
Jimmy menghela nafasnya. Ia membantu Geraia untuk sedikit tegak berdiri, " Jangan nyetir. gue anterin. Lo pulang kemana?"
__ADS_1
" Apart.. Green..par--"
" Iya-iya.. tau gue.. ke apart adek Lo 'kan?"
Niatnya Jimmy mengantar pria itu sampai ke depan unit apartemen Lea, tapi karena Masalah mendesak yang dikabari kepadanya di tengah jalan, Jimmy hanya bisa mengantar sampai ke depan Lift. " Lu tau kan Nomor unit Lo? gue gak tau lantai berapa.. Sa? Asa!" Jimmy menepuk pelan pipi Asa berusaha sedikit menyadarkan pria itu.
Asa membuka matanya, " jangan tidur di Lift. Lo lantai berapa?"
" 20"
"udah ya, lu jangan salah masuk unit.. gue balik duluan." Ujar Jimmy sebelum berlari meninggalkan Lift yang sudah mulai tertutup.
Di dalam Lift, Geraia merasakan pusing yang teramat sangat. Dirinya memegang kepalanya yang merasa dihantam batu besar seperti kejadian sebelumnya.
" aku mau kak Asa juga bahagia..."
" Kak Asa coba dulu ya perjo--"
Kepala Asa terasa begitu nyeri. Kali ini terasa seperti ditusuk-tusuk jarum tajam nan besar. Entah kenapa pandangannya mulai kabur, dan tanpa sadar Ia sudah berhenti didepan unit apartemen adiknya, Leksa.
Pria itu memencet bel terburu-buru karena sakit dikepalanya sudah semakin parah. Saat pintu terbuka, Secara mendadak Sakitnya hilang.
" Ka-kak Asa? Gapapa? kayaknya kak Asa-- ma-maksud aku kak Raia salah unit.. punya Lek-" Suara gemetar Lea yang entah karena gugup atau karena terkejut kini berhenti karena tangan Geraia dengan lembut mengusap kedua pipi Lea.
" K-kak Raia? Kakak gapapa?"
" mabuk.." Jawab Geraia dengan lembut. Entah karena apa, Tapi melihat Lea dan mendengar suara gadis itu, rasanya begitu lega dan menyejukkan.
Pria itu memperhatikan wajah Lea dengan seksama. " Kenapa kamu gak nyari saya lagi?" Tanya Geraia tak tahu diri.
padahal sebelumnya ia yang berkata bahwa ia tak mengenali Lea. Kini ia mempertanyakan alasan Gadis itu untuk tidak menemuinya lagi. Memangnya untuk apa menemui pria asing?
" Karena Saya baru kenal sama Kak Raia. lagipula... kak Raia udah tunangan kan? buat apa saya cari tunangan orang?" mendengar ucapan Lea membuat Geraia meringis. Suara Lea sama persis dengan Suara tangisan yang tadi membayanginya di Lift.
Tatapan sendu Lea kembali terasa oleh Geraia. Pria itu memicingkan matanya. " Kenapa.. kamu suruh saya mencoba kalau kamu mau saya bahagia?" pertanyaan Geraia membuat Lea tertegun.
Lea yang menunduk justru membuat Geraia semakin penasaran dan geram. " Apa itu berhubungan sama Amnesia saya?" Tanya Geraia lagi. Ia tak tahu bahwa Pertanyaannya seolah menyalahkan Lea atas Amnesianya.
" Maaf Kak, Kita udah gak punya hubungan apapun. Kakak itu Jagad Geraia Toha 'kan? Kakak hanya kenal saya sebagai temennya adik kakak. Kakak bisa pul-hmmp!!"
Geraia menarik pintu Apartemen Lea hingga tertutup dengan satu tangannya dan tangan yang lain menahan Leher Lea agar tetap mendongak , mempertahankan posisi bibir mereka yang telah menyatu.
Saat kedua bibir itu terpisah, Nafas yang memburu saling menerpa wajah keduanya. " Kita gak punya hubungan? Biar saya yang mulai hubungan itu sekarang juga." Ucapan dingin dan tak terbantahkan Geraia membuat Lea merinding. Gadis itu tak bisa menerka apa yang dimaksud Geraia barusan.
Sampai akhirnya Geraia mulai berusaha mewujudkan kata-katanya, Lea benar-benar menyesal karena dirinya begitu lemah untuk bisa menolak Asa.
__ADS_1