
* Bosen gak sih ngomongin pacar Mulu? pengen banget menghapus kosa kata itu dari dunia ini..*
PLAK!!
Panas , pipinya terasa begitu panas dan matanya pun rasanya perih karena enggan membiarkan air matanya turun dengan cara tidak berkedip. Dengan tangan bergetar ia menyentuh pipi yang baru saja di sambut tangan ibunya segera setelah ia sampai ke rumah itu.
Apa ini cara menyambut anak yang merantau masa kini? menamparnya dengan keras, tanpa memberitahunya alasan akan perlakuan itu. Dan sekarang sambutannya dilanjuti dengan ibunya yang menarik kerah bajunya, membuat tubuhnya sedikit terangkat dan kepalanya langsung berhadapan dengan sang ibu. " INI BALAS BUDI MU KE IBU SAMA BAPAK?!!! JADI PELACUR??"
Lea menatap tak percaya ibunya. Apa ibunya baru saja memanggilnya pelacur? yang jalang itu? Matanya yang sejak tadi memanas kini meluluhkan airnya dengan deras. Wajahnya yang putih bersih kini memerah seperti pipi kirinya yang tertampar tadi. " Pelacur? maksud ibu apasih?? apa ibu tau arti kata itu? Aku anak ibu!!" ucap Lea tak terima.
Ini terasa begitu tak adil. Pelacur apanya? berpikiran saja tidak pernah, kenapa sekarang ia dituduh menjadi pelacur!!
" NAK ASHILLA UDAH CERITA DAN BAHKAN MOHON-MOHON SAMA IBU BIAR KAMU BERHENTI GODAIN PACARNYA!! Kamu bikin malu bapak sama ibu, tau!!" Sentak wanita itu sambil memukul kepala Lea.
Terpaku. Lea tak mengira dirinya akan menjadi seperti ini hanya karena mantan Asa tak terima diputuskan, dan Orang tuanya bahkan langsung percaya tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu dengan dirinya. " Ibu marah-marah gini udah nanya sama aku? aku anak ibu Bu..." Sesak memenuhi dadanya. Ia tak menyangka harga dari rasa percaya ibunya hanya sebatas ini. Bahkan orang asing saja langsung di percayai ibunya, sedangkan dirinya sendiri?
" Kamu berhenti kuliah aja."
Lea mendongak, memberikan tatapan tak percaya, dan berharap dirinya memiliki masalah dengan telinganya. " maksud ibu?"
Lagi, ibunya menarik kerah baju Lea dan menatap tajam putrinya itu. " KAMU BERHENTI KULIAH, KAMU TULI??" Teriakan histeris wanita itu mendengung keras di telinga Lea. seolah telinganya itu gua dan tengah menggemakan ucapan ibunya ke otak.
Tanpa diduga orang yang sejak tadi diam menonton berdiri, melepas rengkuhan tangan ibu Lea dari kerah baju gadis itu. Pria itu menghela nafas, " Bapak punya utang sama Pakde Roni yang tinggal di dekat Balai desa itu, kamu tau dia 'kan?"
Lea menggeleng kepalanya, enggan mengakui dan berharap dugaannya itu gila dan salah. Ia bahkan sudah mengutuk dirinya durhaka didalam hati.
" Kamu cukup nikah aja. gak perlu kuliah, dan kamu bisa hidup enak, bapak juga ibu dan adik mu bisa hidup enak. balas budilah kepada bapak sama ibu yang udah mengurusmu dari kecil..."
Gila!! Orang tuanya sudah gila!! Apa balas Budi atas kebaikan mereka harus dengan masa depannya?
" BAPAK UDAH GILA!!"
