My Sugar Brother

My Sugar Brother
21. Asa Bego


__ADS_3

Author Note!!


Part ini banyak mengandung Kata-kata kasar dan tidak di Sensor. Bagi yang tidak berkenan, Gue sebagai author minta maaf tapi gak perduli juga, Kamu bisa skip kalo emang gak tahan. Terimakasih akang teteh🙏


***


"Kan!! 'Kan gue bilang apa?? Gue sudah meramal kalau Asa itu klepek-klepek Ama Lea!!"


Juan memukul kecil kepala Jimmy dengan Gemas, " Jangan tolol! Kuliah tinggi-tinggi masih aja Ramal-ramal. Semua sekali liat juga tau Asa suka sama Lea, Bego!" Ketus Juan. Ia begitu sensitif dengan kalimat meramal karena beberapa hari ini, Ada orang bodoh yang mengaku dirinya bisa meramal bahwa Juan akan memiliki kekasih tahun ini. Tentu saja benar, Bahkan satu Kampusnya juga tahu bahwa Juan punya pacar sekarang, Peramal itu saja yang minta sekali dihujat dengan rumus Fisika - nya Juan.


" Yakin semua sekali liat langsung tau? Itu Si Lea aja masih bisa santai -santainya ngelon sama Asa weekend lalu." Ucap Julian menatap jenaka Pria malang yang jadi topik utama pertemuan mereka Minggu ini.


Mereka bertujuh kembali berkumpul di rumah Asa, Dan Karena Rafa mengabari Lea semalam, Gadis itu menyiapkan banyak makanan untuk mereka, yang berhasil membuat Asa kesal karena diwajibkan berbagi oleh Lea.


Gadis itu memiliki jadwal kelas Fotografi dan karena kelasnya kali ini bertema tanaman, Lea memilih untuk mencari objek fotonya di sekitar Bogor, ditemani Tazqia. Dan kini Asa berakhir menceritakan topik masalah hidupnya sekarang ini kepada 6 sahabatnya.


bukannya mendapat dukungan, Asa justru dicemooh karena kemalangannya.


" Lo tinggal tembak. selesai." Ujar Agus ditengah tawa Rafa yang tak bosan-bosannya menertawakan kesialan Asa. Pria itu sejak tadi hanya diam memperhatikan wajah frustasi Asa sambil berpikir apa yang rumit dari masalah Asa.


" Yailah Bang. kalo segampang itu, gue udah nembak dia dari awal.." keluh Asa. Agus menatap heran Asa, seolah menanyakan " so, why not?" dengan pandangannya.


Asa menenggak Minuman kaleng yang dibawakan Julian tadi, " Masalahnya, kalau emang dia terima gue mah gak masalah, tapi kalo engga? terus akhirnya dia maksain diri pulang ke Bandung?


Gue cuma gak mau ngancurin kedekatan gue sama dia."

__ADS_1


Jimmy sempat mengerutkan keningnya, kurang memahami maksud akan ucapan Asa yang panjang itu, namun akhirnya ia mengangguk paham. " Kalo dia pulang ke Bandung dia dinikahin si kakek-kakek pedofil itu ya." ucap Jimmy. Asa mengangguk,


Jika saja Adik Lea, Daniel tidak memohon-mohon kepadanya didepan Lea, meminta Asa untuk tidak membalas kedua orang tuanya, Asa mungkin sudah membakar hangus rumah keluarga Lea di Bandung dan membayar pembunuh bayaran untuk menghabisi Roni.


Sekarang si Tua Bangka itu masih hidup bahkan dengan tenang, Mana bisa Asa mengambil langkah berisiko seperti menembak Lea?


" Asking for my friends?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Giyatsa membuat Asa dan yang lain menatapnya bingung. " maksud lu bang?" Rafa bertanya.


Giyatsa menggaruk lehernya canggung, " Kayak nanya " Temen gue suka sama cewek nih, tapi ceweknya cuma nganggep dia kakak. kalo misal si cowok ini nembak, Lo sebagai ceweknya gimana?" ,kayak gitu."


