My Sugar Brother

My Sugar Brother
28. Lunch


__ADS_3

Berkas-berkas yang semulanya ditumpuk di lemari, ini berpindah ke meja lebar itu. Duduk disana mengingatkan Lea saat terakhir kali ia ke ruangan itu sebelum menjadi CEO. Hari itu ia bertemu dan berkenalan dengan orang tua Asa, melihat pria itu frustasi,


dan memintanya untuk tidak pergi meninggalkan pria itu.


Lea memijat pangkal hidungnya sejenak sebelum ia menyesap kopinya lagi. Kopi di kantor itu tak seenak kopi di cafe tempat ia bekerja dulu.


" Mas Farhan, Hari ini ada meeting?"


" ada Nona, jam 2 siang dengan perusahaan February Company."


" oh, kantornya om Agam ya?"


" ya, membicarakan project apartement Nona."


Lea mengangguk sambil memisahkan satu map yang berisi berkas untuk rapatnya nanti. " kita ke kantornya ya? jauh gak?"


" Lumayan Nona."


" yaudah jalan sekarang aja. Ini berkasnya semua dibawa ke mobil aja kali ya? mau aku bawa pulang ke rumah."


Farhan meneguk salivanya. Apa Lea mau lembur lagi? " Nona, Batas lembur di kantor ini hanya 2 hari. Nona sudah 4 hari dalam Minggu ini melakukannya."


" beneran ini hari kelima, hari terakhir... besok aku pulang cepet kok." Ucap Lea sambil tersenyum kecil. Farhan menghela nafasnya, Lea memang paling bisa membujuknya.


Memang Farhan bisa menolak? Walau melihat Lea bekerja terlalu keras seperti ini membuat Farhan menyadari seperti inilah cara Lea bersedih. berpura-pura tidak tahu apa-apa seolah pekerjaan itu seperti nafasnya.


" Kak Dion nyusul atau aku sendirian?"


" dia menyusul."


Lea mengangguk. Siapa yang menduga jika beberapa Perusahaan yang bekerja sama dengan Dion, justru langsung menunjuk pria itu menjadi Wakil CEO. Awalnya, Saat Asa menjabat, tidak ada wakil CEO karena pria itu merasa hal seperti itu merepotkan, tapi Bagi Lea, jika Dion menjadi wakilnya, bukankah Posisi itu bisa dijadikan alasan untuk Dion tetap bersamanya?


Sebelum pria itu ditunjuk, Lea selalu terpikirkan alasan apa yang Dion punya untuk membantunya sampai seperti ini, sedangkan Lea hanyalah teman dari tempat kursus memasak.


Tapi jika Pria itu wakilnya, tentu memang sudah tugasnya untuk membantu Lea, dan Lea lega akan kejelasan itu.


Lea membawa sebagian berkas, walau Farhan sudah mengatakan bahwa Lea tak perlu melakukan hal itu. Lagipula, Lea Membawanya dengan sangat cantik, jadi gadis itu tak perlu merasa takut kehilangan wibawa ataupun images yang sejak awal ia bangun.


Seseorang berdiri didepan Lea, menghentikan langkah gadis itu dan Farhan yang menatap heran orang tersebut. Ia mengenalinya, tapi pertanyaannya, Orang ini kenapa?


" Bu Lea," panggil pria itu. Lea mengangguk sambil memberi senyuman tipis,


" Ah, Anda General Manajer divisi Produksi 'kan? Pak Alandra?" tanya Lea. Farhan kini menatap terkejut atasannya. Ini Kenapa Lea jadi hafal nama semua karyawan di kantor?


bahkan OB yang tadi pagi berpapasan dengan Lea, Farhan mengenali wajahnya pun tidak, tapi Lea bahkan tau nama dan tentang sakit pinggang OB itu.


Alandra tersenyum, merasa tersanjung karena atasan manisnya ini mengetahui namanya. " betul Bu, Maaf kalau saya lancang, saya ingin menyampaikan salam sambut dari divisi produksi."


Lea mengerutkan keningnya. " Saya rasa gak perlu de--"


" Ini juga sebagai bahan percobaan kami. Menurut kami ini sudah pantas diberikan kepada ibu."


Lea menatap lekat pria tersebut sejenak sebelum akhirnya menghela nafas sambil menerima bingkisan coklat tersebut. " saya terima, dan sampaikan terimakasih saya ke divisi anda, Saya permisi."


