
Akhir Minggu ini, Lea mendapat kabar dari sang ibu bahwa Kakeknya akan datang dari Jogja, dan hendak menginap dirumah temannya yang ada di Jakarta untuk menghadiri sebuah acara perkumpulan teman-teman kakeknya itu.
Lea sendiri tidak paham , memangnya Kakek-kakek perkumpulan ya itu seperti apa hingga merelakan bahaya menghampiri dengan pergi sejauh Jakarta dan Jogja. Apa Kakeknya berhubungan dengan temannya melalui Facebook? bisa saja terjadi penipuan! Lea memijit pelipisnya terutama Karena Asa tadi siang memaksa ikut ke bandara, tapi karena Lea tak ingin membuat kakeknya salah paham kepada Asa atas beberpaa alasan, Lea memilih untuk berangkat sendiri dan mengancam Asa dengan Kopi hitam yang baru ia beli beberapa hari yang lalu.
Saat sampai Di bandara, tentu Lea menjadi pusing melihat banyaknya orang yang berlalu lalang. Terminal 1 memang tidak pernah sepi dan selalu paling ramai. Gadis itu mendapat telepon dan langsubg mengangkatnya karena tak ingin menambah kericuhan dengan dering hebohnya ini. " Halo?"
" Yaya... Kakek gak jadi terbang hari ini ndok, jadiny besok... Kakek salah sebut tanggal ke kamu kemarin, maaf ya ndok.." Lea menjauhkan ponselnya dan menghela nafas keras sebelum kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya lagi. " Ohh... aku baru mau jalan... untung Kakek nelpon ini... yaudah Kakek istirahat aja ya, besok mau terbang kan.." ujar Lea sambil tersenyum masam.
sangat masam karena melihat banyak perempuan berteriak bodoh di Terminal Arrival 1 ini. Apa mereka tak tahu yang menjemput tidak hanya mereka. Lagipula untuk apa bergerombol seperti itu seolah jika tidak mereka akan mati saja, ketus batin Lea. Gadis itu merogoh tas Selempangnya dan mengeluarkan earphone sebagai senjata pamungkas dalam situasi ricuh ini.
Ia berjalan acuh sambil memasang kedua alat pendengar musik itu ke telinganya dan mengabaikan si gerombolan ricuh menyebalkan (bagi Lea) itu. Namun bukan musik menyenangkan yang ia dengar, malah kericuhan itu semakin menjadi seolah mereka berteriak disamping telinganya. Lea heran, entah kualitas earphone yang kurang bagus walau sudah mahal, atau Kualitas pita suara manusia-manusia barbar (bagi Lea Lagi) itu memang menakjubkan. Lea Menoleh dengan pandangan kesal hingga akhirnya ia lepas kendali.
" BERISIK!! BANDARA BUKAN PUNYA NENEK MOYANG LO!" Hanya satu sentakan dengan Volume yang tak seberapa mampu membuat orang-orang disekitarnya dengan jumlah yang tak terhitung itu diam sejenak. Lea tak gentar ditatap benci oleh para perempuan alay ( bagi Lea selalu) itu. Justru gadis itu emnatap lebih tajam. " belom aja gue tabrak Lo semua di depan bandara. gue tunggu Lo semua dia di depan!" ancam Lea.
saking kesalnya Gadis itu tak sadar ia masih jadi bahan perhatian orang-orang yang shock akan teriakannya tadi.
" Lho, Kakeknya mana?" Farhan merasa heran karena Lea sampai begitu cepat dan hanya sendiri. Lea menggeleng kepalanya, Ia sudah lelah bersumpek-sumpek ria dengan orang-orang atau bahkan ditanyai bule yang nyasar sejak masuk tadi. Lea hanya ingin tidur karena dia sudah terlalu malas untuk melanjutkan liburan akhir Minggu ini.
Farhan tidak terkejut saat ia membuka pintu mobilnya didepan rumah, Lea masih tertidur didalam mobil. Pria itu berjalan masuk ke dalam, mencari Asa.
Pernah sekali waktu, Farhan menggendong Lea karena gadis itu ketiduran di mobil seperti ini, dan kebetulan Asa memang tidak memiliki urusan penting di kantor sehingga ada di rumah. Siapa yang sangka bahwa Farhan akan ditatap tajam oleh Asa saat menggendong Lea? Jadi untuk sekarang dan seterusnya, demi keselamatan nyawa dan finansial-nya, Farhan tak akan pernah menggendong Lea didepan Asa.
Asa mengerutkan keningnya saat melihat hanya Farhan yang masuk ke rumah, "Lho? Lea sama kakeknya mana?"
" Kakeknya salah kasih tanggal, ternyata besok. kalau Lea dia lagi tidur di mobil." Segera setelah Farhan mengatakannya, Asa langsung berdiri dan berjalan cepat ke luar. Farhan mendengus melihat tingkah orang ini. Ini atasannya mengidap sister complex atau gimana?
