My Sugar Brother

My Sugar Brother
22. Onion


__ADS_3

Lea mengerjapkan matanya melihat seseorang yang tidak begitu ia kenal tengah berdiri disampingnya sambil menyiapkan bahan-bahan makanan. Sejujurnya, Lea kenal, bukan kenal juga, tapi Lea tahu orang ini hanya saja, ia tak pernah terlibat atau berniat berkomunikasi dengan orang ini. Terpikirkan pun tidak.


Mungkin karena Lea terlalu fokus membahagiakan diri, jadi Lea tak begitu memperdulikan sekitar. Tentu semua ini berkat didikan Asa yang selalu bilang, 'Situasi apapun itu, pokoknya pikirin kamu dulu. udah bahagia belom?'


memikirkannya membuat Lea tersenyum cerah. Asa memang sangat cocok dijadikan Matahari.


"ngapain?"


ucapan datar itu membangunkan Lea dari lamunannya, membuat Lea menoleh dan mendapati wajah chubby dengan alis tebal dan kacamata bundar seperti milik Harry Potter milik orang disampingnya. Lea menggaruk lehernya canggung. " ehm... ga-gak ngapa-ngapain sih... ehm.. itu.. siapa namanya.." tanya Lea canggung.


Dion menatap lekat Lea sebelum kembali menyiapkan bahan makanan dari tasnya. Saat semuanya sudah selesai, ia menatap kembali Lea yang masih belum selesai menyiapkan bahan-bahan. " Dion."


Lea menoleh cepat, Ia tahu Orang ini mengucapkan sesuatu, namun ia tak mendengarnya dengan jelas. " Apa? Onion?" ulang gadis itu. Mendengar Lea mengucap namanya dengan salah dan konyol berhasil membuat Dion tak berkutik, membuat keduanya berakhir saling tatap menatap dengan kebingungan.


yang satu bingung dengan ucapan,


yang satu lagi bingung dengan kebodohan yang lain.


" gak ada siaran ulang." ucap Dion datar. Ia mengabaikan Lea, membiarkan Lea terdiam,. " Sumpah Kak, emang suaranya kecil atau gak niat ngomong?" heran Lea.


Dion mengendikkan bahu sambil menatap kertas resep menu hari ini. " dua duanya."


Lea mendelik, " dii diinyi, cih!" sinis gadis itu sebelum ia fokus dengan resepnya dan berpura-pura tidak tahu bahwa Dion tengah menatapnya datar.


" Hari ini, kita bikin menunya berkelompok ya... sama temen semeja nya aja... biar satu sama lain bisa membantu improving your skill, ok?" Chef yang menjadi mentor kelas hari ini tersenyum cerah sambil mengucapkannya.


tidakkah ia tahu bahwa Lea dan Dion tengah saling menatap datar seolah mereka tak terima karena harus se tim?


Dilain sisi, Seseorang tengah berlari dengan tergesa-gesa. Ia akhirnya bisa lolos dan menghirup udara bebas. Sedang sebulan lebih ia terkurung disana. dan semua itu disebabkan oleh satu orang sialan yang tidak tahu diri.


Ia akan membalasnya. Setidaknya, jika ia tak bisa mengusik fisiknya, ia akan hancurkan mental orang itu.


***


Lea menghela nafasnya saat makanannya dan Dion sudah selesai dan bahkan menjadi makanan terbaik di kelas hari ini. Diluar dugaan, orang dingin nan menyebalkan seperti Dion ternyata bisa begitu kooperatif saat memiliki tujuan yang sama. Pria itu bahkan bisa mengatasi masalah yang Lea buat dengan sigap dan tenang, tidak seperti Lea yang langsung diam sambil berpikir kesana-kemari memikirkan akibat dari kesalahannya.

__ADS_1


Kini semua peserta 'Kelas Memasak ala Mas Sam' tengah menikmati hidangan buatan tim mereka masing-masing, begitupun dengan Lea dan Dion. Perbedaannya, tim lain makan dengan akrab, sedangkan Lea dan Dion makan dengan sangat khidmat seolah tengah makan sendiri.


