
Mood Lea yang kembali naik membuat Farhan cukup senang sekaligus bingung. Gadis ini bahkan lebih ceria dari saat ia bekerja seperti biasanya.
Tak jarang Farhan menangkap Lea tengah tertawa sambil melihat ponselnya. Terkadang pria itu penasaran, Tapi Lea sekarang sudah tak acuh dengan hp nya. Gadis itu nyaris tak pernah melepas ponselnya selain tengah rapat dan mengerjakan berkasnya.
Farhan sang asisten ternyata bukanlah satu-satunya orang yang menyadari hal itu, Dion, juga menyadarinya. Pria itu bahkan dengan sigap menahan lengan Lea yang keluar dari ruangannya, " Mau kemana?"
"Pulang lah... aku ada janji sama temen."
" Temen?" Ucap Dion bingung. Lea mengangguk cepat. Gadis itu melirik jam di ponselnya dan mencekal tangan Dion yang menahannya. " Duluan ya, Kak! aku ditungguin soalnya. Dahhh!!"
Dion menoleh kspada Farhan yang baru saja keluar, " temennya yang mana?"
" kurang tau. Dia gak pernah seceria itu selama ini kecuali saat masih ada pak Asa." timpal Farhan yang menyusul di belakang Dion. Dion menoleh kearah Farhan, Begitupun sebaliknya. keduanya saling berpandangan, " Pacar?"
Ucapan Dion membuat Farhan tanpa ragu memukul punggung pria itu dengan keras. " Bukan." sangkal pria iyu singkat. Dion menatap aneh rekannya itu. Farhan lebih terlihat seperti tidak terima dibanding menyangkal.
Disamping Itu, Lea sudah masuk ke dalam mobil Leksa, " Tadi kerjaannya banyak?"
" gak terlalu... soalnya pas awal aku kebut semua jadi sekarang ngerjain masalah-masalah yang sekarang aja." Gadis itu menatap jalan dengan penuh minat. sepertinya sore ini cukup padat hingga mereka tidak begitu jauh beranjak dari tempat mereka beberapa menit yang lalu.
Leksa sendiri sibuk menyalakan radio. " Tapi saluran sekarang yang bagus nomor berapa?"
" 102.2 atau 98.9 sih kalo aku. lagunya bagus-bagus."
Leksa mengangguk paham dan memasang saluran yang Lea sebutkan barusan. Saat lagu yang disajikan berasal dari negri gingseng, Leksa langsung menoleh dan memperhatikan reaksi Lea. Gadis itu termenung seolah tengah berpikir. " Gak suka Korea?"
__ADS_1
" Oh! ini Korea?? pantes kayak kenal suaranyaa.. gara gara bahasa Inggris, aku kira bukan lagu Korea, Hahahaha"
Leksa tertawa mendengar ucapan Lea. " emang sesibuk itu sampe gak tau lagu apa yang lagi booming?"
tanpa di duga Lea mengangguk cepat. " sibuk bangetttt... Dari aku kuliah juga emang gak begitu punya waktu luang soalnya kuliah pagi pulang malem 'kan.. terus pas udah sama Kak Asa, Aku udah mulai tuh santai dikit, aku bisa nonton Drakor sama Fangirl gitu, tapi abis kejadian Bandung itu, Ak--ku gak bisa santai..." ucapan Lea melemah saat sadar bahwa ia bercerita bukan dengan Farhan ataupun Rafa yang mengetahui latar belakangnya.
Ia lupa ia sedang berbicara dengan Leksa. Orang yang baru ia kenal beberapa hari ini, Leksa pun menyadari bahwa Lea menjadi urung untuk terbuka dengannya. Pria itu tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sangat wajar Jika Lea menahan diri untuk terbuka secepat ini kepadanya. Pria itu mengusap rambut Lea dengan lembut. " Gapapa... Kan bisa cerita kapan-kapan dan pelan-pelan."
Lea mengangguk sambil tersenyum. Bersama Leksa tak pernah membuatnya tak senang. Ia selalu merasa dilimpahkan kebahagiaan yang ia rindukan. kebahagiaan sederhana yang hanya ia dapatkan saat bersama seseorang yang ia inginkan.
Leksa kembali menatap jalan, Langit jingga kini sudah tertimpa langit gelap, lampu jalan pun semakin terlihat terang menyala, memberikan berkas kuning oranye yang mempercantik jalan di petang hari.
