My Sugar Brother

My Sugar Brother
14. Impostor


__ADS_3

Lea baru bisa duduk setelah masak begitu banyak makanan untuk 7 orang yang ia anggap kerbau karena makan begitu banyak. Bahkan ia belum makan, tapi sudah ada yang tidur karena kekenyangan. Orang itu Agus. Memang menyebalkan mengakuinya, tapi pria itu orang paling tenangnyang mengurangi beban kerja telinga Lea ditengah pria-pria ricuh ini.


Memikirkan kembali tentang tujuh orang ini, Selain Asa dan Rafa, Lima orang lainnya masih terasa asing dimatanya. Juanda Narendra si pria berkacamata yang kadang-kadang menggunakan bahasa Inggris,


Giyatsa Sokrodinata yang paling sering berteriak dan bertingkah heboh tidak karuan, dan tukang minta makan.


Agus Mahardika yang berkulit pucat dan bersikap dingin, Dia juga yang memukul kepala Asa dan sekarang sudah tidur di Sofa karena terlalu kenyang memakan daging.


" Lea makannya jangan dikit, Cewek itu lebih gemes kalo banyak makan. Kamu udah gemes sih, jadi pasti bakal Mak--"


" Bang Jimmy ngalus Mulu, gak sayang nyawa?"


Jimmy Aliandra, Pria ini teman sekampus dan se-SMA Asa dan paling genit. Selama dirumah ini, Lea nyaris tak pernah lepas dari percobaan modus Jimmy yang selalu digagalkan oleh Rafa pada akhirnya.


dan ada seseorang baru Lea sadari, Julian Handako. Pria itulah yang dijemput di Bandara, selain Giyatsa yang baru pulang dari wisata kulinernya di Korea Selatan. Julian lumayan banyak diam karena mengalami Jet Lag.


Semua orang ini, adalah orang terdekat Asa selain Farhan dan Rafa. Lea sedikit gugup karena medeka semua tau segala latar belakang Asa, tapi tidak mengetahui perihal Lea dan hubungan tidak langsungnya dengan Asa yang diperantarai oleh Albara yang sudah wafat. Namun masakan memang modus paling manjur untuk membangun hubungan yang baik dengan orang asing.


Buktinya Lea tengah serius memainkan Uno balok dan sudah mendapatkan banyak tepung menempel di wajahnya. " Lea, kalo Lo kalah lagi, kita main Among Us, Dan kalo gue jadi impostor, lu orang pertama yang gue bunuh HAHAHAHA!" Rafa merasa senang menjahili Lea. Lea bahkan sudah cemberut sambil menatap tumpukan balok yang sudah nyaris rampung ini.


Bagi Lea, main Uno balok bukan hanya berbicara tentang kecerdikan dan kecerdasan, tapi juga keberuntungan dalam urutan. Dan Lea mendapat urutan sial sejak tadi.


Prak!!


Lagi. Lea kalah lagi dan Rafa tertawa keras lagi menghina kekalahan temannya ini. Asa hanya bisa tertawa kecil agar Lea tak merasa sangat payah walau memang ia akui Lea Have truly fucking lack with this game.


Lea membuka ponselnya setelah permainan telah beres. Ia join dengan Rafa dan yang lain. Asa hanya menonton dibelakang gadis itu, ingin tahu apakah Lea memang tidak berbakat untuk bermain atau hanya pada Uno balok. Lea menatap kesal layar ponselnya mengetahui apa peranannya.


sedangkan Rafa dan Giyatsa tak bereaksi apapun. Juan dan Julian juga terlihat serius memainkan peran mereka.


Asa menatap bingung Lea. posisi Lea cukup normal untuk disenangi, lalu kenapa gadis itu terlihat kesal. " Yah!! Kacau!" Ucap Rafa kesal.


Lea mengerutkan keningnya, " HAHAHAHAH!!! RAFA MATI!!" girang gadis itu dengan heboh. Rafa mencebikkan bibirnya kesal. " Ini yang tadi gak barengan sama Rafa siapa aja?"


