
Lea mengerjapkan matanya lagi untuk kedua kalinya saat ia melihat dua Boneka yang mungkin bisa memeluk badannya berada di ranjang tidurnya. Gadis itu menoleh, menatap Asa yang tersenyum manis di ambang pintu. " Ini kak Asa yang beli?"
Asa tertawa kecil sambil mengangguk. " beberapa kali Kakak liat ada yang lari keluar kamar sambil nangis. jadi kakak beliin bodyguard buat jaga kamu didalam mimpi dan tidur kamu tetap nyenyak."
Lea terdiam. Ia tak tahu bahwa Asa mengetahui kebiasaan aneh yang sering disebut somnabulisme atau tidur sambil berjalan. Lea mulai mengalaminya tak lama ia pulang dari Bandung. Kota itu benar-benar menjadi kalimat mengerikan baginya. Biasanya saat ia bangun di subuh hari, ia sudah berada dilorong pojok dekat pintu gudang lantai atas, dan kembali ke kamar seolah ia memang tidur disana tanpa mengalami gangguan tidur.
Ia tak mengira bahwa Asa mengetahuinya. Pasti ia menambah beban pikiran pria itu.
" kamu bukan beban buat kakak. tapi tanggung jawab. sekarang ada Winter Bear yang nemenin kamu dan Tiger yang jagain kamu."
Lea tersenyum sambil menyentuh kedua boneka yang benar-benar besar itu. Apa kakaknya ini tidak terlalu manis? Lea rasanya gemas mendapatkan perlakuan semanis ini.
" Lea, kalau Saya bilang saya suka kamu, kamu akan bilang apa?"
" eh?"
" jawab." tak ada senyum manis atau keraguan di wajah pria itu. benar-benar terlihat serius seolah ini berhubungan dengan nasibnya kedepan.
" kenapa tiba-tiba ngomongin suka-sukaan? kan lagi ngomongin Boneka." heran gadis itu. Ia juga gugup bukan main, kenapa tiba-tiba ia mendapat kalimat seperti ini?
Asa berlutut didepan Lea, menggenggam tangan gadis itu, dan menatap teguh perempuan yang sudah mencuri hatinya sejak 3 tahun yang lalu.
" Asa Aldebara Mahardika sekarang menyatakan perasaannya, bahwa dia menyukai, mencintai dan menyayangi Aeleasha Gayatri, tidak sebagai seorang adik ataupun teman dari adiknya, namun sebagai perempuan bernama Aeleasha Gayatri, tanpa maksud apapun, tanpa memandang apapun dari gadis itu selain dirinya dan kepribadiannya.
jadi, apa kamu terima perasaan saya, Lea?"
Lea menatap ragu Asa. Ia tak mengerti alasan Asa secara mendadak menyatakan perasaan dengan serius seperti ini, di kamarnya, dengan pandangan seolah pria itu tak menerima penolakan. Semua ini membuat Jantungnya berdebar bukan main.
lama berpikir membuatnya teringat akan sesuatu hal. " Kak Asa bukannya suka seseorang? kenapa nembaknya aku?"
" itu kamu Lea." jawab Asa secara langsung.
Lea terdiam. erat genggaman Asa seolah menggambarkan seberapa gugup pria itu. Lea tak bisa berpikir jernih. Namun, jika dipikir-pikir lagi, bukankah ini baik untuknya? Itu berarti perasaannya berbalas, dan ia bisa bersama Asa.
Tapi apa perasaannya semurni perasaan Asa kepadanya? apa ia menyukai dan menyayangi pria itu tanpa memandang apapun, tanpa maksud apapun?
" aku juga suka kak Asa." Jawab Lea sambil menunduk. Tentu saja hal itu membuat Asa bernafas Lega dan hendak berdiri,
" Tapi aku gak tau.... apa aku suka kak Asa karena Kakak banyak bantu aku, atau karena selama ini Kakak selalu jadi sandaran aku.
bisa aja perasaan aku ke kakak sama kayak perasaan aku ke kak bara. iya kan? yang ternyata cuma perasaan nyaman seorang adik yang dimanja kakaknya?"
Asa terdiam kaku. Lea mengucapkan prasangka yang masuk akal, tapi Asa tak perduli. " yang terpenting kamu suka kakak 'kan?" tanya Pria itu dengan senyum gugupnya.
batinnya berharap bahwa Lea tak akan menolak hubungan yang ia harapkan ini. Apa gadis ini tak bisa membiarkannya berusaha mengubah kata suka itu jadi tergila-gila?
