
Lea tak memekik ataupun mengalihkan pandangannya dari Asa yang tak melawan saat dipukuli Leksa. Ia hanya diam sejenak, membiarkan Dion meneliti ekspresinya sebelum ia tertawa terbahak-bahak.
Leksa yang mendengar tawa riang itu menoleh dengan padangan cemas. terakhir kali ia melihat tawa riang itu, Lea berakhir menangis hebat karena stress memikirkan kehamilannya di rumah sakit waktu itu.
tapi berbeda dengan sekarang, Lea tertawa riang sambil menghampiri dua pria yang terlihat berkelahi berat sebelah itu, dan menarik mundur Leksa dari posisinya yang menduduki Asa, Lea menarik Asa berdiri tegap dan merapihkan kondisi pria itu, memastikan Asa berpenampilan baik-baik saja saat ini.
tapi kemudian, bumil itu meninju wajah Asa dengan keras, hingga ia mengibaskan kepalan tangannya yang terasa perih.
" anda kira saya semurahan itu? nikah? anda pikir saya bisa nikah saat tubuh saya udah kotor karena ulah anda?! Dasar br--Hufftt..." Lea membuang nafasnya kasar lalu menarik lengan Leksa untuk mengajak pria itu pergi keluar. " anter ke apart. aku mau liat Daniel."
" Lea... itu an--"
" ini bukan Anak anda. ini anak saya. hanya saya, karena anda gak punya hak apapun atas dia. sekarang minggir." ucap Lea dingin sambil mengambil posisi bersembunyi dibalik punggung besar Leksa.
Leksa menghela nafasnya. Pada Awalnya, dia sama sekali tak berniat mempertemukan Lea dengan Asa. keberadaan Asa di Cafenya ataupun juga Dion itu murni kebetulan yang tak terduga yang ia kira akan membawa penyelesaian pada masalah Lea dan Asa
tapi memang dasarnya Asa bodoh, jadi tak heran jika masalahnya justru berakhir dengan runyam dan menjengkelkan seperti ini.
" bego lu bang." kesal Leksa.
Asa hendak menyusul keduanya kini tertahan lengannya oleh Dion yang menatap dingin pria itu. " bisa jelaskan apa yang terjadi sama Lea?" tanya Dion mengintimidasi.
...****************...
lagi-lagi pria ini membuat bumil kita terkejut.
Kedatangan Dion ke apartemen Lea sudah cukup mengejutkan Lea dan adiknya. tapi yang lebih mengejutkan pria itu justru bertanya,
" kamu mau makan apa siang ini? biar saya yang masak." sebagai salam permisinya untuk bertamu ke apartemen itu.
Dan kini, Lea hanya bisa menggeleng takjub melihat hidangan seafood yang ada dihadapannya. Ia tak mengira ia bisa mengidam dan mendapatkannya dalam waktu singkat seperti ini. biasanya jika ia mengidam, ia harus menunggu Gemada atau pesanan kakaknya itu sampai ke Vila mereka yang ada di ujung Berung dengan restorannya.
tapi kali ini rasanya seperti membawa koki pro didalam tas. secepat itu makanannya jadi.
" terlalu banyak makan udang atau ikan gak begitu bagus buat kesehatan, jadi saya perbanyak jamur buat ganti udang dan ikan itu."
Lea menggeleng tak perduli. yang pasti makanan yang ia makan saat ini begitu enak!
" gimana kandungan kamu?"
" he is fine. Actually, he seems very happy that's he can tasted this food even he's not born yet." ucap Lea jujur. memang anaknya baik-baik saja. Tentu anaknya sangat senang merasakan masakan Dion walau belum lahir sekalipun.
Dion mengangguk paham sambil mengambil duduk disamping Lea. ia menatap perut Wanita itu yang kini begitu besar jika dilihat dari dekat. " Emang Seorang bayi sebesar ini? kenapa kalau saya liat bayi rekan kerja saya tubuhnya sangat kecil ya? atau anak kamu beratnya berlebihan? organ kamu gapapa? gak keteken?"
mendengar itu Lea tertawa bahkan nyaris tersedak. " ini isinya kan gak bayi doang Kak.. ada cairan amnion atau Biasa disebut air ketuban. itu cairan yang neglindungin bayi aku. dan lagi, Bayi aku ada didalam kantong, dia gak mungkin neken-neken organ aku karena dia adanya di rongga perut, bukan diatas organ perut aku."
Tak hanya Dion, Leksa dan Daniel ikut mengangguk paham. sejujurnya, Pertanyaan Dion mewakili Pertanyaan terpendam mereka selama ini. Tak salah mereka bertanya kepada mantan mahasiswa keperawatan seperti Lea ini.
