My Sugar Brother

My Sugar Brother
40. Messed Up


__ADS_3

Tangisan tertahan itu menjadi pengisi ruang kamar itu. Lea sesekali menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


bunyi bel kemarin malam benar-benar awal dari kekacauan ini. Seharusnya Lea tau bahwa Daniel tak mungkin bisa pulang pukul 12 malam. Kebodohan kelemahannya kini membuahkan sebuah dosa besar baginya.


Lea benar-benar merasa kotor dan tak memiliki harga apapun lagi. Pria yang masih tidur dengan nyaman di kasurnya itu bahkan terlihat tidak bersalah. Lea benar-benar tak tahu harus apa. Ia merasa tengah berada didepan Tembok yang menjadi ujung jalannya.


" Kak... Kak Asa.." Panggil Lea sambil menangis. Dia bahkan sudah berusaha sangat keras untuk bangun dari kasur, hanya sekedar mencari baju untuknya, namun tak bisa.


" Kak Asa please bangunn.." Ucap Lea lebih keras. karena Emosi pada pria yang tak kunjung bangun itu, Lea mengambil ponselnya dan melempar benda canggih itu ke kepala Asa.


Syukurlah, pengorbanan Benda mahal itu membuahkan hasil. Geraia bangun dengan mata memicing sejenak sampai akhirnya terbuka dengan sempurna. Pria itu menoleh karena merasa asing dengan susunan kamar ini, " ini dim--"


" Kakak bisa pulang sendiri 'kan? please... kakak pulang sekarang ya?" Permintaan yang diiringi tangisan itu membuat Geraia mengerutkan keningnya, menatap bingung Lea kini terlihat seperti kepompong raksasa dan juga sambil menangis. " Kenap--"


" Please kak... kak Raia bisa pake baju terus keluar?" Mendengar permintaan itu, Geraia sontak menatap keadaan dirinya.


Gila, dirinya sudah gila. Pria itu menarik rambutnya frustasi. Apa yang sudah ia lakukan? Ia menatap Lea dengan tatapan penuh rasa bersalah. " Lea say--"


" Maaf kakak gak akan ngubah apapun. Jadi Please... Kak As-- Raia keluar ya? aku mohon.. Aku udah gak punya apa-apa lagi buat kakak... kakak belom puas ambil semuanya?" Ucapan lemah itu menusuk Geraia.


" Hati aku kakak ambil aku gak masalah Kak... tapi kenapa harus mahkota aku juga?!! aku salah apa sama kakak sampai harus kayak gini?!!" Bentakan Lea berhasil membuat Geraia tak berkutik. Geraia benar-benar brengsek. pria itu Mengakui dirinya pria paling brengsek dan hina di muka bumi ini.


Dengan cepat Geraia memakai pakaiannya, Setelah selesai, Geraia menatap sejenak Lea yang tengah memunggunginya, Seolah enggan melihat wajahnya.


" Kalau kamu udah tenang, hubungi saya. kita harus membicarakan hal ini, gak bisa diabaikan. Iya kan, Lea?" Ucapan Lembut Geraia seolah hanya angin belaka, tak digubris sama sekali.


pria itu menghela nafasnya berat sebelum keluar dari kamar Lea. Saat ia keluar dari Apartemen itu, Ia langsung dihadapkan dengan Sang Adik, Leksa, yang menatap heran dirinya.


" Kenapa Lo keluar dari sana bang? jangan bilang Lo salah masuk lagi?"


Geraia sempat beberapa kali salah masuk unit, dan justru masuk ke apartemen Lea. Untungnya setiap pria itu salah masuk, Hanya ada Daniel di Apartemen itu. Tapi tadi pagi Leksa baru saja chatting dengan Daniel yang berkata dirinya menginap dirumah temannya.


" Ada Lea didalem bang? Lo gak mabok kan semalem bang?" Tanya Leksa was-was. Ia berharap yang ia pikirkan hanyalah pikiran kotor otak kecilnya ini.


" Gue... mabok semalem.. dan gue.." Hanya setengah kalimat dan Leksa tak bisa menahan tangannya untuk memberi bogem mentah ke wajah Asa. " Lo... gila Lo, bang..." Leksa kehabisan kata-kata. Baginya sekarang, yang penting adalah keadaan Lea.


Leksa membuka pintu apartemen Lea setelah memasukkan PIN keamanan, Memanggil nama Lea dengan nada penuh kecemasan dan menggedor-gedor pintu kamar gadis itu.

__ADS_1


" Ya! Gaya... buka please... Lo gapapa 'kan? Gaya? gue tau Lo kenapa-kenapa jadi please buka pintunya."


