My Sugar Brother

My Sugar Brother
9. Dufan


__ADS_3

Lea mengerjapkan matanya saat melihat Asa sudah berdiri didepan kamarnya.




Dan tawa Lea pecah melihat wajah konyol Asa. Bahkan gadis itu terbatuk-batuk karena terlalu parah tertawa. Asa hanya ikut tertawa kecil sambil menghampiri Lea.


" katanya, Kakak jelek.." ledek Asa. Lea menutup mulutnya. sejak ia bangun tadi, ia mengingat jelas bahwa ia berkata Asa jelek, tapi ia mengira ia hanya bermimpi,


" eh? semalem tuh beneran? bukan mimpi?" pertanyaan Lea mengundang tawa Asa. pria itu mengusap kepala Lea dengan lembut dan memberikan senyuman manisnya. " Gak mimpi, dan syukur juga gak mimpi...Saya jadi bisa lebih santai untuk bilang maaf sama kamu."


Lea menunduk dan menggeleng kepalanya. " aku juga emang mau minta maaf sebenernya, soalnya aku kemarin ngambil sikapnya terlalu kekanak-kanakan, walau emang Kak Asa nyebelin banget sih kemarin. rasanya kalo itu adek aku, udah aku geplak aja palanya pake sendok kemarin... jadi Maaf ya Kak, kemarin Sampe keluar rumah."


Asa tertawa mendengar celotehan Lea, Ia tak mengira Lea bisa sekasar itu terhadap saudaranya. " berarti kakak seharusnya kemarin kayak gimana buat bisa bantu kamu?"


" ikut ngomel-ngomel aja Kak. ikut ngomelin mereka sambil belain aku, itu udah nyemangatin banget!" Melihat binar dan semnagat gadis itu pagi ini, membuat Asa dapat bernafas lega.


" masalah kamu di kampus?" Asa masih saja mengusap rambut lembut Lea. rasanya nyaman saat tangannya bersentuhan dengan rambut itu.


" biarin aja, nanti juga mereka malu. aku udah ngancem mereka 'kan kemarin, Hehehehe..." Asa mengangguk paham. " siap! sana kamu mandi, biar pagi ini kakak yang masak."


Lea mengangguk sambil kembali masuk. saat pintu tertutup, Lea merasakan kehangat dikepalanya. " itu tangan atau setrikaan ya? kok bisa anget gini pala gue.."


Setelah sarapan mereka hendak keluar rumah untuk berangkat, Lea melihat Seseorang yang belakangan ini jarang ia temui,



"Lho Mas Farhan tumben bajunya santai?" heran Lea sambil menghampiri Farhan yang menyambutnya dengan senyum. Asa yang menyusul mereka menatap Farhan sejenak sebelum akhirnya mengangguk. " Baju saya ada?" tanya pria itu tiba-tiba.


Lea menoleh dan menayap bingung Asa dan Farhan secara bergantian. " Ada Pak. udah saya siapin."


" ih, di tanya kenapa bajunya santai.." keluh Lea yang merasa diabaikan. Farhan tertawa sambil mengusap kepala Lea. Ia menggiring bahu Lea untuk masuk ke dalam mobil dan membuka pintu lainnya untuk Asa, " Hari ada rapat dengan klien, dia Orangnya santai, jadi kalau rapat di tempat yang gak biasa."


" gak biasa kayak gimana?"


" hari ini dia mau rapat di Dufan. Hahahaha..." ucapan Farhan membuat Lea menatap takjub hingga gadis itu bertepuk tangan,


" sering-sering deh kliennya itu rapat." ucap Lea berharap. Asa dan Farhan mengerutkan kening sambil menoleh ke arah Lea. " emangnya kenapa?" tanya Asa heran.


Lea menoleh dan tertawa kecil dengan cara yang menggemaskan, " soalnya Mas Farhan makin ganteng kalo pake baju bebas kayak gini, hehehehe.."


ucapan jujur Lea rupanya membuat Asa langsung menatap tajam Farhan, dan pria tampan yang jadi korban dari kepolosan Lea itu hanya tersenyum canggung dan berpura-pura tidak merasakan tatapan tajam di belakang.


rasanya seperti ada yang melubangi kepalanya dari belakang. " Emang Kakak gak ganteng?"

__ADS_1


CITTT!!


Asa dan Lea terkejut bukan main sedangkan Farhan menoleh dengan wajah frustasinya, " Pak! jangan nanya yang aneh kayak gitu di belakang saya!!" Keluh Farhan. Dia tak menyangka atasan yang sudah ia abdikan selama 5 tahun lebih itu akan bersikap aneh seperti sekarang ini.