Lea mengerutkan keningnya saat semua menatapnya. Gadis itu menggeleng kepalanya kecil dan mengambil microphone headsetnya, " Aku di Admin kan.., lampunya mati , pintunya ke tutup." jawab gadis itu jujur.


" Tapi tadi kayaknya gue liat Lea ilang ke selokan itu di CCTV.*


" HIH! MANA ADA!" Gemas Lea. walau memang ucapan Juan benar, itu karena Lea sangat ingin mencobanya. tapi gadis itu lupa lokasinya itu tertangkap CCTV. Lea bahkan mendapat teguran dari pemain lainnya karena gadis itu berteriak terlalu keras.


Lea menatap dendam Juan. Ia akan membunuh pria itu jika ia menjadi impostor. Dan memang terwujud, karena selanjutnya Juanlah yang tewas dan kemudian disusul oleh Julian.


Hanya tersisa Giyatsa dan Jimmy karena mereka masih fokus menjalani task mereka. Impostor yang awalnya ada 2 orang kini hanya tersisa Lea. Gadis itu dengan keji mengorbankan teman sekomplotannya demi lolos dari tuduhan.


hanya perlu membunuh Giyatsa atau Jimmy ataupun seseorang pemain luar lainnya untuk mendapatkan layarnya bertuliskan victory.

__ADS_1


" Kak Jim, ada tugas kemana?" tanya Lea Jimmy tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. " Bersihin ventilator." Lea tersenyum senang. " bareng kak, biar ada saksi kali aja nanti bang Giyatsa yang mati HAHAHAHA!" Lea merasa sangat senang.


dan saat Jimmy mati dengan wajah tak percaya, Tawa keras gadis itu seolah menjadi musik kematian bagi para korban yang kalah. " Hahahaha!!"


sebagian korban adalah ulah Lea, sehingga banyak yang menatap kesal dan tak percaya gadis itu. " Sumpah, gue udah panik aja pas Lea bilang kali aja gue mati. Lu bener-bener Le... serem banget kayak psychopath!" gemas Giyatsa.


permainan penuh fitnah dan penghianatan itu tidak bagus untuk jantung Giyatsa. Bagaimana bisa Lea bersikap santai bahkan terlihat seperti noob saat gadis itu membunuh 3 orang diantara mereka berlima. menyeramkan.


Asa tersenyum bangga melihat kemenangan Lea. " Bagus, kalo bisa, bunuh aja semuanya."


Rafa menatap ngeri Kakak sepupunya itu. Dia kadang heran, Lea dan Asa itu tidak memiliki hubungan darah tapi kelakuannya banyak yang mirip. " main apaan?"


pertanyaan datar itu membuat mereka teralih. Agus baru saja bangun dan sibuk mengusap matanya sambil mengambil duduk disebelah Rafa. Lea memilih diam dan membiarkan yang lain menjelaskan, membuat Asa yang memperhatikannya sedikit paham akan sikap gadis itu. Lea belum nyaman dan akrab dengan Agus, pertama karena pria itu terlalu dingin dan bermulut pedas, kedua orang itu sudah memukul Asa seenak jidat, jadi Lea belum bisa nyaman dengan orang itu. Intuisi gadis itu berkata Agus memang orang baik, tapi akan butuh waktu untuk bisa dekat dengan orang itu. Mau bagaimanapun, Lea tetap perlu dekat dengan pria itu karena Agus adalah salah satu orang terdekat Asa.


memahami situasi sekarang, Agus mengajukan diri ikut serta dengan HP Rafa. Pria pecinta Susu pisang dan bukan pecinta wanita itu tentu semangat, ia ingin Agus membalaskan dendam ya dengan mengeluarkan Lea dari roket, membuang si Impostor.


Saat pembagian peran di mulai di ponsel masing-masing, Lea menghela nafasnya kesal. Ia tak mengira akan mendapat peran seperti ini. Kalau impostor cuma satu, Lea merasa semakin terancam. Dan Lea tak sadar, semua orang yang bermain menatapnya, dan menghela nafas mereka lega. Tentu Agus tak melakukannya, karena saat permainan dimulai ia langsung melakukan tugasnya.


