
Sudah berapa lama ya? Sebulan? sepertinya sudah 3 bulan lebih Farhan tidak bertemu dengan Lea dan kini gadis itu benar-benar terlihat berbeda dibanding terakhir kali Lea bertemu dengannya.
Lea sendiri kini tertawa kecil memperhatikan raut terkejut Farhan kepadanya. " Gak tambah kurus kan? Kan Mas Farhan sering banget nelpon aku nanyain makan aku.." ucap Lea.
Farhan mengangguk sambil tersenyum. Pria itu menyesap kopi hitam buatan Lea yang ia pesan tadi. " Apa kamu udah nemuin pak Asa?"
Mendengar ucapan Farhan, Raut wajah Lea langsung berubah. Sulit mendeskripsikan arti ekspresi gadis itu. terlihat datar, namun tatapannya sendu.
Lea sendiri sulit menjelaskan perasaannya. Ia Terkadang merasa rindu, tapi sisi lain dirinya mengatakan bahwa kerinduannya itu adalah hal yang bodoh dan salah alamat. Asa yang sudah menghancurkan martabatnya, Untuk apa merindukan pria itu?
tapi Hati kecil Lea tak bisa menyangkal bahwa dirinya merindukan pria itu. Mana mungkin Lea bisa langsung membenci Asa saat pria itu pernah menjadi Harapan terbesarnya. Bahkan Lea masih ingat perasaan takut kehilangannya dulu saat Asa dinyatakan hilang pada kecelakaan pesawat.
" Pak Asa belakangan ini kurang teratur makannya. Beliau juga selalu menanyakan kabar kamu lewat saya atau orang-orang suruhannya yang mengawasi kamu. Kalau kamu liat dia sekarang, dia terlihat seperti orang terlilit hutang besar dan tengah di jalan buntu."
Lea menghela nafasnya dan memotong cheesecake buatannya sendiri itu lalu melahapnya. " Gimana tunangannya?"
Farhan menatap heran Lea, " Kamu belum tau? sudah hampir sebulan yang lalu Pak Asa memutuskan tunangannya. Dia bahkan gak melawan saat Bule itu menamparnya di kantor."
Lea mengerutkan alisnya. Sudah selama itu kah?
" Apa kamu gak bisa menemui Pak Asa? dia mengajak kamu makan siang. dia bilang, kali ini ia benar-benar akan berhenti jika memang pembicaraan kalian nanti tidak berjalan dengan baik."
Lea menunduk. Benarkah ini yang terakhir? Ia memang tidak bisa banyak berharap kepada Asa yang sekarang. Mungkin setelah pertemuan terakhir itu, Ia akan membangun batasannya lagi dan berjanji tidak akan melewatinya sedikitpun.
" Hari ini?"
Mendengar pertanyaan yang merujuk pada persetujuan, Farhan mendadak ceria. Ia mengangguk cepat. " Atau mau di undur jadi makan malam? saya bisa atur Semuanya. Kamu tinggal datang dan bicara dengan Pak Asa." Ucap Farhan bersemangat. Lea tersenyum sambil mengangguk. Entah kenapa perasaannya sejak tadi kurang baik, tapi ia berharap semuanya berjalan dengan lancar.
Ia berharap ia bisa berdamai dengan Asa dan memulai hidup baru yang lebih tenang, bersama dengan Daniel.
Namun saat Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 petang, Lea masih belum beranjak dari Sofanya. Gadis itu memijit keningnya yang terasa berputar-putar sejak tadi.
" Mbak? yakin jadi pergi?"
" Iya.. tapi tunggu pusingnya reda sedikit lagi..."
" coba kabarin dulu yang janjian sama mbak. takutnya nungguin.." Ucap Daniel sambil memberikan secangkir teh hangat kepada Lea.
Gadis itu mengangguk dan merogoh tas kecilnya. " Hallo Mas Farhan?"
" Kamu udah dijalan? Pak Asa Sudah menung--"
" Maaf Mas Farhan, Aku kayaknya bakal telat atau bahkan gak bisa Dateng. Jadi bisa sampein salam aku aja?"
"..." Hening sejenak sebelum Akhirnya, Suara yang terduga kini terdengar. " Kenapa?" Tanya Geraia datar.
" Maaf Kak ada urusan mendadak dan penting banget."
" Saya akan tunggu kamu, Sampe kamu datang."
Lea menghela nafasnya saat panggilan itu ditutup secara sepihak. " Kenapa gak bilang aja Mbak gak enak badan?"
