
Mata yang sejak beberapa jam yang lalu tertutup itu terbuka perlahan. Ia menatap sekelilingnya dan mendapati seorang anak didalam gendongannya.
Ia mengerutkan keningnya melihat bayi yang masih begitu merah menangis kencang hingga memekakkan telinganya.
" Ganteng 'kan?" ucapan bangga dan lembut itu membuatnya menoleh dan tersenyum tipis sambil memperhatikan bayi didalam dekapannya itu.
" Dia mirip banget sama Lo Bang. Gue harap dia bisa selembut gue, jangan kayak Lo. dingin banget!" meringis membayangkan sikap Kakaknya, Bara mengelus puncak kepala bayi itu.
Sedangkan Asa mengangguk setuju. " Tapi.. ini anak siapa?" mendengar pertanyaan bodoh kakaknya, Bara tertawa keras.
" Lo gak mau nemuin Ibunya?"
" buat mengembalikan anaknya 'kan?"
Bara mengulum senyumnya. " Lo yakin mau ngembaliin doang? gak mau ikut ngerawat?"
Asa mengerutkan keningnya. " Saya masih harus jaga Kamu, Bara."
Bara twrsenyum manis mendengar ucapan penuh perhatian kakaknya. " Lo gak perlu jagain orang yang udah mati. Gua udah dijaga Tuhan dengan sangat baik. cukup jaga Lea dan anak Lo, dan gue pasti akan tenang disini."
Asa tertegun mendengar ucapan Bara dan melihat bara semakin lama semakin pudar dari pandangannya. " jemput Lea Bang. Gue belom mau ditemenin dia di Taman Tuhan Kok. Ah! dan nama ponakan gue kalo bisa ada a.."
......................
Lea membuka matanya saat rasa keram yang begitu hebat di perutnya semakin menjadi-jadi. "Ugh!! Ka.. As...sa!" jerit Lea saat merasakan kramnya semakin parah. Seorang perawat menghampirinya dengan tergesa-gesa.
Lea terlihat pucat dan berkeringat dan juga kelelahan. " Ibu, Bidan akan membantu ibu bersalin, Apa Suami ibu sudah dalam perjalanan?"
Lea menggeleng, Ia tak tahu apakah Asa sudah sadar atau baik-baik saja, mana mungkin ia bisa tahu hal itu disaat ia baru saja sadar?
" Baik, saya yang akan mendukung ibu selama persalinan, Ibu bisa menggenggam tangan saya, Dan ikuti intruksi bidan ya Bu... ibu siap?" tanya sang perawat.
Lea menggangguk cepat. siap tak siap, ia harus bisa melahirkan anaknya dengan selamat.
" Ibu Persalinan sudah siap, Ibu mengejan ya Bu, dorong yang kuat!"
Lea menggeram, berusaha sekuat tenaga mendorong bayinya keluar. " Bagus Bu! terus didorong Bu."
Lea tak tahu bahwa melahirkan sesakit dan semengerikan ini. rasanya seperti kulitnya dirobek paksa, Tapi Lea tak merasa masalah asal anaknya dapat lahir dengan selamat.
Lea menggenggam erat tangan Suster yang terasa semakin besar dan hangat. Wanita itu menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu kembali menggeram keras hingga Dorongan terakhirnya berakhir dengan suara tangisan bayi yang begitu kencang.
Lea merasakan air mata karena rasa sakit melahirkannya berubah menjadi tangisa haru bersama helaan nafas yang lega. Lea menoleh dan hendak berterimakasih kepada Perawat yang mendukungnya tadi.
Lea menatap tak percaya yang berdiri di sampingnya dengan genggaman kuat adalah Asa yang masih menangis sambil menatap Bayi yang tengah dibersihkan perawat itu.
"Kak.. Asa?"
__ADS_1
Asa menoleh dan langsung berlutut di samping Lea dan menggenggam satu tangan Lea dengan sangat Erat. Pria itu menangis penuh rasa bersalah sambil berucap,
" Maaf... aku gak akan berani lakuin hal itu kalau akhirnya kamu kesakitan kayak gini... aku minta maaf Lea... maafin aku.."
Lea menangis haru sambil mendengus menahan tawanya. Bukankah biasanya Pria akan berterimakasih karena telah melahirkan seorang anak dengan selamat? kenapa Asa justru meminta maaf karena telah menghamilinya?
