
Saat ia membuka mata, Lea dapat melihat dua orang yang ia hormati dan ia sayangi tengah menatapnya tajam. Tak ada raut kegelisahan dan sedih di wajah mereka walau Lea meringis karena kepalanya begitu pusing.
" Kamu kenapa sih bisanya nyusahin Ibu sama bapak? Gimana bisa ketabrak coba? untung yang nabrak mau tanggung jawab." ketus ibunya kesal. Bapaknya, menghela nafas seolah tengah menahan emosinya untuk tidak berteriak seperti apa yang sering ia lakukan pada putri pertamanya itu.
" Lea, kamu tau 'kan kamu bukan anak kandung bapak sama ibu?"
ucapan pria yang paling ia segani itu membuatnya tertegun. Lea selalu mengingat akan fakta itu karena setiap pria itu tengah emosi, Ia akan melampiaskannya pada Lea dengan kalimat dan kecaman yang menyakitkan.
Lea hanya bisa mengangguk, enggan menjawab dengan mulutnya sendiri karena tak memiliki kepastian bahwa ia tak akan menangis. bahunya dicengkram. bahunya yang terasa nyeri di cengkeram oleh ayahnya dengan erat. " Kalau tau, bisa 'kan kamu tau diri sedikit? bukan tanggung jawab saya untuk datang ke rumah sakit dan biayain kamu karena kebodohan kamu sendiri!" sentak pria itu. Lea menunduk, terlihat seolah dirinya yang salah, dan bukan kesialan.
" Kamu pikir kamu sekolah negeri udah cukup ngurangin beban hidup saya? Lea... kamu sendiri tau, ekonomi kita kayak gimana 'kan? kalo kamu masih mau numpang hidup sama kami, tolong tau diri sedikit." Ucap ibunya.
Seragam putihnya memiliki beberapa bercak darah, dan rok abu-abunya juga sedikit kotor. Lea rasa ia tak bisa masuk ke sekolah hari ini. Gadis itu beranjak, membuat ibu dan ayahnya yang terlihat terbebani langsung menoleh menatapnya tak suka.
" Kamu mau ngapain? pulang? jangan nyusahin deh! kamu disini aja, mumpung dibayarin, kamu disini sampe besok. lumayan makanan kamu dirumah buat adekmu aja." Ujar Riyanti, ibunya. Lea menunduk kembali, tak ada yang bisa ia lakukan jika orang tuanya berkata seperti itu.
hingga malam tiba, ia hanya sendirian di ruang inap pribadi yang sudah pasti mahal biayanya ini. Orang yang menabraknya meminta maaf dengan sangat tulus secara langsung dan berharap Lea lekas sembuh dengan fasilitas pribadi di rumah sakit itu. Pintu ruang inapnya diketuk, membuat Lea yang sudah mulai mengantuk karena bosan, kembali segar. Berharap bahwa itu Ayah dan Ibunya yang menjenguk.
Namun berbeda dengan orang yang masuk, wajah Lea kembali muram. dia bukan orang tuanya, tapi temannya. " Lho, kok muka kamu kusut gitu? Aku panik lho denger kamu dirawat karena kecelakaan." ucap Albara heran. Pria itu menghampiri Lea, meletakkan bingkisan buahnya di nakas dan duduk disamping ranjang gadis itu.
Lea menunduk kembali. " Kalo aku tidur dan gak bangun, apa mereka bakal seneng?" tanya Lea. Albara sedikit tertegun sebelum ia memberikan senyum terbaiknya. Ia tahu yang Lea bicarakan adalah orang tua gadis itu. Albara menggenggam erat tangan Lea, dan menggunakan tangan lainnya untuk mengelus kepala yang sudah berbaring diatas bantal itu.
" Jangan menyangkut pautkan hidup kamu sama kebahagiaan orang lain, Lea.. hidup lah untuk kebahagiaan kamu sendiri. Kamu harus tidur, aku bakal temenin kamu, dan aku tetep akan bangunin kamu saat waktunya tiba. karena yang namanya tidur pasti ada bangunnya."
walau Lea sudah memejamkan matanya dan kesadarannya mulai menghilang, genggaman itu masih erat seolah tak bisa dilepaskan sekalipun ia mau. Ia berharap bahwa bisikan yang ia dengar saat ini memang cara Albara membangunkannya.
" Lea... kamu kapan bangun? apa mimpi kamu seindah itu? apa dunia nyata seburuk itu sampe kamu lebih nyaman di mimpi kamu?" bisikan lembut dengan suara yang berat itu seolah tengah merengek padanya untuk cepat membuka mata.
