My Sugar Brother

My Sugar Brother
29. Bara Rindu dan kenangan


__ADS_3

Setelah Seminggu menjalani Business trip ke tiga Negara sekaligus, dan mengalami jetlag hingga akhirnya ia memilih tidur dikantornya,


Lea masih harus menghadiri Acara launching Apartemen Green Paradise yang merupakan projek antara Nextdoor Group dengan February Company. Projek itu sudah berlangsung selama 3 tahun lamanya dan akhirnya selesai melaksanakan pembangunan dan tinggal melakukan peresmian. Tidak sedikit orang dan pengusaha yang hadir dalam acara launching ini. Sebagian karena mendengar akan adanya diskon untuk 100 pembeli pertama, dan sebagian lagi penasaran akan CEO Baru Nextdoor Group. Tentu yang penasaran akan Lea merupakan bagian dari perusahaan pesaing ataupun keluarga dari bagian perusahaan-perusahaan terkenal yang bekerjasama dengannya.


Lea melakukan pidatonya sesingkat mungkin karena Agraham sudah memberi pidato yang cukup panjang. Tapi ada sesuatu yang mengusik gadis itu saat pidato tadi.


Ada seseorang yang menarik perhatiannya.


" Setelah acara Launching ini, Anda ada rapat dengan bagian Produksi, tapi Pak Dion bilang beliau saja yang menghandle dan anda istirahat saja."


Lea menggeleng kepalanya, " Rapat aja."


Farhan menghela nafasnya. Yang bisa membujuk Lea hanya Agus dan Dion. Farhan dan yang lain entah kenapa selalu tak mampu membujuk Lea untuk menurut. Gadis itu terlalu memaksakan dirinya dan Sekarang masih saja ingin menghadiri Rapat yang Kalau Asa sendiri akan tinggalkan dan memilih pulang bertemu Lea.


" Aku mau ke Toilet dulu," Ujar Lea. Gadis itu berjalan sambil menatap Sekitar, mencari Seseorang yang menarik perhatiannya itu dan tanpa sengaja melihatnya saat ia nyaris masuk ke lorong menuju toilet.


Lea berjalan cepat dan bahkan berlari kecil mengejar Orang tersebut. Jantungnya berdebar kencang dan matanya memanas. Walau ia tahu ini konyol, ia berharap apa yang ia lihat tidak hanya halusinasi dan nyata. Orang tersebut sudah didepan matanya. Nafasnya nyaris habis dan ia bahkan merasa tangannya sedikit bergetar.


Lea melangkah dan menarik kecil jaket hitam yang Orang itu gunakan, " Kak Bara?" panggil gadis itu.


Pria itu mengerutkan keningnya dan menoleh. Menemukan Wajah terkejut dan pucat Lea yang membuatnya juga terkejut. Bukankah gadis ini orang yang berpidato tadi? yang menjadi CEO di usia yang sangat muda itu,?


Ia tak bisa mengatakan apapun Saat Lea menarik bahunya dan menangis sambil bertanya, " Ka-kak Bara? ini bener Kak Bara? Kak Bara kemana aja?? astaga.." tangisan Lea dan juga tangan bergetar yang meremat jaketnya itu membuat Pria itu kebingungan dan panik.


" Sorry, ta-tapi... gue gak paham maksud Lo.. gue buk-" Ucapan Pria itu terhenti saat Lea mendongak dan Pria itu melihat sesuatu yang jarang dan mungkin tak pernah ia lihat,


" Lo-lo.. mimisan.."


Lea mengusap sesuatu yang mengalir dari hidungnya. Ia kira itu hanya ingus karena ia menangis. Lea menggeleng kepalanya, " gak... aku baik-baik aja... yang penting Kak Bara jangan pergi dulu... Kakak tet----" Gadis itu terjatuh pingsan Dan Pria itu menangkapnya.


" Gila... benar-benar Gila! gue kesini nyari apartemen dan sekarang gue malah nangkep orang pingsan."


****


Saat matanya terbuka, Ia langsung menoleh ke sana-kemari dan mendapati 'Albaranya' masih disampingnya dengan wajah kusut. Pria itu menghela nafasnya lega dan langsung menekan Bel yang berada dibelakang bed Lea.


" Lo gapapa? ada pusing atau nyeri?"