Asa mengangguk seolah mengakui bahwa saran Giyatsa masuk akal dan patut di coba. " Kalo gitu, Giyatsa aja yang nanya." ujar Agus tiba-tiba.


Giyatsa langsung menggeleng kepalanya. Ia memang terlihat paling santai dan seolah tak banyak masalah, tapi ia paling anti terlibat permasalah asmara orang. Ia terkenal tidak peka dan itulah yang sering menimbulkan masalah jika ia terlibat dengan hubungan orang.


" Lo aja Gi. Lo kan suka asal nyeplos. kali aja berguna. lagian kalo Asa yang nanya, nanti Lea curiga Asa suka sama dia." ujar Juan menimpali pendapat Agus.


Dan seperti rencana tersebut, beberapa jam kemudian, setelah kepulangan Lea dan Gadis itu mengajak Giyatsa mencoba masakannya untuk makan malam mereka, Giyatsa melakukan " asking for my friends" secara nyata.


" Ya."


" HM."


" Gue ada temen nih, dia suka sama cewek, tapi ceweknya tuh cuma nganggep dia kakak.. jadi Kakak-adek Zone gituu.. Kalo si cowok itu... nembak, lu terima gak?"


Lea tertawa kecil ia memahami taktik pertanyaan Guyatsa. " adek adeannga Bang Giyat emang siapa sih?"

__ADS_1


Guyatsa menghela nafasnya kesal. benar saja ucapan Juan, Gadis ini jadi mengira dirinya lah yang menjadi si teman itu.


" Kalo aku ceweknya... Hmm.. tergantung sih. Kalo beneran di anggap Kakak tanpa unsur romantis ya susah lah buat maksain jadi romantis seperti si cowok. Kecuali...


Dia sebenernya suka cuma bersembunyi di balik hubungan kakak adek itu. Kalo kalian Deket banget, aku saranin gausah nembak sih Kak. karena Jarak yang terbentang saat kalian ada masalah bakal jadi makin lebar.," jelas gadis itu.


Guyatsa mengangguk kepala cepat. Lea mulai masuk ke perangkapnya. " Kalo Asa nembak lu, lu terima gak?"


" He?? Enggak lah!"


DuG!!


Lea dan Giyatsa menoleh kaget ke arah sumber suara dari benda yang jatuh itu. Giyatsa sudah menebak Asa pasti menguping. Nikmati sudah buah dari menguping mu bung. batinnya meledek.


" Paling si Agus jatoh.. udah lanjut. kenapa Lo gak mau?"


" bukan gak mau. Tapi gak mungkin aja... maksud aku tuh.. Kak Asa se Sempurna itu... maksud aku.. hngg... ibarat kata ya, Kak Asa terlalu Glowing untuk aku yang kentang ini.." mendengar ucapan merendah Lea itu Giyatsa tertawa terbahak-bahak.


" Duh, Ya.. Coba pikirin lagi. terlepas dari Harta, bobot, bebet, dan segala ***** bengek nya, cuma ngomongin perasaan Lo sama Asa nih. Kalo Asa yang nembak atau bahkan ngajak nikah, Are you willing?"


Lea terdiam sejenak. Pertanyaan Giyatsa terlalu menembak kepada sasaran. Lea jadi tak punya banyak waktu untuk berpikir. " I'm willing... maybe?" bisik gadis itu tak yakin.


Giyatsa menatap guyon Lea. gadis ini benar-benar ambigu, Ia tak bisa membayangkan Asa menghadapi keambiguan Lea selama ini dengan perasaan Asa yang sudah jelas terlihat. Giyatsa tertawa kecil sambil mengusap rambut Lea dengan lembut. " Tiati... sekarang bilang engga, siapa tahu besok bilang mau, iya gak?"


Lea mendelik kesal mengabaikan Giyatsa. Sedangkan di ruang sebelah, Asa bernafas lega. Ternyata ia masih punya kesempatan bersama Lea. hanya perlu serdikit bersabar agar bergemu dengan waktu ya tepat

__ADS_1


__ADS_2