Lea tentu cukup kaget melihat wajah tersiksa Farhan. Sejak pertama bertemu, Farhan jarang bersikap berlebihan, dan kali ini Lea berkesempatan melihatnya karena pertanyaan bodoh Asa.


" menurut Mas Farhan, Kak Asa ganteng gak?"


Farhan menatap frustasi tingkat tinggi kepada Lea lalu menghela nafas kasar sebelum ia membalik tubuhnya dan kembali menjalankan mobilnya. " padahal gak sedarah, tapi bodohnya sama aja.." gumam pria itu kesal.


" saya denger kamu, Han."


***


" Qi, mau ke Dufan gak?" tanya Lea secara mendadak. Tazqia menoleh dengan pandangan tak percaya. " Lu tumben ngajakin mainnya Ampe Sono... emang ada diskon?" Tazqia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, bersiap pulang. Hari ini kuliah berakhir cukup cepat, dan Lea sudah mendapat libur karena beberapa melaksanan lembur.


Lea tersenyum kecil sambil menunjukkan dompetnya, " engga, nanti gue bayarin... 'kan ada black card-nya Abang gue, hehehe." Tazqia ikut tertawa sambil menggeleng kepalanya. " Ganti bajunya?" tanya Tazqia lagi.


" Gue udah minta Mas Farhan bawain, dia bilang bakal ngejemput depan gerbang, mau gak?" tanya Lea lagi. Tazqia mendengus lalu tertawa dan mengangguk.


saat mereka sampai di gerbang, rupanya banyak yang memperhatikan Farhan yang menunggu didepan mobil. " Mas Farhan!!" panggil Lea semangat. Farhan mengembangkan senyumnya dan menghampiri Lea, " Udah siap? Pak Asa rapatnya tadi diundur Sampai jam 5 nanti karena kliennya masih dalam perjalan dari Singapore... jadi mungkin saat kita sampai, saya langsung ninggalin kamu."


Lea mengangguk dengan senyumnya. " ini Qia, bajunya tadi bawa lebih dari satu 'kan ya Mas?" tanya Lea sambil merangkul Tazqia. Farhan menunduk sopan sebelum memberi senyum kalemnya. Lea mendengus melihat wajah takjub Tazqia, " matanya biasa aja mbak..." tegurnya dengan suara kecil. Tazqia menahan senyumnya lalu menatap kesal temannya itu.


Farhan menoleh dan melirik jam tangannya, " seharusnya sih udah di Macdonald yang gak jauh dari boom-boom Car. Lea sama kamu bisa saya tinggal 'kan? saya harus ke sana segera."


Lea mengangguk mantap sambil melambaikan tangannya melepas kepergian Farhan. Lea menoleh dengan mata berbinar penuh semangat, membuat Tazqia bertanya-tanya, ada apa dengan teman seperbangsatannya ini.


" Beli Annual Pass Kuy?" tawar Lea dengan alis yang ia naik-turunkan dengan jenaka. Tazqia mendengus, " lu sejak tinggal Ama megang kartunya Bang Asa gak ada ragu-ragu buat beli sesuatu ya... waktu itu juga lu ke Alfa gak ngitung dulu total belanjaan lu.."


Lea tertawa kecil, " gak gitu... abis begimana ya, Kak Asa selalu nanya ke gue kenapa kalo beli apa-apa mikir dulu, orang waktu dia liat gue ngelike sepatu di ig, langsung dia pesenin.. daripada dia yg beli, gue lebih milih gue dah, walau duitnya juga gitu 'kan."


Tazqia menggeleng kepalanya tak habis pikir, setelah sekian kalinya, ia bertanya-tanya apakah benar Asa hanya ingin Lea menganggap diringa sebagai kakak? apakah ini jenis fetish baru?


****


Rapat kali itu lebih banyak obrolan tidak penting dibandingkan kesepakatannya. kesepakatan dari rapat itu bahkan selesai dalam diskusi 5 menit. Asa bertanya-tanya untuk apa mereka sampai harus ke Dufan, dan duduk di restoran cepat saji selama 3 jam hanya untuk berbincang aneh.


Asa menghela nafasnya, " Kalau memang arapt ini sudah selesai, boleh saya permisi? karena adik saya lagi nungguin saya." ucap Asa berniat pamit,


Orias, Pria yang sudah menyita waktu Asa selaku klien, menatap penasaran pria kalem itu. " adek? Lo bawa adek kesini? kenapa gak diajak makan bareng aja disini?" ucapnya semangat.