Lea menengadahkan kepalanya, " Dan bikin dia Dateng ke sini? mbak gak mau. mending dia benci mbak sekalian. Jadi semua bisa selesai dengan cepat."
" tapi gak tuntas. Aku rasa mbak gak hanya perlu ketemu sama Kak Asa, tapi juga harus ketemu Psikolog mbak. Mbak masih sering muntah kan? yakin bukan karena stress?"
Lea memilih bungkam. Daripada Ia menjawab dan Adiknya semakin menyuruhnya ke psikolog, lebih baik Ia diam saja. Toh tak ada yang bisa membuktikan ia sering muntah belakangan ini kecuali sang Adik yang sering memergokinya muntah di pantry setiap pagi.
" Biarin Aja. Kak Asa gak mungkin nungguin Mbak sampe besok kalo mbak beneran gak Dateng."
__ADS_1
Daniel menggeleng kepalanya. Kakaknya belakangan ini sering kali sensitif dan melakukan hal-hal yang jarang dilakukan perempuan itu.
Waktu itu Lea mengantri di supermarket saat membeli persediaan bulanan, Tapi seorang wanita paruh baya menyelak barisan yang sudah Lea antri sejak lama. Apalagi belajaan ibu-ibu itu banyak sekali, tentu saja Lea langsung menegur dan bahkan sempat berniat berkelahi,
Jika saja Suami ibu-ibu itu tidak menarik istrinya mundur, dan Daniel tidak segera menarik trolinya masuk ke depan kasir, mungkin meja kasir itu sudah berantakan karena dijadikan Medan perang.
Padahal Lea biasanya hanya akan menghela nafasnya atau jika memang sedang jengkel, gadis itu akan menyindir untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi belakangan ini Lea seringkali bersikap seolah dirinya tempramental.
Mudah naik darah, dan kadang Ucapannya juga pedas.
Daniel tak mengerti apa yang Terjadi pada kakaknya, tapi ia rasa kakaknya sedang terlalu banyak pikiran sehingga ia terus mengingatkan dan menyarankan Lea untuk menemui psikolog yang dulu pernah Leksa singgung saat tengah mengobrol dengannya.
...****************...
Jangan salahkan Lea jika gadis itu benar-benar tidak menghadiri pertemuannya dengan Asa. Salah satu penyebabnya karena gadis itu bahkan masih merasa pusing, ditambah dirinya sudah lemas tak berdaya di toilet kamarnya. Ia kembali muntah. Ia rasa Daniel ada benarnya juga. Mungkin ia stress, dan perlu bertemu dengan psikolog.
" Lagian buat apa ketemu? toh dia sering banget mampir ke mimpi aku. Gak cukup?" Dengus Lea sebelum ia menutup pintu kamar mandinya dan bersiap untuk mandi.
Kebiasaan paginya sedikit demi sedikit berubah. Ia jadi harus selalu muntah dulu, baru mandi, kemudian ia akan ke dapur, memasak makanan yang tidak akan membuatnya mual atau muntah.
Yang tidak masuk dalam list kesehariannya adalah mendapati Farhan berdiri didepan apartemennya dengan tatapan tak enak hati sekaligus memelas.
" Kenapa Mas Farhan?"
" Maaf, Lea... bisa kamu ikut saya? Pak Asa gak mau beranjak dari restoran sejak kemarin malam. Saya juga gak bisa ninggalin Pak Asa sebenernya, tapi Pak Asa bilang dia gak akan pindah sampai Kamu datang dan bicara sama dia."
Lea menatap tak percaya Farhan. " Mas Farhan bohong kan?? mana mungkin Ka--"
" Saya juga gak percaya Lea... tapi Pak Asa kayaknya bener-bener udah gila.. Saya gak ngerti Lagi." Ucapan Frustasi Farhan berhasil membuat Lea menyerah. Gadis itu mengambil tas kecilnya dan ikut keluar mengekor Farhan.
Tidak heran Farhan terlihat frustasi. Ia begadang semalaman suntuk di restoran, menemani Asa yang bahkan tertidur saja tidak. Pria itu hanya menatap.kosong bangku dihadapannya yang seharusnya diisi Lea malam itu.
Saat sampai di restoran, Lea dapat melihat Geraia yang masih duduk di sana dengan pandangan mengarah pada Kursi dihadapan pria itu. Lea menghela nafasnya dan menghampiri pria itu.
" Kak Asa udah gila?"