" Anjim si Sehan Mati!" seruan Rafa membuat semua berpikiran sama dengan menatap Lea. Semenjak Lea membunuh mereka, Mereka jadi curiga pada Lea setiap saat.


" Lu dimana Le, tadi?"


Lea menatap kaget pertanyaan Julian. " Ya Gusti, Bang... Gue kan tadi ke admin dari cafe... lu juga liat 'kan? sebelum reportannya Bang Jimmy." Ucap gadis itu seolah tengah sakit hati.


Semua mengangguk paham. Lea bukan impostor, pikir mereka serempak.


" Lea impostor!!" seru mereka kesal. Agus adalah orang yang terakhir mati oleh Lea sebelum permainan usai dengan menyisakan Jimmy dan Giyatsa sebagai pihak yang kalah.


Lea tertawa kecil dengan polosnya, membuat Agus masih tak menyangka gadis sok polos ini yang membunuhnya di game laknat itu.


"Udah ah bosen... pada gampang mati.." mendengar ucapan itu membuat semua memalingkan mata dan berdecih kesal. Justru Lea yang terlalu berbakat menjadi pembunuh, pikir mereka.


Asa melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan bahwa Ini sudah malam. Ia mengusap kepala Lea dengan lembut, meminta perhatian gadis itu terfokus padanya, " tidur... udah malem."


Lea memanyunkan bibirnya. Ia belum mau tidur. Ia ingin main dengan mereka-mereka ini, Karena Asa bulan tipe heboh seperti Giyatsa yang mampu membuat Lea terbahak-bahak dengan reaksi berlebihan dan tingkahnya yang tidak sesuai umur.


" Tidur Lea.." ucap pria itu dengan lebih lembut. Memikirkan tentang jadwalnya besok, Lea mengangguk. Ia harus menjemput kakeknya, mengantar kakeknya, dan menunggunya entah nanti akan menunggu kemana.


***


Karena Lea tidak mau di antar Farhan yang tentu juga mau libur, Lea sejak tadi memesan Taksi online, ojek online, dan apapun yang online tanpa perlu bantuan Farhan ataupun Asa. Asa pun tidak tahu kalau Lea tidak diantar Farhan karena gadis itu tahu Asa pasti akan melarangnya dan ikut mengantar Lea dengan dirinya sendiri.


Lea untuk kesekian kalinya menghela nafas. Ia harus sangat bersyukur rumah teman kakeknya itu berada didekat Mall. Sehingga Lea tidak kebosanan dan bisa berkeliling ke toko buku. Tapi Gadis itu sudah mulai bosan sekarang. Hari sudah menuju sore bahkan cahaya matahari di kaca langit-langit mall sudah berubah warna menjadi jingga dan sedikit warna merah jambu.


Dering ponsel Lea membuat Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di toko minuman yang cukup terkenal. " Hallo Kak?"

__ADS_1


" Farhan bilang kamu gak mau dianter sama dia, kenapa gak bilang?"


" gak enak Kak... Kakek juga pasti nanyain kalau liat Mas Farhan antar jemput kami." Ucap Lea beralasan. Ia sudah menduga Farhan akan melapor pada kakaknya. Ia kira Farhan cukup bestie dengannya, ternyata tidak.


Asa dirumahnya memijit pelipisnya. Ia tak bisa tenang jika Lea tidak dalam pengawasannya. Ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Lea. " Yaudah, kamu dimana sekarang?"


Lea menggaruk kepalanya kecil. " Di Chatime."


" mall mana?"


" ehm... ini sih daerah Bintaro tapi gak tau sektor berapa. kayaknya BX Chain deh." ujar Lea ragu. Asa mengangguk. " Kakak kesana sekarang, kam--"


" Aku gak mau ya kak... jangan ninggalin tamu, gak sopan. Udahan ya, Kakek kayaknya udah mau selesai. bye kak!!"


