
" Kamu gapapa?"
Lea menoleh sejenak sebelum kembali menyender pada pintu mobil Gemada. Gadis itu menggeleng. " Anda mau minum?"
Gemada menoleh dan menatap bingung Lea. Apa gadis ini mengajaknya minum yang itu? alkohol? Ia kira Lea jauh dari hal itu, karena sangat jelas terlihat dari tingkah dan keseharian gadis ini jika memang sesuai dengan informasi yang ia dapat.
" Minum... apa?"
" air putih, bukan air keran... saya haus soalnya."
Gemada kembali mengerutkan kenungnya walau ia memilih untuk menepi terlebih dahulu sebelum ia merogoh tas kecil yang berada dibelakang bangkunya. ia memang punya persediaan minum karena mudah kehausan. Ia tak mengira ia akan membaginya kepada orang lain seperti ini.
" Makasih."
Gemada mengangguk dan kembali menjalankan mobilnya. Terlepas dari rencana yang ia buat memang sesuai ekspektasi atau bukan, Gemada rasa tindakannya kali ini berhubungan dengan kemanusiaan. tunggu, Memang sejak kapan ia memikirkan kemanusiaan?
" Saya gak baik-baik aja, tapi gausah perduliin juga. Udah biasa kayak gini."
Gemada hanya diam menatap jalan. Hingga kendarannya berhenti didepan gerbang Rumah Asa. Gemada tau rumah ini bukanlah tempat dimana Lea seharusnya pulang, Tapi ia tak bisa gegabah dalam mengambil langkah.
" Jangan terbiasa untuk bersedih atau menahan sedih. itu gak sehat." Ucap Gemada sebelum menutup jendelanya dan kembali melaju meninggalkan Lea yang terdiam kaku.
" Bukannya terbiasa, Tapi aku terlalu sering mendapat sakit sampai akhirnya terlalu lelah untuk melawan..." Gumam gadis itu bermonolog. Lea berjalan perlahan, memasuki rumah.
Hanya bertemu satu orang dan ia langsung tak berdaya seperti ini. Lea tak bisa membayangkan jika ia dihakimi satu kantornya. Mungkin ia akan bunuh diri.
Tapi nyatanya tidak. Buktinya, Lea justru menatap tajam semua karyawan yang berbisik entah dibelakang, didepan, dengan suara kecil ataupun besar.
tak sedikit dari mereka berani menyebut namanya tanpa rasa sungkan dan bahkan dengan nada menghina. " Bu, Lea, Anda bisa langsung ke ruangan anda."
" ini ada apa? kenapa mereka bilang aku jalang?"
" Maaf Bu. Sepertinya ada satu artikel yang tersebar luas dan sampai ke salah satu karyawan sehingga dengan mudah tersebar kepada satu kantor ini."
Lea mengerutkan keningnya. Ia membuka ponselnya dan mencari informasi tentang Nextdoor Group. Kepalanya terasa mendidih dan seolah ada yang menekan-nekan, ingin meledak di sana. Rahang gadis itu mengetat, urat pada Lehernya menegang.
Menjadikan CEO yang lama sebagai Batu Loncatan, CEO Muda Nextdoor Group yang baru rupanya menjalin hubungan dengan banyak pria sekaligus!! Lalu apa hubungan CEO yang lama dengan yang baru?
Lea memejamkan matanya, berusaha meredam segala emosi yang ada. Ia tak bisa meledak disini ataupun sekarang juga. Ia harus berkepala dingin. " Panggil Kak Dion."
Saat Dion masuk ke ruangannya, wajah khawatir pria itu terlihat sangat jelas. " Kamu gapapa? Saya bisa take down artikel itu. "
Lea mengangguk paham, " iya, tolong take down, jangan sampe yang dari luar tau masalah ini. Sama, tolong banget, Hari ini semua meeting Pak Dion aja yang pegang ya, saya rasa akan kurang nyaman kalo saya yang pimpin. Pak Dion kabarin aja kalau ada keputusan yang berat atau berhubungan langsung dengan saya." ucap Gadis itu lelah. Kemarin ia sulit tidur memikirkan Asa dan Orias. Kini ia harus memikirkan scandal sialan yang ia sudah tau sumbernya siapa.
Ia tak perlu fokus dengan hal tersebut. Ia hanya perlu fokus pada perusahaan dan Asa terlebih dahulu lalu hidupnya dengan Daniel.
