
Diam. hanya diam
Ia kembali pada Fase diam seperti setelah mendapat surat Albara. jika Asa ternyata memberikannya surat juga seperti sang Adik, Lea tak tahu ia akan se frustasi dan segila apa nantinya.
Benar-benar hancur.
semua. Tak hanya dirinya, hatinya, tapi juga kepercayaan Albara untuk menjaga kakaknya. Lea tak lagi tahu ia harus apa. Farhan berkali-kali memanggilnya, dan menanyakan keadaannya, dan Lea hanya bisa diam tak menjawab. pikirannya kosong.
ia penyebabnya.
Lea menatap dalam boneka besar berwarna putih dan boneka lainnya berwarna oranye memiliki loreng hitam.
Ia memeluknya, berharap ia mendapat rasa nyaman. memeluk erat pita dileher beruang putih itu, dan merasakan sesuatu yang keras terselip disana. Lea menatapnya ragu. berharap itu hanya bill atau merek dari winter Bear ini.
I hope this winter bear would invites you to sleep in peace like him, so you can sleep happily. wish you a good night lea.
habis sudah pertahanan Lea. Ia menangis didalam beruang putih besar itu, meluapkan segala sumpah serapa yang ia pendam sejak tadi, sejak Agus mengatakan ia tak sendiri, dan semua akan baik-baik saja.
" Salah aku... Kak Asa pergi karena aku... aku yang salah... aku minta maaf... Maafin aku ... Kak Bara, aku minta maaf... aku ngebunuh Kak Asa... ini semua salah aku!!!" Teriakan di iiringi tangisan itu memaksa seseorang untuk masuk ke kamar Lea.
Orang itu merengkuh bahu Lea yang sudah Lemas dan menatap tajam Lea. " Ini bukan salah Lo, Le. berhenti nyalahin diri Lo! Bang Asa kecelakaan. udah, dia kecelakaan dan bukan Lo penyebab kecelakaan itu 'kan?" Rafa tak habis pikir mengapa Gadis ini menyalahkan dirinya dan bahkan berlutut sambil memohon maaf atas kesalahan yang tidak diperbuat.
Farhan baru saja menghubunginya dan memintanya menginap karena keadaan Lea tidak begitu baik. Tapi Rafa tak mengira seburuk ini.
Lea meremas bahu kekar Rafa dan menatap tajam pria itu, " KAMU TAU AKU NGAPAIN? AKU YANG NYURUH KAK ASA KE AUSSIE!! AKU NOLAK DIA DAN MINTA DIA KE AUSSIE!!
AKU KETAWA DAN BAHAGIA SEDANGKAN DIA MERENGGANG NYAWA KARENA AKU MINTA DIA KE AUSSIE, RAFA..
aku yang bunuh kak Asa..."
" Lea... dia masih terdaftar sebagai orang hilang, bisa aja dia selamat, dan cuma terdampar kan?"
tapi kalimat Rafa tak tersampaikan. Lea benar-benar hanya menangis diam, menatap beruang putih itu, berharap beruang putih akan menyampaikan kalimat penenang.
Rafa menghela nafasnya. " Tidur dulu, ok? besok kita ngobrol lagi, tapi gak tentang ini."
Rafa membiarkan Lea terjatuh kedalam bonekanya. Ia berharap dengan tidur, Lea bisa menjernihkan otak dan hatinya, berpikir lebih dalam dan berlogika bahwa semua ini musibah dan musibah tidak terjadi karena keinginan seseorang belaka.
****
Dua hari berlalu, namun Lea tak mau keluar kamar. Satu hal yang baik hanyalah, Lea mau makan, walau tak begitu banyak.
Rafa dan yang lain berharap, Lea bisa bangkit kembali, bersama harapan yang mereka pegang. harapan bahwa Asa masih hidup diluar sana, dan tengah baik-baik saja.
Lea tak mau dan tak berbicara dengan siapapun. bahkan Tazqia yang mampir setelah Dinas rumah sakitnya, tak disambut oleh gadis itu. Lea bagai kura-kura yang bersembunyi di dalam tempurung.
" Le ... gue gak bakal banyak omong, cuma gue harap lu inget semua omongan bang Asa. dia pasti selalu bilang kebahagiaan lu yang utama 'kan? jadi tolong kabulin walau dia lagi gak ada disini. dia cuma pergi sebentar Lea, gak selamanya."
Lea hanya diam, membiarkan Rafa menghela nafasnya lelah dan pergi. Lea tahu ia melelahkan semua orang. tapi mendengar ucapan Rafa membuatnya teringat.
kamu gak perlu nahan apapun lagi. Kakak ada buat kamu, gak perlu takut akan hal apapun. Kakak dan semuanya gak akan ninggalin kamu, dan gak akan diem aja saat kamu jatuh. Nangis aja semau kamu, kamu bebas sekarang Lea..
Kakak disini, Lea... kamu udah aman sama kakak.
jangan tinggalin Kakak
__ADS_1
apapun yang terjadi, utamakan diri kamu Lea. kebahagiaan kamu dulu, baru yang lain.
hope this winter bear would invites you to sleep in peace like him, so you can sleep happily. wish you a good night lea.
