My Sugar Brother

My Sugar Brother
6. Pemendam


__ADS_3

Lea merasa bingung saat menyadari bahwa ia mendapat sambutan sinis dari seisi kelasnya sejak pagi ini. Rasa bingung semakin membesar saat dosen Terakhir mengakhiri kelasnya, dan Ketua Angkatan di jurusannya meminta semua orang dikelasnya berkumpul untuk mengikuti rapat dadakan.


Lea menoleh ke arah Tazqia dan Indy dan Indah, sahabatnya. " ini ada apaan sih? kok dari pagi mukanya pada badmood semua?" Tanya Lea berusaha untuk terlihat naif, Walau ia sangat sadar bahwa semua bersikap badmood hanya kepadanya.


Tazqia menunjuk ponselnya, memberikan Lea isyarat bahwa Lea harus memeriksa pesannya. " Iya, Le, Kita gak bisa ngomongin secara verbal, jadi Lo baca deh chatnya Qia. dia dari pagi ngechat Lo, tapi Lo fokus banget ke Pak Hendri." ucap Indy memperjelas maksud Tazqia.


Indah mengusap bahu Lea, " udah, Ya, santai aja... kami percaya kok sama kau." ucap gadis penuh semangat berketurunan asli Medan itu. Lea tersenyum kecil, logat Indah yang Khas sering kali menghiburnya. Lea dengan santai membaca pesan Tazqia sambil memasuki kelas sebelah yang dijadikan lokasi rapat mendadak hari ini.


selesai membacanya, Lea terdiam sejenak sebelum menatap sekelilingnya. benar seperti yang Tazqia katakan, ia menjadi orang terduga atas pencurian uang pembayaran buku yang dikumpulkan oleh bendahara kelasnya.


dalam jurusan keperawatan, ada 3 buku yang wajib dimiliki oleh mahasiswanya, buku diagnosa, Intervensi ( perencanaan), dan Evaluasi dalam asuhan keperawatan yang akan mereka lakukan. Angkatan Lea sepakat untuk mengumpulkan uangnya pada satu orang, yaitu bendahara kelas Lea, Gege, dan pencatatannya dilakukan oleh bendahara itu sendiri.


Namun ada kabar bahwa Uang itu hilang sejak kemarin dari Gege si bendahara yang menggemparkan satu angkatannya. Karena jumlahnya terlalu besar untuk diganti oleh Gege sendiri, Maka Gege bertanya kepada kelasnya sejak kemarin malam, secara personal chat kepada teman sekelasnya sekiranya jika memang salah satu dari mereka pelakunya, ia tidak akan membeberkan identitasnya asal dikembalikan.


tapi tak ada yang mengaku terkecuali Lea. Gadis itu sampai sekarang belum membalasnya, dan akhirnya, dugaan anggota kelasnya adalah bahwa Lea yang mencuri uang itu. intinya sih seperti jika Lea menangkap dari pesan yang Tazqia kirim kepadanya.


Tentu ini bukanlah waktu yang tepat menjadi tersangka pencurian. Lea masih punya masalah dengan Asa dan itu sudah membuatnya susah tidur dalam beberapa hari, ia juga sejak 2 hari yang lalu lembur di Cafe sehingga ia tidak punya waktu istirahat yang cukup ditambah bergadang.


Lea merasa sangat pusing. Ia kira sejak hidup dengan Asa ia akan merasakan kesenangan remaja yang belum sempat ia rasakan, tapi ia malah mendapatkan hal ini.


" Jadi, Ge, gimana uangnya?" ucap Akhdan sang ketua Angkatan. Gege berdiri dan berjalan ke depan kelas, Saat sampai disana, ia menatap langsung mata Lea. " Gue udah chat semua temen sekelas gue, mereka bilang gak tau apa-apa ataupun gak ada megang-megang tas gue. tapi ada satu orang yang belom bales gue...


niatnya gue nanya secara pribadi kayak kemarin biar identitasnya gausah keluar gitu, biar gak malu-malu amat, tapi Sampe sekarang dia belom bales. gue tanya sama Lo yang bales, gausah gue sebut nama lo, Lo megang uang anak-anak yang lain gak?"


ucapan Gege yang lantang membuat semua terdiam menatap sekeliling. Berbeda dengan yang lain, Anggota kelas Lea secara spontan menatap Lea secara langsung. Seolah memberitahu sekeliling bahwa Lea lah orang yang dibicarakan Gege.