Lea menggeleng kepalanya. " Ini bener kak Bara 'kan? aku gak mimpi? atau aku selama ini mimpi aja??" Ucapan gadis itu membuat Orang ini semakin frustasi.


Dokter memasuki ruangan Lea dan tersenyum kecil. " Gimana mbak Lea? Apa masih ada keluhan?"


" cuma pusing sedikit dok. Saya boleh pulang?"


Dokter itu menggeleng kepalanya. " Maaf ya Mbak, tapi Mbak ini mengalami radang Lambung, saya boleh bertanya-tanya sedikit ke mbak ini?"


Lea mengangguk, tangannya tak berhenti meremat lengan jaket Pria disampingnya. Setelah dokter selesai bertanya, ia mengangguk paham sambil menatap catatan medis yang diberikan perawat. " Radang Lambung Mbak ini bisa disebabkan pola makan yang tidak baik dan juga Stress.. saya sarankan anda jangan terlalu banyak memikirkan masalah dan memperbanyak istirahat Anda. Saya sarankan anda rawat inap dua hari, baru bisa kembali beraktivitas walau jangan langsung dipaksakan."


Pria disampingnya semakin merasa tak enak. Ia ingin pergi, ia harus memesan Apartemen bagus itu untuk dirinya dan Kakaknya. Kalau ia kehilangannya, akan sangat disayangkan.

__ADS_1


Sepeninggalan Dokter dan perawat, Lea menatap Pria di sampingnya. " Kak Bara, boleh pinjem hp kakak?"


si 'Bara' itu mengangguk. sebelum ia memberikan ponselnya, Ia menatap Lea sejenak, " Gue bukan Bara. Gue Leksamana Maeda Brillhant."


Mendengarnya membuat Lea merasa jantungnya berhenti sejenak. Ia teringat akan suatu perkataan, " mitos bilang, di dunia ini ada 3-7 orang dengan wajah yang sama."


Lea menunduk sambil menerima ponsel itu. " Ma-maaf... saya kira Anda orang yang saya kenal."


Leksa menghela nafasnya dan mengangguk. " Tapi kalo Lo mau kenalan, boleh kok. Emang sekarang gue bukan orang yang Lo kenal. tapi kalo kenalan jadi temen 'kan?" Ucap Leksa.


Ia hanya tak ingin perempuan ini stress karena itu bisa memperburuk kondisinya sendiri. " jangan takut sama yang namanya Stress. Stress itu pesen tubuh bahwa batin Lo udah capek. Jadi kalo ngerasa frustasi dan stress, take a break, have fun, baru kerja lagi. paham?"


Merasakan kelembutan sikap Leksa membuat Lea merasa tengah berbicara dengan Albara kembali. " Maaf karena ngerepotin Kak ba-- Kak Leksa... Aku udah hubungin temen aku. sekali lagi maaf ya kak."


Leksa menatap sejenak Lea. ia benar-benar butuh apartement itu. Sistem keamanannya sangat sesuai untuk kakaknya. Apa Tak apa jika ia meminta tolong kepada Lea? " Sorry nih, emang sih rasanya kurang ajar.. tapi boleh gue minta tolong? gue mau booking satu unit apartemen, tapi gue takut habis, jadi bisa minta cek sisa unit yg lowong?"


Lea mengerjap matanya sebelum ia mengangguk dan tersenyum kecil. " Maaf kak, Hp ku ada di mobil.. boleh pinjem hapenya lagi?"


Saat Sambungannya terangkat, Farhan langsung menyambutnya dengan suara panik, " Lea?! kamu dimana???" Lea tertawa kecil mendengar ucapan Farhan sangat mirip dengan Rafa jika tengah mencarinya.


" Di rumah sakit, aku udah minta Kak Dion Jemput. Mas Farhan bisa cek unit yg masih kosong gak? atau aku minta berkasnya aja. Nanti aku sampe rumah udah ada di meja ya?" Ucap Lea dengan lembut.


melihat bagaimana Lea berbicara, Leksa nyaris tak percaya gadis ini seorang CEO dan seorang Gadis yang menangis tadi. Lea terlihat sangat manis dan imut. Mungkin tampilan seperti itu yang lebih cocok dibanding wajah dingin seperti saat Lea berpidato tadi.


pintu ruang inapnya terbuka dan di sana Dion terengah-engah sambil menghampiri Lea dengan langkah besarnya. " Kenapa?? kok bisa gini?"