" Kakak bilang gak akan tinggalin aku.."
" tapi karena aku minta, kakak ninggalin aku. aku emang bodoh... aku minta maaf Kak... aku minta maaf."
" maaf kamu gak akan mengubah kenyataan Asa hilang dari kecelakaan pesawat."
Lea menatap mata yang terlihat lelah itu. " Tapi, kamu masih bisa bahagia sesuai permintaan Asa yang selalu dia harapkan buat kamu." Agus melangkah dan duduk disamping boneka Tiger pemberian Asa.
" kamu tahu, waktu beli boneka ini, dia lagi pergi sama saya. saya tanya kenapa dia beli boneka sebesar itu.
dia bilang, dia gak bisa meluk kamu selama tidur, jadi dia beli boneka ini. dia bilang, semua yang dia lakukan sekarang ini tujuannya cuma satu,
Aeleasha Gayatri bahagia. hanya itu."
Tangisan Lea bahkan tak mereda, justru semakin menjadi-jadi. Agus mengusap pipi basah Lea, kemudia mengusap kepala gadis itu. Tak mengira dirinya akan seperduli Ini kepada seseorang selain pacarnya.
" Inget Lea, Asa cuma hilang. Selama mayatnya belum ditemukan, Jangan bertingkah seolah Asa pergi selamanya. kami disini semua berpikir seperti itu. paham?"
Lea mengangguk paham. " Kak Asa bakal sedih kalau liat aku kacau kayak gini 'kan?"
Agus tersenyum kecil sambil mengangguk. "ternyata masih punya otak."
****
Hari berikutnya, Saat Lea keluar dari kamar, Sudah ada 8 pria termasuk Ayah Asa dan ibu Asa yang duduk diruang tengah, belum lagi ada Farhan dan seorang pria yang Lea tak kenal.
" Kebetulan yang bersangkutan sudah bergabung, Saya, Leonardo Halim, selaku Notaris bapak Asa Aldebara Mahardika ingin menginformasikan amanat Pak Asa yang berlaku apabila beliau wafat atau menghilang tak ada kabar secara tidak disengaja seperti musibah ataupun disengaja oleh beliau.
Bahwa, pihak yang bersangkutan, Asa Aldebara Mahardika putra sulung dari Valerie Aldelaide dan Ferdian Bara Mahardika
akan mewariskan atau memberikan secara cuma-cuma seluruh harta, dimulai dari rumah dan segala saham yang dimiliki atas nama dirinya, juga segala laba yang didapat dari perusahaannya, termasuk juga kedudukan yang ia pegang yaitu CEO Nextdoor Group kepada Seseorang terpenting dalam hidupnya yaitu Aeleasha Gayatri,
dan tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusannya. Yang bersangkutan, Asa Aldebara Mahardika menuliskan ini secara sadar di saksikan Oleh Notaris Leonardo Halim, dan Asisten kepercayaan Farhan Fadhillah.
Surat pernyataan ini dibuat pada 25 Februari 20XX, dan berlaku selamanya.
tertanda yang bersangkutan, Asa Aldebara Mahardika, Notaris Leonardo Halim, dan Saksi Farhan Fadhillah."
Lea berdiri, wajahnya memerah. Baru saja kemarin Agus mengatakan Asa hanya hilang dan tidak meninggal, lalu notaris ini datang dan mengatakan sebuah hal yang lebih terdengar seperti wasiat. " Kak Asa belum meninggal! jasadnya bahkan gak ketemu!!"
" tapi posisi pimpinan perusahaan menjadi kosong selama 2 bulan ini. Asa Aldebara Mahardika juga sudah dikonfirmasi dalam daftar orang hilang pada kecelakaan pesawat HighAir 1230-JT. Saya menyampaikan ini agar Nona Lea, dapat mengisi kursi Pak Asa secepatnya." Mendengar Leo membuat Lea menggeleng kepalanya kencang.
" Engga!! kak Asa pasti bentar lagi pulang kok! apa gak bisa nunggu sedikit lebih lama??"
Leo menghela nafasnya dan menggeleng kepalanya. "Maaf, tapi Banyak jadwal perusahaan yang terdelay karena posisi pak Asa tidak bisa digantikan. Satu-satunya yang boleh menggantikan Pak Asa hanya Nona Lea."
Lea berlari keluar rumah, mengabaikan semua orang yang memanggilnya. Apa mereka gila? mereka membiarkan si notaris itu mengumandangkan wasiat yang seharusnya dibacakan jika Asa benar-benar meninggal.
Saat gadis itu keluar gerbang ia melihat seseorang tengah duduk menatap jalan dengan topi hitamnya.
__ADS_1
ini Sudah Malam, lalu kenapa Dion duduk ditangga gerbang rumah Rafa dengan wajah datarnya itu?
" Kak Dion?"
mendengar suara serak bergetar itu, Dion menoleh. keadaan Lea tak sehancur saat upacara kelulusannya, tapi mata gadis itu tak bisa berbohong bahwa gadis itu tidak baik-baik saja.