Lea secara perlahan membuka matanya, menatap langit-langit putih dimana ada lampu yang bersinar cukup terang dan membuatnya merasa silau. Gadis itu menatap sekitarnya. Asa yang menggenggam erat tangannya sambil memencet tombol bel disamping ranjangnya dengan terburu-buru, Farhan yang keluar tergesa-gesa, dan sepasang suami istri yang ia temui di komplek,
Tunggu, batinnya. Ia merasa bahwa ia seharusnya tak ada disini, bukan kah ia harusnya pulang bersama Asa semalam?
__ADS_1
Lea beranjak dari tidurnya dan duduk sambil menatap sekeliling. Dari pengelihatannya, " Ini rumah sakit?" tanya Lea memastikan. Rafa yang duduk di sofa menghela nafas dan mengangguk. " Lo gak lupa nama Lo 'kan?" tanya pria itu sedikit cemas.
Lea menggeleng kepalanya. Ia mengingat jelas namanya dan identitasnya. Ia hanya sedikit bingung karena beberapa saat yang lalu ia merasa dirinya masih SMA dan Bara masih menemaninya tidur. Rasanya seperti ia tengah melompati waktu dalam sekejap.
Merasakan genggaman erat Asa membuat Lea menatap pria itu. Wajahnya terlihat cemas, rambutnya berantakan, apalagi pakaiannya. bukankah itu baju yang Asa gunakan malam itu. Lea membalas genggaman tangan itu, " Kak... aku udah bangun..." mendengar ucapan serak nan tipis seperti bisikan itu benar-benar memperbesar rasa bersalah Asa.
Asa mengangguk. Ia benar-benar ketakutan saat mendapati Lea pingsan didepannya. Ia kira gadis itu nyaris mati karena darah dikepalanya masih keluar saat ia menggendongnya ke mobil waktu itu. Lea tersenyum melihat Pria itu bisa sekacau ini karenanya.
Gadis itu bahkan tak bisa menahan senyumnya dan akhirnya memilih menunduk, sibuk mengulum tawanya agar tidak pecah, begitupun air mata yang sudah tak sabar untuk membasahi wajahnya.
Asa yang tak tahu menahu merasa bingung dan cemas, " Lea, kenapa? kepala kamu pusing? Kakak udah panggil dokter, pasti lagi lari kok dokternya, sabar ya.." Ucap Asa panik. Lea mendongak dan akhirnya memilih memecahkan tawanya juga membiarkan air matanya membasahi pipinya.
tangis bercampur tawa itu mengingatkan Asa akan kejadian pemakaman Albara. Lea menangisinya, tapi sambil menertawakannya. Tapi kali ini, Asa tak tahu apa yang Lea tawakan dan tangisi. Asa mengusap wajah Lea sambil mengambil duduk dipinggir ranjang Lea. " apa yang lucu, hm?"
Lea mengernyitkan alisnya, menahan tangisnya agar bisa sedikit mereda, " Orang yang gak ada hubungan apapun sama aku bisa sekacau ini karena aku dirawat, tapi orang tua aku dulu malah marah-marah... lucu banget.." Ujar Lea.
Asa menghela nafasnya. Apa saja yang Lea lalui selama ini? Asa mengira Lea sudah menjalani hidup dengan normal,
Namun nyatanya tak ada hidup yang normal. Semua memiliki masalah yang beragam, dengan level yang beragam begitupun cara mereka menyikapinya. Hidup yang Asa sebut normal itu, tidak pernah ada bagi siapapun.
" kamu gak perlu nahan apapun lagi. Kakak ada buat kamu, gak perlu takut akan hal apapun. Kakak dan semuanya gak akan ninggalin kamu, dan gak akan diem aja saat kamu jatuh. Nangis aja semau kamu, kamu bebas sekarang Lea.."
****
Kedua orang itu tersenyum manis melihat Lea tengah sibuk disuapi oleh Asa. Walau rasa bingung gadis itu lebih besar dari rasa lapar, Lea tetap menahan diri untuk bertanya. Ketukan pintu yang Farhan buat, menarik perhatian Keempat orang di dalam ruang inap itu, menatap dirinya yang tersenyum canggung karena merasa telah menghancurkan momen momen indah nan nyaman.
" Maaf pak Asa, Tapi 2 jam lagi bapak ada rapat, Lokasinya sudah saya pindah ke Restoran depan rumah sakit, jadi Gak akan ngambil banyak waktu. Bapak cukup dateng dan rapat, semuanya udah siap." Ucapan Farhan membuat Lea menatap kesal Asa yang menghela nafas kesal seolah enggan. " Gak bisa diundur aj--"
" berani aja diundur, aku kabur dari rumah sakit nanti malem sama Rafa." Ancam Lea. Asa mendengus lalu mengangguk. Pria itu tak lupa untuk mengusap kepala Lea dengan lembut, " Tapi kita abisin dulu makan kamu.." Lea menggeleng, menolak tawaran Asa yang mencari-cari alasan untuk lebih lama di rumah sakit.