" Anaknya laki-laki , tapi harus di rawat didalam inkubator karena terlahir prematur. mungkin Bapak bisa ikut mengantar anaknya Ke NICU selagi ibunya diberi penanganan berlanjut." ucap Bidan tersebut dan kini Asa keluar sambil mendorong brankar bayi yang terlihat begitu rumit.
Anaknya begitu sama persis dengan wajah bayi di mimpinya sebelum sadar tadi. Pria itu menoleh dan menatap pintu ruang operasi, melihat Lea yang masih terlihat kelelahan tapi masih harus mendengarkan ucapan perawat dan dokternya.
Asa mengeratkan genggamannya. Lea terluka karenanya, Lea harus kesakitan seperti tadi karenanya. Apa yang bisa ia lakukan untuk membalas semua perbuatannya kepada Lea tanpa harus kehilangan wanita yang ia cintai itu?
Saat bayinya diberikan penanganan dan ia hanya bisa melihatnya saja, Asa merasa begitu tidak berguna. Asa merasa dirinya adalah pria paling brengsek dan tidak berguna di dunia ini.
" Merasa bersalah melihat wanita yang kamu cintai itu kesakitan untuk melahirkan anak kamu?" ucap seorang pria disampingnya.
Asa tertegun melihat Agraham berdiri disampingnya sambil memperhatikan bayinya. Asa hanya bisa menunduk dan mengangguk kecil. " Saya gak akan mau dia hamil lagi kalau melahirkan akan se sakit ini. Saya cuma bisa diam menonton tanpa berbuat apa-apa. Tidak berguna saat dia membutuhkan saya."
Agraham mengangguk. Ia juga merasakan hal yang sama Saat Gemada lahir dan Anna kritis dimenit berikutnya. Rasanya Agraham tengah berkaca dan bayangannya adalah Asa. Pria ini sama stress dengannya dulu.
" Kamu tahu? yang bisa kamu lakukan mulai saya ini adalah mencintainya dengan sepenuh hati, begitupun kepada anak yang sudah dia perjuangkan bahkan dengan nyawanya sendiri."
Asa menoleh, menatap Agraham yang tak melunturkan senyumnya sedikitpun dari sang Cucu. " Mungkin kedengarannya konyol, tapi kita para pria, memang hanya bisa melakukan hal itu untuk membayar perjuangan luar biasa istri kita yang sudah melahirkan seorang anak." Agraham menoleh dan menatap lurus mata Asa yang terlihat begitu sendu. Mungkin Agraham salah,
Asa lebih stress dari dirinya dulu. " Jadi jangan sakiti dia sedikitpun entah dari kata-kata ataupun perbuatan. Saat kamu akan menyakitinya, ingat selalu wajah pucat, keringat dan air mata juga teriakannya saat melahirkan anak kalian hari ini. ingat selalu saat Kamu akan marah kepada anak kalian, Bahwa anak ini pernah memegang nyawa wanita yang kamu cintai, dan masih menjadi segalanya bagi istri kamu. kamu paham, Asa?"
Asa mengangguk cepat sambil mengusap air matanya. ia akan terus mengingat ucapan Agraham hari ini, dan tak akan pernah lupa akan ucapan Pria dihadapannya hari ini. Semuanya akan ia rekam didalam otaknya.
Asa tersenyum tipis sambil menatap putranya dibalik kaca, " Aksara. untuk nama tengahnya saya akan memberikan Lea kesempatan untuk menamainya."
Agraham tersenyum mendengar nama indah itu. " ternyata kamu cukup pintar memilih nama walau masih pemula."
Asa tersenyum. mungkin Bara yang sudah lama Diaurga handal karena selalu berada disisi Tuhan yang maha tau mana yang terbaik untuk manusia-Nya.
...****************...
...****************...
Setelah 1 Minggu dirawat di ruang Intensif Bayi, Akhirnya Aksara sudah bisa menyusu kepada ibunya secara langsung. Lea sendiri Merasa lega Putranya tak perlu dirawat terpisah darinya dalam waktu yang lama.
" kamu jangan kecapean. Dokter bilang kamu beneran selamat karena perdarahan kamu gak terlalu hebat. tapi tetep gak boleh kecapean."