__ADS_1
Namun air mata Lea membuat Asa kembali diam. bahkan batinnya berhenti berharap. Ia tahu konsekuensi dari kenekatannya adalah Lea tak merasa senang, tapi ia tak berharap melihat air mata gadis itu.
" Tapi aku mau kakak bahagia... dan aku rasa, kalau aku belum balas perasaan kakak dengan konteks yang sama, akhirnya kakak yang sedih... aku gak mau kakak gak bahagia." Lea mengusap kasar wajahnya, menghapus air matanya, dan menatap mata Asa dengan dalam,
" Kakak selalu bilang harus utamain diri aku sendiri demi kebahagiaan aku sendiri 'kan? Aku juga minta kakak ngelakuin yang sama... apa Kakak gak bisa coba dengan peejodohan dari Mami Kakak?"
" kenapa jadi perjodohan? Lea, Saya membicarakan kita! Saya, dan kamu.. kenapa kamu bawa perjodohan?"
" karena aku takut kakak suka aku cuma karena Kasihan!!!" sentak Lea. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan wajah menyedihkan dari orang yang menyusahkan ini.
" Lea.."
" Please, Kak. Coba dulu sama perjodohan ini. kalau kakak udah coba dan kakak justru masih mikirin aku. ayo kita coba. Aku akan coba yakinin perasaan aku ke kakak selama kakak mencoba perjodohan itu."
" dan kalau perjodohan itu berhasil dan kamu suka sama Kakak?" Asa tanpa sadar mengatakannya dengan nada dingin, seolah menggambarkan bahwa Lea begitu bodoh dimatanya. Apalagi saat Lea tersenyum pahit sambil mengusap air matanya dan berkata, " ya berarti.kita gak jodoh. Kak Asa gak perlu ragu untuk tinggalin aku atau bahkan usir aku. Kakak udah terlalu banyak berjasa buat aku."
Kepalan tangan pria itu mengerat. Ia ingin mengutuk dirinya yang membuat Lea menangis dan membayangkan hal konyol yang ia ucapkan itu. " lakukan sesuka kamu."
itu adalah Kalimat yang ia ucapkan sebelum ia keluar dari kamar Lea, membiarkan Lea menangis sejenak sebelum tertidur diantara dua boneka besar yang Asa siapkan untuknya.
sedangkan Asa terdiam dibalik pintu kamarnya, menatap langit-langit sambil menghela nafas berat. Menyesali kenekatannya yang berbuah perasaan sakit seperti sekarang.
ia terlalu panik saat mengetahui ada seseorang yang berhasil membangunkan Lea dari kepanikannya, dan orang itu adlaah pria. Ia takut Lea terebut orang lain sebelum gadis itu menyadari perasaannya.
ia hanya takut kehilangan Lea. Karena kehilangan Lea seolah kehilangan poros dalam hidupnya. Ia seperti bumi yang kehilangan mataharinya. Seperti bulan yang kehilangan bumi nya.
****
Saat ia bangun dan sudah siap, Asa tak terlihat dimanapun. Ia merasa curiga sejak Farhan sudah berdiri didepan kamarnya, sambil tersenyum. Lea menoleh ke arah Farhan dan menatap lekat pria itu.
Rasanya aneh jika menanyakan Asa saat dirinya sendiri belum siap bertemu dengan pria itu. " Kak Asa dimana?"
" Aussie, Nona." ujar Farhan dengan senyuman cerahnya. Lea diam beberapa detik, tak mengira Asa akan secepat itu melakukan apa yang ia minta. Apa pria itu anjing penurut?
jika memang tidak terima atau tidak mau, Asa bisa menolak dan memaksanya 'kan? toh Lea tak ounay kuasa menolak Asa jika pria itu memaksanya.
" aku udah bilang aku bukan Nona. lagian, Mas Farhan gak ada kerjaan sampe bisa nungguin aku gini?"
Farhan terkekeh. " amanat pak Asa, kalau Pak Asa gak ada, Nona Lea yang memiliki kedudukan tertinggi di rumah dan di perusahaan." Lea menggeleng kepalanya, ia tak mengerti maksudnya, jadi berusaha abai.
" aku mau ke tempat kursus masak hari ini. Mas Farhan langsung ke kantor aja."
Farhan mengangguk. " Saya antar ya." ujar Farhan. Lea mengangguk. Ia tak bisa menolak. Tak ada jaminan Aman baginya.
Lea sampai di tempat kursus memasak ala Mas Sam terlalu cepat. Tapi Ia sendiri tak tahu kalau Dion si Onion bermulut cabai bermuka datar sudah ada disana sambil menatap beberapa lembaran kertas.
__ADS_1
" baca apa?" tanya Lea.