" rencana melahirkannya kapan?"
__ADS_1
" perkiraan usia kandungannya 8 bulan 2 Minggu, sedangkan rencana kelahirannya diperkirakan masih 2 atau 4 Minggu lagi. mungkin paling aman di Minggu ketiga dari sekarang."
" tanggalnya?"
Lea tertawa. kenapa Dion jadi banyak bertanya sambil mengusap perutnya begini?
" mana bisa nentuin tanggalnya? dokternya bilang aku bisa melahirkan normal jadi gak perlu Caesar. kan mau melahirkan harus melihat tanda-tandanya yang emang berarti udah siap melahirkan."
Dion terdiam sambil menatap perut Lea. " kalau Memang kamu gak mau Ayah kandungnya bertanggung jawab, Saya bersedia bertanggungjawab."
Lea diam membeku. begitupun Leksa dan Daniel yang mendengar ucapan lugas dan tenang Dion. Apa Maksud pria ini?
" kenapa harus Kak Dion? yang brengsek itu Kak Aza! kenapa Kak Dion yang harus tanggung jawab?" heran Lea sambil mengerutkan keningnya.
" karena saya yakin Perasaan saya ke kamu gak kalah besar dengan perasaan dia. kalau dia kalah sama rasa bersalahnya yang telah menghamili kamu, maka saya gak akan ragu untuk langsung membawa kamu ke KUA dan membawa penghulu."
Lea tak tahu harus berkata apa. Saat ini ia hanya ingin Dion berhenti membicarakan hal ini. " Ka--"
" Berhenti mengelak dan menutup mata atas perasaan saya. Kamu juga sejak dulu pasti masih heran kenapa saya membantu kamu sampai segitunya, kenapa saya begitu menginginkan kebahagiaan kamu, ataupun kenapa saya melepas kesempatan emas saya hanya untuk tetap bersama kamu.
itu karena saya mencintai kamu, Lea. Nyaris satu tahun lamanya saya Di Amerika dan gak pernah satu hari pun nama kamu gak muncul di kepala saya. Jadi saya harap kamu mau memberikan saya kesempatan menjadi sumber bahagia kamu jika Asa memang gak mampu melakukannya."
...****************...
Lea merenungi ucapan Dion kemarin siang dan berakhir ketiduran hingga menginap di apartemen Daniel. Tentu saja hal itu membuatnya kewalahan melihat Missed Call dari Gemada yang angkanya tidak bisa dianggap remeh. Pasti kakaknya marah kepadanya saat ini.
Lea mengerutkan keningnya saat melihat seseorang tak diundang sudah duduk di sofa apartemennya saat ini. Wanita itu melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 11 siang. Tentu adiknya sedang membantu Leksa membuka toko.
Lea membuka ponselnya dan menghubungi sang Adik. " kamu yang suruh dia masuk?" tanya Lea dengan nada yang tajam.
diseberang sana, Daniel menghela nafasnya. " mbak musti bicara sama dia. dan lagi, Dia udah di depan pintu sejak kemarin malam saat Bang Dion pulang. Daniel gak tega."
Lea menghela nafasnya kesal dan langsung mematikan sambungan itu. Wanita itu berjalan perlahan, sambil memperhatikan agus yang duduk sambil menunduk di Sofa sana.
Melihat keberadaan dan usaha pria itu untuk menemuinya memberikan harapan kecil kepada Lea. harapan bahwa ada kabar Asa sudah mendapatkan kembali ingatannya.
Mungkin Lea akan mempertimbangkan Keputusannya atas Asa. karena yang Lea inginkan adalah Asa dan bukan Geraia.
" Kak Agus?" panggil Lea. Pria itu mengangkat kepalanya dan sedikit terkejut melihat Perut Lea yang memang sudah besar. well, Lea sudah mulai sedikit bosan mendapat pandangan itu sejak kemarin.
" gimana kabarnya?"
" siapa?"
" anak itu."
Lea terkekeh kecil sambil mengambil duduk didekat Agus. " baik. dia belakangan ini suka nendang dan minta yang aneh-aneh."
Agus mengangguk kepalanya paham tanpa melepas pandangannya dari perut besar disampingnya.
__ADS_1
Mungkin karena anak ini juga ... " Ingatan Asa udah kembali sejak beberapa bulan yang lalu." ucap Pria itu sambil meletakkan telapak tangannya diatas perut besar yang kencang itu.
ia dapat merasakan pergerakan lambat di dalam perut ini. Agus bertanya-tanya apa saja yang bayi kecil ini lakukan didalam sana? apakah anak ini mendengar ucapannya?