Alandra mengangguk dan memberi jalan kepada atasan tertingginya itu untuk lewat. Farhan sempat menoleh dan menatap curiga pria itu.


" udah kerja sejak kapan?"

__ADS_1


" Setahun lebih kayaknya. Tapi dia jarang berinteraksi sama Pak Asa dulu."


Lea mengangguk paham. Mungkin memang hanya ingin menyampaikan salam sambut divisinya. Walau maksud salam sambut itu terdengar aneh karena dia sudah bekerja beberapa Minggu.


Lea masuk ke mobil dan menatap bingkisan itu. Saat membuka kotak didalamnya yang terlihat seperti kotak bento, Lea cukup terkejut melihat isinya. Luarnya seperti bento Jepang, tapi didalamnya Makanan khas Indonesia. Lea tertawa kecil, Ini yang disebut percobaan?


" Jangan di makan dulu Nona. Anda ada rapat nanti siang."


"iya.. tau.."


Saat sampai di kantor February Company, Lea masuk lebih dulu sedangkan Farhan akan memakirkan mobil di basement. " Lea?"


Gadis itu menoleh dan menatap terkejut orang yang memanggilnya. Sudah cukup lama ia tak bertemu orang itu, dan Entah kenapa ada rasa bernama rindu yang muncul dibenaknya.


" Tan-tante Anna 'kan?" gugup Lea. ia takut salah menyebut nama atau mengenali orang. Anna dihadapannya mengangguk cepat sambil tersenyum senang. Ia berjalan cepat, mengikis jaraknya dengan Lea, lalu mendekap gadis itu dengan erat.


" Iya sayang! gimana kabar kamu? Tante kangeeenn banget sama kamu. Tante sama Om Agam dapat kabarmu cuma bisa dari Pak Asa. Tapi setelah denger kabar buruk itu, kami jadi khawatir sama kamu, sayang..."


Lea tersenyum. ada perasaan haru dan bahagia mendengar kalimat cemas itu. Rasanya ia tak perlu mendambakan rasa cinta lagi karena ia sendiri sudah mendapatkannya dari orang sekitarnya.


Gadis itu melepas pelukan Anna dan menatap wajah basah wanita itu. Cukup terkejut, namun Lea tetap memberikan senyuman hangatnya, " Tante gausah khawatir... Sekarang udah ketemu 'kan?" Lea mengusap wajah wanita itu dengan lembut, Ia juga merogoh saku Blazernya dan mengeluarkan sapu tangannya.


" Aku keliatan baik-baik aja 'kan?" Lea tersenyum hangat. Anna mengangguk setuju. Lea terlihat baik-baik saja, bahkan kini terlihat jauh lebih dewasa. Apa mungkin Karena Asa menghilang?


" Saya-- Lho, Lea udah sampai? kok gak kabarin Sekretaris om?"


Lea menoleh dan tersenyum manis. Walau ada perasaan sesak melihat Agraham saat ini. Melihat pria paruh baya itu membuat Lea merasa ingin mengadu dan menangis dipelukan pria itu. Tapi Lea sadar, ia bukan siapa-siapa.


" Tadi ngobrol dulu sama Tante Anna, Saya juga masih menunggu rekan saya yang akan ikut rapat bersama kita."


Agraham mengangguk sambil tersenyum hangat. Cukup terkejut dan kagum melihat Lea sudah bisa mengesampingkan urusan pribadi dan berfokus pada urusan bisnisnya. Ia masih ingat dengan jelas senyum manis yang terkesan angkuh saat Lea mencoba mempertahankan para investor akibat insiden korupsi di RUPS beberap Minggu yang Lalu.


Farhan masuk ke Lobby, menghampiri Lea bersama Dion. Wajahnya terlihat kesal, mungkin karena bersama Dion. Lea tertawa kecil setiap melihat kedua pria itu bersama. Yang satu berwajah datar yang lain berwajah sengit.


" Pak Dion, bawa proposalnya?" tanya Lea. Dion mengangguk untuk menjawabnya. Lea menatap Agraham sambil tersenyum formal, "mungkin kita sudah bisa menuju ruang rapatnya, Pak Agraham?" Tawar Lea. Pria itu mengangguk sambil merangkul Istrinya yang tersenyum manis kepada Lea sebelum mereka berjalan lebih dulu.


Dion yang berada disamping Lea bertanya-tanya, " kenal?"