Dion bangkit dari duduknya dan menghampiri Lea. Yang ia tak kira akan terjadi adalah Lea langsung memeluknya erat, menangis keras, mengadukan segala rasa sakit yang gadis itu rasakan selama beberapa hari ini.
" ke mobil saya dulu. kita bicara disana."
" aku gak mau kemana-mana..."
Dion mengangguk. " Kita cuma bicara disana. gak akan saya gas mobilnya."
Dari cerita yang Lea bagikan kepadanya, Dion menyadari bahwa Lea ataupun Pria bernama Asa yang awalnya memiliki posisi seorang kakak, memiliki perasaan yang lebih dalam.
Tapi permasalahannya sekarang adalah posisi yang sekarang ini Lea pegang. Gadis ini masih terlalu awam untuk memegang posisi CEO perusahaan sebesar Nextdoor.
Jika Lea memegangnya sekarang, akan banyak pihak yang memanfaatkan Lea dan bisa berakhir kehancuran bagi gadis itu.
Namun, tak memegangnya pun akan berakhir dengan hal yang sama. " Lea, memegang perusahaannya akan lebih baik daripada kamu lepas. Setidaknya, perusahaan itu dipegang oleh orang yang Kakak kamu percayakan, 'kan?"
Lea menggeleng kepalanya sambil menunduk. " aku gak tau Kak. maksud ku, aku gak ngerti apa-apa..." Lea merasakan tangannya digenggam erat dan hangat oleh Dion.
" Diawal, kamu pasti akan dikasih tau tugas kamu apa, masalah di perusahaan apa aja, dan yang ngasih tau pasti Asisten pribadi kakak kamu.
Ada banyak punggung yang melindungi kamu, asisten kakak kamu, temen-temen kakak kamu, saya, temen-temen saya juga pasti mau bantu. Sekarang tinggal kamu meyakinkan diri untuk berani mengambil langkah.
udah berapa hari kamu berduka atas hilangnya kakak kamu? 2 hari? 3 hari? apa itu gak cukup? buat diri kamu berguna setelah berduka dan membuat semua orang disekitar kamu khawatir. kamu paham maksud saya Lea??"
Lea mengangguk dengan air mata yang kembali mengalir. Dion tanpa ragu mengusapnya dan bahkan menghapus ingus Lea, " Jangan minta maaf. Berduka bukan sesuatu yang salah. sekarang kamu masuk ke rumah, selesaikan semuanya dengan baik, jangan lupa kabarin saya kalau semua udah beres. paham?"
Lea mengangguk lalu keluar dari mobil Dion, meninggalkan pria itu yang menunduk, menempelkan keningnya di stir mobil. ini Gila, Dion tak pernah merasa seperih ini saat melihat seseorang menangis seperti itu.
Dilain Sisi, Lea memasuki rumah, mendapat sambutan penuh kekhawatiran dari semua orang termasuk Mami papi Asa.
" Sayang, kamu gapapa? kamu darimana?" Mami Asa, Valerie, yang pertama kali menghampiri dan berbicara kepada Lea.
Ia tahu gadis ini pasti takut kepadanya karena berbagai alasan, tapi ia tak bisa menutupi rasa khawatirnya. Perempuan yang dicintai putranya pasti terpukul dengan sangat atas kabar menghilangnya Asa. Ia sendiri juga terpukul, begitupun suaminya.
" Anda gak akan menyalahkan saya? saya yang nyuruh kak Asa ke Aussie..." ucap Lea sambil menunduk. Valerie dan Ferdian menghela nafas mereka. " kami gak akan menyalahkan kamu, sayang. Dia memilihnya, dia memilih kamu dan ingin menyelesaikan masalah perjodohan yang dimulai papinya. Jadi bukan salah kamu Lea. dan ingat, hidup harus terus berjalan. Kamu ngerti maksud mami 'kan?"
Lea mengangguk. memeluk erat Valerie yang dengan suka rela mengusap punggungnya. Jika saja ia dan suaminya tak mendengar kabar hilangnya putra mereka, Mungkin sekarang, mereka sudah ada di Inggris dan berduka disana seperti kesalahan mereka yang sebelumnya.
" Diharap Nona Lea bisa hadir ke perusahaan untuk mengisi kekosongan kursi Pak Asa. Saya pamit undur diri." Ujar Leo sebelum keluar dari rumah.
Lea menghela nafasnya. Sekarang, apa yang bisa dilakukan mahasiswa keperawatan ini dengan jabatan CEO perusahaan sebesar Nextdoor Group?
Bersambung
Ishh gila banget gak sih Triple update wkwkwkwk makasih buat yg udh komen dan like cerita saya... semoga kalian sehat selalu ya..
saya kemarin sakit, terus diisolasi, karena kuliah lagi padet bgt, jadi saya putusin buat hibernasi dulu biar cepat sehat. Sekarang udah sehat lagi, dan tugas udah mulai menyurut, terus idenya lagi naik banget jadi ya update aja terus Hehehehe...
stay health and happy ya guys
__ADS_1