
Saat ia membuka pintunya untuk pertama kali setelah 3 hari lamanya, Lea langsung bertemu mata dengan Farhan. Pria tinggi itu memberinya senyuman hangat untuk menyapa dalam bisu. Lea menyadari bahwa Farhan tersenyum bukan untuk beramah tamah tapi untuk bersimpati kepadanya.
Lea menutup pintu, dan hanya berdiam diri menatap sekeliling sebelum ia kembali bertemu mata dengan Farhan. Tanpa perlu gadis itu mengeluarkan kata-kata, Farhan langsung menyadarinya.
" Pak Asa tadi berangkat ke kantor. beberapa schedule penting yang di undur harus di hadiri, jadi Pak Ada minta saya nemenin kamu kalau kamu keluar dari kamar." penjelasan Farhan menjawab Kebingungan Lea dan membuat Lea bungkam.
Gadis itu menghela nafas sebelum ia mengambil langkah menuju ke lantai bawah. " Aku ... laper." ucap gadis itu tiba-tiba. Farhan sedikit terkejut sebelumnya akhirnya ia tertawa kecil sambil mengangguk. " Mau saya masakin?" tawar Farhan. Lea menoleh dan menggeleng kecil.
Rasanya agak berat. Ia terbiasa menanggapi Farhan dengan senyum kecil dan nada yang ramah. Menjadi suram dan irit bicara seperti sekarang membuatnya seakan tengah membawa beban berat di dadanya.
Lea berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. " mbak udah pulang?" tanya Lea. Farhan mengangguk cepat. " ini udah jam 12." Lea mengangguk paham. Ia rasa mendekam di kamar selama 2 setengah hari sudah cukup membuatnya tak bisa menyadari waktu yang tengah berjalan.
Lea mengeluarkan beberapa buah, lalu mengambil beberapa jenis tepung, dan alat-alat membuat kue, Dapur dan Pantry Asa bagai sebuah mini market yang sangat lengkap, Sejak dulu Lea bertanya-tanya akan satu hal tapi selalu lupa untuk menagih jawabannya. Gadis itu hendak mengikat rambutnya dan sedikit tertahan saat Farhan meletakkan sesuatu di meja pantry. " jangan lupa apron, biar gak kotor." ucap Farhan dengan lembut.
" Kalo Kak Asa jarang pulang kesini dulu, semua bahan makanan dikemanain? gak busuk?"
Farhan tersenyum cerah mendengar Lea bertanya walau sedikit ngilu mendengar suara serak Lea yang hampir habis. Apakah gadis itu benar-benar menangis selama 2 hari penuh? apa tidak lelah? Farhan benar-benar tak mengerti Lea ini gadis seperti apa.
Menggeleng kepalanya, Farhan berusaha kembali sadar untuk segera menjawab Lea. " Di kasih ke panti asuhan di pojok komplek. biasanya langsung dikirim tanpa ditaruh disini, karena Pak Asa kadang gak pulang dalam sebulan."
Lea menatap ke bawah, kepada meja berlapis cermin yang Lea tak mengerti fungsinya apa, tapi memberikan bayangan akan pandangan mata Lea. Pandangan seseorang yang tidak baik-baik saja.
" Mas Farhan, Am I looking fine?"
mendengar pertanyaan acak seperti membuat Farhan diam sejenak menatap mata gadis. Sejenak keduanya hanya diam. Yang satu masih menatap cermin di meja, yang satu lagi menatap yang lainnya. " For me you look unhappy, but you don't pretend to be fine too." ujar Farhan. Lea mengangguk sambil mulai membuka tepung dan bahan-bahan lainnya.
Farhan hanya memperhatikan gadis itu, tanpa berniat membantu. Ia tahu bahwa Lea tengah membentuk dunianya lagi seperti gadis itu tengah membentuk adonan.
Dimata Farhan setelah mengenal Lea dalam dua bulan, Gadis itu memiliki karakter yang cukup membuat Farhan kebingungan. Lea sering terlihat Apatis, tidak perduli sekitar, independen. Tapi tidak jarang Farhan menyadari bahwa gadis itu perduli akan sekitarnya untuk hal-hal yang amat kecil dan sepele sekalipun.
Mengetahui bahwa Lea tidak keluar kamarnya seharian penuh waktu itu sudah cukup mengejutkan Farhan. Lea tidak terlihat seperti orang yang akan menangisi orang lain seharian penuh. Farhan justru pernah berandai jika Lea kehilangan seseorang disekitarnya, Gadis itu mungkin akan menangis dengan wajah se kaku mungkin dengan mulut terkunci, kemudian bersikap biasa seolah-olah kehilangan itu tidak pernah gadis itu alami.