Tapi pikiran-pikiran aneh Farhan langsung sirna saat Asa membawa Lea didalam gendongannya dan beberapa orang dibelakang atasannya itu. Farhan sangat yakin Ia hanya membawa Lea ke mobilnya dan Asa keluar hanya untuk menggendong Lea. Lalu Keenam pria itu datang dari mana? tunggu, ia kenal beberapa orang itu.
" Lha, Si Farhan masih betah aja sama Lu , Sa! Lu homo ya sama Farhan?" Ucap seseorang yang tingginya lebih pendek dari yang lain. Pria itu memiliki pipi yang cukup tembam dan bibir mungil menonjol yang lucu. Kepalanya mendapat hantaman kecil dari pria yang setinggi dirinya namun berwajah datar, " Jangan ngehina orang yang lebih pinter dari Lo sendiri, Jim." Ujar Agus.
Jimmy mencebikkan bibirnya kesal. Sedangkan pria tinggi di sampingnya yang menggunakan kacamata mengerutkan keningnya sedikit, " Lo gendong siapa, Sa?" Tanya Juan si pria tinggi berkulit Sawo belom matang.
" Ah, itu adeknya Bang Asa... namanya Lea."
" Lha, Adek??" kaget kelima orang itu bersamaan. Rafa mengerutkan keningnya, memang apa salahnya dengan Asa memiliki adik? dan Apa ia salah bicara hingga Asa menatapnya kesal seperti sekarang?
" demi apa Asa punya adek?"
__ADS_1
" Sa, lu ada makanan?" tanya yang lain, dengan tinggi tak melebihi Juan dan berkulit lebih putih dari Juan. Asa menghela nafasnya. Mereka terlalu ribut, Ia tak mau membangunkan Lea, Akhirnya Asa melirik Farhan dan menunjukkan dapurnya, memberi isyarat.
" Kue buatan Lea jangan sampe dimakan mereka. Sampe kejadian gaji kamu saya potong." Bisik Asa. Farhan menghela nafasnya lelah. Kenapa Dompetnya menjadi ancaman??? jerit batinnya.
***
Sikap santainya menuruni tangga sambil menghandukki rambutnya langsung berubah menjadi sikap kaku seperti patung saat ia melihat 7 pria tengah memperingatkan makanan.
Tidak semua, hanya beberapa termasuk kakaknya yang terlihat paling garang seolah makanannya akan dicuri.
Lea memperlambat langkahnya demi tidak menimbulkan suara yang mampu menginterupsi ketujuh pria itu. Namun pucuk di cinta, Ulam pun tiba bagi salah satu pria di sana, Ia melihat Lea yang tengah berjalan dengan wajah gugup, lalu berteriak.
" LAH!! SI NENEK MOYANG!!" teriak orang itu. Asa dan yang lain menoleh ke arah Lea yang berada di anak tangga terakhir, Asa langsung merubah sikapnya menjadi normal sebagai mana mestinya dan dengan sigap menyembunyikan Kue buatan Lea dibelakang tubuhnya.
Awalnya jika memang ketahuan, Lea berencana memberikan senyuman, tapi Ucapan Giyatsa si Pria tinggi nan tampan yang tadi menanyakan makanan dan yang berusaha merebut kue Lea dari Asa, Berhasil membuat Lea lebih memilih memasang tampang bingung.
" ne-nenek moyang?* bingung gadis itu. Asa pun menatap heran Giyatsa. Ia tahu Giyatsa adalah orang yang cenderung bersikap aneh dan absurd. Tapi menyebut Lea sebagai nenek moyang yang mana gadis itu bahkan belum masuk dalam kategori dewasa, Asa rasa Giyatsa baru saja membenturkan kepalanya di suatu tempat.
Giyatsa berdecak saat ke-empat temannya tak ada yang membantu menjelaskan padahal mereka juga mengenali Lea.
" Itu lho!! yang bilang bandara bukan punya nenek moyang, tadi siang itu.." Ucap Giyatsa gemas. Jimmy yang paling pertama menjentikkan jarinya seolah paham, dan yang lain ikut mengangguk terkecuali Rafa dan Asa juga tentunya Lea. Mereka berdua menatap heran semuanya termasuk Lea yang memasang wajah merah karena malu.
Lea Tersenyum kecil dan hendak mengambil duduk disamping Jimmy, namun Lengannya ditarik cepat seseorang hingga ia duduk di arah berlawanan. Lea menoleh dan mendengus kesal. " Kamu kalo kangen sama aku ngomong aja Raf, gausah narik sambil manyun gitu." Mendengar ucapan Lea, Rafa langsung membelalakan matanya dan lebih memajukan bibirnya.
" kenapa sih Raf?" heran Lea sambil berbisik. Rafa menarik bahu Lea agar lebih dekat, " Abang lu matanya tuh .. ngalahin Dedi kobuzer.." bisik Rafa memberitahu. Lea pun menoleh dan menemukan atensi dengan Asa yang tengah menatap tajam Jimmy.