" Saya udah bilang saya akan tunggu kamu sampai kamu datang. Urusan penting kamu udah selesai?" Pertanyaannya tak digubris, Lea memilih duduk dan menatap lurus Asa.
walau ia merindukan pria ini, Rasa kesal dan pusing dikepalanya justru semakin menjadi-jadi. Geraia mulai membuka mulutnya.
" Saya siap bertanggungjawab atas kamu Lea. Bisa kita bicarakan hal ini? Lea? Lea.." Panggilan pria itu tak digubris karena Lea hanya samar-samar mendengar ucapan Asa. Gadis itu memegang keningnya, merasa sangat pusing dibagian sana,
Sampai akhirnya gadis itu pingsan didalam dekapan Asa yang Memasang wajah pucat dan panik.
...****************...
" Untungnya Suami Anda meminta dilakukan pemeriksaan USG, CT scan dan MRI, kalau tidak, mungkin kami hanya akan merawat anda sebagai pasien Anemia dan bukan Ibu hamil yang memiliki anemia."
Lea mengerutkan keningnya. Maksudnya? Lea Tak mengerti maksud dokter ini. " Maksudnya Dok? Saya gak ngerti.."
" Anda hamil.. dilihat dari hasil USG, Usia janin Anda masih sangat muda, sedang jalan 6 Minggu. Saya sudah menyerahkan anda ke dokter Tantri, dokter kandungan di rumah sakit ini, untuk hasil tes dan perawatan silahkan tanyakan beliau dan Suster ya. Saya permisi."
Lea terpaku ditempat. Apa maksudnya ini? Hamil? janin? 6 Minggu? apa-apaan? Lea menoleh, baru menyadari bahwa tangannya sejak tadi di genggam oleh Asa yang kini tertidur di pinggir kasurnya.
Apa Asa ayah dari janin di rahimnya? Mana mungkin bukan? Memang Lea pernah melakukannya dengan siapa lagi? pertanyaan bodoh darimana itu?
Ia kini beralih menatap perutnya yang masih rata. apakah benar dirinya hamil? 5 minggu? memang sudah selama itu ya sejak kejadian malam itu?
" Lea?" Suara khas bangun itu mengagetkan Lea, membuat Gadis itu berjengit sejenak sebelum ia menarik paksa tangannya yang digengam Asa.
__ADS_1
Pria itu tanpa permisi merapihkan rambut Lea, memasukkan anak-anak rambut yang tidak beraturan itu ke sela telinga Lea.
" Ada yang sakit? dokternya udah Dateng?"
Lea mengangguk. Degup jantungnya terasa berlebihan. Apakah Asa akan menerima anak ini? Maksud Lea tentu Asa akan bertanya-tanya apakah itu benar anaknya atau bukan, Atau mungkin pria itu akan menyuruhnya menggugurkan janin tak bersalah ini?
" Apa kata dokter?"
" Do-dokter bilang cuma Anemia aja. Dan dianjurkan istirahat."
" Jangan kecapean.. kamu udah gak ngantor 'kan? mending istirahat aja.." Nasihat Asa membuat Lea hanya bisa tersenyum tipis menutupi kegugupan yang ia rasakan.
Seseorang mengetuk ruang inapnya, Seorang wanita cantik dengan jas putih dan stetoskop mengalungi lehernya. " Halo, Bu Lea, Saya Dokter Tantri yang menggantikan Dokter Ren--"
" Iya Dok, tadi Dokter yang cowok itu udah bilang saya anemia makanya pingsan kan?" Ucapan Cepat Lea membuat Tantri menatap bingung sebelum perempuan itu menatap Asa sejenak dan mengangguk paham. ", Bapak bisa ditinggal dulu Bu Leanya. ada beberapa hal privat yang akan saya bicarakan dengan Bu Lea."
Sepeninggalan Asa. Lea menunduk menghindari tatapan Tantri kepadanya. " Anda tidak akan memberi tahu suam--".
" dia bukan suami saya... Anak ini... hasil kecelakaan." Ujar Lea sambil menunduk. Tantri mengangguk paham. Ia menggenggam tangan Lea, Dan menatap teduh perempuan yang enggan menatapnya ini.
" Dari data diri kamu, Masih akhir bulan ini kamu 20 tahun 'kan?" Lea menatap Tantri dengan pandangan sedikit terkejut. ia bahkan tak sadar bahwa Ia akan berulang tahun, Dan lucunya lagi, Usianya baru masuk kepala dua dan ia sudah hamil seperti sekarang?
