My Sugar Brother

My Sugar Brother
11. Surat Kopi


__ADS_3

Hai Lea, Kakak gak bakal nanya kabar kamu kalau tahu juga gak bisa bersyukur lagi soalnya udah mengajukan diri bertemu Tuhan duluan, hehehe...


namanya salah ya? agak bingung, lagian kenapa namanya ribet banget ya? semoga hidup yang kamu jalanin gak akan serumit nama kamu, tapi seindah arti nya aja.


Lea tertawa kecil dengan air mata yang tidak bisa berhenti keluar. Membaca lembar kertas yang agak kusam itu membuat Lea merasa tengah berbicara langsung dengan Albara. Pria itu seolah tengah duduk dihadapannya, mengatakan kata demi kata yang ada di surat itu dengan senyum hangat dan suara lembutnya. Sifat jenaka yang jarang Albara tunjukkan kepada sekitarnya, dan hanya Lea yang tahu, membuat Lea semakin sesak membaca surat itu.


perlahan-lahan rasa menusuk dan menyesakkan paru-parunya untuk bernafas datang kembali. seperti saat malam pertamanya bernafas tanpa Albara bisa melakukan hal yang sama. Rasa sesak yang tak memiliki obat itu adalah kehilangan.


Aku udah cerita rencana keren ke Kakakku. Dia bilang boleh-boleh aja. Nanti kalo kamu kuliah, kamu bisa ngekost di rumah aku, didepan rumah ada tetangga sekaligus sepupuku, namanya Rafa, seumuran sama kamu. Nanti kamu tetep ada temennya sekalipun aku gak nemenin kamu.


Tapi tolong temenin Kakak aku. Dia orangnya super sibuk, tapi gak pernah lupa sama orang disekitarnya. Dia juga gampang kesepian, jadi kalau udah kenal di pemakaman, jangan lupa temenin dia.


Lea, Kamu anak sulung yang keren, mirip kakakku. kalian berdua berusaha berdiri tegap walau kaki kalian lelah dan otot kalian udah mati rasa. kalian langsung ngambil tanggung jawab kalian sekalipun kalian bisa memilih untuk menolak. Kalian benar-benar keren.


Sorry nih aku pamit gak langsung di depan kamu, abis kamu bakal ketawa, nanti aku gak jadi bunuh diri, hahahaha..


Lea melihat bayangan Albara yang tertawa bodoh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, suatu kebiasaan Albara jika tengah bergurau tapi tak merasa leluconnya lucu.


jangan menganggap alasan aku menyerah karena kamu ataupun kakakku kurang memperhatikan atau tidak berguna untuk aku. dibanding siapapun, Kalian adalah matahari dan bulan bagiku. Kalian, benar-benar menjadi pasak penahan agar aku tetap bernafas Sampai saat ini. Tapi maaf, mimpi buruk dan orang itu, Aku benar-benar tak bisa menghadapinya. Aku memilih menyerah agar bisa merasa damai tanpa ketakutan apapun.


jadi Lea, Maaf pergi duluan, Maaf juga gak bisa tertawa di pemakaman kamu, maaf jika aku belum bisa menjadi pasak mu untuk bertahan, dan maaf jika aku gak siap untuk jadi kakakmu sampai akhir.


aku tahu kamu bisa bertahan walau bukan aku pasak nya. jangan lupa bahagia ya, dan maaf, aku titip kak Asa sama kamu.


Tangisnya makin berderai, isakannya yang tertahan memperkuat rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya. Lea membayangkan wajah Albara yang tengah tersenyum kecil dengan tatapan teduh yang biasanya ia lihat setiap harinya. Kalimat terakhir dari surat itu seolah tidak membiarkan Lea merasakan ketenangan walau sejenak,


ingat jangan lupa bahagia Lea. bahagia untuk kamu sendiri, dengan caramu sendiri. kebahagiaan kamu sekarang, adalah wujud kebahagiaanku yang belum tercapai.