" Kak Asa." panggilan Lea membuat Asa merubah pandangannya dan menatap lembut Lea. Rafa bergidik ngeri begitupun Jimmy yang sejak tadi sudah merinding ditatap tajam Asa. Tapi Lea bahkan tak terpengaruh. Gadis itu tau Kakaknya ini menyeramkan pada orang lain, tapi lembut kepadanya.
mirip Macan yang baik hanya pada keluarganya dan menyeramkan kepada hewan lainnya.
" Kuenya di bagi aja." ucap Lea sambil tertawa kecil memikirkan bagaimana Asa terlihat seperti macan. Asa menatap tak terima dan menghela nafasnya kesal. " bener? 'kan kamu bikin buat kakak.." mendengar nada keluhan itu, Lea tertawa kecil.
" 'kan Ku bisa bikinin lagi. kalo kakak gak bagiin, aku bisa bikin mochi kacang merah lagi atau bolu kacang merah, dan kak Asa harus ikut Mak--"
" Gi, yang ini tuh lebih manis, yang ini lebih gurih, "
Lea tertawa riang mendengar ucapan Asa. Gadis itu menghela nafas lega setelah cukup lama tak tertawa riang seperti ini. Asa pun sama leganya, ia kira Lea tak akan tertawa seriang itu lagi kepadanya.
__ADS_1
Tapi sepertinya perasaan lega itu tidak dirasakan semuanya. Selain Rafa yang mengerti situasi, Semuanya merasa bingung. Terutama seseorang yang sudah sangat lama mengenal Asa.
" Lo punya hubungan apa sama Asa sampe tinggal disini?"
Lea tertegun mendengar pertanyaan dari orang berkulit pucat, bermata sipit dan berwajah datar itu. Apa orang ini juga tahu Asa memiliki adik laki-laki dan bukan perempuan?
sebenarnya sejak kejadian Orias, Lea merasa dirinya tanpa sadar berusaha untuk berpura-pura menjadi adik Asa dan mencoba menutup keberadaan Albara yang sebenarnya adik kandung Asa.
Tapi pikiran yang mencemaskan mentalnya ini ia abaikan dan dia tutupi dengan senyum manis menipunya, " Lea... hemm apa ya? Pokoknya Kak Asa itu Sugar Brothernya Lea Hehheeh.."
Pandangan tak percaya dan menghakimi langsung tertuju pada Asa. Inilah yang membuat Asa malas membawa Lea dan harus menjelaskan hubungannya dengan gadis itu kepada sahabat-sahabatnya. Dan pukulan keras dikepalanya berasal dari pria pucat bernama Agus Mahardika itu.
" Otak Lo ilang atau masuk ke tong sampah?" Ucap orang itu dingin. Lea merinding mendengar ucapan dingin nan tajam itu. Ia sendiri langsung sadar Orang pucat itu pasti marah kepada Asa karena ucapan ambigunya.
" Hengg.. itu, maksudnya aku kayak ngekos gitu sama Kak Asa.. cuma gratis... yah pokoknya Kak Asa bantuin aku gitu, imbalannya cuma nemenin dia soalnya dia kesepian. Iya 'kan Raf? kamu 'kan jadi saksi... kok diem aja?" Lea menyenggol perut Rafa dan membuat Pria yang sejak tadi sibuk menyeruput susu pisangnya menjadi tersedak. Ia mengangguk gugup seolah setuju-setuju saja apapun yang Lea ucapkan.
Tapi rupanya ucapan Lea tidak mampu membuat Agus merasa yakin. Gadis itu justru membuat Agus jadi makin menatap dingin Asa. " Beneran bang Agus yang tampan nan jenius... Si Lea teh cuma ngekos aja disini.. nemenin Bang Asa biar mau pulang... abis rumahnya berasa rumah kosong..." tambah Rafa meyakinkan.
Agus kembali duduk dan masih menatap tajam Asa yang memasang wajah kecut karena dituduh menjadi pria cabul. Lea yang merasa suasana sedikit tidak mendukung menepuk tangannya dengan keras..
" Ini kakak-kakak 'kan pada capek ya, Aku masakin aja mau? Request aja, nanti aku masakin... bahan makanan Kak Asa cukup kok buat sekampung." Tawar Lea dengan senyum polosnya.
Semua langsung mengangkat tangan, Bahkan Agus yang masih sibuk menatap Asa juga tetap mengangkat tangan.
" Mau Daginggg!!!"
" Bihun, Kakak mau bihun kayak kemarin."
" Bulgogi!! rice bulgogi!"
" Gue apa aja yang penting gak pake kubis!"
" INDOMIEEE!!"
" pokoknya daging gak mau tau!!
" Ramen ada gak?"
__ADS_1
Lea memijit pelipisnya. Ini menyebalkan. Kenapa Mereka berisik sekali seolah tengah merequest lagu di konser terbuka??
" HIH BERISIK!!"