" Ehm.. maaf, Pak Asa.. kalau bapak gak keberatan, Saya sama istri saya bisa jagain Lea selagi bapak ada urusan... nanti bapak kembali lagi kesini dan baru kami akan pulang." Saran Agraham. Asa menatap kedua pasangan suami-istri itu sejenak sebelum kembali menatap Lea.
__ADS_1
Walau sungkan untuk meminta tolong pada orang yang baru ia kenal, Asa tak memiliki banyak pilihan untuk meninggalkan Lea dan membiarkan mereka menjaga gadis itu. Asa mengangguk, " Maaf saya ngerepotin ya, Pak Agraham." Ujar Asa.
Sepeninggalan Asa, Anna langsung mengambil alih tempat duduk terdekat dengan Lea walau sempat memperebutkannya dengan Agraham. Pria paruh baya yang sudah memiliki uban yang terlihat lumayan jelas disela-sela rambut hitamnya itu menatap kesal wanita tercintanya itu.
" Kamu kan kemarin udah kenalan sama dia, Aku juga mau ngobrol Deket sama Lea, sayang..." keluh Agraham kesal. Mendengar hal itu membuat Lea akhirnya tak bisa menahan tawanya lagi. Sejak tadi ia memperhatikan interaksi orang yang seusia dengan ayah ibunya itu, dan interaksi mereka begitu menarik. " ehm... Pak Agam ya? sama Bu..."
" Anna sayang, panggilnya... Tante aja juga gapapa. dan Ahahaha... Om ini namanya Agraham, bukan Agam... tapi Tante manggil dia juga Agam sih, kok bisa gitu ya?"
mendengar penjelasan Anna, Lea menutup mulutnya, Ia merasa bersalah karena menyebut asal nama seseorang. " Maaf Om.. saya gak maksud.." sesalnya. Agraham tersenyum senang mendengar Lea memanggilnya dengan imbuhan lebih akrab.
" gimana perasaan kamu? masih pusing?" tanya pria itu lembut sambil mengambil beberapa macam buah dari nakas dan mengupasnya. Lea menggeleng kepalanya, " udah membaik kok Om, Tante... maaf saya ngerepotin sampe kalian jadi harus nungguin kayak gini.."
kedua pasangan itu saling tersenyum. Mereka kemudian menatap jenaka Lea. " kami ini lagi kangen anak kami. mungkin dia seusia kamu. Pas liat kamu kenapa-kenapa kemarin, kami ngerasa kalo seandainya anak kami yang ngalamin, pasti kami udah khawatir banget sepersis kakak kamu. Sebut saja kami berempati dengan kalian, atau yahh.. senyaman kamu aja Lea. kamu gak boleh mikirin hal penting dengan kepala bocor itu." Ujar Agraham panjang lebar.
walaupun memang berempati sekalipun, keduanya mungkin tak menyadari bahwa tindakan mereka, memberikan kehangatan liat biasa bagi Lea. " andai..." Lea terkejut dengan satu kata itu. Ia hampir saja menjadi Egois dan tamak. Bukankah ia sudah punya Asa? lalu apa yang kurang?
Ketukan pintu ruang inap itu menginterupsinya, bersamaan dengan dering telepon Agraham. Pria itu beranjak dan menjawab telepon itu, seolah itu memang sangat penting. Orang yang mengetuk pintu masuk setelah Agraham keluar, menampilkan seseorang yang belum lama ini Lea temui.
Orias dengan seorang perempuan cantik yang Lea bahkan tak tau bagaimana mendeskripsikannnya, Cantik, Elegan, sempurna. Orias tertawa kecil melihat ekspresi takjub Lea, Gadis ini memang selalu ekspresif dan hal itulah yang membuat Orias tertarik.
" kamu terlalu imut untuk jadi pasien kepala bocor, Lea." Ujar Orias mencari perhatian Lea agar melihatnya. Lea tertawa bodoh mendengar ucapan manis namun terlalu receh itu. " Kak Orias sama siapa? cantik banget..." puji Lea.
Orias mengambil bahu perempuan disampingnya, menatap bangga Lea. Ini adalah Usaha terakhirnya, kalau masih gagal juga, mungkin ia akan membakar mobil kesayangan sebagai bukti bahwa niatnya untuk mendapatkan Lea, juga ikut terbakar bersama si Manis Roro-nya.
" Namanya Ashilla, dia model dan juga designer yang cukup terkenal di Eropa,
Dan dia pacarnya Asa, Abang kamu."
BERSAMBUNG
Hiya Hiya Hiya .... siapa yang kepo Ashilla teh yang mana??? kira-kira kalo kalian ngeship Taehyung aka V , kalian pilih artis perempuan mana?? coba di komen?
__ADS_1
buat Part Selanjutnya bakal ada banyak visual tokoh Jadi jangan bosen nunggu ya, semua!!
Terima kasih