Absen Lea sudah mematahkan opini Farhan. dan sekarang sikap gadis itu juga melakukannya sekali lagi. Lea lebih banyak diam. Entah sebuah dunianya sendiri atau Lea tengah membangun sebuah dinding tebal pada dunianya. Tapi Lea memang terlihat tidak bahagia, juga tak berusaha menutupinya. Matanya masih memiliki kantung yang cukup gelap, Hidungnya masih sedikit merah dan wajahnya masih pucat. hanya rambut Lea yang terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
" Mas Farhan, Kak Asa kira-kira pulangnya jam berapa?" Tanya Lea sambil memasukkan beberapa kue ke dalam oven. Farhan melirik jam di tangannya, " mungkin jam 3, tapi kalau kamu mau, saya bisa hubungi pak Asa untuk pulang sekarang." Ujar Farhan.
Pria itu berniat memberitahu Lea bahwa Asa menjadikannya sebagai prioritas dari semua yang dimiliki oleh atasannya itu, tapi hal itu justru membuat Lea menatapnya datar dalam diam. Sama seperti atasannya, mengerikan mengetahui keduanya tidak memiliki hubungan darah tapi memiliki kemiripan.
" Ehm.. berarti kita tunggu aja, 30 menit lagi." ucap Farhan memutuskan. Lea mengangguk dan kembali sibuk dengan adonan lainnya. Gadis itu tiba-tiba berkata,
" Aku bikin kue, buat buang semua perasaan buruk yang dari kemarin numpuk." Gadis itu mengambil pisau dan membuat Farhan langsung mendekat. Kalimat depresif seperti yang Lea ucapkan membuat Farhan harus benar-benar waspada terhadap situasi apapun. Lea pun diam sejenak mendapati sikap defensif Farhan. Gadis itu tertawa kecil sambil mengganti pisau dagingnya menjadi pisau buah.
" Aku emang sedih, tapi masih mau hidup kok. I have too much debts with your boss to died right now." ujar Lea dengan senyum jenakanya. Farhan mengangguk dan tersenyum kikuk. Ia masih takut akan hal yang ia bayangkan barusan.
Suara mesin mobil yang masuk membuat Lea dan Farhan menoleh. Gadis itu menata kue-kue nya tanpa terlihat terburu ataupun terganggu akan kenyataan bahwa Asa telah pulang. Gadis itu masih terlihat tenang sampai Asa masuk dapur dan melihat hidangan yang Lea sajikan.
" Wah... selain menarik, kamu juga pinter baking the cake?" ucapan ceria yang mengawali kesadaran Lea membuat Gadis itu mendongak dan menatap mata orang didepannya. mata sipit dengan iris Coklat terang hingga Lea salah mengira itu mata Macan. Itu bukanlah Asa, Karena Asa tak pernah mengatakan bahwa Lea menarik dan suaranya begitu berbeda.
" Kak Orias... ngapain?"
" HM.. cuma mampir karena aku nungguin kamu di cafe, kamu gak ada, dan nungguin kamu di kampus, temen kamu bilang kamu izin sakit. jadi ya kesini?
mana kakak kam... ah," Lea mengerutkan kening melihat ekspresi jenaka yang Orias berikan kepadanya. " maksudku Asa. dia dimana?"
Farhan menggeleng kepalanya. Tanpa adanya Orias, Farhan tetap tidak akan pergi jauh dari Lea. Dan kini ada alasan yang memperkuat dirinya untuk tidak pergi sama sekali dari dapur itu. Tapi Lea menatapnya datar. Mood Lea benar-benar tidak stabil hari ini, " Saya di suruh nemenin kamu. Ka--"
" Apa aku gak bisa punya privasi?" tanya gadis telak. Farhan menghela nafasnya berat sebelum mengangguk dan mengambil langkahnya keluar. Pria itu hanya berpindah ke ruang tengah, tidak jauh dari dapur. Sedangkan Lea kini 'meng-alamat-kan' tatapan datarnya kepada Orias. Pria ini benar-benar akan menjadi sasaran empuk untuk moodnya.
" Sebenernya Mau Kak Orias apa?" tanya Lea secara langsung. Orias yang melihat raut wajah yang begitu serius dari Lea membuat pria itu tertawa keras. Orias tak pernah bisa menahan ketertarikannya melihat ekspresi Lea.
Tapi satu hal yang Orias sadari, Ia tak suka melihat Lea dalam kondisi seperti sekarang. sama halnya dengan yang dilihat Farhan, bahkan Orias yang tak begitu mengenal Lea bisa merasakan kesuraman gadis itu dengan jelas.
Orias berdiri, ia merasa sudah cukup dengan melihat Lea sekarang, dan Lagi dilihat bagaimanapun, Lea seperti tak suka dengan kehadirannya. Orias tersenyum pamit lalu berbalik,
" Walau Kak Asa membunuh Kak Bara ataupun engga, aku gak akan perduli lagi. Kak Albara udah meninggal, yang aku bisa adalah mengenang dan menanam didalam hati bahwa dia udah dipanggil walau dengan cara mengajukan diri duluan. Dan semua itu gak ada campur tangan dan kemauan Kak Asa." Ujar Lea tegas. Orias menyunggingkan senyum tipisnya, Pria itu bahkan menaikkan alisnya seolah tertarik akan sesuatu dan berkata,
" so? what are you supposed to say?"
