
" Lea.. ini Tante Anna.. Tante boleh masuk?" tanpa menunggu jawaban, Anna mencoba membuka pintu itu. Ternyata tidak dikunci. Lea benar-benar kesulitan beranjak darimanapun. Jatuhnya dia di lantai menjadi posisi terakhirnya. Ia tak berpindah kemanapun karena kakinya masih lemas.
Anna menutup pintunya dan berjalan cepat menghampiri gadis itu, " Lea, Kamu gapapa sayang? kenapa bisa gini, ayo bang--"
" Sakit Tante..."
Gerakan Anna yang berniat menopang Lea untuk bangun terhenti. " A-apanya?"
Lea hanya menangis sambil menahan roknya agar tidak terangkat sedikit pun walau roknya terhitung panjang. Tingkahnya membuat Anna menatap khawatir Lea. " Jangan nangis aja... Tante gak akan tau maksud kamu kalo kamu gak ngomong, Lea..", Ucapan lelah Anna membuat Lea menggenggam erat ujung baju Anna.
" Kak Asa udah ambil semuanya Tante... Mahkota aku, Hati aku, bahkan masa depan aku... tapi semua ini emang salah aku.. aku yang bik-"
" Udah.. udah Lea.. udah... Tante gapapa... kamu gak perlu cerita semuanya... Tangisi aja... Tante dan semuanya disini untuk kamu... Kamu aman sama kami.. kamu--" Sesak di dada Anna benar-benar berhasil mencekat lidah wanita itu, membuatnya harus membiarkan isaknya keluar sejenak sebelum ia menelan salivanya kasar, " Kamu gak perlu pikirkan apapun selain diri kamu..." Lea kembali menangis. Menangis lebih keras didalam pelukan hangat itu, membawa Anna merasakan pilu yang ia rasakan.
Lea merasa dirinya tak memiliki harga apapun. Ia tak berarti lagi, seperti yang ia katakan pada Leksa. Seharusnya Lea tak membiarkan wanita itu memeluk dirinya yang kotor, Tapi entah kenapa Lea tak bisa menutupi semua yang ia rasakan dari Anna. Seolah kehadiran Anna membuatnya lepas dari kata kotor itu.
Setelah puas menangis beberapa saat, Lea dan Anna memeikih bersandar pada kasur Lea. Gadis itu bersandar di bahu Anna, dan wanita paruh baya itu mengusap lembut rambut Lea. " Yang pertama itu emang sakit.. Tante bahkan gak berani pindah posisi dari kasur, dan Suami Tante langsung ambil cuti dua hari buat ngangkut Tante kemana-mana."
" Om Agam?"
" Iya... waktu itu Tante mau ke toilet, Mas Agam yang gendong ke kamar mandi, Bahkan dia sempet mikir mau beli Toilet portable... Hahahaha.." Anna tertawa keras mengingat kejadian setelah malam pertamanya dengan sang suami.
" Terus?"
" Terus kalo mau kemana-mana di gendong. Dan dia juga masakin Tante. Dulu dia masakin telor ceplok yang pinggirannya agak hitam, sosis goreng dan nasi dikasih kecap. Dia bahkan minta maaf karena cuma bisa bikinin tante itu.. Kamu bayangin pria sebesar Gema, bahkan dulu Om Agam itu sedikit lebih besar dari Gema, masang muka melas...Ahahahaah.."
Lea tertawa kecil. " Gemess.." Gumam Lea sambil membayangkan Anna yang bertubuh mungil digendong oleh pria kekar seperti Gema. " Pasti imut banget."
" Iya... kalo dulu semua orang takut sama Om Agam karena badannya besar dan mukanya galak, Tante malah mikir dia kayak Macan komplek. Keliatan sangar tapi sebenernya lembut dan imut."
" Kak Asa juga, orang-orang mikir dia dingin dan cuek padahal Kak Asa itu lembut dan Perhatiannn... banget." Ujar Lea sedikit bersemangat. Anna tersenyum tipis.
" Terus sebelum pergi dia bilang apa?"
Lea memilin ujung bajunya dan menunduk. " Dia bilang... Kami harus bicara, kejadian ini gak bisa diabaikan." Anna mengangguk paham. Memang benar kata orang, Walau amnesia, Pribadi dan pola pikir seseorang tidak bisa berubah dalam sekejap.
Mungkin hal itulah yang menyebabkan Asa melewati batas seperti sekarang. Walau otaknya tak mengingat Lea sebagai Orang terpenting dalam hidupnya, Hati tidak akan bisa mengingkari pemiliknya.