" Bu! Anda mimisan!!" kepanikan Farhan hanya Lea respon dengan mengusap darah yang masih terus mengalir itu dengan lengan bajunya. " Gapapa.. ini beberapa berkas yang dibutuhkan selama trip di luar, tolong nanti di taro di rumah ya Mas. Bajunya udah aku packing di koper, nanti Mas Farhan masukin ke mobil aja biar besok gak keribetan. Ok?" ucap Lea sambil tersenyum kecil.
Farhan menatap tak percaya gadis ini. Sudah tertimpa masalah, Mimisan, tapi masih juga memperhatikan sekitar tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
" sudah 10 bulan."
Lea menoleh dan tersenyum. " iya.. udah nyari satu tahun Kak Asa gak pulang. Semoga dia gak kurusan."
Farhan mengangguk sambil menyodorkan beberapa lembar tissue kepada Lea. Gadis itu mengambilnya dan membersihkan darah dari wajahnya, menatap betapa banyaknya darah mimisan tersebut.
__ADS_1
Lea memberikan telapak tangannya, " Besok 'kan aku perginya sama Pak Alandra dan Mas Farhan disini, tolong pesen tiket ke Seoul buat Daniel ya? aku bakal ke Macau dulu, baru ke Seoul. Daniel berangkatnya di hari terakhir aku di Macau aja. paham gak?" Farhan mengangguk cepat, memahami semua ucapan Lea.
" Sama tolong siapin yang jajan dia disana. pake kartu aku aja. yang punya aku yang asli. tau gak sih?" bingung Lea. Gadis itu merasa memiliki banyak kartu belakangan ini. Kartu black card, kartu dari gajinya, Kartu kreditnya, Kartu Silver Card yang pernah Asa berikan kepadanya tapi tak pernah terpakai.
Farhan tertawa kecil sambil mengangguk. Pria itu bahkan tak ingat Lea tengah memiliki masalah tentang publik karena pembicaraanya bersama Lea.
Dilain sisi Ada seseorang yang tengah menatap jenaka artikel yang dibuat-buat itu. Astaga.. namanya bahkan nyaris tak pernah disorot situs berita murahan seperti ini selain Times, dan Orang- bodoh ini mengungkit namanya terutama tokoh utama dalam artikel tersebut.
Orang ini memang senang bermain dengan maut. " Laporin narkobanya ke polisi, BNN dan beberapa media. dan ungkit namanya sebagai sumber dari artikel sampah ini Dan juga tuntut semua yang bersangkutan ke dalam kasus pencemaran nama baik.
Jangan berbelas Kasih." Ucap orang itu dingin.
beberapa orang yang berdiri didepan mejanya mengangguk dan berbalik meninggalkan orang itu. Siapapun yang melihatnya tersenyum pasti ketakutan. Karena pria itu sangat dikenal datar dan dingin. Sangat jarang tersenyum hingga jika melihatnya terasa langka dan mematikan.
" salah.. Lo nyari masalah sama orang yang salah."
...****************...
Lea memasak beberapa menu sekaligus memanggang beberapa kue seperti anjuran Leksa. Yah, Lea tak keberatan, selain dirinya tak memiliki banyak pekerjaan, Ia juga memang butuh media penyalur emosinya agar tetap stabil. Ia masih memiliki kesibukan padat besok, dan juga Malam ini pasti akan sangat melelahkan untuk membereskan semua sisa pesta kecil ini.
" Mbak? gapapa? Mbak mukanya pucet banget.." kecemasan Daniel hanya dibalas senyum manis Lea, sama seperti respon yang Farhan dapatkan setelah mengantar Lea ke gedung apart ini dan menanyakan hal yang sama.
" it's okay. Oh ya, Di Tas Mbak ada tiket pesawat ke Korea Selatan, Kamu berangkat beberapa hari lagi, urusan paspor sama yang lain lagi diurus sama Mas Farhan. Ah, Ya... jangan lupa siapin Jaket. kayaknya disana mulai dingin deh."
" Kenapa tiba-tiba ke korea?" heran Daniel. Sepertinya belum lama ini Kakaknya memintanya untuk belajar untuk ujian mutasi, kenapa tiba-tiba diajak libur?
" Refreshing. Mbak juga emang ada urusan bisnis, Tapi kayaknya ninggalin kamu seminggu penuh gak tenang, jadi mbak ajak kamu juga." Ujar Lea.