PLAKK!!!
tak puas dengan kiri, kananpun mendapat bagiannya. Lea menutup kedua pipinya dengan tangan, menatap nanar orang tuanya. " Pak, aku Gak pernah minta dipungut ibu sama bapak!! kalian yang menambah beban sendiri!! dan kalian lepas tangan! terus sekarang aku gak minta apa-apa, bahkan aku gak pernah ngejar kalian untuk bayar uang kuliahku, kalian minta dibayar dengan jadi istri orang?? Bapak udah gila!!" Tangisan bercampur kemarahan itu menjadi yang pertama bagi Lea.
Gadis yang selama ini hanya menurut, tidak membantah atau mempertanyakan pertimbangan, bahkan tidak menuntut hal yang biasa anak gadis lainnya tuntut, kini Melawan bersama rasa sedih tertahan.
ini untuk masa depannya.
Lea sendiri sadar Orang tuanya tak membayar kuliah bukan karena belum bisa, tapi karena tidak mau. Mungkin rencana menjodohkannya ini sudah ada sejak lama dan keterlambatan membayar uang kuliah juga menjadi bagian dari rencana itu. Jika Lea tahu hal ini akan terjadi, ia lebih memilih menjadi gelandangan yang di tangkap dan diurus yayasan sosial negara.
ini lebih baik daripada terikat kata 'hutang budi' sialan itu.
Tangisan tidak terimanya, sesak nafas dan batuk yang terjadi selama ia menangis, benar-benar menggambarkan seberapa lama ia bertahan dengan siksaan batin ini.
" Berapa hutang bapak?"
" 200juta. Kamu gak akan bisa bayar itu, mending kamu sekarang siap-siap... biar nanti malem Pakde Roni kesini kamu udah cantik, dan mungkin dia mau langsung nikahin kamu." Ucap Ayahnya.
" Bapak... udah bilang ke dia aku kesini??" tanya gadis itu. anggukan Ayahnya seolah menambah hancur dirinya yang tersakiti akan sikap orang tuanya.
Tidak. Lea tidak akan merelakan masa depannya hanya untuk menjadi bayaran hutang ayahnya. Ia sudah berjuang diawal dengan pekerjaan paruh waktu, lalu mendapat keajaiban dengan bertemu Asa.
apakah ini bayaran dari keberuntungannya beberapa bulan ini? apakah begitu?
Lea tak perduli. Jika memang harus terluka parah untuk bisa lepas dari situasi ini, Lea akan melakukannya!!
Disaat ia tengah menangis sambil memikirkan bagaimana cara agar bisa lepas dari masalah ini, seseorang tengah memikirkan cara membantunya, dan yang lainnya tengah khawatir memikirkan keberadaannya.
__ADS_1
Asa menatap cemas ke luar jendela mobilnya. Farhan tengah menyetir dengan perasaan yang sama dengan atasannya. Cemas. Memikirkan Lea membuat keduanya khawatir.
Terutama jika mengingat Nada bicara dan wajah cemas Tazqia saat memberitahu keduanya tentang Alasan Lea pergi ke Bandung, dan berbohong alih-alih benar-benar mengabari Asa, Tentu hal itu membuat kedua pria tampan terpopuler di kantor menjadi khawatir.
Pergi ke Bandung dengan taksi, Apa Lea sudah gila? apa gadis itu tak ingat terakhir kali.pergi sendiri ia berakhir dengan apa? sekarat Karena tertabrak, bahkan gips di kaki Lea masih belum dilepas, tapi Lea sudah bertingkah seperti sekarnag ini.
Apapun Yang Lea lakukan, Asa harap ia bisa bertemu Lea dengan keadaan baik-baik saja. Hari sudah sore dan Macet sudah memenuhi Pusat Kota Bandung.
TRINg Tring!!
Asa merogoh sakunya dengan terburu-buru, menatap layar ponselnya dan mendapati nama yang sejak tadi menghantui pikirannya.
" Lea, kamu dimana sekarang? kakak udah di Bandung..."
" Kak Asa tolongin Akuu.." bisik yang disertai Isak itu membuat Hati Asa merasa jatuh. Ada apa lagi dengan gadis ini? apalagi yang menimpa Lea-nya? apa Awan tak bisa memberikan waktu rehat untuk gadis itu??