" Bicarakan Lea... tapi saat kamu siap. kalau belum siap, lebih baik Jangan. Pembicaraan kalian gak akan berjalan dua arah kalau kamu sendiri belum siap." Ujar Anna sambil menggenggam erat tangan Lea.
__ADS_1
Wanita itu ingat Lea pernah hampir mengalami hal yang sama berdasarkan laporan orang suruhan Agraham. " apa kamu.. takut sama Asa? atau mungkin Gema?"
Tak terduga, Lea menggeleng kepalanya. " Mau separah apapun kesalahan kak Asa.... aku gak bisa lepas dari dia Tante.."
Ucapan Lea membuat Anna menghela nafas lega. Setidaknya Lea tak separah dulu. " Kalau kamu butuh tempat lain, Bilang Tante atau om Agam ya? kami siap bantu kamu apapun itu.."
Lea menggenggam erat tangan Anna. " Boleh gak masalah ini... cukup Tante yang tahu? jangan kasih tau Om Agam atau siapapun.. Aku belom siap dapet pandangan apapun dari orang lain.."
Anna mengangguk kecil. " Tante Janji.. asal, kamu Harus kabarin Tante kalau ada apa-apa.. dan jangan lakuin hal nekad. paham?" Anna mencubit kecil hidung Lea. membuat Lea merasa dirinya tengah bersama seorang ibu penyayang yang tengah membuat janji bersama sang putri.
Sekali lagi, Lea mengandaikan bahwa dirinya adalah putri dari Anna dan Agraham.
...****************...
Walau Anna berjanji kepada Lea tidak akan memberitahu Agraham, Anna sudah berjanji terlebih dahulu untuk tidak memiliki rahasia apapun dengan sang suami, Itulah kenapa Agraham berakhir dengan memecahkan gelas malang yang menjadi bahan pelampiasannya.
Walau Anna tak tahu kenyataan sebenarnya, Anna memaklumi emosi yang dirasakan Suaminya. Ia juga seemosi itu mendengar penjelasan Lea, Tapi Wanita itu menahan diri karena ia tahu yang paling Lea butuhkan adalah kehangatan bukan kemarahan.
" KITA HANCURKAN DIA!!!" Seruan penuh emosi itu membuat Anna berjengit terkejut. Wanita itu meraih lengan besar suaminya, " Mas.. Kita gak bisa.. Gimana sama Lea?"
" Apanya Sayang? Apa hubungannya Asa hancur dengan Lea?? Lea bahkan udah hancur berkeping-keping... Putri kita Anna, Putri kita hancur sama pria yang kita percaya itu... kamu Yakin mau lepasin dia??" Ucapan lemah tak berdaya agraham membuat Anna jatuh menyeluruh. Wanita tak percaya dengan ucapan Suaminya.
" Lea adalah putri kita yang hilang. Semua dugaan kamu, itu benar sayang... Gema membuktikannya dengan Test DNA antara aku dengan Lea. Hasilnya cocok...", Agraham berjongkok didepan Wanita tercintanya, Merengkuh kedua bahu yang bergetar itu. ", Lea....," Lirihan Anna yang menangisi Lea membuat hati Agraham terasa hancur.
Tak hanya Anna, Agraham juga merasa menjadi Orang tua yang jahat. Usaha mereka tak maksimal untuk menemukan putri mereka yang nyatanya berada didepan mata, dan bahkna masih satu kota dengan mereka.
" Kita bawa dia pulang, ayah... Lea butuh kita.. gausah urusin Asa, Lea dulu... dia butuh kita.." tangisan Anna yang penuh dengan nada memohon membuat Agraham tak bisa menolak selain kmenganggukkan kepalanya.
" Apapun itu, Untuk putri kita..." Ucap Agraham sambil mengusap punggung Anna yang masih bergetar.
...****************...
" Mbak, Daniel ke Supermarket bawah ya... Susu sama telor abis." Pamit Daniel. Tanpa diduganya, Lea membuka pintu kamarnya sambil memakai jaketnya. " Mbak ikut ya?"
Ini pertama kalinya Lea keluar kamar dan berbicara secara langsung dengan Daniel setelah seminggu lamanya sang kakak mengurung diri. Biasanya Anna yang akan membuat kakaknya itu membuka pintu, walau tidak sampai keluar dari kamar.
Ini sebuah kemajuan besar bagi Daniel. " Mbak di kamar aja ya? katanya sakit.." pinta Daniel lembut sambil mengusap punggung tangan Lea yang cukup dingin. Makan kakaknya tak banyak belakangan ini, mungkin karena itu wajah Lea sekarang ini begitu pucat.