Entah kenapa Agus merasa bahwa Anak ini memang harus tau, bahwa Ayahnya memang sudah kembali ke dalam genggaman ibunya.
" Kak Agus bohong 'kan? dia bahkan ngira aku udah nikah! mana mungkin itu beneran Kak As--"
" apa kamu mengatakan tentang kehamilan kamu sebelum lari ke Bogor?"
Lea terdiam, tak bisa berkata apa-apa karena ucapan Agus menjawab alasan Asa bisa berpikiran bodoh seperti itu.
" dia sempet stress dan sering muntah sebelum ingatannya kembali. dan bahkan collapse beberapa kali karena serangan sakit kepala mendadak.
yang paling parah saat ada rapat di Dufan dan akhirnya dia sempet pingsan beberapa hari. saat sadar dia langsung nanyain kamu dimana, seolah gak ingat kalau dia udah kehilangan kamu sejak beberapa bulan sebelumnya."
Lea menutup mulutnya tak percaya. apa maksudnya? apa maksud Agus bahwa Asa mendapat ingatannya yang lama dan sekarang lupa akan ingatannya sebagai Geraia.
" dokter bilang fenomena ini terkadang terjadi. ada yang akhirnya ingat semua ingatannya baik saat amnesia ataupun ingatan lamanya lagi. tapi ada juga yang tak ingat masa amnesianya. semua tergantung faktor eksternalnya. dan Saya yakin, entah bagi Asa ataupun Geraia, kamu adalah faktor eksternal tersebut."
Lea menggeleng kepalanya tak percaya. Jadi yang kemarin siang tinju adalah Asa? dan bukan Geraia? apalagi Asa yang lupa ingatannya sebagai Geraia dan hanya mengingat kejadian sebelum pria itu pergi ke Aussie?
Lea langsung beranjak dan pergi keluar, meninggalkan Agus yang menatap tangan kosongnya. " Ini upaya terakhir gue Sa. kalo Lo mengacau lagi, nikmatin keterpurukan Lo."
...****************...
Lea keluar dari Taxi nya dan menatap lampu merah yang masih hijau. Wanita itu memencet tombol untuk pejalan kaki dan menunggu Angka berwarna merah menjadi hijau.
" Kak Asa aku minta maaf..." gumamnya sambil menangis. Saat angka sudah berubah menjadi hijau, Lea langsung berjalan cepat bahkan terligat setengah berlari.
Nyatanya tak semua pengendara mengikuti aturan lampu merah itu dan sebuah mobil sport tengah melaju cepat tanpa menyadari bahwa Ada Lea yang berjalan mendekati jalurnya.
Banyak mobil dan motor yang memberi klakson nyaring untuk memperingatkan Lea,
BRUGHH!!!!
TINN!! TIINN!!! TINNN!!! TINNN!!! TINN!!!
Lea menatap terkejut kearah sumber kegaduhan itu. Dapat ia lihat ada dua mobil yang bertabrakan didekatnya. jika ia bergeser satu meter saja ia mungkin sudah tamat terjepit dua mobil itu. Lea merasa degupan jantungnya mulai berlebih dan nafasnya mulai melambat saat menyadari bahwa ia baru saja melihat salah satu mobil itu kemarin siang.
Lea berjalan perlahan, menahan rasa kram di perutnya yang cukup hebat. Wanita itu menghampiri mobil yang ia kenali itu dan membuka pintu bagian pengemudi.
Lea menahan berat tubuhnya yang hampir jatuh saat melihat wajah pria yang kepalanya mengeluarkan darah sambil menunduk.
" Kak Asa!! Kak!! Ugh..!!"
Lea meringis merasakan sakit diperutnya semakin hebat. air matanya semakin deras keluar, entah menangisi keadaan Asa atau karena sakit diperutnya yang begitu hebat. Jika saja ia datang lebih cepat, dan jika saja Lea mau mendengarkan Asa kemarin, mungkin saja saat ini Asa tak bersimbah darah Seperti sekarang.
mungkin perutnya sakit karena sang anak mewakili kemarahan sang Ayah. mungkin Anaknya merindukan Ayahnya hingga rela membuat ibunya meringis kesakitan seperti sekarang.
__ADS_1
"mbak?! mau melahirkan ya?! cepat panggil ambulans untuk korban kecelakaan ini!! Bi--" Lea sudah tidak dapat mendengar ucapan orang yang menahan tubuhnya agar tak terjatuh, Pandangannya sudah begitu gelap,
seolah mewakili kehidupannya jika Asa tak ada.