" ta-tadi pingsan... kecapean aja... udah boleh pulang kok."


Pria itu baru menyadari atensi Leksa dan menatap Lea seolah tengah bertanya. " Yang nolongin aku... namanya kak b-- Laksamana Maeda Brillhant, Iya kan kak?"


Leksa tertawa kecil. " Leksa... bukan Laksa." Ralat pria itu dengan senyum manisnya. melihatnya membuat Dion merasa pahit dibandingkan manis.


" Kalo gitu, kamu saya anter aja nanti. habisin infus mu dulu." Lea mengangguk patuh kepada Dion dan menatap senang Leksa yang tersenyum canggung menyadari tatapan tak suka Dion kepadanya.


Pria itu berdiri dan mengambil ponselnya di nakas. " Kalau gitu saya permisi dulu. Semoga cepat sembuh ya.." Lea mengangguk cepat, sambil melambaikan tangannya dan tersenyum cerah. Membuat Dion bertanya-tanya, siapa pria ini sampai Lea bisa secerah itu?


****


Sesampainya dirumah, Lea tak mengira akan mendapati beberapa mobil berada didepan rumah. Apa itu Rafa? untuk apa menumpang parkir didepan rumah?


" Rafa!!! mobilnya ngapain di parki...kir di sini? Eh! Kak Agus, Kak Giyat sama Kak Juan... tumben mainn.. hehehe.."


Giyatsa berdiri dan menghampiri Lea. Ia bahkan merangkul gadis itu dan menyeretnya untuk lebih cepat duduk bersama mereka. " gue denger-denger Farhan panik nyariin lu di Launching apartemen."


" kakak denger makanan kamu gak di stok lagi, terus banyak Mie instant di lemari." tambah Juan yang kini bertopang dagu sambil menatap santai Lea. Ia tak perlu mengintimidasi Gadis ini, Seharusnya Agus sudah cukup untuk membuat Lea kapok.


Lea merasakan bulu kuduknya merinding melihat Agus hanya memejamkan matanya. Agus kalau marah sangat Seram.. Lea hanya menebak karena belum pernah kena damprat dari pria itu. " Kamu..." Pria itu baru angkat bicara saja, Lea sudah berjengit kaget.


" Apa perlu Saya ngawasin makan sama tidur kamu? perlu saya tinggal disini? atau kamu saya seret ke rumah saya?" Ucapan Agus membuat Lea langsung menggeleng kepalanya cepat.

__ADS_1


" Engga... beneran.. ini tuh.. aku kerjanya berlebihan biar nanti pas Kak Asa pulang dia bisa sedikit santai... kan gak ada mas--" Lea ucapannya saat menyadari bahwa kata-katanya membuat Ketiga pria itu menatapnya kaku.


Lea terlalu dihantui kepergian Asa. Agus tak mengerti bagaimana coping stress Lea, Tapi Agus rasa Cara Lea sudah menghadapi Stressnya sedikit melenceng. Gadis ini memang tidak lari, tapi Dia terlalu terpaku. seolah-olah Yang Lea lihat hanyalah 'Saat Asa pulang nanti' sedangkan mereka semua tau,


mereka lah yang memulai harapan palsu yang belum pasti ini. Mereka yang membuat Lea membangun labirin yang rumit pada dirinya sendiri yang melelahkan dan tak berujung.


Agus berdiri dan menghampiri Lea. Ia harus menyampaikan berita ini, Agar Lea bangun dari angan-angannya. " Lea.."


Senyum Lea begitu cerah kali ini. Membuat Agus merasa berat untuk mengatakannya. Ia tahu, mereka semua terpukul akan kepergian Asa. Dan ia pun yang paling tau, Bahwa Lea benar-benar tak bisa lepas dari Asa. Pria itu membuka gerbang harapan Lea dan menawarkan harapan dan kebebasan kepada gadis ini,


namun kini Lea terperangkap lagi didalam sangkar Tapi dia sendiri lah yang mengunci diri. Agus merasa prihatin melihatnya.