" little bit oily. isn't it?"


" and due to? kalo kamu gak lupa kasih minyak tadi, gak akan seberminyak ini." Lea menghembuskan nafasnya kesal. akhirnya ia yang disalahkan. Ia kan bukan menyudutkan, hanya menanyakan pendapat.


" kalo ada kesalahan, jangan mikirin dampaknya dulu. pikirin cara ngatasin paling cepat." ucap Dion sebelum memasukan suapan spaghetti terakhirnya ke mulut.


Lea hanya bisa mengangguk. Sudah banyak orang yang mengatakan bahwa ia orangnya panikan, Kalau terjadi kesalahan terlalu banyak memikirkan dampak yang menghabiskan banyak waktu. Orang seperti Dion ini, yang sering sekali Lea temui disekitarnya, salah satu contoh Tazqia, atau mungkin Sehan.


Keduanya membereskan bahan-bahan mereka dan bersiap untuk pulang. Lea tidak dijemput Tazqia kali ini. Gadis itu dijemput Asa seharusnya, dan hiasanya Asa sudah berdiri didepan ruang kelasnya.


Langkah gadis itu berhenti. Kenapa jantungnya berdebar-debar melihat orang itu?


Lea tak mengerti, kenapa bukan Asa yang ada didepan kelas memasaknya, dan justru Ashilla yang berdiri dengan senyuman.


Dan kenapa Lea bergetar melihat wanita itu?


Asa mendapat panggilan dari Farhan, pria itu baru saja selesai rapat dengan kolega bisnisnya dan hendak berangkat menjemput Lea. Pria itu mengerutkan kening saat Farhan langsung mengatakan sesuatu tanpa ada basa-basi seperti biasanya. "apa?"


" Ashilla kabur dari pusat Rehabilitasi pak!"


Ashilla tidak mungkin nekat menghampiri Lea 'kan? Yang melaporkan kasus penggunaan narkoba wanita itu adalah Asa, jadi seharusnya Ashilla mencarinya jika memang kabur untuk mencari masalah.


Asa benar-benar berharap Ashilla kabur hanya karena ingin hidup tenang. Sehingga Asa tidak perlu repot-repot memikirkan cara terburuk menyiksa wanita itu nantinya.


Namun seolah tidak akan seru jika sesuai keinginannya, tepat saat Asa merapalkan do'a tersebut dalam hatinya, Lea benar-benar tengah ketakutan saat Ashilla menghampirinya dan menarik kasar rambutnya.


Lea tak mengerti, kenapa ia seketakutan ini? Tangannya bergetar hebat dan entah kenapa ia merasa kulit wajahnya mendingin. pikiran-pikiran aneh seperti tentang orang tuanya dan Bandung terngiang dikepalanya.


Apa Ashilla akan melaporkan keberadaan Lea kepada Orang tuanya? Apa Lea akan ditarik paksa ke Bandung? kembali di ju..


memikirkannya saja membuat air mata Lea jatuh walau gadis itu tak terisak. Ashilla menyeringai, " Lo setakut itu sama gue, tapi berani macem-macem sama gue? Lo mau apa? gue anter Ke Bandung? kayaknya nyokap Lo masih nyariin Lo."


" GAK-GAK!! Engga!!!!!" jeritan menolak Lea membuat Ashilla meringis kesal karena suara gadis itu terlalu berdenging ditelinganya. Ia melayangkan tangannya dan meninggalkan lecet kecil di pipi Lea. Gadis itu bahkan terjatuh sambil menutup telinganya seperti orang tidak waras.

__ADS_1


Ashilla merasa menang. ia hanya perlu merusak gadis ini sedikit lebih dalam untuk memberikan bekas yang permanen bagi Asa, bekas yang tak akan pernah Asa ataupun gadis sok suci yang tengah merapal kalimat lemah didepannya ini lupakan seumur hidup.