" Tau gak, Ya? Gue tiap hari tuh selalu merasa, ' wahh... hari ini capek banget, atau hari ini aneh banget.' sambil ngerjain tugas atau mungkin gue ngabisin waktu, cuma buat liat jam 12 malem. Buat ngeliat Angka di jam hape gue berubah 00.00."
Lea mengerutkan keningnya, " Kenapa?" Gadis itu memperhatikan ekspresi cerah dan 'excited' Leksa saat ini. Apa pria ini tak pernah merasa bosan? pikir gadis itu.
Gue gak akan langsung lupa sama apa aja yang gue lakuin di hari sebelum-sebelumnya, Tapi gue selalu merasa bahwa Waktu terus berjalan, dan gue juga harus terus lulus hari ini, ataupun ke depannya.
Jadi, rasanya aneh banget kalau ngeliat Lo terus lulus menjalani hari, tapi arah pandang Lo tuh ke belakang terus."
Lea memandang kosong jalanan dihadapannya. Resetting. Mengatur ulang, Memulai semuanya dari awal lagi, disetiap harinya, menjalaninya dengan arah pandang ke depan dan bukanlah ke belakang.
Semua ucapan Leksa tak ada yang salah ataupun menyinggungnya. Lebih tepatnya langsung menamparnya untuk sadar bahwa Lea selama ini berjalan lurus ke depan namun pikirannya masih terborgol ke belakang.
Tangan yang sejak tadi belum berpindah dari kepala Lea kembali mengusap dengan lembut. " Berdamai, Ya. Kita hidup bukan untuk masa lalu. tapi untuk melalui hari ini dan menjalani masa depan. Masa lalu kita jadiin pelajaran aja, masa sekarang kita jalanin, dan masa depan dijadiin patokan." Ucap Leksa dengan lembut. Lea mengangguk cepat. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan air mata yang terus keluar.
__ADS_1
Merasa bahwa gadis disampingnya sudah mulai lepas, Leksa menghela nafasnya lega. " Tau gak, gara gara Cafe kemarin, gue jadi pengen bangun cafe, tapi dideket kantor Lo, Ya."
Lea mendongak, menatap bingung pria disampingnya. " beneran deh Kak... kak Leksa tuh seenak jidat bikin nangis anak orang, terus segampang itu ganti topik ngomongin cafe??"
Leksa tertawa keras mendengar protes Lea. Selama ini, hanya Lea yang selalu protes akan sikap absurdnya. Cukup lucu melihat ekspresi kesal Lea seperti sekarang.
" kapan-kapan main ke jerman mau gak?" tanya Leksa tiba-tiba ditengah makan malam mereka. Keduanya sedang menunggu pesanan Sate Padang di sejajaran pasar makan kaki lima ini. Lea tentu menanggapi ucapan Leksa dengan pandangan Aneh. pria Ini benar-benar abstrak dan sulit ditebak.
" Mau ngapain?"
" ya namanya main, emang mau ngapain?"
" lah, Main kan harus jelas, main apa, kemana, jam berapa sampe kapan..."
Leksa menggeleng kepalanya tak percaya. " Ini beneran deh, Lo terlalu manut dengan aturan... bebasin aja... lagian perginya berdua sama gue 'kan? nanti gue jemput deh... tapi masih nanti... Gue kan balik ke LA dulu, ini itu dulu.."
Lea terdiam sejenak. Benar juga, Leksa disini baru bersiap-siap... bukan langsung pindah. Itu artinya, Leksa akan pulang Ke LA dulu baru pindah kesini. Degup jantung Lea berubah tidak karuan, wajahnya memucat, Angin yang biasa saja, terasa semakin dingin.
Leksa tentu kebingungan. Air muka Lea berubah drastis. " Le, sumpah Lo kenapa?"
" Kak Leksa pulang kesana naik pesawat?"
" Ya... iya.. emang lu mau gue jalan kaki?" tawa kecil akan keheranan Leksa tidak dapat berlanjut karena Lea langsung menggenggam tangannya dengan erat bahkan terlalu erat. " ke-kenap--"
" Please... jangan naik pesawat... Kak Leksa gak takut kecelakaan?? please... aku mohon.."
__ADS_1
Leksa bungkam. Ia sadar kali ini ia tak bisa melontarkan lelucon untuk memperbaiki suasana.