Lea merasa percuma jika ia menjawabnya secara privat, sehingga ia berdiri dan menatap secara langsung Gege. " gue, belom bales chat Lo semalem karena gue kemarin malem lembur di Cafe. Gue gak bales juga tadi pagi sampe sekarang karena gak ngecek hape gue dari semalem. Sekarang, boleh gue tanya, dugaan apa Sampe Lo semua, anak kelasan gue sendiri, memperlakukan gue seperti gue memang pencurinya ?" ucapan Lea membungkam bisik demi bisik yang keluar sejak ia berdiri tadi.


seseorang mengangkat tangannya, salah satu anggota kelas Lea sendiri. " Lo 'kan dari kemarin ada masalah sama pembayaran UKT gara-gara belom bisa bayar 'kan? gue mikirnya Lo ambil uang itu buat bayar UKT Lo sih, Ya." Lagi, orang itu berhasil mengundang bisikan yang membuat telinga Lea panas.


" UKT gue udah kebayar sejak dua Minggu yang lalu gue juga udah bayar buku itu ke Gege, buat apa gue nyuri uang itu kalo ada uang gue disana?"

__ADS_1


" bisa aja Lo bayar UKT dengan ngutang, terus harus bayar, jadinya Lo ambil uang itu buat bayar utang. iya gak sih?" Dengan Orang yang sama dengan pembicara yang sebelumnya, Lea akhirnya menyerah. ia kembali menatap Gegd, " Ge, uangnya berapa gue tanya sekarang," ucap Lea sambil membuka ponselnya.


" Total 33 juta, yang hilang 10 jutaan." Lea yang berniat mencatat menatap langsung mata Ghea dengan terkejut. " 10 juta Lo taro dalam tas, Ghe? Lo gak mikir ya kalo uangnya bisa aja ilang diluar kelas?"


Ghea terdiam sejenak sebelum ia menggeleng kepalanya. " gue setiap mau pulang selalu check tas gue dan uangnya. kemarin sebelum gue pulang gue ke ruang dosen, sebelum itu hei udah cek masih utuh. pas mau pulang, gue gak cek tasnya, pas gue Sampe rumah, uangnya udah gak ada di tas. makanya gue ngira anak kelasan, sekarang Lo nanya totalnya buat apa? buat ngebalikin?"


BRAKK!"


Semua terkejut dengan apa yang mereka lihat. Lea baru saja melempar ponselnya ke arah Gege yang untungnya sempat menyingkir sehingga ponsel itu menghantam papan tulis hingga retak.


nafas terengah-engah yang Lea alami benar-benar membangun ketegangan di kelas itu. " Lo denger baik-baik... Lo akan nyesel udah nuduh gue didepan umum. Lo inget itu baik-baik Ge. Lo semua yang nuduh gue disini, gue tunggu permintaan maaf Lo semua didepan umum juga." ucapan dingin itu seolah melarang siapapun mengeluarkan suaranya walau hanya sedikit. Lea berjalan dengan acuh ke depan dan mengambil ponselnya yang mati dengan retakan besar dilayarnya. " Sorry gue ganggu rapatnya, gue mau pamit Part Time sekarang. gapapa 'kan Akhdan?"



Akhdan tertawa kecil sambil mengangguk, " santuy aja. hati-hati, Ya." ucapnya sambil melambaikan tangannya.


Lea keluar dengan menutup pintu hingga kencang, meninggalkan satu kelas besar itu yang terheran dengan sikap ramah dan menyenangkan Akhdan yang tidak sesuai dengan situasinya.


