
Satu bulan berlalu terlalu cepat. Rasanya baru kemarin Lea mengantar Leksa di peron bandara ini, dan saat ini, Pria itu sudah berdiri dihadapannya dengan pandangan kesal. " Perasaan Temen gue badannya udah gemuk deh? kok malah nemu cewek lidi begini ya?"
Lea mendelik kesal. " Akhlak Obsoyo!" rutuk gadis itu. Leksa tertawa keras sambil menarik gadis yang kini semakin lebih pendek darinya ke dalam pelukannya. " Sumpah, Lo semakin menyusut tau gak, Ya?"
Lea mencubit kecil pinggang Leksa karena kesal. "Gak ada penyusutan ya, dasar gila!" geram gadis itu. Lea mengerutkan keningnya, menatap bingung karena tak ada seseorang yang terlihat bersama Leksa sejak tadi. " Where is your brother? isn't you come back with him?" Heran Lea.
Leksa tersenyum kecil sambil melepas peluknya. " He's not ready yet." ucapnya sendu. Walau Lea tak mengerti, Gadis itu tetap memberikan senyuman manisnya. " Yaudah, barang kak Leksa udah semua?"
" udah dikirim semua kok kemarin-kemarin. tinggal diambil di gudang gedung apartemen sama ngatur barang-barangnya."
Baru saja keduanya masuk ke dalam taksi online, Lea mendapat panggilan dari Farhan. Pria itu sudah sembuh sejak beberapa Minggu yang lalu dan sudah mulai masuk kerja tepat setelah dinyatakan pulih total. Seingat Lea, jadwalnya hari ini sudah kosong apalagi sekarang langit tengah asik menunjukkan keindahan senja yang selalu Leksa puji.
" Kenapa Mas Farhan?*
" Maaf Nona Lea, Tapi ada kabar mendadak bahwa Adik anda, Daniel sedang berada di kantor utama."
Lea mengerutkan keningnya. " Hah? yaudah aku kesana.. tolong bawa Daniel ke ruangan aku aja ya." Setelahnya panggilan berakhir, Lea menggigit bibirnya. Merasa cemas dan kebingungan.
ada apa dengan adiknya itu? apa Adiknya kemari bwrsama orang tuanya? untuk apa? bukankah Daniel tahu seberapa takutnya Lea terhadap perbuatan kedua orangtuanya dulu?
" Ya? Kenapa? Lo musti kemana?" tanya Leksa yang ikut cemas. Lea yang tengah dirundung rasa cemas, bingung dan ketakutan kini menatap pias Leksa disampingnya. " A-adik aku dikantor, aku musti kesana, aku berhenti didepan ya? Biar Kak Leksa langsung ke apartemen kakak.."
Leksa menggeleng kepalanya. " No.. gapapa.. kita kesana bareng aja. gue gak yakin Lo bisa kesana dengan tenang. Take a breath ok? ada gue disamping Lo." ucap pria itu sambil menggenggam erat tangan Lea.
Entah kenapa melihat Lea ketakutan dan panik seperti ini membuat rasa ingin melindunginya meningkat drastis. Leksa seolah tak ingin gadis ini terluka luar dalam dan hanya ingin gadis ini tersenyum.
***
Lea membuka pintu ruangannya dengan tergesa-gesa, Langsung bertatap muka dengan Daniel yang berdiri terlonjak karena terkejut dengan gebrakan pintu Lea. " Da-daniel?"
" Mbak, Maaf... aku Dateng kesini mendadak.." Ucap Pria muda itu sesegera mungkin, dengan raut cemas dan terlihat begitu sungkan. Lea menghela nafasnya lega menyadari bahwa Daniel hanya sendirian. " Kamu kesini izin sama orang tua kita?" tanya Lea memastikan.
Daniel menggelengkan kepalanya. Justru hal itulah yang membuatnya kelihatan semakin murung. Tentu Lea menyadarinya, Gadis itu menghampiri adiknya, mengajaknya duduk dan menatap lekat wajah adiknya itu.
__ADS_1
" Daniel, kenapa? ada masalah? kamu keliatan kurang istirahat, kantong mata kamu item banget itu sampe jadi panda. kenapa?" tanya Lea khawatir.