__ADS_1
Lea menancapkan pisau buahnya diatas talenan kayu dengan hentakan yang cukup kuat sambil menatap tajam Orias " Jadi, apapun yang Kak Orias bilang soal Kak Asa, itu gak akan ngebuat aku lepas dari Kak Asa. Aku, udah di borgol disini dan gak berniat kabur, jadi kita temenan aja. Aku gak punya minat sama hubungan aneh disebut pacaran."
Orias mengangguk paham dengan senyumnya dan berlalu meninggalkan Lea. Gadis itu mencoba mengambil pisau di talenan dan justru berkahir dengan telapak tangannya tergores cukup dalam. Ia tak meringis. Entah karena memang tidak terlalu sakit setelah menyadarinya atau ia hanya menahannya. Ia hanya memperhatikan lukanya yang membiarkan darah mengalir dari sana.
Lea menghela nafasnya. Ia membayangkan saat Albara menggoreskan benda tajam pada nadinya, apa yang pria itu rasakan? lega kah? atau justru sakit?
Lea berjalan perlahan menuju wastafel dan mengalirkan air kepada tangannya. Tepat saat itu juga, Seseorang masuk ke dapur,
dia Asa.
Asa tentu terkejut melihat darah yang tak berhenti keluar dari tangan Lea. Rasa gemas dan khawatir mendorongnya untuk merebut tangan itu dan mengikatkan sapu tangannya sebagai pembalut.
" kenapa bisa gini."
" Kakak ingat dan tanam kalimat aku ini baik-baik. Kalau kakak emang mau aku tinggal disini, bareng kakak. Jangan tutupin apapun. Luka di tangan aku ini udah pasti ngebekas, dan itu semua karena aku belain Kakak dan di begoin sama kakak juga dari lama." Tak ada kenaikan nada, teriakan ataupun isakan. Hanya ada Suara datar yang penuh penekanan hingga berhasil membuat Asa diam tak berkutik.
" Kakak mau aku tinggal disini atau keluar? aku gak masalah kalau emang harus keluar. Itu juga memperjelas tujuan kakak cuma peng--" Lea merasakan genggaman erat namun bergetar di pergelangan tangannya. Asa benar-benar tak bisa berkutik jika Lea sudah seperti ini.
" Tetep disini... Kakak gak mau ditinggal..." Lea mengangguk paham. Gadis itu melirik makanan spesial yang telah ia siapkan untuk Asa. " itu, makan kue mochinya. aku udah bikin susah susah. yang putih ini spesial banget."
Tak ada yang paling menyenangkan melihat Lea kembali bersikap manis seperti ini. Asa mengangguk cepat dengan senyumannya dan langsung melahap sebuah kue mochi.
Lea memberikan senyuman yang berbeda sore ini. Sangat Elegan hingga membuat Asa langsung sadar apa yang tengah ia makan. " Le-lea... ini isinya.. ap--"
" kacang merah. hehehehe... ditelan ya... itu susah bikinnya." ucap gadis itu dengan kekehan yang begitu cantik. Asa benar-benar ingin memuntahkan makanan yang sudah ia kunyah itu.
Lea sendiri tau, Asa sangat tidak suka kacang merah dan makanan pahit, tapi gadis itu dengan sengaja memberikan segelas minuman yang Asa tenggak tanpa pikir panjang. Asa benar-benar sial diberik makan oleh Lea hari ini.
ia diberikan kopi hingga ia nyaris memuntahkan minuman pahit itu jika saja Lea tak menatapnya dengan tajam. " enak?" tanya gadis itu dengan senyum iblis ya. Asa menggeleng kepalanya jujur. Jika ini cara Lea menghukumnya, lebih baik Asa disuruh naik komedi putar dan bwrhenti diketinggian puncak selama setengah jam. Itu semua lebih baik daripada harus merasakan pahit dan anehnya rasa kacang merah.
" sama. Gak enak juga tinggal sama orang dengan mengabaikan alasan ambigu yang ngeganggu aku sejak awal. besok-besok ulangin aja salahnya, jadi aku punya banyak alasan untuk gak ngebuang sisa kacang merah yang ada di pantry." ucap gadis itu. Lea berbalik dan menyodorkan kue juga makanan yang lain. ada satu hidangan yang menarik perhatian Asa hingga membuat wajah masam pria itu menjadi cerah.
" Aku bikinin Sohun pake daging sama sayur. gak tau kakak suk--" Lea berhenti berbicara karena Asa sudah mengabaikannya dengan melahap Sohun itu tanpa memberi kendor. Gadis itu mendengus, Hebat sekali orang ini, suudah membuatnya kesal , lalu dengan mudahnya menghibur amarahnya dengan terlihat seperti anak-anak saat tengah makan.
__ADS_1
tanpa sadar Lea jadi teringat adiknya. Bagaimana Kabarnya ya?