Asa menyempatkan diri tersenyum miring, " Dia gak suka orang asing. jadi saya permisi."


sepeninggalan pria itu, Orias tertawa. " gak suka orang asing, ngapain ke Dufan? aneh Hahahaha!!"

__ADS_1


disamping itu, Air tengah menghempas wajah Lea dan Tazqia yang belum sempat menarik nafas sejak tadi, saat mereka akan turun dengan dorongan air deras, Lea masih sempat-sempatnya berteriak nyaring hingga membuat orang disekitar menoleh ke arah arena Arum jeram.


" HAHAHAHAH!!!" Tawa gadis itu pecah melihat Tazqia yang mengusap wajahnya yang basah kuyup.


" lu udah gila ya? ngapain teriak? keselek 'kan tuh!" sungut Tazqia yang masih sibuk mengeringkan badannya dengan handuk yang mereka beli sebelumnya.


" abis ini mau ngapain?? Histeria yuk??" Ajak gadis itu bersemangat sambil berjalan dengan rambut yang masih setengah basah. Tazqia menggeleng kepalanya, Ia tak bisa lagi mengatasi semangat Lea yang berlebihan.


" Lo aja deh, gue jagain tas, sini. jangan muntah lu ya.."


Lea mengangguk sambil tertawa. Ia mengantri dibarisan terpisah, dan tak menunggu waktu lama ia mendapat giliran untuk duduk di wahana dengan warna kuning itu.


Lea menggoyang-goyangkan kakinya saking bersemangat, membuat orang disebelahnya tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan itu. " Baru pertama kali?"


" iya Hehehe... nanti abis ini mau Kora-kora sama Kicir-Kicir sama Kakak saya, Hehehe.."


orang itu mengerutkan keningnya sebelum ikut tertawa. " jujur aja, gue gak berani main beginian... gue takut tinggi."


Lea menoleh dan menatap terkejut pria disampingnya. dengan segera, Ia menggenggam tangan pria itu. " See? gue juga gemetaran. Tapi tau gak kenapa, abis main yang kayak gini, suka ngerasa ternyata gak semenakutkan itu," Ujar Lea dengan senyumnya sebelum semua itu tergantikan dengan teriakan nyaringnya karena wahananya naik secara mendadak.


setelah puas berteriak setelah permainan, Lea turun dari wahana dan menghempaskan dirinya ke dinding terdekat untuk bersandar. Gadis itu menarik nafasnya dalam lalu tertawa dengan alasan yang tak jelas.


" AHAHAHAHA!! Qi! tadi denger teriakan gue gak?!" ujar gadis itu setengah berteriak kepada Tazqia yang menghampirinya. Tazqia memberikan Lea minum untuk menenangkan diri, " Tornado yuk?" ajak Lea lagi.


Tazqia menggeleng kepalanya. " Lo kalo mau main, Ama Abang Lo aja, tuh dia nunggu-- nih orangnya.." Lea mendongak dan melihat Asa menghampirinya. " Kak Asa mau naik Hysteria? kalo aku aku temenin."


Asa menggeleng kepalanya sambil tertawa kecil. " Yang lain aja. Kicir-Kicir udah?"


" belom!! mau naik itu? ayo!!"


Walau Beberapa Wahana tidak Asa ikuti karena kapasitas keberanian dirinya tak sebesar Lea, Asa merasa bersemangat. Jika seseorang mempertanyakan kesannya terhadap taman bermain Dufan ini, Asa akan mengatakan bahwa jeritan nyaring Lea adalah hal paling tak terlupakan. Rasanya seolah hanya suara Lea yang terdengar olehnya.


Asa merasa ngeri juga senang melihat Lea Berteriak kencang saat diputar-putar oleh wahana Tornado. Bahkan gadis itu masih bisa bernyanyi lagu balonku dengan teriakannya itu.


" Lea gak waras... siapa yang sempet nyanyi pas digituin coba." ujar Tazqia disamping Asa. Pria itu tertawa kecil sambil mengangguk. " rasanya seneng liat dia begitu, kelihatan bebas." ujar Asa sambil tetap fokus menatap Lea yang masih diputar-putar.


Tazqia menoleh dan memperhatikan pria tinggi berwajah tampan itu sekali lagi,



padahal sudah mulai gelap, tapi Asa masihs aja terlihat cerah. Tapi tatapan pria itu kepada Lea yang tengah duduk di wahana seolah menggambarkan sesuatu yang berbeda., Tazqia menyadarinya sejak lama, tapi hanya menduganya,


" Dia laki-laki..."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2