Lea menangis semakin keras. Isakan itu lepas dan melolong pilu, membiarkan pemiliknya mengutarakan sakit teramat sangat yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Berkali-kali tangannya memukul dada, mencoba membiarkan dirinya bernafas dengan benar dan mencoba mengendalikan tangisnya untuk berhenti sejenak, tapi hasilnya memilukan. Ia menangis kembali, bahkan semakin parah. Batuk dan sesak nafas yang ia alami bahkan membuatnya merasa lebih baik.


Lea membiarkan dirinya jatuh di karpet kecilnya, menangis kembali dengan meremas surat dari Albara yang tersimpan sejak 3 tahun yang lalu. Rasa kehilangannya semakin dalam, lubang yang telah lama ia tutup juga melebar seolah ingin menelannya. Lea merasa jatuh ke dalam lubang yang pernah ia tutup 3 tahun lamanya.


Dan Asa hanya bisa berdiri diam sambil menunduk dibalik pintu Lea. Merasa harus tetap bersama gadis itu walau kehadirannya tidak disadari.


****

__ADS_1


Tak ada yang menyangka bahwa Lea bisa sehancur ini. Semua orang di sekitarnya memiliki ekspektasi yang tinggi karena Lea terbiasa menunjukkan sikap acuh dalam hubungan sosial. Rasa tak percaya itulah yang mendorong Tazqia dan Akhdan hingga berani berdiri di depan pintu rumah Asa.


2 hari Lea izin sakit kepada kampus, walau sebenarnya, Asa yang mengirim surat izin itu dan meminta Tazqia menyampaikannya kepada pihak kampus. Lea tidak tahu menahu akan apapun yang terjadi diluar kamarnya karena gadis itu bahkan tak beranjak dari tempatnya terakhir berbaring, di karpet kamarnya.


Tak ada yang berubah bahkan posisinya, tasnya yang masih tertinggal di depan pintu, ponselnya yang mungkin kehabisan daya, gelas berisi air yang terakhir ia isi 3 hari lalu, atau bahkan keadaannya. Lea benar-benar hanya terbaring diam, menatap surat Albara terus menerus, dan tertidur tanpa sadar.


pada Hari pertama, Asa mengira Lea masih menyempatkan dirinya keluar entah untuk minum atau makan. Tapi CCTV rumahnya tak memberikan jawaban yang sesuai. Hingga Asa memutuskan untuk di rumah seharian dan merubah ulang jadwalnya kemarin, di hari kedua, Lea masih tak keluar dari kamarnya.


Asa menyerah. Ia membutuhkan seseorang yang mengenal gadis itu lebih dari dirinya. Dan orang itu adalah Tazqia. Seperti harapan dan dugaannya, Tazqia bahkan langsung menanyakan izinnya untuk datang ke rumah.


ketiga orang itu tengah duduk di rumah tengah. Walau enggan, Asa tak bisa menolak Akhdan yang sudah repot-repot datang mengantar Tazqia. Asa hanya bisa mengabaikan kehadirannya saat ini.


Asa telah menjelaskan situasinya sesingkat dan sejelas mungkin sejak kemarin malam melalui pesan, sehingga Tazqia tak akan mengambil langkah yang salah dengan acak.


" Kalau dia sampe kayak gitu, berarti dia berduka banget Bang Asa, itu bisa dipengaruhi pengalaman sama hal lainnya. buat hari ini, aku gak janji apa-apa selain dia buka pintunya. Emang Bang Asa gak punya kunci cadangan?"


Asa meletakkan kunci cadangan yang disebutkan sambil menatap tajam Akhdan. " Kamu aja 'kan?" tanya Asa walau matanya masih menghunus Akhdan dengan tatapannya. Tazqia mendengus sambil mengambil kunci itu. " Iya, itu 'kan kamar cewek. Akhdan udah biasa nunggu di teras kalo di kosan Lea. iya 'kan Dan?" ujar gadis itu sambil menyenggol lengan Akhdan yang hanya bisa tersenyum kikuk sambil menunduk.