" kamu dimana sekarang?"
" aku dirumah Bapak sama ibu... Kak Asa bisa ke Kantor desa Sariwangi?? aku bakal kesana... Kakak jemput aku aja.."
" Han, kantor desa Sari wangi jauh gak?"
Farhan memperhatikan petanya, " lumayan pak. kita musti puter balik, kena macet lagi... mungkin 30 sampe 1 jam baru sampe kalo lewat jalan tikus. "
" Pake jalan tikus aja!!"
Kembali pada Lea, Ia tengah mengurung dirinya di kamar, memikirkan bagaimana cara dirinya bisa keluar dari rumah ini, tanpa perlu melukai dirinya??
tidak, prioritasnya adalah keluar dari rumah ini terlebih dahulu. urusan terluka bisa diminimalisir. Kabur dengan apa? Lea tengah di gips, satu-satunya cara kabur paling efektif adalah dengan kendaraan.
Lea memukul kecil kepalanya... malam ini orang gila itu akan mempertemukannya dengan pria hidung belang tua Bangka. Lea tak bisa membayangkan jika dirinya benar-benar dinikahkan dengan orang itu.
suara serak sisa menangis masih bertahan pada tenggorokannya. Ia menoleh karena masih belum mendapatkan jawaban dari luar. Hingga akhirnya ia membuka pintu itu, menatap sang Adik yang menatapnya sendu.
Daniel. Adiknya yang masih SMA kelas satu itu tengah menatapnya sendu. " Mbak gapapa?"
mungkin jika dulu ia ditanya seperti ini, Lea akan tersenyum sambil mengatakan tidak ada masalah. Tapi Lea kini terlalu lelah bertahan. Asa memberinya kesempatan untuk bersandar, sehingga kini, gadis itu enggan menutupi perasaannya.
"Engga..." Tangisnya kembali datang, Ia menghampiri adiknya yang kini lebih tinggi darinya, " Mbak gak baik-baik aja... Mbak ditampar, mbak di hina, dan mbak dijual... apa mbak bisa baik-baik aja??" adu gadis itu bersama tangisnya. Daniel tanpa ragu langsung menarik kakaknya untuk di peluk dengan erat.
" Daniel bakal bantuin mbak, jadi mbak sabar aja... setelah keluar dari rumah ini, bahagian aja mbak, mbak berhak bahagia untuk diri mbak sendiri." ucap adiknya tulus.
****
Tanpa diduga malam datang begitu cepat namun berjalan begitu lama. Lea bahkan sudah siap dengan dandanan seadanya yang sempat di protes ibunya karena terlihat terlalu polos sejak langit Mulai menggelap.
Gadis itu mengingat semua rencana yang adiknya sempat sampaikan tadi sore. Ditambah lagi Asa seharusnya sudah sampai di kantor desa ini. Mungkin pria itu tengah menunggu disana.
" Pak Roni, silahkan duduk pak..." ujar Ayahnya dengan begitu sopan dan hormat. Lea hanya bisa menatap sengit ayahnya, apa pria itu tak sadar tingkahnya tidak sesuai dengan apa yang ia lakukan sekarang? menjual anaknya untuk membayar hutang?
kenapa tak sekalian membunuhnya lalu menjual organnya!!
Lea menghela nafas, mencoba bersikap datar agar tidak menarik perhatian pria yang memang benar tua Bangka itu. Apa orang itu juga tidak ingat umur dan ajal? dasar kumpulan orang gila!!
percakapan membosankan dan setiap kalimat yang Roni ucapkan seolah tengah menggoda sekaligus menghinanya. Lea hanya bisa tersenyum apabila ibunya mencubit keras pahanya yang terekspos karena pakaian minim yang ibunya berikan itu.