Lea tersenyum sambil mengangguk. Jika dibilang hanya kenal, Rasanya terlalu sederhana untuk menggambarkan hubungan hangat mereka. Padahal mereka hanya menghabis waktu beberapa jam bersamanya, namun Lea sudah merasa begitu dekat.


" Mungkin, lebih dari kenal aja." Bisik Gadis itu dengan niat bermonolog, tapi nyatanya Dion pun ikut mendengarnya.


****


Lea menatap kesal Dion yang sempat memukul kepalanya saat ia keluar dari toilet. " Gausah mukul juga, Kak... tangannya itu lho.. huh!" Kesal gadis itu tidak mampu meredakan kejengkelan Dion akibat kepolosan Lea. Gadis itu dengan mudahnya menerima Kotak makan dari GM produksi. " Kalo ada susuknya gimana?"


Lea menatap tajam sambil mencubit kecil pinggang Dion. " Udah gila ya? susuk-susukan segala.. orang bahan percobaan.." Gemas Lea. Keduanya masih saja berdebat walau Diujung Lorong sudah ada Farhan, Agraham dan Anna yang menunggu.


Pasangan suami-istri itu menawarkan makan siang bersama dan Lea menerimanya tanpa pikir panjang, Dion dan Farhan juga ikut serta setelah emndapat penawaran dari Agraham.


Mereka sudah mulai memakan hidangan masing-masing di ruang privat pesanan Agraham itu. Sejak awal, Anna dan Agraham tidak bisa menghentikan pandangan mereka dari Lea. Mungkin karena gadis itu sejak tadi hanya memotong dagingnya bahkan hingga ukuran terkecil, namun tidak memakannya. Seolah tengah berusaha memotong sesuatu yang tidak bisa ia potong, sehingga ia lampiaskan kepada daging itu.


" Lea, itu dagingnya keburu dingin." Ucapan Agraham menginterupsi kegiatan semua orang. Mereka menatap Lea yang kini agak terkejut hingga melepas garpu dan pisau makannya. Lea menatap hot pot-nya dan melihat dagingnya sudah terpotong menjadi sangat kecil.


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum kecil, " I-iya Om.. hehehe.. tadi lagi kepikiran kerjaan."


Agraham mengusap kepala Gadis yang berada disampingnya itu. Perhatian lembutnya tanpa sadar membuat Lea meremat genggamannya. Menahan rasa senang juga sakit yang ia rasakan di hatinya.

__ADS_1


" Jangan terlalu banyak memikirkan kerjaan.. apalagi saat makan kayak gini.. momen seperti ini harus kamu manfaatin untuk istirahat, memikirkan hal yang merefresh otak kamu, jadi gak Gila kerja.." Ucap Pria itu dengan lembut.


Lea mengangguk sambil tersenyum. Gadis itu mulai makan dengan lahap, melegakan perasaan khawatir Anna dan Agraham.


Melihat cara makan Lea membuat Anna tersenyum kecil. " Lea itu agak mirip kamu sih Mas.."


Agraham dan Lea menatap bingung Anna sedangkan Farhan dan Dion menatap Lea dan Agraham bergantian.


" Lea mirip aku?"


" iyaa.. bentuk mata, hidung sama bibirnya mirip kamu. tapi pipinya agak chubby, jadi keliatan kayak kamu versi SMP dulu saat masih gendut."


Lea tanpa sadar langsung menyentuh kedua pipinya. Sedikit malu karena ia terdengar begitu gendut dan Chubby. Gadis itu menoleh ke arah Farhan yang tersenyum manis seolah menolak pertanyaannya dan kini ia berkahir menatap Dion yang tersenyum iblis sebelum berkata 'Babi' tanpa suara.


Makan siang itu berakhir setelah Anna dan Agraham puas menanyakan kabar Lea selama mereka tidak bertemu dan bertukar nomor telepon.


Di jalan pulang, Lea menatap Kesal Dion. Kenapa ia harus pulang bersama pria itu?


" Gausah melotot.. saya diajak main, tapi males kalo ada perempuan disana, kamu jadi tumbal dulu."


Lea melempar tissuenya kearah wajah Dion dan mengubah arah wajahnya ke jendela mobil. " Males bangett... dikatain babi. Aku Babi, kak Dion apa? Siluman Babi Chupatkai?"