Sepeninggalan Tazqia, Asa ikut menunduk menatap sepasang kaki yang jarang ia pandang itu. Selama ini, yang berhasil membuatnya menunduk sedalam ini hanya kematian kakek-neneknya dan adiknya. Lea orang pertama yang membuatnya merasa gloomy seperti sekarang ini.


Akhdan merasa dirinya mengerti dengan apa yang Asa rasakan sekarang ini, sekalipun dengan sudut pandang yang berbeda, tapi judulnya sama.


" Lea..." baru satu nama dan Asa langsung mendongak dengan tatapan tajam. Akhdan butuh beberapa detik untuk terbiasa dengan pandangan membunuh itu. " Lea, orangnya cenderung membaur dengan kondisi sekitar..." ucap Akhdan sambil mengalihkan pandangan ke arah lantai atas, tepat pada anak tangga terakhir dimana ia sudah tidak bisa melihat Tazqia lagi tadi.


" Kalau sekitarnya udah rame, dia akan kalem, menjadi pendengar dan pemberi respon seadanya. Tapi kalau suasananya tenang, dia yang akan berusaha membuatnya ramai dengan caranya sendiri. Dia tahu gimana caranya membawa diri ke mana pun dia pergi.


jadi Bang Asa harus percaya, kalau Lea bisa melalui semua ini, dengan atau tanpa bantuan dari Bang Asa, Itu yang Lea butuhkan sekarang. kepercayaan, entah dari sekitar ataupun dirinya sendiri." Akhdan tersenyum sopan kepada Asa yang duduk kaku menatapnya kosong.


menit berikutnya, Asa hanya bisa tersenyum setipis mungkin dengan kepala mengangguk kecil. Di lantai atas, Tazqia tak mengetuk pintu sama sekali dan langsung membuka pintu itu.


yang ia lihat pertama kali ada tas yang menghalangi pintu untuk terbuka, kemudian pandangannya bergerak menelusuri kasur. Kamar ini terlalu luas jika dibandingkan dengan kost Lea sebelumnya, mungkin ini lebih cocok disebut unit apartemen kecil. Saat kasurnya kosong dan Tazqia melirik karpetnya, ia terpaku.


Gadis itu terdiam kaku sebelum perlahan-lahan menutup pintu selembut mungkin. Mereka pada semester ini memang baru mempelajari jenis-jenis berduka dan proses berduka pada salah satu mata kuliah utama. Tapi mungkin Tazqia baru pertama kali melihat objek materinya secara langsung.


Melihat Lea mampu membuatnya menyadari atmosfer ruangan ini dengan jelas. Berat, putus asa, gelap, sendirian, sedih, kehilangan, dan kerinduan.

__ADS_1


mengingat cerita yang Asa bertiahu padanya, Tazqia yakin, mungkin Albara adalah sosok penting dalam hidup Lea yang pertama kali mengenalkan rasa kehilangan kepada gadis itu.


Tazqia mengingat bahwa Lea sesekali mengatakan bahwa dirinya cukup apatis hingga tak menangis di pemakaman kakeknya ataupun temannya. Dan saat gadis itu mengalami hal yang tak wajar dan diluar dugaan baginya, Lea benar-benar jatuh ke dalam jurang di telan kesedihan. Dan itu melebihi apa yang dialami orang-orang pada umumnya.


" Lea..." panggil Tazqia dengan lembut sambil berjongkok didepan Lea yang berbaring menyamping dengan tangan masih setengah meremas kertas usang itu.


air mata gadis itu kembali keluar. Tazqia bisa langsung tahu bahwa Lea sulit tidur dan menangis untuk waktu yang cukup lama. Mata Lea benar-benar bengkak, sembab, dan gelap seperti panda. belum lagi wajahnya yang pucat dan hidungnya yang merah. seperti orang sakit.


