
Secara Mendadak, Satu keluarga Lea mengalami sakit secara bersamaan. Ayah ibunya Demam, sedangkan Sang Kakak, Gemada mengalami Flu. Walau ada pengurus Rumah, Lea yakin pengurus itu juga pulang pergi sehingga takkan mampu mengurus ketiga anggota keluarganya.
Karena itu, Wanita berusia 25 tahun ini tengah terburu-buru membawa beberapa kotak makan berisi masakannya untuk orang rumah disana, dan menatap tak enak hati kepada Asa, sang Suami.
" Maaf ya mas, aku jadi ninggalin kamu sama Aksa gini."
Asa menggeleng dan mengecup kecil kening Lea, Dan menyodorkan sang putra yang tengah ia gendong untuk mencium pipi ibunya. Walau pada akhirnya Aksara justru mencium bibir ibunya juga.
" Gapapa. Kamu rawat mereka aja dulu. kalo bawa Aksara 'kan takutnya nular. Masker bawa? vitamin? handsanitizer? tissue? baju ganti?" pertanyaan bertubi-tubi dari sang suami membuat Lea terkekeh dan mampu meredakan rasa cemas dan panik wanita itu.
" kalau kamu merasa kerepotan banget jagain Aksara Telpon Kak Giyatsa atau kak Chandra aja ya. jangan lupa kabarin aku, Nanti malem aku pasti pulang kok "
Asa mengangguk sambil memasang senyum termanis seolah mengatakan bahwa istri tercintanya ini tidak perlu merasa khawatir.
Kini Lea menatap sedih putranya. Aish, Lea sebenarnya sangat tidak suka meninggalkan Aksara walau hanya sehari. tapi keadaan saat ini begitu mendesak, Lea tak bisa mengabaikan keluarganya. Wanita itu mengelus kepala Aksara, " jangan mau diisengin Yayah ya? aduin ke Bubun kalo Ayah ngajak yang aneh-aneh."
Aksara mengangguk, memberi hormat layaknya prajurit, kemudian memberikan Flying Kiss kepada ibunya. Lea tertawa kecil sebelum dirinya pamit kembali dan pergi meninggalkan Pasangan Ayah-anak ini.
Belum ada 30 menit Asa dan Aksara bersikap tenang sambil menonton animasi Avatar the Legend of Aang, Hujan datang mengguyur kota, Membasahi pintu kaca rumah Aksara yang menampilkan halaman hijaunya yang basah kuyup. " Yayah, Itu ujannya kalena Katala malah ya?" (ayah, itu hujannya karena Katara marah ya?)
Asa menoleh dan mengangguk cepat. " Hujan itu mirip Bubun tau, Sa."
" Emang iya? bukannya milip Katala? Bubun kan bukan cuku Ail." (emang iya? bukannya mirip Katara? Bubun kan bukan suku air)
" Tapi Bubun itu kayak hujan. Sama sama berkah yang membawa keberuntungan. ibarat kata, Yayah ini tanah kering yang butuh Bubun biar bisa subur alias hidup." ujar Asa dengan senyum manis yang timbul sambil membayangkan ucapannya sendiri.
Aksara memicingkan matanya, " Yayah kalo mau ombal ke Bubun, Janan ke Aca." ( Ayah kalo mau gombal ke Bubun jangan ke Aksa)
Asa tertawa keras mendengar ucapan julid putranya itu. "ini anak Yayah yang keren banget ini mau mandi hujan gak?"
Aksara menoleh menatap antusias ayahnya. " Bukan di kamal mandi kan?"
Asa mengangguk cepat. Anaknya ini sangat imut sampai Asa tidak bisa menahan diri untuk terus tertawa jika mendengar putranya berbicara. setiap suara dan kata yang Aksara keluarkan terdengar sangat menggemaskan dan manis di telinganya.
Dan Asa sangat senang jika Anaknya ini melakukan hal-hal yang umumnya dilakukan anak kecil. Putranya ini sangat menurut dengan Lea, ia mana bisa mengajak Aksara 'bermain' jika ada Lea? yang ada nanti dirinya disuruh tidur di luar.
baru saja ia melepas pakaian Aksara dan menyisakan ****** ***** bergambar wajah Pororo yang terlihat jelas dibelakang, Ponselnya berdering dengan layar menampilkan wajah Lea dan nama 'Bubun Who's Mine', sebuah nama panjang yang sedikit ehh...