" pak Bu, kalo boleh, aku mau ngobrol berdua sama Pak Roni didepan.." ucap Lea secara tiba-tiba. ia merasa waktu semakin banyak terbuang, dan itu bisa berakibat menggagalkan rencananya.
sekeluarnya mereka berdua, tangan Roni dengan santainya mengelus pundak Lea yang juga terekspos. Lea benar-benar ingin mengumpat memperhatikan pakaiannya yang begitu terbuka untuk orang tua seperti Roni ini.
" kamu panggilnya Mas aja... toh kita bakal hiduo bersama juga kan... gak enak kalo dipangggil bapak sama istri sendiri.."
__ADS_1
" haha..." Lea tertawa hambar, berusaha menahan diri agar tidak meninju orang disampingnya demi keberhasilan rencana ini.
hingga akhirnya mereka berdiri didepan gerbang rumahnya. " mau jalan-jalan dulu... Om?"
Roni tertawa kecil. Panggilan Lea padanya membuatnya merasa senang bukan main. Apa ia tak bisa menadapat Gadis ini malam ini juga? Roni rasanya tidak sabar.
keduanya berjalan perlahan, Malam Bandung begitu dingin namun itu yak menyurutkan semangat Roni mengelus pundak Lea. Hingga akhirnya Lea berhenti melangkah karena merasakan sesuatu di pinggang dan pahanya.
Lea menoleh dengan pandangan horor ke wajah sumringah pria tua bangka ini. " Ehmm... Om maaf tangannya..." keluh gadis itu sambil menurunkan tangan nakal Roni yang berusaha menarik gaunnya ke atas.
Roni justru tertawa kecil. " ahh... kamu maunya dipojokan ya??" mendengar itu, Lea langsung mendorong Roni, membuat dirinya sedikit tidak seimbang dan akhirnya berjalan pincang, menyeret kakiknya yang tergips.
" sial!!" Roni bangkit dan berlari mengejar Lea yang belum jauh, menangkap gadis itu dan menariknya hingga jatuh ke semak-semak.
Tak perlu menunggu, ia bahkan memang tidak berencana menunggu, untuk apa? toh ia akan mendapatkannya juga, sekarang ataupun nanti, pada akhirnya Gadis cantik ini memang milikinya.
Lea menjerit meminta tolong, dan memukul dada Roni membabi buta. Tapi Pria itu seolah tak terganggu sama sekali, ia bahkan berhasil merobek baju bagian bahu Lea hingga menampilkan pundak putih gadis itu.
Air mata Lea sedikit demi sedikit keluar, Gadis itu mulai melemah dan memberi Roni kesempatan untuk mencium leher Lea, menghirup aroma tubuh gadis itu dari ceruk lehernya.
Lea membisikkan Do'a dalam hatinya, Semoga orang ini tidak mati, Ia berharap orang ini tersiksa di dunia sepanjang sisa umurnya. Lea mengangkat kakinya dan menghantam ************ Roni dengan lututnya.
Tentu pria itu mengaduh bahkan melolong kesakitan seperti Anjing yang tengah di aniaya. Lea tak melepas kesempatan itu untuk bangkit dan kabur. ia berjalan tertatih menyeret kakinya yang mulai kesakitan karena dipaksa berlari.
Umpatan yang begitu keras membuat gadis itu berjengit dan semakin tergesa-gesa berlari menjauh. Panik membuatnya terengah-engah. dimana Kantor desa? apa Lea salah jalan? Apa Asa benar ada disana? jika tidak bagaimana? ia akan kemana untuk lepas dari sini?
"LEA!!! SINI KAMU!!" Teriakan disertai langkah yang berderap dari jauh membuat Lea kembali menangis ditengah nafasnya yang tidak teratur.
Lea merasakan tangannya ditarik, " KYAAAA!!!" Jerit gadis itu panik. Ia meronta-ronta mencoba melepaskan dirinya dari rengkuhan orang itu. Tamat sudah, Ia tak memiliki kesempatan apapun. " Mbak! ini Daniel..." Ucap Daniel.