Mendengar ucapan Lea membuat Dion tertawa keras. Apa tadi? Chupat.. cupatkai? Dion tak tahu hal itu, tapi terdengar lucu. " Lagian, Kamu mikirin apa sampe daging kamu potong kecil-kecil?"


" menurut Kak Dion, aku mirip Om Agam?"


Dion terdiam mendengar ucapan Lea. Jujur saja, Tanpa penjelasan Anna tentang letak kemiripan Lea dengan Agraham, Dion sudah berpikir seperti itu sejak ia bertemu dengan Agraham, dan melihatnya bersama Lea membuat Dion semakin terkejut akan kemiripan keduanya.


Tapi didunia ini, ada banyak orang yang sekedar mirip, dan bahkan begitu mirippun ada. Sehingga Dion juga tak pernah memikirkannya dengan rumit. " Mitos bilang , di dunia ini ada 3-7 orang dengan wajah yang sama. jadi jumlah orang yang wajahnya mirip pasti lebih banyak dari itu. Kamu kenapa mikirin itu?"


lugu rasanya. Lea benar-benar terlalu naif mengharapkan pengakuan tersebut. Pada akhirnya Logika selalu berlawanan dengan harapan dan imajinasi. Ia hanya berimanjinasi suatu hal yang probabilitasnya hanya 0.00001%, nyaris tidak mungkin terjadi.


melihat wajah murung disampingnya walau sekilas membuat Dion menghela nafas setipis mungkin. " Mirip... tapi ya gitu. Saya mikir mungkin kalian cuma contoh dari 3-7 orang yang berwajah sama."


Lea menoleh dengan pandangan cerah. Lea mengangguk paham seolah ucapan Dion barusan adalah jawaban yang ia mau. " Rasanya gak tau diri, tapi kalo liat Om Agam sama Tante Anna yang perhatian dan baik banget sama aku, Kadang aku mikir seandainya mereka yang nemuin aku dan jadi Orang tua angkat aku."


Dion mengangkat kedua alisnya. Baru mengetahui fakta baru tentang Status Lea sebagai anak angkat. " Angkat?*


" iya... ah, aku belom pernah kasih tau ya, aku ada.. ehm.. keluarga angkat dibandung.. tapi hubungan aku gak begitu baik dan Kak Asa ngeblokir semua akses mereka buat nemuin aku."


" Karena?"


" karena mereka brengsek." Ucapan Lea yang terdengar dingin membuat pria disebelahnya menoleh sejenak sebelum kembali fokus menatap jalan. " Tapi adik angkat aku gak brengsek... dia baik dan bahkan bantuin aku kok." lanjut gadis itu sambil menyenderkan punggungnya ke jok mobil.


Dion mengusap kepala Lea dengan lembut. Ingin memberi kenyamanan bagi gadis itu. " Kamu gak perlu menyayangkan atau merasa gak tau diri. Kalau memang menghancurkan diri kamu, Mereka udah gak layak jadi orang tua angkat kamu. Saya cukup bersyukur kamu punya Asa sebelum ketemu saya."


Lea terdiam. Ia juga bersyukur memiliki Asa baik saat itu maupun saat ini. Walau Pria itu tak berada disampingnya sekarang, Lea yakin pria itu sedang berada di luar sana dan tengah bernafas dengan baik sambil memikirkan jalan pulangnya.


Di sisi lain, dengan jarak yang jauh dari Lea, ada Seorang Pria yang tengah menatap heran orang dihadapannya. " okay, next month I'll probably return to my home for a while. do you want to Join? "


Orang yang diajak bicara olehnya itu menggeleng kepala. Leksa menghela nafasnya. Orang ini benar-benar cuek dan menyebalkan, tapi ada perasaan khawatir jika ia tak mengajak pria ini berbicara sehari saja.


" Yaudah, gue pulang sendiri nih ya bang. Lu gue tinggal jangan keluyuran.. muka datar Lo ngajak ribut soalnya. Nanti pulang dari sana, kita siap siap buat pindah ke sana lagi, Gue mau wisuda soalnya."


Pria itu mengangguk sambil memakan Kue Mochi yang Leksa pesan Khusus untuknya karena pria itu tidak memakan cemilan apapun selain mochi itu. padahal Mencari Mochi di LA itu benar-benar sulit.


Dengan lancang Leksa mengelus kepala Pria itu dengan lembut. Padahal sudah jelas pria ini lebih tua darinya, tapi ya mau bagaimana lagi? pria ini terlihat minta di Elus.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2