"Hallo cantiknya Asa Malaikatnya Aksara Dewinya Asa juga."
Sapaan manis itu membuat Lea tertawa kecil sebelum ia kembali menyadarkan diri akan masalah yang sedang ia hadapi.
" Mas Asa, Ini ternyata Daniel juga sakit... jadi aku bawa dia ke rumah orang tua aku biar mereka aku urus bareng aja. tapi ya gituu... gimana ya.. adu--"
" Lea, take a breath please." Pinta Asa dengan lembut dan tenang. pria itu menggendong Aksara dan membiarkan Aksara mendengar suara ibunya, mungkin saja Anaknya sudah merindukan sang Bunda.
Lea menghembuskan nafasnya keras, " Jadi mau gak mau aku nginep disini. 2 hari aja gapapa ya? karena aku musti urus mereka sampe salah satu udh agak sehat dan aku juga takut bawa penyakit ke rumah, nanti Mas Asa sama Aksa sakit lagi. Boleh? Maaf ya mas, padahal tadi izinya pergi seb--"
" Gapapa. yang penting kamu kabarin aku nanti malem, pagi, siang, sore, malem lagi, pag--"
" mending gausah dimatiin telponnya sekalian, Mas." ketus Lea gemas. Asa tertawa kecil sambil menyodorkan ponselnya kepada sang anak. " Bubun?" panggil bocah itu..
Lea tersenyum teduh. Haduuhh.. mendengar suara anaknya, rasa cemas dan gelisah Lea langsung menguap entah kemana. " Sayang, kamu malam ini sampe besok sama ayah dulu ya. Bubun musti jaga Eyang.. ok?"
" Ok.. Bubun Tey cep ya, cayang Bubun banak-banak!" ( Ok, Bubun Stay Safe ya, Sayang Bubun banyak-banyak!) ucap Aksara sebelum Ia menempelkan bibirnya kepada ponsel Asa.
Pria beranak satu itu merasa bangga bahwa sifat bucinnya kepada Lea ini menurun jelas kepada Aksara. Anaknya benar-benar terlihat berbakti dan sayang kepada ibunya.
( gak, gitu konsepnya Asa! - Author)
Setelah panggilan itu berakhir, Asa melepas Aksara ke halaman belakang untuk mandi air hujan dengan riang.
__ADS_1
acara mandi hujannya berakhir saat hujan mulai mereda dan Aksara mulai bosan karena hanya ia yang bertingkah dibawah rintikan hujan. Ayahnya hanya menonton dan mengambil fotonya saja. memangnya ia model?
" Abis ini mau ngapain?"
" Mau Eclim!" seru Aksara senang sambil memeluk Ayahnya yang tengah mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
Asa mengangguk cepat. " besok aja yah? kan besok Om Agus, Om Jimmy sama Om Rafa Dateng ke rumah."
" hali ini gak Boyeh?"
Asa terdiam sejenak sebelum ia mengangguk dan menggendong Aksara menuju ke ruang makan mereka. Ia membuka kulkasnya dan mengambil beberapa cup es krim yang sudah lama disimpan Lea. tidak apa-apa 'kan? Toh, Aksara itu tidak mudah sakit. Makan Es krim setelah mandi hujan, kalau anaknya bawa tidur tidak akan sakit kan?
Dan pagi berikutnya, lebih tepatnya pagi ini, Asa Menyesali pemikiran sederhana dan cerobohnya itu karena saat ini Aksara tengah bernafas sedikit terengah-engah dengan wajah yang agak merah karena demam.
Memang Asa sangat brilian! Lea pergi karena mengurus keluarga istrinya itu yang tengah sakit dan Asa malah membuat anak mereka ikut sakit. sangat brilian!
Jadi siapa yang akan mengurus Anak-demam- lemahnya ini? Tentu saja dirinya, si biang keladi. Yang membuat Asa begitu takjub, Aksara justru terhitung tenang untuk anak yang sedang demam dan sakit.
Juan beberapa bulan kemarin bercerita bahwa anaknya yang usia 2 tahun saat itu mengalami demam dan sangat rewel. Tidak hanya itu, Julian yang memiliki profesi Dokter anak pun memberikan komentar yang sama tentang putranya yang saat itu sudah berusia
4 tahun, sama dengan usia Aksara. Katanya Saat demam anaknya itu sangat sensitif dan rewel sekali. bahkan disentuh sedikit, efeknya sampai menjerit selama 5 menit.