Ashilla menarik rambut Lea Kembali, ingin melihat seberapa menyedihkannya wajah Gadis yang telah merebut kebahagiaannya itu, tapi sebuah tangan memukul tangannya dengan keras hingga meninggalkan bekas merah di kulitnya.


Ashilla menatap tajam pria culun yang tengah menatapnya datar itu. " apaan sih! ikut campur aja!"


" jangan bikin ribut di tempat umum. tau malu. pak, tolong bawa ke pos." ucap Dion sambil berbalik memperhatikan Lea yang tengah terduduk, menatap tidak fokus sekaligus gemetar ketakutan. Sedangkan Ashilla tengah menjerit tidak terima. Wanita itu belum puas menghancurkan Lea ataupun Asa. ia bahkan belum setengah jalan..


" Lea."


" gak! enggak!! gak mau!! please... Kak Asa...,tolong..." melihat Lea yang sepertinya tidak sepenuhnya sadar, Dion berinisiatif menggenggam tangan Lea, namun gadis itu menepisnya dengan kasar hingga memberikan goresan di lengannya.


" pergi!!!" jeritan Lea membuat Dion kesal. Telinganya sudah sering berada di lingkungan yang berisik, tapi memang jeritan wanita tidak pernah bisa dikalahkan.


" Asanya gak ada. adanya Dion!" teriak Dion kesal. Namun Lea masih tidak merespon, menyulut emosi Dion hingga akhirnya pria itu memiliki satu ide paling mempermudah keadaan. Ia membuka tas, lalu mengeluarkan sesuatu.


Lea menarik nafas dalam saat wajahnya tersiram air. Matanya mengerjap, tangannya berusaha mengusap wajah agar airnya tak menghalangi pandangannya. Lea menatap sekeliling dan menemukan Dion dengan botol minum yang tengah ditutup pria itu.


" K-kak?"


" Saya bukan Kak Asa. saya Dion. paham?"


Lea terdiam sejenak, mencoba mengerti maksud ucapan Dion. Ia kini teringat bahwa ia... tadi ketakutan setengah mati saat Ashilla membawa-bawa kata orang tua dan Bandung. Gadis itu menayap sekitarnya mencari tanda-tanda keberadaan wanita tersebut. tentu tingkahnya itu tidak lepas dari perhatian Dion.


" udah gak ada disini. gausah nyari-nyari masalah kalo emang ketakutan." Lea terdiam mendengar ucapan Dion. Ia menghela nafasnya lega, dan bangkit berdiri.


Dion memperhatikan Lea sejenak. sebenarnya bukan sepenuhnya karena dia, tapi melihat wajah dan rambut Lea basah kuyup, Dion berinisiatif melepas sweaternya.


Lea terkejut saat sebuah sweater terlempar ke arahnya. Gadis itu menatap Dion,. " Pake. nanti sakit." ucap pria itu. Lea hanya bisa mengangguk sambil menatap sejenak sweater hijau tua itu. di kerah belakang sweater itu, tepat di lebel merek, Lea dapat membaca sebuah nama disana sebelum ia memakai sweater itu. ", Geardion? oh nama kakak, Dion?" tanya gadis itu retorik.


Dion menatap datar Lea sebelum ia bertanya, " di jemput gak?". pria itu benar-benar enggan dan merasa pertanyaan Lea tidak penting.


" dijemp--"


"Lea!!" panggilan Asa memenuhi koridor gedung itu. Lea langsung menoleh, tanpa sadar gadis itu ikut berlari menghampiri Asa dan langsung memeluk pria itu. Asa terengah-engah sambil mengusap lembut punggung gadis itu.

__ADS_1


Lagi, Lea menangis lagi. Namun kali ini Asa memeluknya, melindunginya. Ia tak tahu bagaimana caranya hidup tanpa ada Asa disampingnya.


Asa sudah menjadi candunya.


__ADS_2