" Lo kenapa ketawa sih Dan?" Heran Indy yang setengah kesal. ia Kesal karena pria yang dekat dengan dirinya dan ketiga sahabatnya itu tidak membela Lea dan malah bersikap santai di situasi tegang ini. Akhdan menatap lucu Indy.


****


Lea menghela nafasnya, kali ini ia akan lembut untuk ketiga kalinya karena salah satu rekannya mendapat musibah kehilangan ibunya dan harus mengurus pemakaman ibunya. Lea mau tak mau harus menggantikannya karena dirinya sendiri tidak memiliki kesibukan apapun setelah part time nanti.


" Lea, bisa beli Krimer sama Susu di TBK yang dideket masjid?" ucapan Sang manajer membuat Lea mengerutkan keningnya dengan sangat jelas.


" emang udah abis? orang aku baru beli kemarin."


manajernya pun ikut bingung. " kok? ini udah abis Ya.."


" iya, tapi kemarin 'kan aku cek tuh di gudang, udah abis, aku beli dan aku Catet di setoran kemarin kok."

__ADS_1



melihat Manajernya hanya diam sambil berpikir, Lea menghela nafasnya. Apa ia akan dituduh mencuri lagi?


Ia tahu ia memang kurang mampu ditambah orang tuanya terhadap dirinya bisa menjadi faktor pendukung untuk menduduhnya, tapi Lea rasa tanpa mendengar penjelasannya dan menuduhnya didepan umum bukanlah sikap yang bijak dan bahkan tidak sopan.


" Mas Adam cek loker aja. semuanya di cek. atau CCTV yang lebih cepet, biar jelas aja. Aku mau beli krimer sama susunya lagi." Ujar gadis itu.


saat Ia keluar, ia bertemu dengan Tazqia. gadis itu menghela nafasnya melihat wajah kusut Lea. " Lo gak cerita masalah Lo ke Bang Asa?" tanya gadis itu sambil menyalakan motornya. Lea tanpa menjawab menaiki motor itu. " ke Toko bahan kue Deket masjid Qi." ucapnya.


Tazqia meringis kesal. Gadis dibelakangnya ini sangat sering mengubur masalahnya sendiri jika tidak ditanya. " jangan Lo Pendem lagi, Ya... sekarang ada Bang Asa, dia nyuruh Lo anggap dia Abang 'kan? adek itu perlu terbuka sama abangnya biar gak jadi jauh dan canggung."


Lea yang mendengar itu menaruh kepalanya dipunggung Tazqia. Gadis itu menghela nafas yang begitu berat dari mulutnya. " gue capek Qi." ucapnya singkat.


Sahabatnya itu mengangguk, mengerti bahwa ini hari yang buruk untuk Lea. Lea hanya berbagi masalahnya dengan terbuka hanya pada dirinya, termasuk tentang hubungan Lea dengan Asa yang lumayan canggung semenjak kata-kata Harga diri waktu itu.


Itulah kenapa Tazqia cukup terkejut saat Asa sudah duduk dihadapannya saat ia hanya berniat menunggu Lea selesai part time untuk mengantar pulang Lea.


" Bang Asa 'kan?" tanya Tazqia ragu walau ia tahu itu pertanyaan tak berguna. Asa mengangguk singkat, Ia merasa Lea pasti bercerita tentang masalah mereka melihat sikap canggung Tazqia kepadanya.


canggung karena baru kenal sangat berbeda dengan canggung saat kita berhadapan dengan orang yang sedang bermasalah dengan kenalan kita. " Boleh saya tanya, kenapa Bang Asa bilang Lea gak bisa menghargai dirinya?" tanya gadis itu langsung.


rupanya, Rasa penasaran Tazqia lebih lebih besar dari rasa gugupnya bertemu dengan Asa.


Bersambung....


Heyhooo!!


gimana kabarnya wkwkwkwk... Ada yang seneng gak nih Biasnya tau tau muncul????


siapa yang seneng lihat senyum manis si Aming wkwkw?

__ADS_1


yang degdegan lihat wajah tambang Tiway aka Taeyong encete?


jangan lupa like ya, Makasih udah baca 😊


__ADS_2