Lea berpikir untuk melupakan masalah perasaannya sejenak. ia ingin tenang sejenak tanpa memikirkan masalahnya, jadi tak masalah jika mengusik Dion bukan? toh kemungkinan paling besar adalah pria ini abai kepadanya. " baca studi kasus."
" wow... S2??"
" MBA." Daripada mengatakan wow untuk gelar yang Dion incar, Lea lebih merasa WOW karena Dion menjawabnya secepat itu. Ia Kira Dion orangnya berprinsip 'Cuek Harga mati.'
Dion dan Lea diam. tak ada yang kembali berbicara, Lea juga sibuk dengan Oatmeal yang ia stok di kulkas untuk ia santap. " mata kamu jelek."
Lea terdiam. Gadis itu menatap bingung Dion, apa pria itu membicarakan dirinya. " kayaknya bukan matanya aja , mukanya juga."
" nangis?"
Lea mengerutkan keningnya? memang ia menangis sehebat apa semalam sampai Dion bisa menyadarinya? engga menjawab dengan jelas, Lea memilih memasang senyum canggung.
" karena perempuan kemarin?"
" bukan. ehmm.. karena aku... bego?"
Dion melepas kertas Riset yang sejak tadi ia baca. Kini ia menghadap Lea dan menatap lekat-lekat gadis itu. " kamu tau, Konsep diri itu bagus kalo konsepnya bagus. konsep diri yang buruk itu justru berbahaya terutama untuk kesehatan mental.
konsep diri yang condong merendahkan dan menjatuhkan diri itu gak bagus untuk kesehatan mental. Dan saya melihat itu dari diri kamu, Lea. Rendah diri dengan rendah harga diri itu berbeda."
baru kali ini, Lea mendapat kalimat sejelas dan setajam itu. Seolah ketajaman kalimatnya membuat Lea sadar akan kebiasaan yang ia lakukan membentuk harapan semu.
Lea terbiasa merendahkan diri, dengan harapan bahwa jika ia merendah, maka orang akan nyaman dengannya. Adiknya tidak akan merasa canggung ataupun merasa bersalah dengannya, dan teman-temannya tidak akan meninggalkannya. Asa juga tidak akan pergi meninggalkannya dan tetap berada di sisinya. Lea sudah sering melihat buah dari kesombongan, dan berpikir bahwa ia tak akan mau hal terjadi padanya.
" kita memang makhluk sosial, tapi kita juga harus tahu bahwa bergantung pada lingkungan sekitar gak akan membuat kita berkembang. perkembangan kita di dasari oleh konsep diri kita sendiri, kamu paham maksud saya?" tanya Dion. Pria itu seolah frustasi melihat Lea hanya diam, terlihat murung seolah tengah menyalahkan dirinya.
Dion setuju jika Lea memang bersalah. tapi Bersalah kepada diri gadis itu sendiri, bukan kepada lingkungan sekitar.
Dion terlalu gemas melihat Lea hanya diam dihina kemarin, tapi melihat gadis itu kepanikan walau keributan telah usai, Dion sadar Lea memiliki 'masalah'.
Lea menggaruk lehernya canggung. " baru... ehmm.. baru sadar pas Kak Dion ngomong sih. mungkin aku nganggep kebiasaan, tapi bisa aja itu udah jadi konsep kali ya. tapi belakangan ini aku jarang kayak gitu sih. Soalnya Kakak aku bakal marah kalo aku ngomong atau berpikir kayak gitu."
" yang kemarin?"
" iya!! Kakak Aku yang kemarin jemput itu. Hehehe... dia... EHM.. Kakak yang keren dan pelindung banget.Dia ngejagain dan menghargai aku, kok. jadi, aku mulai jarang mikir aku jelek atau gak berguna lah, lebih sering aku pinter masak, dan foto-foto aku bagus. heheheh.."
Dion menghela nafasnya. Kini ia bisa tidur nyenyak karena Lea sudah mengatakannya.
biasanya pria itu tak perduli mau Lea koprol di koridor sekalipun. Tapi melihat gadis itu hanya dia menerima perlakukan tidak baik seperti kemarin, Dion jadi tak sempat membaca studi kasus-nya karena memikirkan 'masalah' yang ada pada diri Lea.
" usahakan ubah konsepnya. caranya banyak di google, psikolog juga banyak, bisa kamu cari 'kan?"
__ADS_1
Lea mengangguk paham. " siap, Komandan!! hehehehe.." Lea tertawa kecil. Ia lagi-lagi terkejut karena Dion bisa seperhatian dan sebaik ini kepada orang yang baru pria itu kenal.
Sepertinya Lea harus bertemu Psikolognya lagi nanti.