" Kertasnya.." Lea melepas genggaman eratnya dari kertas itu, dan mengelusnya tanpa mengalihkan pandangannya. Seolah jika ia berpaling dari kertas itu, satu-satunya benda yang Albara tinggalkan untuknya akan hilang seperti debu.


" iya, kertasnya kenapa?"


" bau kopi." jawab gadis itu singkat. Tazqia menatap kertas yang berada tepat didepan tangan Lea. kertas itu berwarna kuning kecoklatan, terlihat usang. Tazqia merasa kewalahan, setiap kata dan tindakannya saat ini akan menentukan sikap Lea selanjutnya. Tazqia menyempatkan diri untuk memejamkan matanya. Siapa yang bilang Lea yang apatis tidak akan terpuruk? Lea bahkan lebih parah dari orang lain yang sedang terpuruk pada umumnya.


"Ya.." panggil Tazqia dengan sangat lembut, tali itu tak bisa mengalihkan Lea untuk kembali menangis dengan tatapan kosongnya.


" Dia... yang ajarin aku bikin kertas warna coklat paket kopi... dia juga yang ngenalin kopi sama aku.." Lea sejak dulu tak pernah ada ketertarikan dengan minuman bernama kopi. Dulu, ia hanya tahu kopi sering berkaitan dengan pria dan rokok, itu sebelum Albara mengenalkannya dengan kopi dan hobi pria itu mewarnai kertas dengan kopi favoritnya. pandangan Lea langsung berubah tentang hal bernama kopi.


air matanya semakin deras, kembali membasahi pipi yang belum kering dari tangisan tadi siang, " Aku udah janji mau kerja di Cafe kalo Lulus, buat bikinin dia kopi.." Kertas itu kembali kusut saat Lea meremasnya kembali. " Tapi aku baru bisa sekarang, dan dia udah gak ada lebih dulu..."


kini Tazqia tahu, kalimat dan kata-kata seindah apapun, tidak akan membuat Lea membaik. Hanya Lea yang bisa memulihkan dirinya sendiri untuk saat ini. Tazqia sadar bahwa ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengamati.


" Ya... take your time as much as you want. but remember it, Time is never waiting for you.


" Mungkin ini kali pertama Lea mengalihkan pandangannya dari Surat itu, dan langsung bertemu mata dengan Tazqia yang menatapnya sendu.


"It's gonna still move as you spend you time to being sad." lanjut gadis itu. Lea membiarkan air matanya terus mengalir, tapi Tazqia menghapusnya dari pipi itu.


" Pikirin baik-baik Lea. Apa keterpurukan lu yang mendalam itu sepadan untuk kami yang masih hidup dan mencemaskan Lo?" ujar Tazqia sambil mengacak rambut Lea dengan lembut. senyum tipis terhias di wajahnya, ingin memberitahu bahwa sekalipun Lea bersedih dan membuang waktunya, Lea akan tetap disambut dengan senang oleh semuanya.


sepeninggalan Tazqia, Lea bangkit dari posisinya. Ia terduduk menatap sekeliling mencerna semuanya, dan mengambil kembali surat yang sudah ia remat hingga kusut. Berkali-kali ia membaca surat itu, berkali-kali pula ia menangis. Tapi kali ini ia menghapus air matanya dengan cepat dan membaca barisan terakhir.


ingat jangan lupa bahagia Lea. bahagia untuk kamu sendiri, dan dengan caramu sendiri. kebahagiaan kamu sekarang, adalah wujud kebahagiaanku yang belum tercapai.


Lea mengangguk, seolah tengah berhadapan dengan Albara yang menatapnya serius seperti saat pria itu memberinya nasihat dulu. Lea berdiri walau merasa lemas. Gadis itu melangkah memasuki kamar mandi, menatap cermin yang menampilkan kondisinya sekarang.

__ADS_1


" Maaf..." gumam gadis itu sambil menatap cermin dihadapannya. " Maaf nangisin kakak sampe aku kayak gini... maaf karena belum bisa bahagia... Maaf..."


Bersambung


__ADS_2