Melihat Reaksi Lea, Tantri sangat paham pikiran yang muncul di kepala gadis ini. " Usia kamu mungkin cukup beresiko untuk kehamilan ini. Selain kondisi kamu yang tanpa persiapan, dari pengakuan kamu, mental kamu belum siap. Boleh saya tanya kamu ada wali yang bisa mendampingi kamu menemui saya?" tanya Tantri lembut.
Lea menatap kesana kemari, Orang tua angkatnya sudah meninggal, Ia sendiri tak tahu orang tua kandungnya dimana. Yang bisa ia jadikan wali.. hanya Asa.. atau mungkin Agus? Tapi Lea tak sedekat itu dengan Agus dan.. mengetahui hal ini tentu hanya akan memperunyam masalah.
" Lea, jangan panik.." teguran lembut Tantri membuat Lea kembali fokus pada dokter muda ini. " A-ada.. kerabat aku.. Tapi aku gak tau bisa Dateng atau engga."
Tantri mengangguk, " Hubungi dulu wali kamu itu, Sebelum di izinkan pulang saya harap kamu bisa mampir ke ruangan saya dengan wali kamu." Ucap Tantri smabil beranjak dari duduknya. Sebelum ia membalik badannya, Ia kembali menatap Lea yang terlihat gelisah.
" Saya sarankan jangan banyak pikiran. Cukup pikirkan janin dan diri kamu aja. Yang lainnya gak penting." ucap wanita itu.
walau sudah mendapat pesan itu, Lea tetap merasa panik. Ia mengambil ponselnya dan mencoba mencari kontak seseorang yang bisa ia hubungi. Lea merasa gugup.
Bagaimana reaksi orang ini jika tahu dirinya hamil? Lea takut penolakan orang ini.. Ia juga takut jika Asa mengetahui kehamilannya dan menyuruhnya menggugurkan kandungannya.
Ilmu keperawatan maternitas* yang sempat ia pelajari benar-benar memenuhi isi kepalanya. Tentang segala resiko dari kehamilan dini, Kehamilan yang tidak diinginkan dan resiko yang dapat terjadi dari aborsi.
Lea tak tahu harus apa lagi.. ia benar-benar panik. " Ha-hallo.. Tante Anna.. bisa ke rumah sakit?" Lea merasa panik sampai akhirnya ia menghubungi Anna sambil menangis sesenggukan. Walau ia tahu ia banyak merepotkan keluarga wanita itu, Tapi kali ini ia berjanji ini adalah kali terakhir. Lea benar-benar ketakutan sekarang.
" Le-lea di rumah sakit.. tadi pingsan.. terus pas sadar, dokternya bilang Lea.. hamil.. hiks.. Tante bisa kesini jadi Wali Lea? Lea takut Tante.." Ucap Lea lagi. Sejak tadi tak ada jawaban yang ia tunggu, bahkan helaan nafas saja tak terdengar. Lea benar-benar takut ditolak kali ini.
" Please Tante.. Lea mohon ini yang terakhir kalinya Lea ngerepo--"
" kamu di Rumah sakit mana Lea?" Suara berat itu membungkam Lea. Bukan Anna yang mengangkat panggilannya.
Itu Agraham.
Bersambung...
*Keperawatan maternitas itu ilmu keperawatan yang ditujukan buat wanita pada masa usia subur (WUS) berhubungan dengan system reproduksi, rencana/program hamil, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari.
Sebenarnya Emang yang namanya jurusan keperawatan tuh cabangnya banyak banget. Ada perawat Medikal bedah Kayak perawat park di Romantic doctor Kim, perawat maternitas kayak yang dijelasin di atas, keperawatan Gerontik buat pasien Lansia, dll. Cabangnya gak beda jauh lama Ama dokter.
Lea itu kan berhenti kuliah di awal semester 5. Sedangkan authornya ini, Yang kuliah perawat juga, Ketemu maternitas itu pas semester 3 jadi Itu menjelaskan ya, Kenapa Lea udah paham begituan..
Dan memang hamil di usia dini itu cukup beresiko, baik dalam segi mental ataupun kesiapan tubuh si perempuannya sendiri. Aborsi juga bukan suatu solusi yang bikin masalah selesai dengan instant sih, salah-salah atau bahkan sialnya, bisa ada masalah reproduksi gara gara aborsi.
Semoga bermanfaat dan memperjelas kebingungan kalian.
__ADS_1