Lea langsung memesan minumannya dan menunggu sejenak sebelum pergi dengan terburu-buru menuju rumah teman kakeknya.


" Lho, Ndok? kok kamu kesini lagi? ada yang ketinggalan?" Tanya Sang Kakek yang sudah berusia 78 tahun. Lea menatap aneh Kakeknya, " emang kakek gak mau nginep di hotel atau apa gitu?"


Sang kakek tertawa kecil bersama teman-teman sebayanya yang merasa gemas dengan Lea. " cucu mu ini cantik banget lho, Sat.. buat cucuku aja gimana?" ucap Seseorang. Satrio, Kakek Lea mendengus remeh. Ia kembali menatap cucu perempuan kebanggaannya ini.


Tak ada cucunya yang mengambil jurusan yang sama dengan almarhumah istrinya. Sehingga melihat Lea yang sudah dewasa dan membayangkan pekerjaan mulia yang akan dilakukan gadis itu, membuat Satrio seolah tengah melihat sosok muda istri tercintanya itu.


" Kakek masih disini.. kan nginep di rumah ini... Acha pulang aja. Jemput nya 2 hari lagi kalau kamu gak sibuk..."


Lea memberengutkan bibirnya namun akhirnya mengangguk paham. Gadis itu merentangkan tangannya dan memeluk erat kakeknya. " tapi Kakek hati-hati ya.. jangan lupa makan, jangan makan nasi Padang atau gorengan... paham?" peringat gadis itu. Satrio tertawa kecil. Ia merasa tengah diingatkan istrinya.


Lea keluar sambil menatap kantung go green Chatime yang ia bawa. Lalu yang satu lagi untuk siapa? Lea akan merasa tak enak hati kalau kakaknya saja yang dapat sedangkan teman-teman kakaknya tidak.


Gadis itu berjalan menuju gerbang komplek, menyebrangi jalan satu arah itu untuk berada di jalur pejalan kaki.


belum sampai menyebranginya, Lea sudah terhantam mobil yang memberinya klakson dengan sangat panjang.


Gadis itu terlempar sedikit berkat pengemudi bodoh yang mengerem beberapa sentimeter sebelum menabrak Lea. Pengemudi yang masih merasakan sedikit pusing dikepalanya keluar, bersama 3 orang sebayanya, yang menatap Lea dengan wajah pucat.


" Gay! anjim... itu kepalanya.." Ucap Raka yang panik melihat kepala Lea mengeluarkan darah hingga membasahi aspal. Gayuh, si pengemudi melihat Lea dengan wajah yang pucat juga. Ia merasa dirinya terancam.


Pria itu menghampiri Lea dan langsung menggendong gadis itu, " buka bagasinya! cepet! gue gak mau ketauan siapapun, tuangin minumannya ke darah biar gak ketahuan!" bisik pria itu tegas. teman-temannya mengangguk dan langsung melaksanakannya.


Gayuh melihat Lea yang kini wajahnya pucat dan sedikit mendapat aliran darah dari keningnya. Pria itu mengarahkan jarinya ke hidung Lea, dan akhirnya bisa bernafas lega karena merasakan hembusan nafas walau begitu kecil. " Gue bisa mampus kalo orang tua atau pacarnya tau ceweknya gue tabrak, Shit!" ujar Gayuh frustasi.


"HACCHIMM!!"


bersin dengan suara begitu keras walau sudah ditutup dengan lengan, membuat Semua menatapnya guyon. Mereka tertawa setelahnya melihat sang teman bersin begitu keras. " Lu ngapa sih Sa? bersinnya gede banget!"


" lada Lo! banyak banget!" rutuk Asa tak terima kepada Giyatsa yang bertingkah polos sok tak berdosa. Ia kembali menatap jam tangannya. Lea masih belum memberi kabar kapan akan pulang. Asa khawatir jika gadis itu kenapa-kenapa.

__ADS_1


Rasa cemas berhasil mendorongnya menghubungi seseorang. " Farhan, suruh Irsyad lacak dan sadap hape Lea. saya mau jemput dia." ujar Asa.


__ADS_2