" Pintunya gak aku kunci kak Leksa.." Suara serak itu membuat Leksa membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu dengan cara yang sangat kasar. " Ya? Lo nangis? Apa yang Abang gue lakuin? di--" Ucapan Leksa terhenti saat melihat Lea mengambil jarak kembali, seolah tengah menghindarinya.


" Jangan deket-deket.." Ucapan Lemah Lea saja sudah berhasil membuat Leksa tak berkutik. " Ya.." panggilan lemah itu meluruhkan air mata Lea yang tertahan di pelupuk.


" Aku gak punya apa-apa lagi Kak... Kakak tinggalin aku aja. Aku ini... kotor... Semua udah diambil kak Asa... dia ambil hati aku, Mahkota aku... sekarang aku gak lunya yang tersisa...cuma tubuh gak berguna ini aja yang aku pun--"


" Gak gitu Ya... Lo tetep berharga walau gak punya Mahkota.. Lo tetep Lea yang gue ken--"


" Aku bener-bener ngejual tubuh aku... aku bener-bener kayak jalang... Harusnya aku bisa nendang Kak Asa kayak aku nendang kakek brengsek itu... tapi Aku gak ngelakuin itu... aku bener-bener jalang, bener-bener hina..."


Leksa memaksa Lea masuk ke dalam pelukannya. " Jangan bilang gitu please... Lo berharga Lea... dalam keadaan apapun Lo berharga... Lo gak salah disini.. Lo gak salah.. emang Asa yang brengsek. gue pastiin Ya... dia bakal babak belur sama gue... Lo tenang aja.."


Leksa mengusap lembut Punggung yang bergetar didalam dekapannya itu. Ia benar-benar tak bisa melihat Lea yang serapuh ini. Kakaknya benar-benar sudah gila.


...****************...


Bahkan Leksa tak perlu membuat Geraia babak belur karena pria itu sudah mendapatkannya dari Agus dan Rafa. Agus hanya meninggalkan bekas diujung bibir, sedangkan Rafa meninggalkan jejak lebam kebiruan di pipi Geraia.


Bagaimana mereka mengetahuinya, Geraia mengakuinya saat ia sampai dirumah dan kebetulan Rafa tengah mencarinya. Saat Rafa mengetahuinya, Pria itu langsung memberitahukan Agus dan pria datar nan pendek itu langsung meluncur ke rumah Asa. Sampai di rumah besar itu, Agus langsung meninju Asa tepat ke ujung bibir pria itu.


" LO... KALO LO GAK INGET DIA, GAUSAH USIK DIA! BANGSAT LO BANG! DIA UDAH CUKUP SAKIT HATI LO LUPAIN YA, DAN SEKARANG LO PERKOSA DIA, LO BRENGSEK TAU GAK?!" Seruan Rafa menggema.


Geraia tak melakukan apapun, bahkan mengelak ataupun melindungi diri pun tidak. Karena ia sadar bahwa ia salah. Apalagi gadis yang ia lukai adalah gadis yang penting bagi dirinya di masa lalu.


" Tanggung jawab." Ucapan datar Agus mendapat pandangan tak percaya Geraia.


" Tapi ada Leandre yang ja--"


" Lo yakin Lo emang cinta bule itu? dari awal gue denger namanya gue curiga Lo suka bule itu karena namanya mirip sama Lea." Asumsi Agus membuat Rafa menghela nafasnya lelah. Mau berapa lama dan selupa apapun Asa, Lea akan tetap jadi bahan obsesi pria itu.


" kalo gue jadi Lo, gue berharap ingetan gue gak akan pernah balik. Diri Lo yang dulu pasti nangis darah liat kelakuan Lo ke Lea. Lo gak tau aja sebucin apa diri Lo ke Lea dulu. Kalo Dunia bisa dibeli, Lo pasti beliin Lea dunia baru." Ucapan Rafa tidaklah memberi keringanan justru beban yang semakin berat bagi Geraia.


Agus menghela nafasnya dan berniat pergi meninggalkan sahabat bodoh dan brengseknya ini. " Lo tau Sa? Mau menyangkal seperti apapun, Nama Lo tetep Asa Aldebara. Dan mau selupa apapun diri Lo, Aeleasha Gayatri tetap Prioritas utama bagi seorang Asa.


Selama Lo pergi, Lea kasih semuanya. Waktu, otaknya, Masa depan pendidikan yang akhirnya dia putus, dan bahkan kesehatannya sampai di opname rumah sakit. buat apa?"

__ADS_1


" Buat cowok tolol kayak Lo yang ngebayar Semua darah, keringat dan tangisan dia buat Lo dengan ngancurin masa depannya, sepenuhnya. Silahkan Lo pilih Leandre-leandre itu, dan silahkan Lo makan Segala penyesalan seumur hidup Lo nantinya. Gue lepas tangan dari sekarang."