" Asa gak ketemu."


hanya kalimat itu, tapi begitu sukses melunturkan senyum Lea dan membuat gadis itu terjatuh. Giyatsa hendak membantu Lea, namun ditahan Juan. Ia rasa, Agus sudah cukup.


" Kak Agus bohong 'kan? kakak bilang kita megang harapan yang sama!! Kakak bilang Kak Asa cuma hilang..."


" Tapi sampe sekarang belum ketemu... kita bukan nyerah, tapi kenyataan juga gak bisa kita abaikan, Lea.."


Lea menggeleng kepalanya. Ia tak terima harapannya dipecah begitu saja. " dimana pesawatnya hilang?" Pertanyaan Lea membuat Giyatsa merinding. Tatapan tajam dan dingin suara yang mendadak tegas. mengerikan.


" Dimana pesawatnya hilang?!"


" kalo kamu tau kamu mau apa? Nyari ke sana? terus Kantor Asa mau kamu apain? Lea, berhenti menjadi Anak-anak... Kamu udah dewasa. Kamu harus terima kenyataan!"


Lea menggeleng kepalanya. sesekali ia memukul kepalanya yang terasa sakit karena tangisannya sendiri. " Gak bisa... aku gak bisa kalau kak Asa gak ada..."


" dan menurut kamu karena siapa Asa pergi? Anggap aja kamu berhutang karena berhasil buat dia pergi dan akhirnya hilang. Salahkan diri kamu sendiri." Ucap Agus tanpa iba. Tangisan Lea semakin menjadi mendengarnya.


" Gus!" Juan kini merutuki keputusannya membiarkan Agus yang berbicara dengan Lea. Pria itu bukannya menarik Lea bangkit justru mendorong gadis itu masuk semakin dalam dengan perasaan kelamnya.


Lea merunduk, bahkan membiarkan kepalanya menyentuh Lantai dan berkali-kali mengucap maaf. Agus memang sangat berbakat mengacaukan seseorang. Lea bahkan sudah seperti orang sakit jiwa sekarang.


" Yang terpuruk disini karena kehilangan Asa gak kamu doang! kami, orang tuanya, dan Farhan juga. Semua Merasakan kesedihan yang kamu rasakan, walau gak sedalam kamu.


Tapi kami berusaha bangkit dan terus jalan sambil menempatkan rasa sakit itu diruang masing-masing... Kamu menempatkan kesedihan kamu ke seluruh diri kamu... Kamu nyiksa dan tanpa sadar menghukum diri kamu sendiri." Ucapan penuh emosi itu keluar dengan nada yang dingin. Agus mendekati Lea dan menarik bahu gadis itu paksa, membuat Lea menatap matanya langsung dan berucap,


" Kalau kamu mau menghukum diri kamu, buat Kantor Asa lebih maju, tanpa iming-iming bahwa Dia akan kembali. Gantikan Asa. Ingat terus bahwa Setiap nafas kamu ini adalah untuk membayar waktu Asa yang terbuang buat Kamu selama ini!!"


Juan menarik mundur Agus sedangkan Giyatsa menarik Paksa Lea untuk bangkit dari sujud nya, dan menggendong gadis Itu segera ke kamarnya. Gadis itu menangis lemas tak berdaya seolah semua tenaganya habis terkuras untuk menerima semua ucapan tajam Agus.


Giyatsa mengusap wajah Lea yang kini duduk di pinggir kasur. Gadis itu seperti patung menangis. Tak berekspresi apapun dan hanya mengeluarkan air matanya. " Lea.. Agus gak bermaksud nyalahin kamu.. Dia... mau kamu bangkit.. kamu gak bisa dihantui Asa terus."


Lea menoleh dan menatap Giyatsa dengan mata menyedihkannya, dan meremat lengan kemeja pria itu. Ia butuh seseorang yang akan mengatakan bahwa harapannya masih ada. Masih ada kemungkinan Asa telah ditemukan.


" Aku yang salah kak... aku salah... aku minta maaf... tapi Aku mohon... jangan bilang Kak Asa udah pergi .. Aku gak bisa Nerima itu semua... aku gak akan pernah siap..."


Bersambung...

__ADS_1


siapa yg dendam sama Bang Agus? wkwkwkwk saya persilahkan sesi hujat menghujat nya


__ADS_2