Tapi Aksara saat ini hanya tidur dengan wajah merah dan nafas yang terlihat tidak baik. Kenapa Aksara tidak rewel?
" Aksa, mau mamam gak? Aksa kan demam... musti minum obat.. sebelum itu Aksa harus makan." diluar dugaan, Aksara mengangguk lemah. Membuat Asa tersenyum senang lalu bangkit dari tempat tidurnya. " Ayah bikin bubur ya? Aksara tidur aja dika--"
" Ituutt.." rengekan lemas itu membuat Asa terdiam sejenak. Yasudah, memang apa salahnya membawa Aksara ke bawah?
" Digendong ayah ya?" Aksara mengangguk dan langsung memeluk leher Asa. Asa sedikit terkejut karena Aksara sangat panas. Tadi pagi suhunya 38.4, berarti sekarang berapa?
Sampai di lantai satu, Asa mengukur suhu Aksara kembali lalu menghubungi Julian, Dokter anak itu seharusnya tau bagaimana mengatasi demam seperti ini. " Halo bang, Ini Aksara suhunya 39.0 gimana ya?"
" Hah?! lu gila ya?! ya bawa ke rumah sakit lah!!"
Julian diseberang sana menghela nafasnya. " yaudah gue kesana sambil bawa obatnya nih, mumpung gue lagi libur. Udh lu kompres?"
" pake air es kan?"
Julian menepuk jidatnya kasar. Bisa,-bisa Lea pingsan jika tau anaknya yang demam di kompres dingin oleh sang suami! " engga dodol. pake handuk hangat. hangat.... yang kalo lu taro di punggung tangan lo kerasa anget tapi gak bikin kaget. Sono kompres dulu. sama suruh minum air putih yang banyak. nanti gue bawa Giyatsa buat bawain bubur. kalo lu yang bikin pasti rasa micin." Sambungan terputus dan Asa menatap wajah aksara yang terlihat mengantuk dan memerah.
" Aksa, Kita nungguin om Julian dulu ya? dia bawa obat buat Aksa."
Aksara menggeleng kepalanya. " Pala Aca Atit Yayah... boyeh nta elus?" (kepala aksa pusing ayah, Boleh minta elus?) Ucap Aksara dengan lemah dan terlihat akan menangis.
Mana tega Asa menolaknya. Pria itu menggendong dan sesekali mengelus kepala Aksara, berharap sakit kepala putranya bisa berkurang dengan usapannya itu.
Ia menyiapkan kompres hangat yang dijelaskan Julian.
saat sudah siap, Asa hendak menurunkan Aksara dari gendongannya, Namun Aksara justru mengeratkan pelukannya dileher sang Ayah, enggan diturunkan. Akhirnya dengan segala ide di otaknya, Asa mengikat handuk kecil yang panjang itu dikepalanya aksara.
" Anas Yayah.." keluh putranya itu. Asa hanya bisa mengelus punggung hangat anaknya itu.
" ini anget sayang... sabar ya. bentar lagi dapet obat ya.."
Saat Bel rumahnya berbunyi, Asa nyaris berlari jika ia tak ingat ia tengah memiliki anak kangguru di dadanya.
Julian menatap aneh kepala Aksara yang memiliki handuk dikepalanya.
" ity ngapain diiket handuknya?" heran pria itu sambil masuk bersama Giyatsa, Juan, Agus, Rafa dan Jimmy yang menerobos ikut masuk.
Rasanya Asa hanya tau Julian akan datang bersama Giyatsa, bukan rombongan sekampung seperti ini.
__ADS_1
" aduh ini anaknya Om Jimmy kenapa ini??" cemas Jimmy sambil berniat menggendong Aksara, namun Aksara menggeleng dibalik punggung Asa dan mengeratkan pelukannya lagi. Asa merasa sedikit tercekik tali hangat dilehernya.
Juan terkekeh. " gak mau lepas ya? sama si Hani juga gak mau lepas kalo lagi demam begitu. Ampe gue ke toilet aja dia ngikut."
Julian melangkah ke belakang punggung Asa dan memperhatikan keadaan Aksara. " Aksara, makan dulu yuk. sambil digendong Ayah kok. mau?"
Aksara menggangguk cepat. ia memang sudah lapar, tapi rasa sakitnya ini lebih mendominasi hingga ia memilih betah digendongan ayahnya dari pada makan di bangku sendirian.