Tanpa pamit dan memperhatikan dampak dari ucapan tajamnya, Agus pergi. Sedangkan Rafa duduk di Sofa sambil menghela nafasnya lelah kembali. " Bang, Apa perlu kepala Lo gue tabrak pake mobil? Lo lupain kita gak masalah bang, Tapi Lo lupain Lea? Dia masuk rumah sakit aja Lo bisa bangun 24 jam buat nungguin dia sadar.. Lo setergila-gila itu sama dia, Bang. Gue gak percaya Lo lupa sama dia."


Disamping itu, Leksa tengah sibuk dengan pembukaan Cafenya. Lea Memaksanya untuk hadir walau ia enggan untuk hadir dan lebih memilih menemani gadis itu. Tapi Dengan ancaman tidak akan makan dan PIN apartemen akan diubah, Leksa akhirnya menjadi seperti sekarang.


Tersenyum palsu pada para pengunjung yang masuk ke Cafenya. Beberapa teman dari rekan-rekan dan karyawannya hadir, begitupun beberapa teman dekat Lea yang sejak tadi memperhatikan sekeliling. pasti mereka mencari Sahabatnya itu. " Temen-temennya Gaya 'kan?" tanya Leksa sambil tersenyum kepada Tazqia.


Gadis itu mengangguk, " Tapi kok Lea gak ada ya?"


Leksa tak bisa memaksakan dirinya tersenyum manis, hingga akhirnya ia hanya bisa tersenyum kecut. " Dia gak enak badan. Jadi Bed Rest di Apartemennya."


Tazqia membelalakan matanya. " Pulang dari sini mau jenguk Lea dulu? kita bawain kue sama kopi dari sini.." Tawar Tazqia pada Indy dan indah.


Leksa dengan cepat menggeleng kepalanya. " mungkin besok aja kali, Ada adeknya kok.. Lea agak sensitif.. kayaknya karena datang bulan." ujar Leksa berbohong. Walau tak sepenuhnya berbohong karena Lea memang sangat sensitif tadi pagi.


Mungkin bertemu orang lain bukanlah hal yang bagus untuk Lea saat ini. " Ooh.. ok.. makasih ya Kak buat kabarnya. Kalo kakak ketemu Lea Titip salam buat dia dari Kita-kita." ujar Tazqia sambil tersenyum.


Gadis itu tak tahu bahwa Lea benar-benar tidak baik-baik saja di kamarnya. Hanya diam, menangisi dirinya yang menyedihkan. Sempat beranjak dari kasur namun akhirnya terduduk di lantai berkarpet itu karena kakinya terlalu lemas untuk berdiri, dan kemudian menangis lagi.


Gadis itu tak menyangka dirinya akan kehilangan hal berharga pada dirinya dan hal itu direbut pria yang paling berarti baginya,


Asa


" Gak, Semua ini salah gue... Gue yang bikin Kak Asa amnesia sampe semuanya kacau kayak gini... ini salah gue.." Gumam Lea sambil mengusap kasar bahunya.


Dibalik pintu kamarnya, Sang Adik menghela nafas kasar sebelum menekan icon hijau di layar ponselnya.


" Hallo, Tante Anna? Ini Daniel, Tante mau mampir ke apartemen mbak Lea gak?"


Anna disebrang sana Langsung mengangguk cepat. " Lea gak papa 'kan? atau dia sakit?"


" Mbak Lea sakit, Tante... saya gak bisa bantu untuk kali ini, makanya saya mohon Tante jenguk mbak Le ya??" pinta Daniel dengan nada memohon.


Ia tak mengira akan melakukan hal ini, tapi Kakaknya benar-benar butuh bantuan. Dan ia rasa ia meminta kepada orang yang tepat.


Kabar yang Leksa berikan kepadanya membuatnya langsung kabur dari sekolah dan pulang ke apartemen. Panggilannya sejak tadi tidak di gubris kakaknya. Yang Daniel dengar sejak tadi hanya tangisan dan gumaman yang tidak jelas. Daniel tau apa yang kakaknya alami, tapi Daniel tak bisa melakukan apapun selain menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia hanya memiliki Lea dan begitupun sebaliknya. Seharusnya ia menjaga kakaknya, tapi ia malah menginap dirumah temannya semalam. Ia tak mengira, hanya satu malam ia meninggalkan sang kakak dan Kakaknya langsung hancur tak berbentuk seperti ini.


Daniel merasa dirinya tak kalah brengsek dengan Ada yang menghancurkan kakaknya. Kelalaiannya menghancurkan sang kakak, Daniel mengakuinya.


__ADS_2