Namun sepertinya Lea tak mendengarnya dan terus merasa panik. Saat Daniel menoleh dan melihat Roni mulai mendekat, Ia tak memiliki pilihan selain membiarkan Lea mendorongnya dan bahkan menendangnya sebelum gadis itu kembali berlari dengan menyeret salah satu kakinya yang patah.
Daniel tak punya cara membantu Lea selain menghalangi pria brengsek yang mengacaukan kakaknya itu agar tak bisa menyusul Lea.
" Kenapa kamu lepas dia??? kamu gak tau, bapak mu itu berhutang sama saya!!" Murka Roni. Daniel berdecih melihat tingkah Roni yang tak tahu malu. Rasa marah memenuhi remaja itu hingga tanpa dapat ditahan, ia meninju Roni dengan keras.
" Lo bisa gue laporin atas pemerkosaan ke kakak gue, Bangsat!!" umpat Daniel sebelum ia kembali meninju pria tua itu tanpa ampun.
Di waktu yang sama Lea masih berjalan tertatih, ini sama seperti saat ia diculik waktu itu. Pergi kesini tanpa Asa memang pilihan gila, Lea berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pergi jauh tanpa pria itu.
Dinginnya angin Bandung tak bisa mengusik Lea yang masih menangis. Dihina, disakiti , di jual bahkan dilecehkan. Lea tak bisa mendeskripsikan seberapa dramanya hidup ini.
bahagialah untuk dirinya sendiri? Lea rasa bernafas untuk dirinya sendiri akan lebih sulit daripada mengabulkan permintaan Albara. Apa Lebih baik ia menyusul sahabatnya itu?
Saat Nafas Lea mulai melemah, dan langkahnya melambat, Gadis itu mendengar derap langkah yang mendekatinya. Lea sudah tak punya tenaga untuk berlari, Ia hanya bisa menutupi dirinya dengan kedua Lengannya, dan membiarkan dirinya terjatuh ke aspal. " Please... Tolong.... siapapun... Kak Asa, kak Bara... hiks... tolong..."
Isakannya membuat Orang yang tengah mendekatinya terdiam kaku. Tapi keselamatan Lea sekarang adalah yang utama. Asa tak bisa mengalah akan rasa bersalah sekarang.
Asa menarik kedua lengan itu membuat tubuh mungil yang masih bergetar itu masuk ke dalam pelukannya. " Kakak disini, Lea... kamu udah aman sama kakak." ucap Asa lembut. Asa dapat merasakan ada tangan yang meremas kemeja belakangnya dengan sedikit gemetaran.
Lea menangis keras, mengutarakan apa saja yang ia alami, " Aku .... uhough! tadi disuruh nikah.... hiks... terus kakek brengsek itu pegang-pegang Akuu. Uhough!!" Gadis itu mengusap kasar bahu dan lehernya yang sempat disentuh pria hidung belang tadi, tangisannya bahkan tak bisa berhenti walau Asa mengusap pipinya dan mengatakan segala kalimat penenang.
" Aku gak mau disini... aku gak mau disini, kak... gak mau disini.." rengekan Lea terlihat begitu menjadi saat ia mendengar suara langkah yang mendekat.
Asa tahu itu, Farhan, tapi ia tak tahu bahwa Lea akan sehisteris ini. Asa melepas jasnya dan menyampaikannya pada bahu Lea. dan menggendong gadis itu. Pelukan erat dilehernya mungkin akan membuatnya tersenyum jika Lea bertingkah normal seperti biasanya.
tapi Kali ini, Lea bertingkah seperti orang ketakutan, seperti orang yang nyaris mati dibunuh orang. Asa tak menyalahkan dan merasa kerepotan. Ia hanya merasa..
Terluka, seolah miliknya di rusak oleh orang yang bahkan tak berhak menyentuh miliknya itu sama sekali.
Hukum karma akan berjalan, Roda hidup akan berputar. Asa akan memastikan hal itu terjadi dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1