Leksa duduk di meja makan sambil menatap kesal Lea. " Gue gak diajak Le?? Jahat banget!! pasti Lo mau nyari Oppa-oppa atau ahjussi-ahjussi deh."
Leksa mengangguk cepat. ", Dia suka Bihun coklat sama Mochi Ice cream."
" Ah... aku ada mochi ice cream juga, tapi kayaknya cuma beberapa. Buat Abangnya kak Leksa aja, gapapa Niel?" Tanya Lea sambil menatap wajah sang adik sejenak.
Daniel tersenyum sambil menggeleng kepalanya kecil. Ia tak masalah selama Kakaknya masih disampingnya. Leksa menggeleng kepalanya takjub. Kedua bersaudara ini benar benar punya karakter yang mirip.
" Lo berdua mirip kok dalam segi sifat." Lea yang mendengar ucapan random Leksa hanya menggeleng kepalanya kecil. Pria ini kebiasaan sekali mengubah topik seenaknya.
Tapi sepertinya Daniel belum tahu kebiasaan itu, dan termakan rasa gembira saat dibilang mirip dengan Lea. " Apa yang mirip kan?"
" Tukang ngalah." ujar pria tinggi nan manis itu sambil menopang dagunya dimeja makan, memperhatikan tawa kecil Lea mendengar ucapannya. " Walau Adek, Lo kayaknya terbiasa ngalah, entah males debat atau merasa emang gak perlu. Kalo Lea mah, Ama kucing aja juga ngalah. Tapi lucu aja sih kalo Lo berdua mengalah pada hal yang sama, jadinya siapa yang dapet ya?" Ucap Leksa penasaran. Lea menghela nafasnya seolah enggan menjawab ucapan Leksa.
pria ini benar-benar berbeda jauh dengan Albara yang cenderung tenang dan pendengar. Leksa itu tak bisa diam dan terus berbicara jika tidak punya pekerjaan. " Kak Leksa jadi bikin Cafe?"
" Jadi... lagi proses kok. makanya nganggur gini. Kadang ngajar privat ke adek kelas gituu." Ujar Leksa sambil tersenyum manis. Haish, Lea suka merasa heran kenapa Leksa yang lebih tua darinya lebih terlihat seperti remaja baru besar dibandingkan dengan dirinya sendiri.
TING TONG
" Kak Leksa beneran kasih nomor apart kakak 'kan? bukan apart aku?"
" Hehehehe iya... Ayo! Niel, ayo Niel!"
Daniel tersenyum manis sambil ikut melangkah bersama Leksa sedangkan Lea masih sibuk mengatur hidangan yang akan ia sajikan nanti. Suara heboh Leksa dan Daniel mampu membuat gadis itu tertawa, melupakan segala masalahnya.
" Lea!! Nih Abang tamvan gue!!" Lea tertawa kecil sambil menoleh ke arah ruang tengah, Berencana tersenyum kepada tamunya, namun hal itu terganti dengan wajah terkejut dan tak percaya.
__ADS_1
" Hallo, maaf mengganggu, Saya Jagad Geraia Toha, Maaf bikin anda kerepotan sama adik saya yang pecicilan."
Wajah pucat Lea menghancurkan ekspektasi Leksa yang berpikir Lea akan terpesona atau akan bersikap ramah kepada Kakaknya. Lea seolah melihat hantu.
" Ya?"
" Kak Asa?" Ucap Lea tanpa sadar. Gadis itu melangkah mendekati Geraia yang terlihat begitu sama dengan Asa-nya. Bagaimana takdir mempermainkannya? Leksa yang begitu sama dengan Albara memiliki kakak yang begitu sama dengan Asa.
air matanya tanpa dapat ditahan turun membasahik pipi. Lea tanpa permisi menangkup wajah Asa dengan erat, walau ia harus berjinjit. Tak percaya bahwa Pria yang selama ini ia tunggu dan menyimpan harapannya kini sudah berdiri dihadapannya, dengan keadaan baik-baik saja.