" Kak, aku bahkan gak ngapa-ngapain selain nyusuin Aksara. gausah bawel deh! nanti Dedeknya bangun!" kesal Lea kepada Asa yang sudah mengulang kalimatnya 5 kali untuk hari ini.
padahal ia memang tidak boleh terlalu banyak berdiam di tempat tidur. ia bahkan sudah belajar berjalan atau bahkan pernah berjalan sampai ke NICU untuk menengok anaknya walau secara diam-diam.
" Dia khawatir karena tau kamu itu bandel. Kam itu kalo dibilang jangan capek-capek, musti pingsan dulu baru nurut." Ujar Anna yang masih duduk manis sambil menyuapi sang suami buah apel yang sudah ia kupas.
__ADS_1
Lea mengerucutkan bibirnya. " Bunda mah... ngebelain kak Asa Mulu."
Anna terkekeh sambil mengendikkan bahunya. " emang gitu kok kenyataannya."
" Udah... gapapa.. Lea kalau mau jalan harus ditemenin suaminya. jangan kayak waktu itu, tau tau didepan NICU nempel di dinding kaca kayak cicak." Ujar Agraham sambil kembali memakan buah yan istrinya suapi.
Asa mengusap puncak kepala putranya yang kini tertidur didalam gendongan sang istri.
Ya, Asa sudah menikahi Lea didepan mata Hukum dan Agama juga disaksikan keluarga kandungnya dan keluarga Lea beberapa hari yang lalu dirumah sakit ini, di ruang rawat ini.
Dan sehari setelah akadnya, Asa langsung mengurus surat akta kelahiran Aksara dan menyiapkan segala yang dibutuhkan putranya untuk kedepannya.
entah terlalu optimis atau Asa memang terbiasa berpikir kejauhan.
Tangan besarnya dapat merasakan genggaman kecil yang tegas itu. " Makasih Lea."
Lea menatap Asa dan tersenyum lembut menatap Pria yang begitu ia rindukan dan ia cintai. " Aku juga berterimakasih karena udah Kembali untuk kesekian kalinya ke aku, Kak."
Asa tersenyum sambil mengecup dahi Lea begitu lama lalu kemudian mencium kening Aksara dengan singkat.
" jangan repotin Bunda kamu lagi ya. Repotin Ayah aja." bisik Asa ditelinga putranya itu.
karena Lea sudah mengeluarkan begitu banyak pengorbanan untuknya. entah sebelum ia kembali, atau saat melahirkan putranya, atau bahkan saat ini, saat wanita itu menjaga dan mengasihi putranya.
Asa rasa apapun yang ia berikan takkan bisa membayar semua keringat, darah dan air mata yang Lea keluarkan untuknya.
Asa tersenyum lembut sambil menatap wanita yang ia cintai itu. Ini semua berawal saat Ia menemukan Lea dan menolong gadis itu saat kesusahan, lalu jatuh cinta tanpa sadar, sempat menghilang karena kecelakaan lalu kembali dan kini mereka benar-benar bersama.
Asa harap takdir tak akan lagi bermain dengan hatinya dan hati Lea. Asa harap memang Lea lah rumahnya begitupun sebaliknya.
karena masing-masing rumah mereka kini sudah memiliki penghuni bernama Aksara Geraia Mahardika.
...TAMAT...
...****************...
...****************...
...****************...
akhirnya tamattt
Alhamdulillah, akhirnya cerita yang satu ini tamat, dan tinggal beberapa part bonus.
dan Satu Hal lain, Author ini Meminta maaf atas kesalahan konyol saya yang udh publish Sequelnya itu, yang judulnya "Prasasti Aksara". parah sih, itu konyol banget karena sebenernya itu cerita udah dibikin dari pertengahan April dan emang dijadwalkan bulan mei Kan.
tapi ternyata Dinasnya Padat bgt say😠gue bahkan baru sentuh aplikasi ini beberapa hari yang lalu. dan baru bisa membayar hutang untuk menyelesaikan cerita ini hari ini.
__ADS_1
masih ada dinas sih 3 Minggu lagi, tapi tenang aja, gak sepadet kemarin kok. jadi jangan kabur dulu dsri lapak ini ya😘
Bonus Part selanjutnya akan membicarakan Baby Aksara Guys, yang menunggu keuwuan Asa-Lea ditambah dedek Aksa yang nyempil diantara mereka sabar menunggu ya.