Saat disuapi, Aksara tidak merengek berlebihan, namun tidak juga nurut untuk makan. " pait... ending cucu Yayah." (pahit... mending susu ayah.). mendengarnya membuat Jimmy dan Rafa mati kegemasan menahan tawa mereka.
" besok-besok jangan diiket dikepala.. pembuluh darah ke otak jadi gak lancar kalo kayak begitu."
" eh? demi apa? gue kemarin-kemarin begitu soalnya ke Hani."
Asa menggeleng kepalanya sambil menatap miris Juan yang terlihat menyedihkan didepannya. Malang sekali Hani si putri manisnya Juan, harus memiliki ayah seperti ini.
Agus melempar kacang atomnya tepat ke wajah Asa. " Ngaca bego. lu juga ngelakuin hal yang sama ke Aksara. Aksara gak mau ganti Ayah aja? yang ini dibuang aja, gak guna." Ucap Agus melembut saat tengah mengajak aksara berbicara.
" boyeh?"
Asa tertegun dan Agus tertawa keras. Hati Asa sudah tidak mungkin berbentuk setelah mendengar satu kata imut itu.
...****************...
Padahal sudah sore, tapi Aksara masih saja dengan suhu yang sama dan tidak memiliki tanda-tanda untuk membaik.
Giyatsa menatap iba Aksara yang tengah bernafas sedikit terengah-engah dan wajahnya yang masih sedikit memerah. " Kalo gak salah, setau gue ada metode penurun panas pake badan sendiri." Asa menoleh cepat, menatap bertanya pria tinggi berbibir seksi itu.
" maksudnya?" Rafa dan Jimmy bertanya bersamaan, mewakili Pertanyaan yang lain.
" Maksud gue, nanti si Bayi di buka atasannya, terus si bapaknya juga buka atasannya. nanti si bayi dibiarin tidur di atas dada bapaknya. disitu nanti panas tubuh bapaknya bakal bikin tubuh anaknya menurun karena lingkungan. Paham gak?"
Julian menjentikkan jarinya. "Iya bener! Bisa kayak gitu! Sa mending lakuin aja, kali aja besok pagi udah turun panasnya."
Dan kini Aksara berakhir tidur nyenyak diatas dada bidang ayahnya yang sekarang ini merasa dirinya tengah membiarkan panci hangat menempel didadanya.
" Sa, gue duluan. Ponakan gue sakit juga ternyata."
Asa mengangguk paham. Ia sendiri memahami bahwa belakangan ini gejala demam dan flu sangat sering terjadi. Semoga saja Istrinya disana baik-baik saja.
...****************...
setelah satu malam mengalami demam dan siang berikutnya demam itu sudah menurun, Aksara kini sudah kembali ceria. Apalagi adanya Rafa dan Jimmy yang suka sekali mengajaknya bermain dan bukan melakukan hal-hal aneh seperti ayahnya, membuatnya Semakin senang.
Tentu saja akan lebih senang jika ia bermain dengan Asa, tapi karena bermain dengan ayahnya itu lebih sering melanggar peringatan bundanya, Aksara memilih bermain dengan kedua pamannya yang masih muda ini.
" Aksara gede mau jadi apa sih?"
" Mau jadi doktel bedah!"
Kedua paman itu saling menatap bingung. " Emang kamu tau dokter bedah itu ngapain?"
Aksara kecil mengangguk. " yang suka belah-belah peyut bial olang cembuh."
Rafa tertawa keras karena terlalu gemas mendengar dan melihat liur aksara yang melompat-lompat dari bibir keponakannya itu. " Jadi anaknya Om aja mau gak?" tanya Jimmy.
Asa langsung menoleh dan menatap tajam dari kejauhan. si Bujang lapuk satu itu... bisa-bisanya menanyakan hal itu didepan Ayah Aksara secara langsung.
Aksara menggeleng kepalanya. " peyut ayah lebih anget! Aca yebih suka yayah aca!" ( Perut ayah lebih hangat, Aksa lebih suka Ayah Asa!) tolak bocah itu dengan gemas.
Siapa yang tahu bahwa kejadian demam saat itu, akan menjadi rahasia kecil antara ayah anak itu dan menjadi pengerat hubungan dua pria yang paling Lea cintai.
__ADS_1
karena jika Rahasia itu terungkap dan Lea mengetahuinya, jangan tanyakan nasib Malam Asa akan seperti apa saat itu.