Daniel membuka kelopak mata Lea, memperhatikan konjungtiva Kakaknya itu yang begitu putih. " Sekalian beli vitamin deh buat mbak.. Yakin mau ikut?"
__ADS_1
Lea mengangguk cepat, " Mbak gak mau sendirian di sini." Ucap Lea sambil menggenggam lengan sweater Daniel. Siswa SMA itu mengangguk sambil tersenyum tipis, menampilkan lesung Pipit manisnya itu.
Selama diluar apartemen, Daniel merasa gemas dengan tingkah kakaknya. Kakaknya ini seolah gadis TK yang takut hilang di toko swalayan. " Mbak, Daniel mau ambil susunya dulu, dilepas bentarr... aja, atau pegang punggung Daniel aja." Ujar pria itu sambil tersenyum manis.
Lea mengangguk sambil melepas rangkulan tangannya, dan meremat kecil sweater adiknya dari belakang. Tangan Lea menyisir rambut bagian depannya yang mulai berantakan karena ia begitu sering menunduk sejak tadi.
" Disini.. ada jepit gak ya? rambut mbak udah panjang banget."
Daniel menoleh sambil tertawa kecil, Ia menarik bahu kakaknya untuk mendorong troli dan ia mendorong bahu kakaknya untuk ikut berjalan.
" Ada kayaknya tapi buat anak SD, gapapa?" Ujar siswa SMA itu sambil tertawa kecil. Lea mendengus kesal. " gausah, pake karet nasi goreng aja."
Daniel tertawa mendengar jawaban ketusnya. " Yaudah, Aku mau bayar, mbak bisa beliin Chatime yang didepan itu, Daniel lagi pengen.. ya? ya?" Lea mempoutkan bibirnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan berjalan keluar dari supermarket lalu mengantri di Toko minuman itu.
Lea keluar saat Adiknya masih mengantri karena belanjaan pelanggan didepan Daniel sangat banyak, mungkin persediaan bulanan.
Ah, Lea merindukan pikiran bebas nan tidak penting seperti ini. Dulu saat ia masih bekerja part-time di masa kuliahnya, Lea sering kali memperhatikan perilaku pelanggan Cafe dan menebak-nebak kegiatannya. atau saat tengah berjalan pulang, Lea sering memperhatikan kemacetan jalan, dan sesekali tertawa jika melihat kelakuan aneh pengendara +62.
" Lea?"
Panggilan itu membuat Lea berjengit, dan menoleh perlahan. benar saja, Seharusnya Lea tak berharap ia salah dengar atau suara itu suara yang pasaran. Suara bass Asa itu sangat khas, dan Lea sangat tahu itu.
" Bisa kita bicara?"
Wajah pucat pria itu, dan juga kantung mata yang agak menghitam walau tidak mengurangi ketampanannya, Itu semua belum cukup membuat Lea mau untuk sekedar melihat wajahnya.
Melihat wajah Asa mengingatkan Lea akan kejadian malam itu. dibilang trauma, tentu saja Lea trauma dengan kejadian itu. Tapi bila dibilang Lea takut dengan Asa, bodohnya Lea tak merasa takut. Lea hanya merasa tidak nyaman mengingat dirinya tak memiliki 'harga' lagi.
" Lea, look at me." Pinta Geraia sambil menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan pandangan Lea. mendengar ucapan Geraia membuat Lea semakin teringat kejadian malam itu.
Lea, look at me please?
Apa Asa memang sering mengucapkan kalimat itu? Lea merasa merinding mendengarnya.
" I don't think that we need to talk. Kalo Kak Asa gak bisa Lepas Miss Leandre, Jangan berusaha bertanggung jawab. Aku bisa lupain kejadian diantara kita, anggap kita gak pernah kenal, dan semua selesai. mudah kan?"
Ucapan Lea, sikap Lea yang memalingkan wajahnya dari Geraia, semua itu membuat ego pria itu tersentil. " Kalau saya bisa lepasin dia, apa saya boleh di sisi kamu?"
Geraia mencoba meraih tangan Lea, Namun dengan cepat gadis itu menarik tangannya, enggan disentuh pria itu. " Semudah itu ya kakak ubah arah hati? semudah berkedip?" Ucap Lea dingin sebelum ia pergi meninggalkan Geraia.
__ADS_1
pria itu mengacak rambutnya frustasi. Hal yang Lea sebut mudah itu ternyata sangat sulit bagi Geraia walau hanya dibayangkan saja.