My Sugar Brother

My Sugar Brother
8. Menata


__ADS_3

Berpikir bahwa dirinya bisa pulang dengan mudah seperti yang sebelumnya, Lea rasa ia terlalu sombong hingga berani berjalan asal di komplek yang memiliki rute jalan yang rumit ini.


Lea tersesat. Sejak tadi ia hanya berjalan perlahan, berusaha untuk tetap tenang walau akhirnya ia berjongkok menangis didepan rumah orang.


" Misi mbak, ngapain didepan rumah saya?"



Lea mendongak dan mendapati pria tampan berdiri menjulang di atasnya. Orang itu hanya menatapnya diam tanpa mengulang perkataannya. " Sa-saya nyasar..." ujar Lea gugup.


Ia sedikit khawatir jika orang ini adalah orang jahat, sehingga ia berusaha mundur dengan keadaan berjongkok ya, tapi berakhir dengan dirinya yang jatuh.


" Lo tinggal di komplek ini?"


Lea mengangguk cepat. " sama Kak Asa.." tambah gadis itu. Lea mengusap wajahnya yang basah karena air mata dan memilih berdiri. " Maaf ganggu didepan rumahnya, permisi. " pamitnya.


tapi Pria tampan itu tak membiarkannya dengan menahan lengan Lea, " Gue gak tau siapa si Asa itu, tapi Lo kenal tetangga Lo? biar gue anter." ucap pria itu.


Lea mendongak, berusaha berpikir cepat, " Ah, ada... Rafa... dia Tetang--"


" gue tau rumahnya, sini gue anter." ucap orang itu cepat. ia menggenggam tangan Lea tanpa perduli bahwa hal itu membuat Lea gugup.


Lea merasa merepotkan banyak orang hari ini. " namanya siapa?"


" Sehan." ucap pria itu. Lea mengangguk paham, " Gue Lea. makasih mau nganterin."


mereka hanya diam tanpa pembicaraan apapun selama perjalanan. Saat mereka sampai didepan rumah Rafa, Lea memandangi rumah disebrangnya, rumah Asa.

__ADS_1


" itu rumah Lo?"


Rasanya mendapat pertanyaan seperti itu membuat Lea merasa kecil hati. Ia hanya menumpang disana, bahkan ia mendapat fasilitas juga finansial secara cuma-cuma, tapi hanya karena Ia kecewa sedikit, ia keluar dari rumah itu. " Aku... ke rumah Rafa aja." ucap gadis itu membalik tubuhnya. Sehan tentu menyadari ada yang janggal dari sikap Lea, sehingga ia hanya mengangguk sambil merogoh saku hoodienya. " Rap, Ada cewek namanya Lea depan rumah Lo." ujar pria itu saat sambungan langsung terhubung.


tak menunggu lama, Rafa langsung membuka pintu rumahnya dengan nafas tersengal-sengal. " Lea!! lu dari mana aja... ayo masuk dulu deh!" ucap pria itu sambil membuka pagarnya dan merangkul bahu Lea untuk ikut masuk bersamanya.


" Eh, Han! lu ngalajn diem aja? masuk! lu kan kesini mau main.."


Sehan terbangun dari lamunannya dan mengangguk sambil melangkah masuk mengikuti Rafa.


setelah diberi teh hangat dan selimut Karen Rafa takut Lea masuk angin dengan baju tipis dan angin malam hari ini cukup bersemangat, Lea menjadi lebih tenang dan mudah diajak bicara.


sejak awal ia masuk, ia mendapat sambutan hangat dari ibu Rafa yang menyebut dirinya penyelamat Asa dari ketertarikan yang belok, karena gugup, gadis itu tak banyak bicara dan lebih banyak melamun.


Tapi sekarang ia menjadi lebih baik, apalagi menonton Rafa bermain Among Us bersama Sehan cukup memberinya pengalihan hingga ia tertawa.


" Lo ya... aduh ahahahaha..." pria ity tertawa hingga menepuk tangannya sambil menengok memperhatikan Lea yang duduk di sofa tepat dibelakangnya,



" Lo jauh-jauh jalan kaki, terus nyasar, ujung-ujungnya ke depan rumah lu sendiri! AHAHAHAHA... lu gabut banget Le...Le...tobat ngapa tobat .." Rafa menepuk perut berototnya untuk berhenti merasa tergelitik akan kelucuan yang ia dapatkan sekarang.


sedangkan Sehan hanya mendengus sambil tertawa kecil. Memang apa yang Lea lakukan saat ini terlihat benar-benar bodoh. Lea mengembangkan pipinya saking kesal.