Walau Ia dan Daniel tak memiliki hubungan darah, Bertahun-tahun lamanya menjadi seorang kakak membuat Lea tak bisa mengabaikan adiknya itu. Apalagi, Daniel lah yang selalu mendukung dan menyayanginya dirumah orang tuanya sejak dulu. Lea tak pernah bisa membenci adik yang sudah ia urus dan ia jaga selama 13 tahun itu.
" bapak-ibu meninggal mbak, sebulan yang lalu.. keduanya terlibat kecelakaan dan masuk ke jurang... Daniel tadinya mau ngabarin mbak lewat WA aja, tapi nomor mbak udah ganti, jadi Daniel pikir Mbak juga gak perlu tau tentang hal itu.."
Lea menghela nafasnya berat, menatap lemas adiknya. Sebulan? adiknya bersama siapa selama sebulan itu? bagaimana makannya? sekolahnya? " Terus? kamu tinggal sendiri di rumah bapak-ibu?"
Daniel mengangguk. Lea meremat tangannya, Merasa benar-benar tak berguna, terlalu fokus pada traumanya dan mengabaikan Adiknya yang tinggal di Bandung, sendirian, selama sebulan??
" Tapi rumah bapak ibu udah disita Pakde Roni... karena hutang bapak belum dilunasi, Sekolahku juga udah mau mulai semester baru dan harus bayar SPP mbak beberapa bulan kedepan.. aku niatnya mau pindah ke negri aja..."
Lea langsung memeluk adiknya dengan sangat erat. " Maafin mbak... maafin mbak ya ninggalin kamu sendirian disana... Kamu pindah ke sini ya?? Kakak yang urus semuanya, kamu tinggal sekolah yang bener, makan yang bener, hidup yang bener. Itu udah cukup buat kakak.."
Daniel menatap takut kakaknya. " Maaf mbak... Daniel selama ini cuma jadi beban.."
Lea menggeleng kepalanya. Ia menangkup wajah adiknya. " Kamu Adik kakak... kamu itu tanggung jawab kakak saat ibu-bapak udah gak ada... kamu ngapain aja sebulan ini Niel?? mbak gak ngerti lagi sama kamu.." Rengek Lea sebelum ia kembali menangis dalam pelukannya dengan Daniel.
Lea merasa curang. Saat ia kesulitan setengah mati, Asa datang padanya, menyelesaikan semuanya dalam sekejap dan memberikannya kenyamanan luar biasa. Sedangkan Adiknya harus berusaha sendirian, selama sebulan, tanpa siapapun yang mendukungnya dan kini diusir.
Farhan tentu mengerutkan keningnya. " Gak pakai kartu yang biasanya mbak?"
Lea tersenyum sambil menggeleng kecil. " Gak... aku pake yang emang ada hak aku aja walau tetep gak enak. sekarnag juga ya Mas Farhan, biar bisa langsung dipake malem ini."
Setelah sambungan terputus, Lea menatap heran saat Leksa dan Daniel saling bertatapan dengan canggung. Entah Leksa sengaja atau tidak, tapi wajah pria itu justru terlihat seperti orang yang kebingungan. " Kak?? kenapa?"
" engga.. gue mikir.. adek Lo beda banget sama Lo... malah si Pemilik February Company yang mirip sama Lo." Ujar Leksa terheran-heran. Lea pun mengerutkan keningnya, untuk masalah wajahnya dengan Daniel, tentu tidak akan mirip. Mereka bukan saudara kandung, bahkan Lea adalah kakak angkatnya. Tapi untuk pernyataan bahwa Lea mirip dengan Agraham,
tentu mengundang tanda tanya. Lea tak mengerti kenapa semua orang berkata mereka mirip padahal kenal pun karena kecelakaannya waktu itu.
" udah ah, kita belanja dulu ya, Niel. buat beli kasur, lemari, meja kursi dulu. buat sofa dan lainnya belinya besok aja. gapapa 'kan?"
" oh, berarti bareng aja. Gue belom beli perabotan rumah juga soalnya. Mau naik mobil gue aja?"