" Akhirnya pulang.." Tangis gadis itu haru. Tangannya berusaha meraih leher Asa, ingin menarik pria itu untuk masuk kedalam pelukannya, sebelum tangan lain menyentaknya dan mendorongnya jatuh ke lantai,
" Don't you dare to touch My Boy!!" Bentakan wanita itu membuat Lea terkejut sambil menatap nanar Asa yang berdiri diam didepannya. pandangan bingung itu memang tak bersalah, tapi Lea merasa sakit saat melihat wajah polos itu seolah tak mengenal dirinya.
" Kak, ini aku.. Lea.."
" Maaf, Saya gak kenal kamu. kita baru ketemu hari ini 'kan?" Ucap Geraia sedikit heran dan bingung. Ia mengulurkan tangannya kepada Lea, tapi sudah didahului oleh Adiknya, Leksa yang menarik tubuh Lea untuk berdiri. " Lo gapapa? Hei? Ya?"
Tatapan Lea kosong. seperti pikirannya yang ikut kosong setelah mendengar ucapan Geraia yang terlihat merasa asing dengannya, dan memeluk wanita bule itu. " Gak... gak.." Gumam Lea sambil melepas rangkulan Leksa yang merasa kebingungan melihat sikap Lea.
Asa-nya telah kembali. Lea yakin 100% itu bukan Geraia, tapi Asa. Lea yakin akan hal itu. Terlalu tergesa-gesa berlari membuat Lea tanpa sadar menyelingkat kakinya sendiri hingga ia terjatuh di lantai koridor. Seolah tak terjadi apapun, Lea langsung bangkit dan kembali berjalan.
Hal itu terus berulang, bahkan hingga jalan yang basah terguyur hujan deras membuat Lea kedinginan dan kembali jatuh untuk kesekian kalinya.
Lea tak tahu harus kemana. Mendapati Asa tak mengingat dirinya membuat Lea merasa tak pantas pulang ke rumah itu. Lea tak punya tujuan.
Tring Tringg
Lea merogoh kantung blazer nya, dan langsung mengangkat panggilan tersebut. " Hallo, Lea?? kamu gak lupa kita ada janji makan malem di rumah Tante 'kan?"
" aku boleh kesana sekarang Tante?"
Anna mengerutkan keningnya, Suara Lea terdengar sedikit serak, dan Seperti nya gadis itu berada diluar hingga suara huja ikut masuk kedalam panggilan ini. " boleh sayang.. hati-hati ya?"
Tanpa wanita paruh baya itu tahu, Lea berlari dari apartemen itu, Seolah tengah berlari meninggalkan sesuatu yang sejak lama ia tunggu. pelarian terbodoh yang pernah ia lakukan.
Dan Anna langsung memekik menahan jerit melihat Keadaan Lea didepannya saat ini. " Le- Lea kamu kena--"
" Kak Asa balik, Tante... Kak Asa pulang.." Ucap Lea sambil terus menjaga tangisnya agar ucapannya dapat terdengar jelas.
Anna berteriak meminta pelayannya untuk membawakan handuk, " Lea, kamu kenapa sih? Asa pulang? terus dia kemana? kok kamu hujan-hujanan begini?"
" Kak Asa pulang... tapi dia gak inget aku, Tan.. dia punya tunangan dan gak lama lagi menikah... Dia... pulang... tapi bukan ke aku.." Tangis Lea mulai pecah'. penantian dan rasa lelah, juga semua keringat, tangis dan darah yang curahkan selama 10 bulan ini hancur dengan sangat mudah hanya dengan kalimat,
Maaf saya gak kenal kamu.
Pembohong! Rutuk Lea. Asa menghancurkan semuanya. Lea tak memiliki apapun, Lea benar-benar tak berdaya saat ini. " Lea.. sayang, sini.." ujar Anna sambil menarik Lea masuk ke dalam pelukannya. Ia ingin memberikan kenyamanan dan kehangatan kepada gadis malang ini.
isakan itu mulai berhenti bersamaan dengan beban yang Anna rasakan. " Lea? Lea?? Lea!!"
" Gema!!" tak menunggu lama, satu jeritannya berhasil memanggil putra sulungnya hingga akhirnya berada di belakangnya dengan mata membelalak. " Bund.. Lea mimisan..," Gumam Gemada walau didalam lubuk hatinya ia begitu khawatir melihat keadaan Lea.
Gemada tak habis pikir apa saja yang dilakukan Lea hingga memiliki beberapa luka di wajahnya, kulitnya pucat dan basah kuyup hingga ia pingsan dengan keadaan mimisan itu??
Bersambung...
__ADS_1