" Lo ada masalah apa sih emangnya?"


Emosi yang masih tersisa dikepalanya seolah terpanggil untuk menguasainya lagi. Gadis itu menegakkan duduknya, lalu menceritakan masalahnya dengan menggebu-gebu, mengutarakan kekesalannya kepada semua orang yang hari ini membuat moodnya hancur.

__ADS_1


" Lah... itu bukan Bang Asa gak percaya sama lu, Ya... Dia cuma gak mau lu ribet dan pusing-pusing mikirin masalah lu... Bang Asa 'kan orangnya gak suka ribet, mager mikir, mirip Sehan."


Sehan menoleh dan menatap aneh Rafa. kenapa temannya itu membawa-bawa namanya dalam masalah ini?


" Lo coba ngomong pelan-pelan sambil ngopi sama Bang Asa. lu gak tau aja tadi dia mukanya pucet sambil nanya, " Lea tadi ada kesini?" gitu.." saran dan cerita Rafa membuat Lea semakin melamun.


" gue gak tau sih berhak ngomong gini atau engga, tapi gue rasa Lo harus membiasakan diri untuk ngomongin apa aja yang Lo rasain dan Lo pikirin. Kadang, Sikap itu emang bahasa non-verbal paling nyata, tapi juga bahasa paling ambigu.


Lo mungkin berpikir kalau Lo diem aja, masalah bakal berlalu, atau kalau Lo Pendem, beban orang lain gak bertambah, tapi kalau orang taunya belakangan, atau saat Lo lagi kenapa-kenapa, bebannya jadi dua kali lipat ditambah rasa bersalah. jadi lebih baik speak up as free as you can." ujar Sehan.


Rafa mengangguk setuju. ia mengelus kepala Lea dengan lembut, " Bang Asa Gak bakal ngeluh ataupun ngerasa keberatan kalo Lo bagi-bagi beban. Dia pasti seneng, karena selama ini dia hidup cuma sendiri, sekarang ada Lo, jadi dia pengen banget Lo ngandelin dia."


" tapi, Kak Asa gak suka kopi..." ujar Lea ragu. Rafa dan Sehan mengedipkan matanya beberapa kali, " Sumpah Le, gue pikir Lo pinter, ternyata bego, HAHAHAHA!!! yaudah, main Among Us dulu dah sekali, nanti gue telponin bang Asa buat jemput Lo."


tidak sesuai dengan perkataan Rafa, Pada akhirnya, Lea tertidur di sofa tanpa sadar karena Rafa dan Sehan bermain terlalu lama. saat Rafa hendak mengantarnya ke rumah depan, Asa sudah berdiri didepan pagar rumah Rafa dengan wajah kusut.


" Dia... gapapa?" tanya pria itu lemas. Rafa tertawa kecil sambil menggeleng, " gapapa... dia ketiduran abis nangisin Lo, Bang." Ucap Rafa santai.


ia kira kebohongan barusan hanya mengundang hembusan nafas, tapi ternyata Ada menganggap serius dan berwajah pias sekarang. Rafa menggeleng kepalanya kecil. " Lo yakin nganggep dia adek Lo?"


Asa hanya diam mengambil Lea dari gendongan Rafa dan pergi tanpa pamit. Ia merasa bersalah karena telah membuat Lea menangis, Rasanya tak tahu diri jika dirinya menghampiri gadis itu tanpa seizin Lea.


" Maaf.." gumamnya saat ia merebahkan tubuh Lea di kasur dan menyelimuti gadis itu. " sekali lagi maaf.." bisiknya di telinga Lea.


saat Asa bangkit dari pinggir kasur, tangannya tertarik karena ditahan. ia menoleh dan mendapati Lea menahan jari-jarinya. Mata Lea terlihat sedikit terbuka, tapi Asa kira gadis itu memang hanya mengigau,


" Kak Asa...", bisik gadis itu membuat Asa membungkukkan dirinya untuk bisa mendengar lebih jelas, " Kak Asa ... jelek..." ujar gadis itu pelan. Selanjutnya, Asa tak merasakan tangannya tertahan lagi, begitupun Senyum yang sejak tadi enggan menghias di wajah murungnya.

__ADS_1


" iya, saya jelek." balas pria itu dengan senyum manisnya.


Ia rasa ia bisa tidur nyenyak malam ini. benar-benar nyenyak.


__ADS_2