__ADS_1
Lea mengangguk cepat menerima tawaran Leksa.
****
Lea mengelus puncak kepala Daniel yang sudah terlelap dikasurnya. Berharap usapan lembutnya dapat mengurangi sedikit beban yang selama ini dipikirkan dan dipikul Remaja SMP itu.
" How is he?"
" looks fine, but... you know.. Ditinggal mati karena kecelakaan, hidup sendirian di rumahnya selama sebulan sampai akhirnya diusir dan dia datang sendiri kesini? aku mungkin udah nangis selama jalan kesini."
" Kerabatnya?"
" Kami gak punya kerabat. Orang tua kami keduanya anak tunggal dan nenek-kakek kami udah lama meninggal." ucap Lea. Leksa tersenyum simpati sambil mengusap kepala Lea dengan lembut.
" Are you okay? mereka orang tua kam--"
" No... I don't know.. I meant.." Lea melangkah dan mengambil duduk di lantai apartemen yang masih terlihat begitu kosong. " Aku gak sedih, dan justru ngerasa Lega... dan aku ngerasa... jahat dan gak tahu diri, tapi disatu sisi aku ngerasa aku berhak merasa seperti itu." Ujar Lea dengan nada cemas.
Leksa dapat merasakan kecemasan Lea. Mungkin Lea khawatir dengan kemungkinan adanya masalah pada dirinya. Siapa yang akan merasa tenang saat menyadari dirinya merasa lega setelah mendengar orang tuanya meninggal? bukankah mereka seharusnya sedih? Tapi Leksa tahu Lea memiliki alasannya sendiri mengapa gadis ini merasa lega akan kabar duka tersebut.
" Lea, Gapapa... Lo gak kenapa-kenapa kok.."
Lea menggeleng kepalanya. Ia merasa dirinya tak beres. " Engga kak.. aku ngerasa ada yang gak beres sama aku.. aku kayak... psychopath... aku gak merasa diri aku manusiawi... saat tau mereka meninggal karena kecelakaan aku ngerasa... kenapa gak dibunuh aja? aku gak mau benci orang kak... ta-tapi..a" Leksa memeluk Lea, membiarkan kepala gadis itu bersandar pada dada bidangnya.
Sesekali tangannya mengusap punggung Lea, berharap gadis itu merasa lebih tenang.. " Lo gak salah... apapun yang Lo rasain saat ini bukan salah Lo ataupun keadaan. Mungkin Emang takdir membawa Lo ke jalan yang berakhir pada situasi kayak gini.
Tapi, Gaya.. membenci itu pilihan.. Lo bisa gak membenci mereka.. Maafin mereka, tapi jangan lupa semua perbuatan mereka... lalu abaikan mereka. Gue gak tau salah mereka sama Lo apa... terlepas Lo punya hubungan orang tua-anak sama mereka, kalau perbuatannya udah gak manusiawi, abaikan mereka. lupain mereka, Anggap Lo gak kenal. Karena cuma dengan cara itu Lo bisa maafin mereka tanpa membenci dan mendendam kayak gini."
Lea menangis didalam peluka itu. belakangan ini Ia terlalu melewati batasan-batasan yang sudah lama ia buat, Batasan agar tidak terlalu banyak berharap. Harapannya akan Asa semakin memudar. Selama ini ia bertahan dengan pijakan bahwa Asa masih bernafas, walau Lea tidak tahu apakah pria itu memikirkannya atau tidak.
Dan satu harapan kecil selalu ia bawa sejak dulu, membuat orang tuanya bangga dan mendapat apresiasi dari keduanya, semua itu seolah sirna tak berbekas, tak meninggalkan kesempatan sekecil apapun. Lea ingin merasa sedih, namun ia justru bernafas lega, Seolah dirinya sudah tak memiliki ancaman lagi. Gadis itu merasa menjadi psychopath.
" Lo bukan Psycho, Ya... Mendendam bukan berarti Lo Psycho.. itu bentuk lain dari rasa sakit dan terluka Lo yang masih Lo ingat sampai sekarang.."
__ADS_1
Bersambung....